Di balik kemegahan istana presiden, cinta hanyalah sebuah bidak yang dikorbankan demi takhta.
Adrian (Ian) menggunakan Rhea, seorang mahasiswi kedokteran, sebagai tunangan kontrak untuk membalas dendam pada ibu tirinya, Cansu. Namun, di balik kebencian itu tersimpan rahasia kelam tentang pengkhianatan dan pengorbanan yang dipaksakan oleh ambisi politik sang Perdana Menteri.
Saat rahasia masa lalu terbongkar dan nyawa menjadi taruhan, mereka harus menyadari satu kenyataan pahit: di puncak kekuasaan, setiap kemenangan selalu meminta tumbal.
Kekuasaan memiliki harga, dan mereka harus membayarnya dengan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kharisa Patasiki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: JAMUAN DI KOTA MODE DAN PERMAINAN BAYANG-BAYANG
Milan selalu memiliki dua wajah. Di satu sisi, ia adalah kiblat mode dunia yang berkilauan dengan butik-butik mewah di Galleria Vittorio Emanuele II. Namun di sisi lain, di balik dinding-dinding marmer kuno dan pintu-pintu kayu ek yang berat, Milan menyimpan sejarah kekuasaan yang jauh lebih kelam dan absolut.
Ian dan Rhea mendarat di bandara Malpensa dengan pengawalan yang jauh lebih ketat dari biasanya. Jika di Positano Ian bisa bersantai dengan Vespa tua, di Milan, ia kembali menjadi Adrian Diningrat yang waspada. Alasannya sederhana: Lorenzo Valenti.
Lorenzo bukan sekadar rekan bisnis. Ia adalah sosok yang membantu Ian membangun jaringan distribusi Diningrat Grub di Eropa saat Ian masih menjadi mahasiswa yang haus akan pengaruh. Namun, Lorenzo juga merupakan pemimpin dari salah satu klan famiglia paling berpengaruh di Italia Utara. Hubungan mereka adalah simfoni antara rasa hormat dan kewaspadaan.
"Ian, kenapa wajahmu tegang sekali?" tanya Rhea saat mereka berada di dalam mobil limusin yang dikirim langsung oleh Lorenzo. "Kita hanya akan menerima hadiah pernikahan, kan?"
Ian menggenggam tangan Rhea, jemarinya mengusap cincin pernikahan mereka. "Lorenzo tidak pernah memberikan hadiah tanpa alasan, Rhea. Baginya, hadiah adalah sebuah kontrak tak tertulis. Dia orang yang sangat baik, tapi kebaikannya selalu memiliki harga yang harus dijaga dengan kehormatan."
"Apa dia berbahaya?"
Ian menatap ke luar jendela, ke arah Katedral Duomo yang menjulang megah. "Selama kita adalah temannya, dia adalah pelindung terbaik. Tapi di dunianya, garis antara teman dan musuh setipis benang sutra. Aku ingin kamu tetap berada di dekatku nanti."
Hadiah di Castello Valenti
Pertemuan diadakan di sebuah kastil tua di pinggiran Milan. Begitu mereka masuk, pemandangan kontras tersaji. Di halaman luas, pria-pria dengan setelan jas hitam yang rapi berdiri dengan tangan bersedekap, namun mata mereka memindai setiap inci pergerakan tamu.
Lorenzo Valenti menyambut mereka di ruang makan yang diterangi oleh ratusan lilin. Ia adalah pria berusia 50-an dengan rambut perak yang disisir rapi dan tatapan mata yang tenang namun tajam.
"Adrian, Singaku yang hilang!" seru Lorenzo dengan aksen Italia yang kental. Ia memeluk Ian dengan hangat, lalu beralih ke Rhea. "Dan ini adalah bunga yang berhasil menjinakkan sang algojo? Incantevole. Sangat mempesona."
"Terima kasih atas undangannya, Lorenzo," ucap Ian dengan nada formal yang sopan.
"Makanlah dulu. Kita bicara setelah risotto ini habis," ujar Lorenzo.
Sepanjang makan malam, Lorenzo bersikap seperti paman yang ramah. Ia bercerita tentang masa muda Ian di Milan dan bagaimana Ian dulu hampir menghajar seorang bangsawan karena menghina pelayan restoran. Namun, Ian tahu bahwa setiap cerita Lorenzo adalah cara untuk mengingatkan Ian akan hutang budi dan sejarah mereka.
Setelah makan malam, Lorenzo berdiri. "Sekarang, untuk hadiahnya. Adrian, aku tahu istrimu adalah seorang dokter. Dan aku tahu kamu sedang membangun rumah sakit rehabilitasi di Jakarta."
Lorenzo memberikan sebuah kunci perak kecil dan sebuah dokumen. "Aku telah membeli sebuah pusat riset medis di pinggiran Milan atas nama Rhea Candrakirana. Seluruh teknologi medis terbaru di sini akan menjadi milik laboratoriummu di Jakarta. Ini adalah kontribusiku untuk masa depan Keluarga Diningrat."
Ian tertegun. Ini bukan sekadar hadiah; ini adalah aset bernilai triliunan rupiah yang memberikan Ian akses langsung ke teknologi medis Eropa. Sebuah langkah strategis yang jenius, namun sekaligus mengikat Ian lebih dalam dengan jaringan Valenti.
"Terima kasih, Lorenzo. Ini terlalu besar," ucap Rhea tulus, meski ia bisa merasakan ketegangan di bahu Ian.
