Seina, adalah seorang gadis kampung yang hidupnya penuh dengan kesederhanaan, dia dari keluarga baik-baik, dia juga mendapatkan pendidikan yang baik dari keluarganya, namun dia harus kehilangan anggota keluarganya karena sebuah bencana.
Seina pun satu-satunya yang selamat dan dibawa ke tempat pengungsian oleh para relawan, gadis itu cukup terpuruk dengan nasibnya, namun dia tetap harus menjalani hidupnya.
Karena yang bernasib sama dengannya itu juga cukup banyak.
Hal itu membuatnya bangkit dan merangkul anak-anak yang bernasib sama dengannya.
Suatu hari dia bertemu dengan seorang wanita cantik jelita, dari atas kepala sampai bawah kakinya, terlihat bernilai mahal, bahkan kibasan rambutnya pun berbau dollar.
"Jadi kamu ya Seina?" tanya wanita itu dengan angkuh.
"Ya, ada apa Nyonya?" tanya balik Seina.
Wanita itu segera membuka koper besar, dan di sana terlihat sangat banyak tumpukkan uang.
"Aku sewa rahimmu!" Tegas wanita itu.
Yuk kepoin baca lanjutannya 👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vie Alfredo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Baru menyesal
" Ingat Mona kau tidak boleh minum air dalam lemari es!" tegas Seina mengingatkan.
" Iya baiklah, saya akan ingat, anda tenang saja." ujar Mona sangat semangat.
Harusnya memang begitu, mereka itu tidak boleh mengalah dengan ketidak adilan, tapi juga tidak mungkin menyerang langsung, yang ada mereka yang akan masuk penjara.
Malam harinya,
Seina dan Mona bersembunyi di tempat mereka masing-masing yang di rasa aman dari penglihatan orang lain.
Mona menunggu sampai terkantuk-kantuk, sampai tidak fokus.
Sepertinya aku harus minum agar tidak ngantuk mana haus lagi.
Dalan hati Mona.
Mona segera mengambil minum dan kembali bersembunyi di tempatnya.
Sementara di i tempat persembunyian Seina, Seina melihat Gladys sudah keluar dari kamar dan menuju dapur.
Seina mengirim pesan pada Mona untuk hati-hati agar tidak ketahuan Gladys.
Namun tiba-tiba saja.
" Aaaaaaa... Hantu ...." teriak Gladys segera lari keluar dari dapur.
Namun karena sangat panik Gladys menabrak vas bunga besar dan tertimpa vas berat itu.
" Aahhh." tiba-tiba hening.
Seina mengintip keluar sedikit, karena aman dia segera keluar.
Seina mengendap-endap berjalan menuju dapur.
" Ah?, astaga ... Mona, Mona." Seina menuju dapur dan ternyata Mona tertidur sambil memegangi botol minum.
" Astaga anak ini, kenapa masih minum minuman di kulkas?" Seina sekuat tenaga menyeret Mona ke kamar Mona yang tidak jauh dari dapur.
" Sudah, kau tidur saja yang baik." ujar Seina segera keluar dan memeriksa kondisi Gladys, ya lumayan parah dan masih bernafas.
Seina melihat di sekitar ruangan itu apakah ada cctv, karena di rasa aman dari cctv, Seina pun kembali masuk ke kamar dan mengunci pintu kamarnya.
" Maaf hantu, kali ini kamu benar-benar difitnah." ujar Seina segera tidur.
Mau apapun yang terjadi besok, pikir besok saja karena dia sudah sangat mengantuk.
Keesokan paginya.
Gladys terbangun dari pingsannya dan merasakan tubuhnya sangat berat dan sangat sakit.
" Ehmmm, sakit, ah ... " Gladys merintih kesakitan.
Gladys mencoba sekuat tenaga untuk bangun, namun tiba-tiba ada yang turun dari tubuhnya dan pyaar.
Suara guci atau vas yang pecah.
" Ah, sialan apa semalam ada perampokan?" ujar Gladys celingukan ke kanan dan ke kiri.
" Tolong ..., tolong ... Seina, Mona, tolong, hik hik hik ... " Gladys terus menangis.
Karena kakinya sakit dia terus merangkak menuju kamarnya.
" Hiks hiks ..." Tidak ada yang keluar membantu, rupanya itu masih pukul 3 pagi.
Gladys segera menelepon suaminya dan mengatakan jika rumah itu di datangi perampok.
Tanpa ba-bi-bu, Matthew segera kembali pagi subuh itu bersama Martin.
Pukul 5 pagi Matthew tiba di kediaman itu dan melihat banyak serpihan guci dan vas.
" Sayang, sayang." Teriak Matthew.
Sementara Martin langsung mendobrak pintu kamar Seina.
" Anjingggg... " Latah Seina saat terkejut.
" Cina, Cin, kau aman?, katanya ada perampokan." ujar Martin tampak khawatir.
" Ha?, perampokan?, astaga, bagaimana?, lalu apa yang hilang?" Tanya Seina yang sebenarnya masih mencoba mencerna ucapan Martin, Seina benar-benar lupa kejadian semalam.
" Syukurlah kau tidak apa-apa." ujar Martin lega.
" Martin bagaimana keadaan Seina?" tanya Matthew juga khawatir.
" Aman kak, bagaimana kakak, ah astaga aku panggilkan dokter ya kak." ujar Martin segera menghubungi dokter.
" Syukurlah Seina, sepertinya kau di dalam kamar ya?, jadi aman." ujar Matthew lega.
" Bagaimana bisa kau baik-baik saja, sedangkan aku terluka, pasti kau yang merencanakan semua kan? , mengaku kau!" teriak Gladys.
