Sekelompok mahasiswa mengikuti KKN di Desa Wanasari, desa terpencil yang tak tercatat di peta digital. Siang hari tampak normal; malam hari dipenuhi bisikan, mimpi cabul yang terasa nyata, dan aturan ganjil yang justru mengundang pelanggaran.
Nara Ayudia, ketua KKN yang rasional, berusaha menjaga jarak emosional. Namun satu per satu anggota berubah. Raka digoda sosok perempuan dari sumur lewat mimpi; Lala menjadi sensual dan agresif saat malam tanpa ingatan; Siska disiksa lewat godaan yang bertabrakan dengan imannya; Dion menemukan jurnalnya terisi catatan ritual yang tak pernah ia tulis; Bima mengalami teror fisik paling awal.
Warga desa selalu ramah—dan selalu setengah jujur. Larangan dilanggar. Hubungan menjadi intim, obsesif, dan merusak. Kematian pertama membuka tabir: desa hidup dari tumbal.
Menjelang malam ke-37, terungkap bahwa tumbal terakhir haruslah pemimpin—yang paling kuat menahan diri, namun menyimpan hasrat terdalam. Pilihan desa jatuh pada Nara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. N. Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 — SENTUHAN YANG SALAH
Sore itu, Joglo bukan lagi sekadar rumah kayu tua; ia telah berubah menjadi oven raksasa.
Sepulangnya dari pemakaman Bima, udara di dalam rumah terasa padat, lembap, dan menyesakkan. Tidak ada angin yang masuk meski pintu depan telah dibuka lebar. Keringat mengucur deras dari pori-pori kulit mereka, bukan karena aktivitas fisik, melainkan karena tekanan atmosfer yang tidak wajar. Rasanya seperti dikuliti pelan-pelan oleh hawa panas yang mengandung partikel-partikel kemarahan dan nafsu yang tak tersalurkan.
Nara duduk di lantai ruang tengah, mengipasi lehernya dengan sobekan kardus. Kaosnya basah kuyup, menempel pada punggung, mencetak lekuk tulang belakangnya. Ia merasa lengket, kotor, dan telanjang—meski berpakaian lengkap.
Di sudut ruangan, Raka menggigil.
Kontras dengan suhu ruangan yang membakar, Raka justru meringkuk di bawah selimut tipis yang bau apek. Bibirnya biru, gemetar hebat, beradu satu sama lain dengan bunyi tak-tak-tak yang ritmis. Matanya terpejam rapat, namun bola matanya bergerak liar di balik kelopak, seolah sedang menonton film horor yang diputar paksa di layar otaknya.
"Dingin..." rintih Raka. "Airnya dingin..."
"Ini panas banget, Rak. Lo demam tinggi," kata Dion, mencoba menyentuh dahi Raka.
Namun, begitu ujung jari Dion menyentuh kulit dahi Raka, Dion tersentak mundur.
"Aduh!" Dion mengibas-ngibaskan tangannya. "Nyengat! Kayak kesetrum!"
"Listrik statis?" tanya Nara, mendekat.
"Bukan," Dion menatap ujung jarinya yang memerah. "Rasanya kayak megang es kering. Panas sama dingin nyampur jadi satu."
Siska duduk menjauh di dekat tiang penyangga (saka guru). Ia memeluk lutut, matanya menatap lantai. Sejak pulang dari kuburan, Siska menjadi pendiam. Ia tidak lagi memegang tasbihnya. Tasbih itu tergeletak di lantai, putus talinya, butiran kayunya berserakan dan tidak ada yang berani memungutnya.
"Gue bau tanah," gumam Siska tiba-tiba.
"Kita semua bau tanah, Sis. Abis dari kuburan," sahut Nara lelah.
"Nggak," Siska menggeleng histeris. Ia menggaruk lehernya. Kuku jarinya meninggalkan bekas merah panjang di kulit putihnya. "Bau tanahnya nempel di daging gue. Masuk ke pori-pori. Gue mau mandi. Gue harus mandi."