Komedi di Tengah Ketegangan: Kekacauan diJakarta
Di sela-sela ketegangan di Milan, Ian menyempatkan diri mengecek pesan suara dari Yusuf. Ternyata, "virus" kekacauan Mbok Yem dan Pak Totok telah mencapai level internasional.
"Tuan Muda," suara Yusuf terdengar seperti orang yang baru saja lolos dari maut. "Tadi Mbok Yem menelepon saya dengan panik. Katanya, dia ingin menyusul ke Milan karena dia baru ingat kalau Tuan Muda sering alergi udara dingin Milan. Dia sudah sampai di bandara Soekarno-Hatta dengan membawa dua kardus besar berisi jahe merah dan beras kencur."
Ian hampir tersedak kopinya. Rhea ikut mendengarkan.
"Masalahnya, Pak Totok ikut menyelinap. Dia membawa satu karung pupuk organik di dalam koper, katanya untuk diberikan pada petani di Italia supaya kebun anggur mereka sesubur kebun teh kita. Sekarang mereka berdua ditahan di bagian imigrasi karena dicurigai membawa zat terlarang berupa bubuk jamu rahasia Mbok Yem yang dikira bubuk mesiu oleh anjing pelacak."
Rhea tertawa terpingkal-pingkal di pelukan Ian. "Oh Tuhan, Mbok Yem! Dia akan mencoba meracuni petugas imigrasi dengan jamunya supaya dilepaskan!"
Ian membalas pesan Yusuf: "Gunakan pengaruh perusahaan untuk memulangkan mereka ke mansion. Katakan pada Mbok Yem, jika dia tidak pulang, aku akan membuang seluruh stok brotowali di dapur."
Pesan Tersembunyi Lorenzo
Kembali ke pertemuan, Lorenzo mengajak Ian berjalan-jalan di kebun anggurnya yang gelap.
"Adrian," ucap Lorenzo, suaranya kini lebih rendah dan serius. "Dunia sedang berubah. Orang-orang seperti Pradikta hanyalah kerikil kecil. Ada kekuatan besar yang mengincar jalur perdagangan di Asia Tenggara. Hadiahku tadi bukan hanya untuk istrimu, tapi untuk memastikan bahwa kamu memiliki 'perisai' jika mereka mulai menyerang bisnismu lagi."
Ian berhenti melangkah. "Siapa mereka, Lorenzo?"
"Nama-nama lama dari masa lalu kakekmu. Mereka yang merasa Diningrat berhutang pada mereka. Tetaplah waspada, Adrian. Dan jika kamu butuh 'tangan kotor' untuk menyelesaikan masalah, kamu tahu di mana menemukanku."
Ian menatap mata Lorenzo. Ia menyadari bahwa meskipun ia ingin hidup normal, bayang-bayang kekuasaan akan selalu mengikutinya. Namun, kali ini ia tidak takut.
Pertemuan Tak Sengaja di Milan
Esok harinya, sebelum meninggalkan Milan, Ian dan Rhea berjalan-jalan di sekitar area Brera. Saat sedang menyeberang jalan, sebuah mobil sedan hitam berhenti di lampu merah tepat di samping mereka.
Kaca jendela mobil itu terbuka sedikit. Di dalamnya, terlihat seorang wanita yang sedang membaca buku. Saat wanita itu menoleh ke arah jendela, matanya bertemu dengan mata Ian.
Itu adalah Cansu.
Ia tidak terkejut. Ia hanya tersenyum sangat tipis—sebuah senyum yang seolah berkata, "Aku tahu kalian akan datang ke sini." Di kursi sampingnya, terlihat seorang pria paruh baya yang tampaknya adalah pengawal sekaligus orang kepercayaan baru yang disiapkan oleh Lorenzo Valenti untuk menjaganya.
Rupanya, Cansu berada di bawah perlindungan Lorenzo selama ini. Itulah alasan mengapa Yusuf sulit melacaknya. Cansu telah menjadi bagian dari "lingkaran rahasia" Milan, hidup tenang namun terlindungi dengan sangat ketat.
Mobil itu melaju saat lampu berubah hijau. Tak ada kata yang terucap.
"Dia benar-benar memulai hidup baru, ya?" gumam Rhea.
"Iya. Dan setiap tidak sengaja bertemu dia bersikap seperti orang asing bukan?".jawab Ian.
Malam itu, di kamar hotel mewah mereka, Ian memeluk Rhea dengan erat. Pertemuan dengan Lorenzo mengingatkannya bahwa dunia luar mungkin tetap berbahaya, namun selama ia memiliki Rhea, ia memiliki alasan untuk selalu menang.
"Setelah ini, kita pulang ke Jakarta?" tanya Rhea.
"Ya. Kita pulang. Mbok Yem dan Pak Totok pasti sudah menunggu dengan sejuta cerita konyol mereka," ujar Ian sambil tertawa.
Perjalanan ke Italia ini ditutup dengan sebuah kesadaran: bahwa mawar mungkin memiliki duri, dan sejarah mungkin memiliki bayangan, namun cinta yang jujur adalah satu-satunya cahaya yang mampu menembus kabut yang paling pekat sekalipun.
Milan memberikan mereka teknologi, Positano memberikan mereka kenangan, dan Cansu memberikan mereka restu bisu. Kini, saatnya sang Macan Diningrat kembali ke sarangnya untuk membangun masa depan yang sesungguhnya.