" Sa-sa-saya?, saya mana mungkin berbuat begitu Nyonya, untungnya apa untuk saya." ujar Seina ketakutan.
" Untungnya?, kau balas dendam kan padaku, karena aku sudah kasar denganmu!, dasar tidak tahu diri!" teriak Gladys menggila dan Ingi menjambak rambut Seina.
" Apa?, apa yang kau lakukan padanya?" tanya Matthew terkejut.
" Bukan, aku hanya meneriaki dia karena tidak bisa memasak." Gladys langsung membuat alasan.
" Kau tidak boleh sembarangan menuduh Seina, Seina tidak ada kewajiban untuk memasak juga Sayang." ujar Matthew segera membawa istrinya ke ruang tamu agar dokter segera menanganinya.
Dokter pun datang.
Gladys pun ditangani dengan baik oleh dokter.
" Coba kau cek cctv depan, apakah benar ada perampok masuk, tapi yang lain masih rapi dan tidak ada jejak apapun." Ujar Matthew pada Martin.
" Di dalam kenapa tidak ada cctv kak?" tanya Martin.
" Ya lagian tempat ini kosong, cukup di depan dan di halaman saja aku memasangnya." ujar Matthew.
Martin segera melaksanakan perintah kakaknya.
Sementara Matthew menghampiri Seina kembali untuk memastikan keadaannya.
" Seina, apa kau sungguh tidak apa-apa?, sebenarnya apa yang dilakukan Gladys padamu?" tanya Matthew.
" Tuan, tapi pasti anda tidak akan percaya." ujar Seina.
" Katakan saja." Ujar Matthew.
"Nona, Nona, Nona." tiba-tiba Mona berteriak sambil menghampiri karena Seina.
Namun langsung mematung saat melihat Matthew sedang bersama Seina.
" Tu-tu-tuan, ..." Mona sangat terkejut.
Seina memberi kode pada Mona, dengan kode tutup mulut, untung saja dia mengerti.
" Mona, sebenarnya kemarin apa yang dilakukan Nyonya pada Seina?" tanya Matthew.
Terlihat Mona tampak bingung sambil melihat arah Seina.
" Seina, kau istirahat dulu, aku akan bicara pada Mona." Tegas Matthew.
Mona pun terpaksa ikut dengan Matthew menuju ruang baca.
" Tutup pintunya Mona." tegas Matthew dengan wajah yang serius.
" Baik Tuan." Mona pun menutup pintunya perlahan.
" Katakan padaku apa yang terjadi!" tegas Matthew.
Mona menceritakan semuanya dengan menangis sesenggukan pada tuannya.
" Jadi nyonya benar-benar main tangan dengan kalian, dan menyewa preman untuk menghancurkan bisnis kalian?" Matthew sangat terkejut.
" Tapi Tuan, sebaiknya anda diam saja, jika anda menegur Nyonya, Nyonya tidak akan diam saja, dan juga tolong maafkan saya karena anak sekecil saya malah menasehati anda." Ujar Mona terisak-isak.
" Kau bisa kembali, aku akan bicara dengan Seina dulu Mona." ujar Matthew segera masuk ke kamar Seina lagi.
Seina sudah tampak panik, melihat wajah Matthew yang tampak kecewa.
" Maaf Seina, maaf ..." Ujar Matthew tiba-tiba.
Entah kata maaf itu apakah cukup untuk menebus semua yang terjadi pada Seina atau tidak.
" Mulai besok aku akan mengajak Gladys kembali kota, aku akan melihatmu seminggu sekali, tanpa membawa Gladys kemari, tapi kau tidak usah melanjutkan bisnismu dulu." ujar Matthew.
" Tuan, sebaiknya anda tidak usah mendengarkan Mona, saya tidak apa-apa, Nyonya mungkin tidak bermaksud seperti itu." ujar Seina.
" Anak baik, kau tidak boleh menormalisasi kekerasan atau pembullyan, aku malu karena selama ini aku yang tanpa sengaja membuatnya seperti itu, itu salahku karena tidak tegas pada Gladys." ujar Matthew merasa menyesal.
Dulu Matthew membiarkan Gladys membuat keributan dengan siapa saja, yang terpenting selama uang bisa berbicara Matthew akan melindungi istrinya, tapi kenapa dengan orang yang rela melahirkan anaknya juga dia perlakukan sama.
" Tuan, sebenarnya anda tidak usah datang juga tidak apa-apa." ujar Seina.
" Apa aku juga membuatmu tidak nyaman?" tanya Matthew.
" Ehm, bukan begitu... Tapi saya takut perhatian anda membuat Nyonya marah pada saya Tuan." ujar Seina.
" Begitu ya, ya sudah aku akan memikirkannya, apa kau sudah sarapan?, minta Mona menyiapkan sarapan untuk kalian, setelah dokter selesai menangani Gladys aku akan meminta dokter memeriksa keadaanmu." ujar Matthew sambil meraih tangan Seina yang di perban.
Sampai seperti ini ya, dia benar-benar kejam.
Dalam hati Matthew.
" Tapi Tuan, bagaimana dengan pekerjaan anda di sini?" tanya Seina.
" Iya, sepertinya harus di tunda, nanti aku akan mampir ke sini untuk melihatmu, aku akan bicara pada Martin juga nanti." ujar Matthew dengan tenang.
" Baik Tuan." Seina mengangguk dan segera menemui Mona di kamarnya.
Sementara Matthew segera melihat kondisi istrinya.
semangat seina, semoga author cepat membuat bahagia 🤣