Kisah Lyla, seorang make-up artist muda yang menjalin hubungan diam-diam dengan Noah, aktor teater berbakat. Ketika Noah direkrut oleh agensi besar dan menjadi aktor profesional, mereka terpaksa berpisah dengan janji manis untuk bertemu kembali. Namun, penantian Lyla berubah menjadi luka Noah menghilang tanpa kabar. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka lagi. Lyla yang telah meninggalkan mimpinya sebagai make-up artist, justru terseret kembali ke dunia itu dunia tempat Noah berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meongming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 : Gadis Manis
Setelah perempuan tadi pergi, Lyla duduk di kursi dekat ranjang, memandang Noah yang masih tertidur. Lima belas menit kemudian, mata Noah perlahan terbuka. Pandangannya langsung jatuh pada Lyla yang terkantuk-kantuk di kursi.
“Lyla…” panggil Noah pelan, sedikit heran.
Lyla masih setengah tertidur, sampai Noah bangun dan duduk di ranjang, lalu mengusap wajahnya.
Lyla kaget, matanya langsung terbuka lebar.
“Eh, Noah! Kamu sudah bangun!” ucapnya panik.
Noah tertawa pelan melihat reaksi Lyla.
“Tidurmu lelap sekali, Noah. Aku sampai ikut mengantuk,” Lyla mengucek matanya, lalu tersenyum. “Ngomong-ngomong… ibumu belum pulang?”
“Ibu?” Noah menatapnya heran.
“Iya, ibumu yang cantik dan elegan itu,” jawab Lyla kagum. “Beneran, ibumu awet muda banget, ya.”
Noah terdiam sebentar, lalu menunduk dan menutup wajahnya, seperti mengingat sesuatu. Napasnya terhela pelan.
“Lyla… dia bukan ibuku.”
“Eh? Bukan?” dahi Lyla berkerut.
“Dia sepupuku. Ibu yang menyuruh dia menjaga ku. Tapi… sepertinya dia baru saja menjahili mu.”
“Hah?” Lyla teringat lagi tatapan dan senyum aneh perempuan tadi. Semua terasa masuk akal sekarang. “Jadi… aku dibodohi?”
Noah mengangkat bahu, terkekeh. Dia sudah menduga sepupunya punya rencana aneh.
“Terus… kemana dia?”
“Katanya mau pergi antar surat sebentar,” jawab Lyla, nada suaranya sedikit kesal.
Noah tertawa kecil, lalu menatap Lyla lekat-lekat. Senyum tipisnya muncul.
“Artinya… sekarang kita cuma berdua… di rumah ini.”
Wajah Lyla langsung merah. “Jangan aneh-aneh, Noah!!”
Noah tertawa melihat reaksi itu. “Aku cuma bercanda.”
“Udah, makan ini!” Lyla menyodorkan piring berisi potongan buah. “Aku harus segera pulang!”
Noah melirik piring itu lalu menggeleng pelan. “Aku nggak bisa makan sendiri, Lyla.”
“Kamu kan punya tangan!” protes Lyla.
“Tanganku lemah…” Noah mengerucutkan bibir, berpura-pura cemberut.
Lyla mendengus kesal, tapi ujung bibirnya menahan senyum. “Ya ampun, dasar drama king.”
Lyla masih menyuapinya sambil mengomel. Dia hanya menikmati, tak peduli setiap protes yang keluar dari mulutnya.
“Kamu tahu rumahku dari mana?” tanyanya pelan.
“Aku lihat di Google Maps,” jawab Lyla ketus.
“Hah…?”
Saat sendok berikutnya hampir menyentuh bibir Noah, tiba-tiba jemarinya melingkari pergelangan tangan Lyla. Gerakan Lyla terhenti, pandangannya langsung bertaut dengan tatapan dalam di hadapannya.
“Aku senang kamu datang…” suaranya rendah, seperti bisikan.
Belum sempat Lyla merespons, Noah menarik tangan Lyla perlahan, membuat tubuh Lyla ikut condong mendekat. Nafas mereka bercampur, jarak wajah hanya sejengkal. Lyla bisa merasakan hangat hembusan nafasnya di kulitnya, dan itu membuat jantungnya berdebar tak karuan.
“Apa-apaan sih…,” ucap Lyla tergagap, tapi dia tidak bergerak menjauh.