Siska berdiri, menyambar handuknya. Gerakannya kasar, panik.
"Jangan ke sumur belakang sendirian," cegah Nara cepat. Ia ingat Bima. Ia ingat apa yang terjadi di sana.
"Gue nggak peduli!" jerit Siska. "Badan gue gatel! Gue rasa ada ulat di punggung gue!"
Siska mulai membuka kancing kemejanya di ruang tengah, tidak peduli ada Raka dan Dion di sana. Kewarasannya mulai tergerus oleh paranoia kebersihan.
"Sis! Sadar!" Nara melompat bangun, mencengkeram tangan Siska. "Oke, lo mandi. Tapi gue temenin. Kita ambil air pake ember, mandi di kamar mandi dalem. Jangan di sumur luar."
Nara menoleh ke Dion. "Lo jaga Raka. Jangan biarin dia tidur lelap. Gue takut dia nggak bangun lagi."
Di kamar mandi yang sempit dan berlantai licin itu, Siska menyiram tubuhnya berkali-kali. Air dari bak mandi terasa hangat—terlalu hangat, seperti air yang sudah didiamkan di bawah matahari seharian.
Nara berdiri di dekat pintu, memunggungi Siska, berjaga.
"Nar..." panggil Siska lirih di sela suara guyuran air. "Lo liat punggung gue nggak?"
"Kenapa punggung lo?"
"Ada bekas tangan nggak?"
Nara berbalik sedikit. Siska berdiri membelakanginya, tanpa busana. Di punggung Siska yang basah, kulitnya putih bersih. Tidak ada apa-apa selain bekas garukan Siska sendiri.
"Nggak ada, Sis. Bersih," jawab Nara.
"Tapi rasanya ada yang megang..." suara Siska bergetar, nyaris menangis. "Rasanya ada telapak tangan kasar yang nempel di pinggang gue... terus naik ke atas... anget... basah..."
Nara menelan ludah. Ia merasakan bulu kuduknya meremang. Udara di kamar mandi itu tiba-tiba terasa berat, berbau sabun yang bercampur dengan bau pandan layu.
"Itu sugesti lo aja. Cepetan anduk," desak Nara. Ia sendiri merasa tidak nyaman. Matanya tak sengaja menangkap bayangan di cermin kecil di dinding.
Bayangan Nara di cermin itu tampak normal. Tapi bayangan Siska...
Di cermin yang buram itu, Nara melihat—hanya sekilas, sepersekian detik—sepasang tangan berwarna abu-abu pucat sedang memeluk pinggang Siska dari belakang. Jari-jarinya panjang, melingkar di perut Siska.
Nara mengedipkan mata, dan bayangan itu hilang.
"Keluar. Sekarang," perintah Nara, suaranya tajam. Ia menarik tangan Siska, memaksa gadis itu keluar meski masih basah kuyup, hanya berbalut handuk.
Malam turun dengan cepat, membawa serta kegelapan yang absolut. Listrik tidak menyala. Genset desa sepertinya mati total—atau sengaja dimatikan.
Mereka berkumpul di ruang tengah, diterangi satu-satunya lampu tempel minyak tanah yang mereka temukan di dapur. Cahayanya kuning kemerahan, bergoyang-goyang menciptakan bayangan raksasa yang menari di dinding kayu.
Aturan desa nomor 3 terngiang di kepala Nara: Tidak tidur berdua.
Tapi mereka berempat.
"Kita tidur gimana?" tanya Dion. Ia terlihat kacau. Kacamata tebalnya retak sebelah karena terjatuh tadi sore. "Aturannya 'tidak tidur berdua'. Itu artinya nggak boleh pasang-pasangan, kan?"
"Kita tidur numpuk di tengah aja," usul Nara. "Biar saling jaga."
"Salah," suara Lala terdengar dari arah pintu kamarnya.
