Aqilla Pramesti begitu putus asa dan merasa hidupnya sudah benar-benar hancur. Dikhianati dan diceraikan oleh suami yang ia temani dari nol, saat sang suami baru saja diangkat menjadi pegawai tetap di sebuah perusahaan besar. Ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Namun, takdir berkehendak lain, siapa sangka nyawanya diselamatkan oleh seorang pria yang sedang berjuang melawan penyakitnya dan ingin hidup lebih lama.
"Apa kamu tau seberapa besar perjuangan saya untuk tetap hidup, hah? Kalau kamu mau mati, nanti setelah kamu membalas dendam kepada mereka yang telah membuat hidup kamu menderita. Saya akan membantu kamu balas dendam. Saya punya harta yang melimpah, kamu bisa menggunakan harta saya untuk menghancurkan mereka, tapi sebagai imbalannya, berikan hidup kamu buat saya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Radit terdiam dengan mata terpejam. Apa yang baru saja diucapkan oleh asisten pribadinya itu benar adanya. Ia dan Aqilla pasti akan berpisah juga pada akhirnya. Entah dipisahkan oleh kematian, atau oleh hal lainnya yang tidak ia bayangkan sebelumnya. Meskipun begitu, ia tidak bisa membohongi perasaannya sendiri bahwa ia telah jatuh cinta kepada wanita bernama Aqilla, janda dengan dua orang anak.
"Maaf, Pak Bos. Sekali lagi saya mohon maaf kalau ucapan saya menyinggung Anda. Saya cuma gak mau hidup Anda semakin menderita," ucap Dion seketika membuyarkan lamunan panjang seorang Raditya.
"Nggak usah minta maaf, Dion. Yang kamu katakan benar ko," jawab Radit seraya tersenyum getir. "Tapi saya gak bisa membohongi diri saya sendiri kalau saya jatuh cinta sama Aqilla. Dia dan anak-anak memberi warna baru dalam hidup saya, Dion. Bersama mereka, saya merasakan bahagia, rumah yang tadinya sepi sekarang jadi ramai sama gelak tawa anak-anak. Jujur, saya gak pernah sebahagia ini dalam hidup saya. Kalau pun Tuhan mau mengambil hidup saya, rasanya saya rela karena telah diberi kesempatan bertemu dengan mereka dan merasakan punya keluarga kecil yang bahagia."
Dion tertegun, memandang lekat wajah sang majikan. "Pak Bos," gumamnya, dengan kedua mata berkaca-kaca.
Radit menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. "Hidup manusia sudah ditentukan oleh Tuhan. Saya bertahan sampai sejauh ini karena kemurahan hati Tuhan, Dion. Saya pasrah dengan takdir yang Tuhan gariskan untuk saya. Kalaupun hidup saya gak lama lagi, saya gak akan mengorbankan kehidupan Aqilla. Jadi--"
"A-Anda gak akan melakukan operasi transplantasi ginjal?" sela Dion, bahkan sebelum Radit menyelesaikan apa yang hendak diucapkan. "Bukankah Anda sudah lama menunggu pendonor yang mau mendonorkan ginjalnya buat Anda, Pak? Kenapa sekarang Anda seperti ini? Ya Tuhan."
"Sudahlah, gak usah dibahas, Dion. Kita serahkan semuanya sama Takdir Tuhan, oke?" jawab Radit, seraya menepuk pundak Dion dengan pelan. "Yang jelas, saya gak mau Aqilla sampai tahu kondisi saya yang sebenarnya. Jujur, saya gak mau kehilangan dia dan anak-anak."
"Terlambat, Pak Bos. Mbak Aqilla sudah tau semuanya. Saya tak bisa memastikan langkah apa yang akan diambil sama Mbak Aqilla. Apa dia akan meninggalkan Anda atau memanfaatkan Anda untuk balas dendam," ucap Dion dalam hatinya, tanpa berani mengatakannya secara langsung.
