NovelToon NovelToon
Rahasia Rumah Warisan Kakek

Rahasia Rumah Warisan Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Apa benar ini rumah yang dimaksud? "
wajah Raisa pucat pasif sambil membawa tasnya di pundaknya.
Raisa beberapa hari lalu mendapatkan warisan dari kakek pihak ayahnya sebuah rumah di pinggir kota, saat berada dirumah dekat hutan itu memang rumah mewah tapi suasananya aneh.
tapi Raisa tidak punya pilihan karena dia juga tidak punya tempat tinggal di kota, daripada dia menjadi tunawisma lebih baik tinggal di rumah hantu itu.
saat tinggal di dalam sana, kejadian aneh terjadi padanya.
dari mulai bayangan manusia hitam, setiap tengah malam.
saat tengah malam, Raisa dikejutkan dengan kenyataan ternyata dirinya hidup dengan makhluk halus dirumah ini dan pemimpin rumah itu adalah makhluk Banaspati bernama Arya.
Dan siapa Arya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 7.Mendapatkan warisan.

Suasana hangat dan penuh keakraban masih menyelimuti ruang makan setelah sarapan yang tak terlupakan itu selesai. Raisa masih duduk diam sejenak, merasakan kehangatan yang belum pernah ia alami selama ini—rasa memiliki keluarga yang tulus, meski baru saja mereka saling mengenal beberapa jam yang lalu. Namun belum lama ia menikmati ketenangan itu, terdengar suara deru mesin kendaraan yang melaju pelan mendekati halaman rumah, lalu berhenti tepat di depan pagar utama yang kokoh. Sekar segera berdiri dan mengintip dari balik jendela ruang tamu, alisnya sedikit terangkat mengenali kendaraan itu.

“Nona, sepertinya itu mobil Pak Munir,” ucap Sekar pelan. “Mungkin beliau datang untuk menyelesaikan sisa urusan warisan yang belum tuntas kemarin.”

Raisa segera bangkit berdiri, hatinya berdegup kencang—antara penasaran dan sedikit cemas. “Ayo kita sambut beliau, Sekar. Jangan sampai beliau menunggu lama.”

Tak lama kemudian, Pak Munir yang mengenakan setelan jas rapi dan kemeja putih bersih turun dari mobilnya, membawa tas kulit besar yang tampak cukup berat tergenggam erat di tangan kanannya. Ia disambut hangat oleh Raisa dan Sekar, lalu segera dipersilakan duduk di ruang tamu yang luas dan sejuk. Setelah saling bertukar sapaan dan basa-basi sejenak, Pak Munir pun membuka tasnya dengan wajah yang semakin serius, penuh tanggung jawab yang mendalam.

“Nona Raisa, kedatanganku hari ini adalah untuk menyerahkan sepenuhnya sisa hak waris serta tanggung jawab yang kini berada di tangan Nona sah secara hukum,” ucap Pak Munir sambil mengeluarkan berkas-berkas rapi satu per satu di atas meja. “Mendiang Tuan Raden Margono memang telah menyiapkan semuanya dengan sangat teliti, jauh sebelum beliau berpulang. Beliau memastikan tak ada satu hal pun yang terlewat demi masa depan Nona.”

Pertama kali yang dikeluarkannya adalah sepuluh lembar sertifikat tanah yang sudah dilegalisir lengkap dengan peta batas wilayahnya. “Ini adalah surat hak milik atas ribuan hektar tanah yang letaknya mengelilingi Desa Suka Makmur, hutan lindung, hingga area persawahan yang sangat subur di sekelilingnya. Semuanya kini menjadi milik Nona sepenuhnya tanpa syarat lain selain pesan almarhum.”