Mereka semua menoleh. Lala berdiri di sana, bersandar di kusen pintu dengan pose yang santai namun provokatif. Ia masih memakai kebaya hitam bekas pemakaman tadi. Kain jariknya sedikit tersingkap di bagian betis.
"Aturannya itu biar kalian nggak saling makan," kata Lala sambil tersenyum miring. Ia memainkan ujung rambutnya yang tergerai. "Kalau kalian tidur dempet-dempetan... energinya nyampur. Yang lemah bakal nyedot yang kuat. Yang laper bakal makan yang ada di sebelahnya."
"Diem lo, La," geram Raka dari balik selimutnya. Suaranya parau.
Lala tertawa kecil, lalu berjalan melintasi ruangan menuju dapur. Saat melewati Raka, Lala sengaja menyenggol bahu pemuda itu dengan pinggulnya.
"Masih dingin, Mas?" bisik Lala. "Butuh selimut kulit?"
Raka mengerang, memejamkan mata rapat-rapat.
Lala menghilang ke dapur, meninggalkan jejak aroma melati yang begitu kuat hingga membuat mual.
Nara memutuskan mengabaikan Lala. "Kita tetep tidur di sini. Raka di tengah karena dia sakit. Gue sama Siska di kiri. Dion di kanan. Jangan ada yang nempel kulit langsung. Pake bates guling atau tas."
Mereka berbaring di atas tikar pandan. Panas malam itu semakin menjadi-jadi. Keringat mereka bercampur, menciptakan aroma asam ketakutan yang khas.
Jam menunjukkan pukul 01.00 dini hari.
Siska gelisah. Ia tidak bisa tidur. Pikirannya dipenuhi bayangan liang lahat Bima.
Di sebelahnya, Raka mulai meracau. Tubuhnya yang tadi dingin, kini berubah panas membara. Demamnya naik drastis.
"Rin... Rini..." igau Raka. Tangannya meraba-raba udara, lalu jatuh menimpa lengan Siska.
Siska tersentak. Kulit Raka panas sekali, basah oleh keringat.
"Rak, geser..." bisik Siska, mencoba menepis tangan itu.
Tapi Raka tidak menggeser tangannya. Jemarinya justru mencengkeram lengan atas Siska. Cengkeramannya kuat, putus asa.
"Jangan pergi..." racau Raka. Matanya terbuka sedikit, tapi tatapannya glazed—berkaca-kaca dan kosong. "Di sini aja. Anget..."
Raka menggeser tubuhnya mendekat ke Siska. Ia melanggar batas guling yang dibuat Nara. Tubuhnya menempel ke sisi tubuh Siska.
"Nara..." panggil Siska panik, tapi suaranya tercekat. Ia melihat Nara tertidur pulas—terlalu pulas, seolah dibius. Dion juga sama, mendengkur halus. Hanya Siska dan Raka yang terjaga di zona waktu terlarang ini.
"Rak, lo sadar dong!" Siska mendorong dada Raka.
Tangan Siska menyentuh dada Raka, tepat di balik kaos tipisnya yang basah. Siska bisa merasakan detak jantung Raka yang memburu. Dug-dug-dug-dug.
Dan anehnya... sentuhan itu tidak membuat Siska jijik.
Ada sensasi listrik aneh yang menjalar dari telapak tangan Siska ke seluruh tubuhnya. Sebuah getaran yang membuat perut bawahnya berkontraksi. Rasa takutnya tiba-tiba bercampur dengan... keinginan.
Hawa panas di ruangan itu seolah menjadi konduktor bagi hasrat yang terpendam.
Raka menatap wajah Siska. Dalam keremangan lampu minyak, wajah Siska yang ketakutan berubah di mata Raka. Raka tidak melihat Siska. Raka melihat wanita yang bisa memberinya kehangatan. Wanita yang bisa menyelamatkannya dari dinginnya sumur.
"Siska..." bisik Raka, suaranya berubah menjadi rendah, serak, dan penuh tuntutan. "Bantu gue... gue kedinginan..."
