NovelToon NovelToon
Ketika Aku Menemukanmu

Ketika Aku Menemukanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fitri Wardani

Ini adalah kisah tentang seorang ibu yang terabaikan oleh anak - anak nya di usia senja hingga dia memutuskan untuk mengakhiri hidup nya.
" Jika anak - anak ku saja tidak menginginkan aku, untuk apa aku hidup ya Allah." Isak Fatma di dalam sujud nya.
Hingga kebahagiaan itu dia dapat kan dari seorang gadis yang menerima nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah Sakit 1

*****

" Apa dia akan meninggal?" Tanya Zeyden dengan serius.

" Soal itu, mama nggak bisa jawab Zey. Hidup dan mati seseorang bukan berada di tangan dokter. Tapi tanpa terapi, masa bertahan hidup nya akan semakin berkurang." Jawab Shafa lirih.

Lagi - lagi Zeyden mengusap wajah nya kasar. Mata nya yang tajam mulai terasa sangat panas. Berulang kali dia menatap wajah mama nya sebelum dia memutuskan untuk keluar dari ruangan itu.

" Zeyden... Zey..." Panggil Shafa.

Panggilan Shafa tak berpengaruh apa pun pada Zeyden. Langkah nya yang terus maju tanpa henti terus melaju sampai ke ruang perawatan Kanaya yang dia ketahui dari seorang suster di UGD.

*

*

*

Zeyden menatap lekat wajah Kanaya. Membingkai nya dengan tatapan penuh membuat Kanaya bergeming dan menanti apa yang akan di katakan Zeyden pada nya. Sebab dia berpikir pasti dokter sudah memberi tahu soal penyakit nya pada Zeyden.

" Bagaimana perasaan kamu sekarang? Apa sudah mendingan?" Tanya Zeyden.

" Perasaan apa, mas?"

" Apa kepal kamu masih pusing?" Tanya Zeyden lagi.

Kanaya menghela nafas panjang lantas tersenyum menatap wajah Zeyden yang tampak prihatin melihat kondisi nya.

" Saya sudah baikan kok, mas. Bahkan saya sudah mau pulang. Bunda pasti menunggu saya di rumah." Jawab Kanaya.

" Tadi bunda kamu sudah telpon. Dan saya sudah jawab. Mungkin sekarang bunda kamu sedang di jalan menuju kesini."

" Harus nya bunda nggak perlu di suruh datang, mas. Bunda pasti khawatir nanti."

" Kalau nggak bilang sama aku. Mana aku tahu." Sahut Zeyden.

" Apa dokter sudah masuk?"

Zeyden hanya mengangguk pelan.

" Dokter bilang apa tentang aku, mas?"

" Ada sel jahat yang menggerogoti bagian tubuh mu. Dan itu sudah sampai ke paru - paru, juga otak. Apa kamu sudah lama merasakan ada yang janggal di tubuh kamu?"

Zeyden mencoba tenang dan bertanya dengan santai. Meski di dalam hati nya sudah sangat hancur. Sebab ad penyakit berbahaya yang ternyata mengancam tubuh wanita yang dia kagumi.

Kanaya menggigit bibir bawah nya dengan perasaan yang tak lagi berbentuk.

" Saya nggak papa kok, mas. Kejadian seperti tadi sudah sering saya rasa kan. Jadi mas nggak perlu khawatir. Bunda saya kan sudah mau datang, jadi sebaik nya mas pulang saja." Usir Kanaya melirik Zeyden yang berdiri dengan ekor mata nya.

" Kamu ngusir saya?" Tanya Zeyden tak terima.

" Iya. Memang ada yang salah? Nggak kan?" Jawab Kanaya membulat kan mata nya.

" Kamu nggak tahu kalau rumah sakit ini punya keluarga saya?"

" Nggak. Dan saya nggak perlu tahu." Sahut Kanaya santai.

Tok

Tok

Tok

Setelah mengetuk pintu, dokter Shafa masuk ke dalam ruang perawatan Kanaya.

" Kamu sudah sadar, Kanaya?" Sapa dokter Shafa dengan ramah.

" Dokter Shafa. Pantas tadi saya merasa nggak asing dengan rungan nya. Ternyata saya di bawa ke rumah sakit yang tepat." Jawab Kanaya tersenyum.

" Ya iya lah." Sahut Zeyden menimpali.

" Tadi kan mama sudah bilang, kalau Kanaya bangun kamu panggil mama. Ini kenapa mama nggak di panggil?" Ujar Shafa menatap pada Zeyden.

" Mama?" Bathin Kanaya tercengang mendengar nya.

" Yah... Naya juga baru bangun, ma." Jawab Zeyden.

" Kamu keluar, mama mau bicara dengan Naya." Perintah Shafa meminta Zeyden pergi.

Tanpa menjawab, Zeyden melangkah pergi keluar dari ruang perawatan Kanaya.

" Apa keadaan saya sudah sangat parah, dokter?" Tanya Kanaya.

" Sudah. Jika kamu hanya diam membiarkan penyakit kamu menyebar. Semua penyakit itu ada obat nya, Naya. Hanya saja kita belum bis pastikan obat mana yang cocok sama tubuh kamu. Asal kamu berusaha untuk sembuh, keajaiban itu akan datang, Naya. Kamu harus percaya itu. Kalau pun waktu nya nanti akan tiba, setidak nya kamu sudah berusaha untuk sembuh. Bukan hanya diam menunggu kematian." Jawab Dokter Shafa.