Raisa terbelalak tak percaya, tangannya gemetar hebat saat menerima berkas itu dan memeriksa cap serta tanda tangan yang tertera di sana. Belum sempat ia mengucapkan sepatah kata pun, Pak Munir kembali mengeluarkan tumpukan dokumen lain yang tak kalah banyaknya. “Dan ini adalah surat pengakuan hak atas dua puluhan unit ruko, pertokoan, serta bangunan komersial yang tersebar di berbagai kota besar di provinsi ini. Selain itu, ada pula buku tabungan yang jumlahnya sangat fantastis, mencapai angka triliunan rupiah hasil pengelolaan kekayaan kakek Nona selama puluhan tahun, kunci brankas utama di bank pusat kota, serta sejumlah uang tunai dalam jumlah besar yang sudah disiapkan khusus untuk kebutuhan sehari-hari Nona agar tak perlu repot menarik uang di awal masa tinggal Nona.”

Raisa memegang buku tabungan itu dengan tangan yang gemetar hebat, matanya menatap deretan angka yang tak sanggup ia bayangkan sebelumnya—angka yang bahkan tak pernah ia lihat dalam mimpi sekalipun. Ia merasa seolah sedang bermimpi panjang yang belum usai; di mana dulu ia dan ayahnya harus berjuang keras hanya untuk menutupi kebutuhan makan sehari-hari, bahkan sering kali harus menahan lapar jika penghasilan ayah terhambat, kini tiba-tiba ia memegang harta yang nilainya tak terhitung banyaknya.

“Ini... ini semua benar-benar milikku?” tanyanya pelan, suaranya tercekat di kerongkongan karena haru dan tak percaya. “Selama ini aku dan Ayah hidup serba kekurangan, berpindah-pindah tempat tinggal... tapi kakek ternyata meninggalkan sebanyak ini untukku...”

“Benar, Nona. Semua ini adalah milik Nona yang sah dan mutlak,” jawab Pak Munir lembut namun tegas. “Tapi ada satu hal lagi yang sangat penting untuk Nona ketahui dan penuhi sebagai syarat utama pesan terakhir almarhum Tuan Raden.”

Raisa segera menatap Pak Munir dengan penuh perhatian, menegakkan tubuhnya sekuat tenaga. “Apa itu, Pak? Katakan saja. Apa pun itu, aku akan berusaha melaksanakannya sebaik mungkin sesuai pesan kakek.”

“Nona diwajibkan untuk selalu menghormati, menjaga, dan bertanggung jawab atas keberadaan Tuan Arya yang tinggal bersama Nona di rumah ini, tepatnya di area lantai dua,” ucap Pak Munir dengan nada yang sangat serius dan penuh penghormatan. “Dan satu hal yang tak boleh Nona lupakan atau langgar sama sekali: jangan pernah mencoba naik ke lantai dua itu, mengintip, atau mencari tahu sendiri dengan cara apa pun, apa pun yang terjadi. Jangan sampai Nona melanggar larangan itu jika Nona tidak mau mengalami hal buruk yang tak diinginkan siapa pun.”

Raisa menarik napas panjang, senyum tipis mengembang di bibirnya meski ada sedikit rasa heran bercampur rasa penasaran yang mengganjal. “Hal buruk katanya?” batinnya bergumam. “Sejak aku menginjakkan kaki di rumah ini, aku sudah merasakan banyak hal aneh, menakutkan, dan tak masuk akal. Tapi anehnya, semua rasa takut itu perlahan terbayar lunas saat aku tahu betapa besarnya kasih sayang kakek yang tertuang dalam semua harta warisan ini.”

Lalu ia kembali menatap Pak Munir dengan tatapan jujur. “Siapa sebenarnya Tuan Arya itu, Pak? Apakah beliau kerabat dekat kakekku? Atau mungkin teman lama yang sangat beliau hargai?”

Pak Munir menggeleng pelan dengan wajah yang sedikit mendung. “Jujur saja Nona, saya sendiri belum pernah berjumpa langsung dengan beliau. Saya hanya pernah mendengar sesekali mendiang Tuan Raden menyebut nama Arya dengan penuh rasa hormat dan kekaguman yang tak terlukiskan, seolah beliau adalah orang atau sosok yang paling berharga dan harus dijaga seumur hidup Tuan Raden. Beliau tak pernah menceritakan siapa sosoknya secara rinci kepada siapa pun, hanya berpesan agar kami semua—keluarga, pengurus, hingga saya selaku pengacara—selalu menghormati dan mematuhi segala perintah beliau tanpa ragu sedikit pun.”