Raka memeluk Siska. Wajahnya membenam di ceruk leher Siska yang tertutup jilbab instan. Hidung Raka mengendus di sana, menghirup aroma keringat dan sabun.
"Astagfirullah... Raka lepas!" Siska mencoba meronta, tapi tenaganya hilang. Tubuhnya lemas. Ia merasa seperti boneka kain. Ada bagian dari dirinya yang menikmati pelukan itu—bagian gelap yang dibangkitkan oleh tanah desa ini.
"Jangan munafik," bisik suara lain di kepala Siska. Suara wanita sumur. "Kamu juga kesepian, kan? Kamu juga butuh dipegang. Tuhanmu jauh, tapi dia dekat."
Tangan Raka mulai liar. Turun dari bahu, meraba pinggang Siska, meremasnya kasar. Itu bukan sentuhan kasih sayang. Itu sentuhan orang yang kelaparan. Sentuhan yang ingin merobek dan mengambil isi.
Napas Raka panas menerpa telinga Siska. "Buka... gue mau masuk... biar anget..."
"NARA!!" jerit Siska akhirnya, memecahkan kelumpuhannya.
Nara tersentak bangun. Matanya langsung tertuju pada pemandangan di sebelahnya. Raka menindih setengah badan Siska, wajahnya terbenam di leher gadis itu, sementara Siska menangis tanpa suara sambil memukuli punggung Raka dengan lemah.
"RAKA!"
Nara menerjang. Ia menarik kerah belakang kaos Raka sekuat tenaga.
"Lepasin dia, brengsek!"
Raka menggeram. Suaranya mirip anjing yang diganggu saat makan. Ia menoleh ke arah Nara, giginya gemeretak. Matanya merah, pupilnya mengecil.
"Dia punya gue!" bentak Raka. "Gue butuh wadah! Gue butuh anget!"
Nara tidak peduli. Ia menendang perut Raka.
BUGH!
Raka terhuyung ke belakang, menabrak meja kecil tempat lampu minyak berada. Lampu itu bergoyang hebat, nyaris jatuh.
Siska merangkak mundur, memeluk dirinya sendiri. Jilbabnya berantakan. Ia menangis histeris. "Dia... dia mau..."
Dion terbangun kaget, membetulkan kacamatanya yang miring. "Ada apa?! Setan?!"
"Lebih parah," napas Nara memburu. Ia berdiri di antara Raka dan Siska, merentangkan tangan. "Raka nyerang Siska."
Raka duduk di lantai, memegangi perutnya yang kena tendang. Napasnya tersengal. Perlahan, sorot mata merah dan liar itu memudar, berganti dengan kebingungan.
Raka melihat tangannya sendiri. Lalu melihat Siska yang menangis.
"Gue... gue ngapain?" suara Raka kembali normal, tapi penuh ketakutan. "Nar? Sis? Kenapa lo nangis?"
"Lo lecehin dia, Rak!" bentak Nara. "Lo sadar nggak sih barusan lo ngomong apa? Lo bilang lo butuh 'wadah'!"
"Demi Tuhan gue nggak inget..." Raka menjambak rambutnya sendiri, frustrasi. "Gue cuma... gue cuma mimpi gue lagi di kutub utara... terus ada api unggun... gue cuma mau deketin api itu..."
"Gue api unggun lo maksud lo?!" teriak Siska, merasa terhina sekaligus ngeri.
"Bukan!" Raka menggeleng kuat. "Gue nggak tau... badan gue gerak sendiri. Rasanya... rasanya ada yang nyetir dari dalem tulang belakang gue."
Suara tepuk tangan pelan terdengar dari ambang pintu dapur.
Lala berdiri di sana, memegang gelas berisi air keruh. Ia tersenyum puas menyaksikan drama itu.