***
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 30 menit, mobil yang ditumpangi oleh Aqilla dan yang lainnya akhirnya tiba di kediaman Raditya Nathan Wijaya. Mobil Pajero berwarna hitam itu mulai melipir lalu memasuki pintu gerbang sebelum akhirnya berhenti tepat di depan rumah dua lantai dengan cat berwarna putih bersih.
"Yeeey, akhirnya nyampe juga," sorak Kaila, seraya membuka pintu mobil lalu melangkah keluar dengan wajah ceria.
"Tunggu aku, Kakak!" seru Keano, seketika melompat keluar membuat Aqilla berteriak kesal.
"Astaga, Keano. Hati-hati jatuh," tegur Aqilla, kedua kakinya perlahan melangkah keluar dari dalam mobil.
Radit yang duduk di jok depan pun melakukan hal yang sama. Aqilla segera melangkah menghampiri lalu membantunya berjalan. Padahal, pria itu terlihat baik-baik saja. Bahkan tidak terlihat sakit sedikit pun.
"Hati-hati, Mas," ucap Aqilla, di matanya, Radit hanyalah pria yang sedang sekarat.
"Saya baik-baik aja, Qilla. Saya bisa jalan sendiri, tapi kalau mau dipapah sama kamu, dengan senang hati saya bersedia," jawab Radit seraya tersenyum lebar.
Wajah Aqilla seketika memerah, tersipu malu, benar-benar memapah tubuh Radit melangkah menuju teras rumah. Meskipun pria itu mengatakan baik-baik saja, tapi ia sudah tahu kondisi yang sebenarnya. Dirinya pun belum mengambil keputusan, apa ia akan berada di sisi Radit dan tetap menjalankan misi balas dengan, atau pergi sejauh mungkin bersama anak-anaknya, mengingat kebohongan yang telah dilakukan oleh pria itu.
"Permisi, Tuan," sapa pembantu rumah tangga yang bekerja di kediamannya, melangkah keluar dari dalam rumah.
Baik Aqilla maupun Radit sontak menghentikan langkahnya. "Ada apa, Bi?" tanya Radit dengan wajah datar.
"Anu, Tuan. Di dalam ada tamu yang mencari Anda dan Mbak Aqilla."
"Tamu?" gumam Radit dan Aqilla secara bersamaan, sampai akhirnya Keano berteriak kencang dengan wajah ceria, seraya berlari memasuki rumah.
"Ayaaaah!" serunya, membuat Radit dan Aqilla terkejut.
"Ayah?" gumam mereka lagi secara bersamaan, seraya menoleh dan menatap wajah satu sama lain.
"Dari mana Mas Ilham tau kalau aku tinggal di sini?" batin Aqilla, wajahnya seketika memucat.
"Brengsek, si Ilham benar-benar nantangin saya," batin Radit, kedua tangannya seketika mengepal sempurna.
Sementara Ilham yang tengah duduk di ruang tamu sontak berdiri tegak, tersenyum lebar dan segera memeluk tubuh Keano yang berlari menghampirinya.
"Astaga, Keano. Kamu apa kabar, Sayang?" tanyanya, berjongkok, memeluk erat tubuh putra bungsunya.
Aqilla dan juga Radit melangkah cepat memasuki rumah. Menatap wajah Ilham dengan tajam. Sedangkan Radit hanya berdiri tepat di samping Kaila yang nampak bergeming, bahkan terlihat tidak senang dengan kedatangan ayah kandungnya.
"Mau ngapain kamu ke sini, Mas?" tanya Aqilla dengan sinis.
Ilham mengurai pelukan lalu menggendong tubuh Keano. "Mau apa lagi, Aqilla. Saya datang ke sini buat menjemput anak-anak. Bukankah kita sudah sepakat, anak-anak akan tinggal bersama saya mulai sekarang."
Bersambung ....