Pernikahan akan terasa indah selagi masih ada cinta dari seorang suami.
Namun hal itu tidak berlaku pada seorang wanita muda. Pernikahannya hancur karena campur tangan keluarga suaminya. Apalagi sang suami tak lagi berpihak pada dirinya.
Nama wanita itu adalah Amara.
Di tengah-tengah keputusasaannya, ia bertemu dengan cinta pertamanya.
Apakah yang akan terjadi pada kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab delapan belas.
"Kau sedang masak apa, nak?" Tanya Nina pada putrinya ketika melihat wanita itu tampak sibuk di dapur sejak subuh tadi.
Ada beberapa jenis masakan yang sudah tersaji di atas meja makan.
"Sebanyak ini? Apa kau mau membuka warung nasi?" tanyanya heran.
Amara tersenyum. "Tidak, Bu. Aku mau memberikan sebagian pada Wahyu dan Lydia. Mereka sudah banyak membantu ku kemarin. Khususnya Wahyu, aku tidak tahu dia makan atau tidak kemarin." jelasnya.
"Oh!" serunya mengerti. "Biar ibu bantu letakkan ke dalam kotak bekal ya."
"Iya, Bu. Setelah itu kita makan bersama-sama, ya." ucapnya lalu menyelesaikan masakannya.
"Iya, sayang." ucap ibunya tersenyum.
...****************...
"Ibu kelihatannya sangat betah bekerja di panti. Apa orang-orang di sana sangat baik kepada ibu?" tanyanya ketika mereka sedang makan.
"Iya. Mereka sangat baik. Bukan hanya pekerja di sana, tetapi para penghuni panti juga sangat baik kepada ibu. Walaupun tidak semuanya. Karena ada beberapa lansia yang membutuhkan perawatan khusus di sana. Sehingga mereka tidak diizinkan untuk keluar sembarangan." jelas Nina.
"Oh, iya. Apa ada yang bersikap buruk kepada ibu?"
"Hampir. Tetapi untungnya para perawat dengan cepat menanganinya sehingga ibu baik-baik saja." jelasnya teringat pada saat itu.
"Memangnya apa yang terjadi, Bu?" tanyanya penasaran.
"Perawat mengatakan jika dia menderita alzheimer. Sehingga terkadang ia bersikap seperti halnya kanak-kanak. Terkadang ia juga sering melupakan keluarganya. Ibu tidak terlalu mengerti dengan hal itu." jelas Nina kebingungan.
"Oh begitu. Iya, Amara juga pernah membaca jika alzheimer memang menyebabkan penurunan daya ingat dan kemampuan otak penderitanya. Sehingga mereka mudah lupa bahkan untuk hal-hal yang baru saja mereka lakukan. Mereka juga cenderung menjadi lebih agresif, cemas maupun depresi." jelas Amara.
"Jadi begitu ya." Nina mengangguk mengerti.
Amara tersenyum dan melanjutkan makannya.
"Kau masih suka membaca buku-buku kedokteran, ya?" tanyanya lagi pada putrinya itu.
"Sesekali jika aku punya waktu luang, aku akan pergi ke perpustakaan." jelasnya.
"Apa kau tidak ingin melanjutkan sekolah mu, nak? Kau pernah mengatakan jika kau ingin menjadi seorang dokter, 'kan?" Nina bertanya dengan hati-hati.
Amara terdiam sejenak. Ia cukup terkejut mendengar pertanyaan itu lagi setelah sekian lama.
Ia hanya sempat menamatkan pendidikan sekolah menengah atasnya saja karena kendala biaya. Sudah sepuluh tahun lamanya. Apakah dia masih bisa mengejar mimpinya? Apalagi biaya untuk sekolah kedokteran itu sangat mahal.
"Aku belum memikirkan hal itu, Bu. Sepertinya aku juga sudah tidak berminat lagi untuk sekolah. Mungkin aku juga akan mencari pekerjaan lain untuk menambah penghasilan yang sekarang." jelasnya.
"Iya, ibu juga tidak punya uang untuk membantu biaya kuliah mu." wanita itu mendadak murung. "Maafkan ibu, nak. Seandainya saja ibu tidak memaksamu untuk pindah ke sini, mungkin saat ini kau bisa melanjutkan sekolah mu dan hidup lebih baik di kota. Tidak seperti sekarang." pintanya.
"Ibu bicara apa? Kenapa malah mengungkit-ungkit hal yang sudah berlalu. Ibu tidak pernah memaksaku untuk pindah. Aku yang bersikeras untuk ikut bersama ibu. Jadi kenapa ibu harus minta maaf. Ibu kan tidak salah apa-apa." jelasnya sedikit kesal.
"Tapi tetap saja .."
"Sudah, Bu. Jangan lagi membahasnya." selanya cepat.
"Baiklah!" sahutnya.
"Oh, iya! Sepertinya di griya lansia sedang di butuhkan beberapa pegawai di bagian pencucian. Pekerja sebelumnya tiba-tiba mengundurkan diri karena sakit. Jadi mereka kekurangan pegawai. Jika kau bersedia, kau bisa ikut dengan ibu ke sana besok." jelas Nina ketika teringat sesuatu.