"Tuh kan," kata Lala santai. "Udah dibilangin aturan nomor tiga. Tidak tidur berdua. Kalau kalian deketan... frekuensinya nyambung. Hasratnya Raka yang ditahan-tahan, ketemu sama ketakutannya Siska yang butuh perlindungan... BOOM."
Lala menjentikkan jarinya.
"Desa ini nggak perlu hantu buat ngehancurin kalian," lanjut Lala, berjalan mendekat. Ia menatap Raka dengan tatapan kasihan yang dibuat-buat. "Kalian bakal saling hancurin sendiri karena nggak tahan sama nafsu kalian. Manusia itu emang lemah kalau soal selangkangan."
"Tutup mulut lo, La," desis Nara.
"Kenapa, Nar?" Lala menoleh ke Nara, matanya berkilat tajam. "Lo juga ngerasain kan? Pas lo narik Raka tadi... lo ngerasain panasnya badan dia. Lo juga sempet mikir... 'kok kayaknya enak meluk dia'."
Wajah Nara memerah padam. Jantungnya berdegup kencang karena tertangkap basah oleh sesuatu yang bahkan ia sangkal dalam hatinya sendiri.
Benar. Saat ia bergumul memisahkan Raka tadi, ada sekian detik di mana kulit mereka bersentuhan, dan Nara merasakan surge—lonjakan adrenalin yang berbau gairah. Rasa jijik dan rasa ingin tahu bercampur menjadi satu.
"Kalian semua sakit," kata Nara, suaranya bergetar. "Desa ini bikin kita sakit."
"Bukan sakit, Nar," bisik Lala, tepat di depan wajah Nara. "Tapi jujur. Di sini... kita jadi manusia yang paling jujur."
Lala berbalik dan masuk kembali ke kamarnya, membanting pintu.
Keheningan kembali menyergap ruang tengah. Namun kali ini, keheningan itu terasa berbeda.
Rasa percaya di antara mereka telah retak.
Siska menatap Raka dengan tatapan jijik dan takut. Raka menatap tangannya sendiri dengan horor, sadar bahwa tubuhnya bisa menjadi senjata kapan saja tanpa izin otaknya. Dion menatap Nara dengan curiga, bertanya-tanya apakah sang ketua juga sudah mulai terkontaminasi.
Dan Nara... Nara duduk bersandar di pintu depan, memeluk lutut. Ia menyadari satu hal yang mengerikan.
Musuh terbesar mereka malam ini bukan Pak Wiryo, bukan Bu Kanti, bukan juga hantu kepala buntung.
Musuh mereka adalah tubuh mereka sendiri. Hormon mereka. Insting purba mereka.
Desa Wanasari sedang mengubah pengabdian mereka menjadi pesta pora hewani. Dan malam masih sangat panjang.
Dion mendekat ke arah Nara pelan-pelan. Ia menyodorkan botol air minum.
"Nar," bisik Dion. "Cek tangan lo."
Nara mengernyit. Ia membuka telapak tangannya.
Di telapak tangan kanannya—tangan yang tadi mencengkeram kaos Raka—terdapat noda hitam. Bukan kotoran. Itu lebam. Lebam berbentuk pulau-pulau kecil yang berpola.
"Itu..." Dion menelan ludah. "Itu tanda 'transfer'. Raka udah kepenuhan energi negatif. Pas lo sentuh dia pas dia lagi high... sebagian pindah ke lo."
Nara menggosok tangannya ke celana jeans, tapi noda itu ada di bawah kulit.
"Kita udah terinfeksi, Nar," kata Dion putus asa. "Kita semua udah jadi bagian dari sirkuit ritual ini. Tinggal nunggu siapa yang meledak duluan."
Di luar, angin malam menderu, membawa suara gamelan sayup-sayup yang seolah menertawakan kenaifan mereka. Di dalam Joglo, empat mahasiswa itu duduk terpisah, menjaga jarak aman, takut bahwa sentuhan sekecil apa pun akan memicu kiamat kecil di antara mereka.