" Saya tahu, dok. Saya juga mau sembuh. Tapi kan dokter tahu sendiri. Biaya kemoterapi itu nggak murah, dok. Saya ini hanya karyawan biasa di kantor. Kalau untuk kemoterapi setiap Minggu, gaji saya saja kurang dok bayar nya. Belum lagi untuk makan dan biaya lain nya." Balas Kanaya.

Dokter Shafa membelai wajah Kanaya dengan cinta. Meski harapan sangat tipis kini. Tapi sebagai dokter dia akan melakukan yang terbaik untuk pasien nya.

" Saya bukan orang kaya, dok. Dan jujur saya nggak mau berobat dan putus di tengah jalan hanya karena saya nggak mampu bayar. Maaf kan saya, dokter. Bukan saya menyerah, tapi saya sadar diri. Saya nggak punya cukup biaya untuk membayar semua terapi dan kemoterapi di rumah sakit." Lirih Kanaya.

Kanaya merapatkan kedua mata nya saat genangan yang sejak tadi dia tahan tak lagi mampu terbendung.

" Kalau saya bilang, kamu tidak perlu bayar untuk biaya selama terapi? Apa kamu mau melakukan terapi secara rutin?" Tanya Dokter Shafa menatap Kanaya serius.

Kanaya terpaku menatap Dokter Shafa. Kanaya bahkan tidak punya asuransi kesehatan, bagaimana mungkin dia bisa berobat gratis.

" Maksud dokter?" Tanya Kanaya balik heran.

" Begini, Kanaya. Rumah sakit ini milik suami saya. Saya bisa mengatur nya buat kamu. Asal kamu bilang oke, maka kamu tidak perlu bayar biaya apa pun sampai kamu sembuh. Lagi pula bukan hanya pada kamu. Selama ini rumah sakit juga memberikan pelayanan kesehatan gratis untuk orang yang masuk ke sini, tapi tidak mampu membayar nya. Karena buat saya, kesehatan pasien jauh lebih penting dari sekedar membayar rumah sakit. " Jawab Dokter Shafa menjelaskan.

" Ya ampun, mulia sekali hati dokter Shafa. Beruntung sekali rasa nya aku bertemu dengan dokter sebaik dan semulia dokter Shafa." Puji Kanaya dalam hati.

" Bagaimana, Kanaya?"

Kanaya tersenyum simpul.

" Terim kasih dokter. Tapi saya akan bicarakan soal ini dengan bunda dulu." Ucap Kanaya.

" Baik lah kalau begitu." Jawab Dokter Shafa.

Dokter Shafa menatap bidadari yang sedang terbaring di depan nya. Mata yang indah, senyum yang manis. Membuat dokter Shafa sudah menaruh hati pada nya saat pertma kali merek bertemu.

" Oh ya, dok. Saya mau tanya sesuatu nih." Ujar Kanaya ragu - ragu.

" Apa... Mas yang tadi... Anak dokter? Tadi Naya dengar, dia panggil Mama."

Dokter Shafa tersenyum seraya mengangguk sekali.

" Iya. Dia anak saya, Zeyden. Dia yang membawa kamu ke sini tadi sat kamu pingsan." Jawab dokter Shafa.

Kanaya tersenyum kikuk. Di sempat meragukan tadi waktu Zeyden bilang kalau rumah sakit ini adalah rumah sakit nya. Bahkan dia sudah bicara sembarangan terhadap Zeyden. Padahal mama nya Zeyden sangat baik pada Kanaya.

" Kanaya..." Pekik Fatma masuk ke dalam ruang perawatan.

" Bunda..."

" Kenapa bisa sampai seperti ini, Nak. Tadi kan bunda sudah bilang jangan pergi terlalu jauh. Kamu itu harus jaga tubuh kamu, Naya. Jangan terlalu capek." Omel Fatma menyentuh tubuh Kanaya dari atas sampai bawah.

Fatma merengkuh tubuh Kanaya dan berguncang sebab tangis Fatma. Memeluk nya dengan sangat erat. Meluapkan ras sesak yang dia rasakan. Fatma larut dalam tangisan.

" Jangan khawatir, buk. Sudah baikan sekarang." Kata dokter Shafa menyentuh punggung Fatma.

Fatma buru - buru mengusap air mata nya saat pelukan mereka terurai.

" Maaf, dokter. Saya sangat mengkhawatir kan Naya. Bagaimana keadaan nya, dok?"

" Semua masih dalam tahap penyembuhan. Ibuk tenang saja. Mungkin Kanaya akan lebih lama di rawat di sini. Karena mulai besok, setelah melakukan pemeriksaan keseluruhan, kami akan melakukan terapi hormon untuk menyerang langsung sel kanker nya." Jawab Dokter Shafa.

" Saya mohon, dokter. Lakukan yang terbaik untuk anak saya. Tolong sembuh kan anak saya, dokter." Pinta Fatma menyentuh tangan kanan Dokter Shafa.

Shafa mengangguk dengan cepat.

" Pasti, buk. Sudah menjadi tanggung jawab kamu. Baik lah kalau begitu, saya pamit dulu. Kalau ada apa - apa, tekan tombol emergency say ya buk. Suster akan segera datang." Pamit Dokter Shafa.

" Baik, dokter. Terima kasih."

Dokter Shafa pamit pergi dan keluar dari ruangan Kanaya.

Tapi saat di luar, dia tidak lagi melihat Zeyden. Dia berpikir jika Zeyden telah pulang dari rumah sakit.

1
partini
jadian ma aris tah
partini
baca sinopsisnya penasaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!