Karna sakit hati, aku merencanakan menggoda lelaki sok alim yang sering menesehati hubungan haram dan halal padaku. Tapi malam itu, harusnya aku berhenti dan mencibirnya setelah berhasil membuatnya tunduk dengan nafsu. Tapi bukan begitu yang terjadi.
.
.
Saat dia membuka mulut dan membalas ciumanku, aku merasakan ada satu rasa yang tak pernah kurasakan. Perasaan yang kuat hingga aku tak bisa berhenti melepaskannya. Tubuhku mulai meliuk-liuk ketika dia meletakkan tangannya di pinggangku.
"Ahh---" Cimannya terhenti saat aku mulai menggerakkan pinggul diatas pangkuannya.
.
.
"Maaf, semua ini tidak seharusnya terjadi. Saya salah, saya berdosa. Saya biarkan kita berzina."----Adam.
.
.
"Oh, setalah puas, baru Lo ingat dosa? Sedang enak-enak tadi Lo lupa? Cih! Gak usah deh berlagak sok alim lagi di depan gua! Munafik Lo!" Winda
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Remaja01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sampai kapan akan menghindar?
Setelah lukaku di obati dengan Betadine dan di balut dengan plaster. Panitia juga memberikan sarung tangan untukku pakai. Aku turut saja kemauannya.
"Laa, kamu nangis kenapa beb? Sakit banget ya? Atau karna di marahi Adam tadi?" ucap Ana menegurku saat kuambil alih lagi tugas menyediakan lobak.
"Winda, gak apa-apa kamu istrahat aja, biar aku dan Adam saja yang mengerjakannya. Atau kamu bisa tolong mengaduk, melihat kami saja. Gak usah potong lagi, nanti jarimu yang malah ke potong." Ana menambahkan karna aku hanya diam. Tapi karna aku memang dasar keras kepala, aku abaikan sarannya itu. Akhirnya Adam mendekat dan mengambil lobak ditanganku.
"Winda, kamu istrhat dulu ya? Ambil waktu 5, atau bahkan 10 menit, oke?"
Aku angkat wajah yang masih basah dengan air mata. Hatiku kembali nelangsa mendengar kata-kata Adam. Bagaimana aku bisa mengambil waktu sedangkan kertas surat perceraian diatas meja kerja Adam masih terngiang-ngiang di kepala, di tambah sekarang dia terlihat mesra dengan Ana?
Aku letakkan pisau dan memandangnya sayu sebelum lari ke toilet.
**
Ketiga hidangan berhasil di siapkan. Tim kami menyediakan udang goreng tepung bersama saos asam untuk cocolannya, tomyam kepiting bersama nasi, dan kek kukus buatan Ana yang aku lupa namanya apa. Berbeda dengan masakan yang pernah aku tonton di TV, komen juri di perlombaan ini sangat rahasia.
Aku memilih diam setelah sesi memasak selesai. Kami para peserta juga di berikan makas siang oleh panitia penyenggara cara, dan aku makan tanpa sepatah kata. Juliana dan Adam sibuk bercerita kembali saat-saat mereka memasak tadi. Sesekali Ana akan meminta pendapatku saat bercerita, tapi karna tidak pernah kurespon, akhirnya dia pun berhenti bertanya.
Aku sempat menyaksikan sesi kedua yang di lakukan habis Dzuhur bersama Adam dan Ana. Jam 3 Adam meminta diri untuk ke mushola. Dia mengajak Ana yang hanya menyengir kuda mengatakan sedang di kuncingi Mak merah. Adam beralih memandangku dan aku katakan aku mau pulang.
"Lah, kok pulang sih, Win? Kan penilaian belum di umumkan," ucap Ana seolah memintaku menunggu sampai pengumuman hasil lomba di umumkan. Tapi, dari pancaran matanya aku bisa lihat betapa dia lega jika aku benar-benar pulang.
"Aku tiba-tiba kurang enak badan, mau istirahat di rumah. Nanti kamu kabari aja hasilnya, oke? Lagipun aku gak perlu juara dalam acara ini, kan?" balasku, sengaja memulangkan lagi kata-katanya dan Ana hanya menyengir kambing. Kuangkat kaki dari sana menuju parkiran.
Dalam perjalanan Ana mengirimku pesan mengucapkan terimakasih, malas membalas aku abaikan saja pesan tak penting itu.
Sampai di rumah, aku berbaring di sofa ruang tamu. Mengistirahatkan tubuh yang tiba-tiba terasa lelah, hingga aku tertidur. Ketika bangun sudah Maghrib, tapi Adam masih belum pulang. Pasti dia masih di kampus menemankan Ana.
Huh!
Perutku mulai keroncongan, tapi aku malas keluar. Akhirnya aku delivery McDonald's.