Tatapan Noah begitu dalam, seolah menahan Lyla di tempat. Wajahnya semakin mendekat, matanya sedikit menurun ke arah bibir Lyla. Jemarinya masih menahan lembut pergelangan tangan itu, tak memberi kesempatan untuk kabur.
Sekejap dunia terasa hening. Lyla bisa merasakan detik ini… detik ketika bibir mereka akan..
Tiba-tiba
Suara langkah dari luar memecah semuanya.
Noah langsung melepaskan tangannya, buru-buru merebahkan diri dan pura-pura tidur. Lyla duduk terpaku, wajahnya panas, masih berusaha mengatur napas.
Pintu terbuka.
“Noah…” suara lembut memanggil.
Lyla tersentak, menoleh kikuk. Seorang wanita berwajah lembut berdiri di ambang pintu, tersenyum hangat.
“Eh… ada teman Noah?”
Jantung Lyla berdegup semakin kencang. Wanita itu… adalah ibunya Noah.
Tak lama kemudian, Lyla sudah duduk di meja makan yang tampak estetik, dikelilingi aroma wangi dan cahaya hangat dari lampu gantung.
Ibu Noah datang membawa sepiring cake strawberry, lalu meletakkannya di hadapan Lyla.
“Maaf membuatmu harus menjaga Noah… Anak itu memang…” Ia sempat terdiam, sepertinya teringat sesuatu. “Sepupunya saja kabur dari tugas merawatnya.”
“Tidak apa-apa, Tante…” jawab Lyla sambil tersenyum kikuk.
Ibu Noah ikut tersenyum, tatapannya hangat.
“Kamu teman satu kelas Noah? Siapa namanya?”
“Lyla… aku teman satu klub teater.”
“Oh… begitu,” ucapnya sambil mengangguk dan tersenyum ramah.
Sementara itu, di kamar, Noah berbaring sambil menahan tawa pelan. Bayangan wajah Lyla yang tadi panik dan merah merona terus bermain di kepalanya. Dia baru saja berhasil menjahilinya dan jelas, momen itu akan terus ia ingat.
*
Langkah Lyla sudah sampai di halaman depan, jemarinya menggenggam tali tas erat-erat. Udara sore terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin itu cuma perasaannya setelah insiden di kamar tadi.
Baru saja ia hendak membuka gerbang, suara itu memanggil pelan namun jelas.
“Lyla.”
Refleks ia menoleh. Dari jendela lantai dua, Noah berdiri dengan satu tangan bersandar di jendela, rambutnya sedikit berantakan. Senyum tipis muncul di wajahnya.
“Terima kasih.”
Bersamaan dengan itu, Noah mengangkat kedua tangannya membentuk lambang hati di udara.
Lyla mematung sebentar, jantungnya memukul-mukul dada. Sejujurnya, senyum itu berhasil meruntuhkan semua kesalnya. Tapi gengsi menahannya.
“Hm.” Lyla hanya mengangguk singkat, lalu cepat-cepat menoleh ke depan dan berjalan pergi seperti anak kecil yang sedang ngambek.
Dari jendela, Noah terkekeh pelan, matanya tak lepas mengikuti punggung Lyla yang semakin menjauh.
" Aku nggak nyangka, cuma melihat kamu datang saja rasanya dunia jadi lebih gampang dijalani."
Sudut bibirnya terangkat lebih lebar. " Lain kali…aku harus bikin kamu datang lagi."
Langit sudah mulai gelap, lampu-lampu halaman menyala lembut.
Lyla berjalan sambil menggenggam tali tasnya erat, wajahnya masih terasa panas.
“Kenapa sih deg-degan begini…” gumamnya pelan, bayangan senyum Noah dari jendela tadi terus terbayang di kepalanya.
Begitu melewati gerbang, angin malam berhembus pelan, membuat ujung rambutnya menari.
Dia menoleh sekali lagi, berharap Noah sudah tidak melihat.
Tapi
Masih di jendela, Noah bersandar dengan dagu di tangan, menatap punggung Lyla yang menjauh.
Sudut bibirnya terangkat pelan.
“Anak itu… lucu juga kalau marah,” katanya lirih.
Ia lalu menatap langit, senyum kecil tak kunjung hilang dari wajahnya.