Setelah semua urusan selesai ditandatangani dan berkas-berkas itu sudah aman di dalam kotak penyimpanan yang disiapkan Raisa, Pak Munir pun berpamitan untuk kembali ke kota. Raisa mengantarkannya hingga ke depan pintu utama, lalu berdiri sejenak melihat mobil pengacara itu menjauh perlahan hingga menghilang di tikungan jalan menuju desa yang berkelok.

Hati Raisa meluap-luap penuh rasa syukur dan kebahagiaan yang tak terlukiskan. Kini ia tak perlu lagi cemas memikirkan masa depan, tak perlu takut kehabisan uang, tak perlu khawatir menjadi tunawisma seperti yang sempat ia bayangkan beberapa hari lalu. Namun seketika itu juga pandangannya terangkat tajam menatap arah lantai dua rumah itu—lantai yang selalu gelap, tertutup rapat, dan sunyi senyap seolah tak berpenghuni, namun setiap orang yang ia temui selalu menyebutnya dengan penuh rasa hormat sekaligus ketakutan.

“Siapa sebenarnya Arya, penghuni misterius di lantai dua itu?” gumamnya pelan, suaranya hampir hilang tertiup angin pagi. “Sosok yang selalu dibicarakan orang desa, yang dihormati setinggi langit oleh kakekku, dan kini menjadi tanggung jawabku yang tak boleh aku langgar.”

Raisa menunduk sejenak merenung, lalu kembali bergumam dengan perasaan yang berubah-ubah antara heran dan pasrah. “Mungkin saja Arya itu hantu pelindung atau makhluk yang sudah terikat janji menjaga keluarga kakek selama ratusan tahun. Atau mungkin jin penjaga harta warisan ini yang tak boleh diganggu siapa pun.” Ia menghela napas panjang berusaha menenangkan rasa penasaran yang mulai menggelegak di dada. “Sudahlah, apa pun dia—hantu, jin, atau makhluk sejenis lelembut—aku tidak peduli lagi untuk saat ini. Yang terpenting sekarang aku punya kehidupan yang layak, tempat tinggal yang aman, dan orang-orang tulus yang bersedia menemaniku. Sekarang... aku ingin pergi berbelanja sepuas hatiku!”

Raisa pun melangkah riang menuju kamarnya untuk berganti pakaian dan berdandan rapi. Tak lama kemudian ia sudah siap dengan pakaian yang nyaman namun tetap rapi dan sopan, sambil membawa tas besar berisi sejumlah uang tunai yang diserahkan Pak Munir tadi untuk keperluan mendesak.

“Waktunya berbelanja! Ternyata begini rasanya hidup tanpa perlu memikirkan sisa uang saku,” gumamnya sambil tersenyum lebar, melangkah keluar dari kamarnya dengan langkah ringan dan penuh semangat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Kebahagiaan yang murni terpancar jelas dari wajahnya yang berseri-seri.

Di lantai dua, Arya duduk diam di kursi kebesarannya yang terbuat dari kayu jati tua yang kokoh, duduk tak jauh dari jendela yang tertutup tirai tebal. Pendengarannya yang tajam mampu menangkap setiap kata yang diucapkan Raisa dari lantai bawah dengan sangat jelas, seolah gadis itu berbicara tepat di samping telinganya. Mendengar gumaman polos dan kegembiraan tulus gadis itu, senyum tipis yang sangat jarang sekali terlihat kembali mengembang di bibir Arya yang biasanya selalu kaku dan dingin. Baginya, Raisa sungguh gadis yang polos, tulus, dan memiliki kebaikan hati yang begitu menggemaskan meski hidupnya penuh cobaan.

Jatmika yang berdiri tak jauh dari sana ikut memperhatikan tuannya dari samping, tampak sedikit heran namun senang melihat Arya yang perlahan mulai melunak. “Tuan tampak sangat menikmati dan tersenyum melihat keadaan Nona Raisa yang begitu gembira,” ucap Jatmika pelan dengan nada hormat.