"Begitu, ya. Tapi bagaimana dengan jam kerjanya?"
"Ibu rasa itu bisa diatur. Pencucian selalu dilakukan saat pagi hari. Kau mungkin bisa meminta keringanan pada bos mu untuk mengambil shift sore saja." jelas Nina.
"Begitu, ya. Hmm.. Nanti aku akan coba bicara pada nona Samira."
Keduanya lalu kembali melanjutkan makan pagi mereka.
...****************...
Di tempat lain, Randi dan Dina sedang berada di butik untuk membeli gaun pengantin mereka.
Dina memaksa Randi untuk segera menikahinya. Dan kedua pihak keluarga telah sepakat untuk mengadakan acara pernikahan tersebut sebulan dari sekarang.
Perut Dina akan semakin membesar, jadi pernikahan mereka tidak bisa ditunda lagi. Sungguh ironi, padahal Randi baru saja resmi bercerai.
Pernikahan itu sendiri akan dilaksanakan secara sederhana di kediaman Dina. Saat ini Randi sedang kebingungan mencari alasan untuk rekan-rekan kerjanya di kantor. Walaupun mereka tahu jika Randi telah menikah, tetapi untungnya mereka belum pernah melihat Amara sebelumnya.
Namun, bagaimana ia akan menjelaskan tentang pernikahannya dengan Dina nantinya.
"Sudah ketemu gaun yang cocok?" tanya Randi melihat Dina yang tampak kebingungan memilih gaun di hadapannya.
"Belum. Aku bingung karena semua gaunnya terlihat bagus." ucap Dina.
"Pilih saja yang sederhana. Lagipula pernikahan kita hanya akan dilangsungkan secara sederhana. Tidak perlu memakai gaun yang terlihat mencolok." saran Randi.
"Walaupun sederhana, aku tetap ingin menjadi pusat perhatian." ujarnya bangga.
"Haa.... Terserah kau sajalah." ia lalu meninggalkannya dan duduk di sofa yang telah disediakan untuk pelanggan.
Randi merasa jengah menunggu Dina yang belum juga mengambil keputusan sedari tadi. Padahal sudah banyak gaun yang dicoba, tetapi tidak ada satupun yang cocok menurutnya.
"Apa kita ke tempat lain saja? Aku masih harus kembali ke kantor. Ini sudah dua jam, sayang." keluhnya mulai kesal.
"Aku masih bingung, sayang. Kenapa kau tidak pilihkan satu untukku." usulnya.
"Haa .. Baiklah. Tapi kau harus setuju dengan gaun manapun yang ku pilih."
"Iya." ia mematuhinya.
Randi lalu melihat deretan gaun yang ada di etalase. Dan memilih satu gaun pengantin yang dia rasa cukup sederhana, namun tidak juga terlihat biasa.
"Bagaimana dengan yang ini?" tanyanya.
"Hmm... terlalu sederhana." tolaknya.
"Oh, ayolah. Kau sudah berjanji tadi." ia mulai kesal.
"Iya, sudah. Aku akan pakai gaun ini. Puas!! Tapi perhiasannya tidak boleh sederhana juga, ya. Aku ingin memakai kalung berlian." tuntutnya memaksa.
"Apa??" ia mulai cemas memikirkan harganya yang sudah pasti tidak murah.
Ia jadi teringat pada Amara. Sejak menikah dengannya, Amara tidak pernah menuntut apapun padanya. Bahkan wanita itu menerima semua pemberiannya dengan ikhlas. Mungkin karena Amara terbiasa hidup susah.
Berbeda dengan Dina yang selalu hidup berkecukupan sejak kecil. Ia terbiasa mendapatkan apapun yang dia inginkan. Dia juga terbiasa memakai barang-barang mahal dan perhiasan yang bagus. Tentu saja dia mengharapkan hal yang sama dari pria yang akan menikahinya.
Randi hanya bisa pasrah. Mengingat jika nantinya setelah menikah, mertuanya akan menghadiahkan sebuah rumah mewah untuk tempat tinggal mereka nanti. Randi merasa hal ini cukup setimpal. Dia juga bisa menjual kembali kalung itu jika membutuhkan uang.
Hitung-hitung sebagai investasi.
"Kenapa kau tiba-tiba tersenyum seperti itu?" tanya Dina heran melihatnya tiba-tiba tersenyum saat membayar gaun mereka.
"Tidak. Aku hanya sedang membayangkan bulan madu kita nanti." ucapnya berbohong.
"Oh, iya. Memangnya kita mau bulan madu di mana, sayang? Ke Maldives atau ke Paris? Santorini juga boleh." usul Dina antusias.
"Hah!!" ia tercengang mendengar tujuan destinasi yang diinginkan oleh Dina. "Haha... Nanti akan kita pikirkan bersama." ia tersenyum masam mendengarnya.
...****************...
(Amara Raysa)
(( Ilustration by pinterest ))