Setelah makan, aku pergi kekamar atas. Kukeluarkan koper besar. Mungkin lebih baik aku kemasi semua barang-barangku sebelum Adam pulang. Lagi pun, tidak lama lagi dia akan menceraikanku. Artinya sudah boleh membungkus baju, sekalian membungkus hati yang retak.
Baru memasukkan beberapa potong pakaian, aku terduduk di tepi lemari. Hati tiba-tiba merasa sedih. Soalnya Adam malah belum pulang, kalau dia ada kan bisa nih Jodi mement nangis Bombay.
Perlahan aku berdiri dan kembali ke meja kerja Adam memandang lagi kertas-kertas yang membuat hati hancur berkeping-keping.
Air mata kembali mengalir sambil membaca kertas itu yang kuharap aku salah baca tadi, tapi nyatanya tulisan di sana belum berubah.
Dia benar-benar mengira aku hamil. Jelek banget kah akhlakku sampai terpikir olehnya aku hamil anak lelaki lain?
Tak tahu berapa lama aku pandang surat dan mengaitkan dengan diagram rumus yang di tulisnya dengan tangan. Aku tahu, jalan untuk menyelamatkan pernikahan kami ini cuma satu. Yaitu dengan aku mengakui kalau aku tidak sedang hamil.
Tapi masalahnya, bisakah juga kah aku jujur tentang 1 rahasia besarku?
Notif pesan menyentakku dari lamunan.
Pesan dari Ana masuk bersama sebuah foto Adam.
Dosen ganteng kita memenangkan penghargaan sebagai koki paling populer! :D
Cukup lama aku kupandang foto Adam dengan air mata mengalir lagi. Kemudian aku simpan foto itu di galeri ponselku. Andaikan takdir jodohku dan Adam berakhir sampai di sini, setidaknya aku memiliki satu fotonya sewaktu kami masih bersama. Ya, walaupun foto itu di ambil oleh orang lain.
Kukemasi lagi kertas-kertas diatas meja Adam yang telah aku berantakan. Aku tidak ingat posisi kertas-kertas itu sebelumnya, jadi hanya kurapikan cepat saja. Lagi pun, cepat atau lambat, toh, Adam sendiri akan memberitahu padaku?
Kulanjutkan lagi mengemasi baju, saat melopat baju terakhir, pintu kamar terbuka. Eh, kapan dia sampai? Kok aku gak dengar suara mobilnya?
Kututup koperku dengan menaikkan resleting, lalu berdiri dan menyeretnya. Tapi Adam masih berdiri di pintu menghangi jalanku. "Minggir, aku mau keluar!"
"Kamu mau kemana dengan koper besar itu malam-malam begini?" tanya Adam yang masih berdiri di depan pintu.
Aku menghela nafas dan memintanya kembali menyingkir, tapi dia tetap menggelengkan kepalanya.
"Katakan dulu kamu mau kemana? Sampai kapan kamu akan melarikan diri?"
"Minggir! Aku mau keluar!" Suaraku lebih tegas tanpa melihat wajahnya yang dingin. Jujur, hatiku sudah terlalu kerdil. Kedinginan sifatnya, layanannya, semua itu benar-benar melukai hatiku, termasuk kemesraannya bersama Ana hari ini.
"Mau lari dari masalah? Sampai kapan, Winda?" tanyanya lagi.
Aku angkat wajah menatapnya dengan kesal.
"Masalah apa lagi, Adam? Kamu sendiri sudah membuat kuputusan kan? Dan aku menghormati itu! Jadi terserah aku mau lari kemana atau menghilangkan diri sekalipun!" ucapku dengan suara bergetar. Menahan diri agar air mata tidak jatuh.
"Apa kamu-" Adam lansung menoleh kearah meja kerjanya lalu menghela nafas panjang sebelum memandangku lagi. "Kamu sudah lihat kertas-kertas itu?"
Aku mengangguk pelan membenarkan yang di tanyakannya. "Jadi susah bisa kamu menyingkirkan?" pintaku dengan senyum di buat-buat.
Adam meraup wajah dan menggelengkan kepala.
"Tidak tidak. Winda, kamu salah paham, oke. Saya masih belum memberikan keputusan apa-apa. Saya masih bingung. Masih banyak hal yang perlu kita bicarakan," terangnya.
"Gak ada lagi yang perlu di bicarakan, Adam. Teruskan saja niatmu itu. Isi secepatnya berkas itu dan sign, setelah itu berikan padaku. Dah, sana! Aku mau keluar!" bidasku malawan hati kecil sambil tangan coba menyingkirkan tubuhnya.
"No! Masih banyak yang perlu kita bicarakan! 2 Minggu kamu menghindariku untuk membicarakan ini! Sekarang mau menghindar lagi? Sampai kapan? Sampai kapan, hah? Sampai perut kamu membesar?" Suara Adam semakin keras, membuat hatiku bertambah panas, apalagi mendengar tuduhan itu kembali di ucapkan.
Aku katup rahang kuat-kuat, coba menahan diri.