“Gadis itu benar-benar unik, Jatmika,” jawab Arya lembut, matanya masih tertuju pada celah tirai yang memperlihatkan bayangan Raisa di lantai bawah. “Meski hidupnya penuh kesusahan dan kekurangan selama ini, ia tak pernah kehilangan ketulusan hatinya dan sifat rendah hatinya. Sangat berbeda dengan banyak manusia yang justru berubah jahat saat dihadapkan pada kekayaan.”

Sementara itu di lantai bawah, Raisa berjalan menuruni tangga dengan riang gembira, namun langkahnya terhenti mendadak saat melihat Sekar sedang berdiri di depan pangkal tangga sambil melantunkan doa dengan suara rendah yang tenang, lalu menaburkan kelopak bunga melati murni dan air wangi-wangian ke sekeliling area tangga dan pintu penghubung antar ruangan.

“Sekar, apa yang sedang kau lakukan?” tanya Raisa mendekat perlahan agar tak mengganggu konsentrasi wanita itu.

Sekar menghentikan kegiatannya sejenak dan menoleh sambil tersenyum tenang. “Saya sedang melakukan ritual penghormatan rutin, Nona. Sebagai tanda terima kasih dan penghormatan tertinggi kepada Tuan yang menjaga rumah ini, menjaga tanah ini, dan menjaga keturunan keluarga Tuan Raden selama ini.”

“Maksudmu Tuan Arya?” tanya Raisa cepat, matanya kembali terangkat menatap langit-langit yang memisahkan mereka dengan lantai dua.

Sekar hanya tersenyum ramah namun tak menjawab maupun menjelaskan lebih lanjut, seolah ada batasan tegas yang tak boleh ia langgar meski kepada pemilik sah rumah ini sekalipun. Ia pun membereskan perlengkapannya dengan rapi dan hendak kembali ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaannya.

“Tunggu dulu, Sekar!” Raisa menahan lengan wanita itu pelan namun pasti. “Kau temani aku pergi berbelanja sekarang ya. Aku ingin membeli banyak hal—bukan hanya untuk keperluanku sendiri, tapi juga untuk kalian berdua, untuk perlengkapan rumah, dan kebutuhan sehari-hari yang belum lengkap. Kau bersiaplah secepatnya, aku menunggumu di beranda depan.”

“Baik, Nona. Sebentar saja saya bersiap,” jawab Sekar patuh dengan senyum haru, lalu segera bergegas menuju kamarnya yang terletak di sayap belakang rumah.

Raisa berdiri menunggu di dekat anak tangga sambil memandangi sekelilingnya yang kini terasa begitu hidup baginya, namun tiba-tiba terdengar suara dentuman yang sangat keras dan dahsyat dari arah lantai dua—seolah ada benda berat yang jatuh menabrak lantai, atau benturan dahsyat yang terjadi di antara dinding-dinding tua itu. Suara itu begitu nyaring hingga membuat dinding rumah sedikit bergetar dan debu halus turun dari langit-langit. Ternyata Jatmika tidak sengaja menabrak rak batu besar yang berisi benda-benda pusaka kuno saat sedang memperkuat penghalang pelindung di bagian dalam lantai dua.

Rasa penasaran Raisa seketika meledak, mengalahkan rasa takut yang sempat ia simpan dalam-dalam serta larangan tegas yang baru saja didengarnya dari Pak Munir. Langkah kakinya perlahan melangkah menuju anak tangga pertama, matanya menatap tajam ke arah lorong gelap di lantai dua tempat suara itu berasal dengan napas yang mulai memburu.

“Apa yang sebenarnya terjadi di atas sana?” gumamnya dalam hati, jantungnya berdegup kencang tak beraturan. “Suara itu terdengar begitu keras... apa yang sedang mereka lakukan? Apakah ada yang terluka? Atau ada bahaya yang datang?”

Raisa melangkah satu anak tangga lagi, hatinya berdengung kencang—antara rasa ingin tahu yang tak tertahankan, rasa khawatir, dan larangan berat yang baru saja ia terima. Ia berhenti di situ, menatap ke atas dengan perasaan yang berperang hebat di dalam dadanya.

1
sakura
...
Fatim Zahra
semangat kak, ditunggu ya update nya
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!