Ini kisahku...
Seorang laki-laki yang mencoba mencari cinta masa SMP nya,yang selama 13 tahun hanya terpendam dihati belum sempat terungkapkan. Namun ketika takdir berpihak padaku,mempertemukan aku dan dia,aku harus menelan kekecewaan karna menerima kenyataan bahwa dia sudah menjadi milik orang lain.
Akankah ada keajaiban untukku agar bisa memilikinya?
Sementara hatiku tak mampu berpaling pada wanita lain.
Selamat menikmati kisahku yaaa....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon In Gusman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Selesai makan siang,keluarga Dimas pun pamit untuk pulang dan setelah mereka pulang,kami pun duduk bercengkerama sambil menonton TV. Mama dan papa duduk di sofa,aku memilih dibawah sambil tiduran diatas karpet melepas penat,sementara Ais dan Nisa tiduran seenaknya di dekatku sambil ngegame dengan ponselnya.
"Pa...menurut papa,Ayu itu anaknya gimana?" tanya mama
"Emmm...cantik,sopan,pintar dan sholehah"
"Kayanya pas ya pa kalo kita jadiin mantu...kata ibunya dia juga jadi asisten dosen di kampusnya lho pa. Nggak cuma pinter akademisnya juga pinter masak lagi...coba aja anak papa cepet-cepet mendapatkan hidayah,hingga sadar kalo ada wanita sholehah yang sering curi-curi pandang padanya....Aamiin..." sindir mama.
"Nggak usah sindir-sindir deh ma...emang Hakim hidupnya nggak bener kok sampe di do'ain biar dapet hidayah? Tuh Mbak Hidayahnya jualan lotek di sebrang komplek..." ucapku kesel mendengar sindiran mama.
"Lho kok sewot lho...mama kan ngomong sama papa mas..." kilah mama.
"Hmmm..." jawabku singkat.
'Drrrttt...drrrttt...drrrttt...'
Terdengar suara ponselku berdering...cepat ku ambil ponselku. Tertera nama Doni di layar ponselku,cepet-cepet ku usap layar ponselku.
"Ya Don...Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam pak dokter..."
"Ada apa Don?"
"Si boss dok...si boss pingsan...sekarang sedang ditangani oleh dokter jaga. Tadi ketika ditinggal nyonya boss pulang,si boss meminta saya ngehubungi dokter. Si boss pingin ketemu sama dokter."
"Oke...saya kesana sekarang...Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam dok..."
Aku menutup percakapanku dengan Doni dan buru-buru aku masuk kamar untuk berganti baju.
"Lho,rapi amat mas...mau kemana?" tanya Nisa.
"Ih kepo..." kataku sambil menyaut kontak motor dan memasukkan ponselku ke tas kecilku.
"Iiihhh...maaa...Mas Hakim ditanya baik-baik malah ngatain..." adunya ke mama...
"Huuu...dasar tukang ngadu kepo...week"
"Maaa..." teriaknya manja.
"Duh ribut amat sih..." ucap mama.
"Kamu lagi meu kemana?"
"Rumah sakit ma...berangkat dulu ma...cup...Assalamu'alaikum..." pamitku sambil mencium pipi kiri mamaku...
"Wa'alaikumsalam...ati-ati mas..."
"Idiih...mama dapet ciuman dari mas aja langsung luluh nggak jadi marah...dasar..." ku dengar Nisa menggerutu.
*******
Aku memacu motorku sedikit kencang,walaupun jarak antara rumah kontrakanku dan rumah sakit tak begitu jauh. Aku hanya ingin cepat-cepat mengetahui keadaan Bang Farhan.
Selang 15 menit aku sudah sampai di ruang VVIP kamar tempat Bang Farhan di rawat.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam...pak dokter... Pak boss Alhamdulillah sudah sadar dan sudah menunggu pak dokter dari tadi... Mari silahkan masuk..."
Doni melebarkan pintu agar aku bisa masuk,kemudian Doni menutup kembali.
"Silahkan..." Doni memberi jalan dan mempersilahkan aku agar bisa mendekat ke tempat tidur Bang Farhan,
"Makasih Don..."
"Sama-sama dok..."
Aku berjalan pelan menghampiri Bang Farhan yang tengah memejamkan mata. Tadinya aku kira Bang Farhan tengah tertidur tapi teryata walaupun langkahku sudah ku buat seringan mungkin,langkahku masih saja terdengar oleh Bang Farhan,seketika matanya terbuka dan melihat aku sudah berada di sampingnya.
"Assalamu'alaikum bang..."
"Wa'alaikumsalam Kim..." ucapnya sambil tersenyum.
"Sini Kim...lebih dekat lagi...duduklah di kursi samping tempat tidurku..."
"Siap bang..." ucapku sambil mendekat.
"Ada apa bang? Apa ada yang bisa Hakim bantu buat abang?"
"Banyak Kim...pertama-tama,tolong bantu aku duduk dulu Kim. Aku capek tiduran terus" Aku pun membantu Bang Farhan untuk duduk.
"Don...Doni...tolong bawa amplop coklat tadi."
"Siap boss...ini boss amplopnya" Doni segera mengambilkan amplop itu dan langsung diberikan kepada boss nya.
"Makasih Don,kamu juga duduklah di sini Don. Aku ingin kau menjadi saksi akan apa yang akan aku katakan dan aku berikan pada dokter Hakim nanti. Sudah kau siapkan juga alat dokumentasinya kan Don?"
"Sudah boss...semua sudah beres"
"Alhamdulillah... Makasih sekali lagi ya Don...kamu memang selalu yang terbaik."
"Sama-sama boss"
"Bang,ini sebenarnya ada apa? Apa maksud abang memanggilku kesini,dan ini semua buat apa?"
Aku dibuat bingung dengan situasi seperti ini. Semua keinginan Bang Farhan masih jadi misteri bagiku.
"Kim,sepertinya hidupku tak akan lama lagi,sebagai seorang dokter yang menangani penyakitku,tentu kamu sudah tau itu kan? Pengobatan yang ku jalani selama ini sebenarnya bukan untuk menyembuhkan,tapi hanya untuk memperpanjang masa hidupku saja."
"Aku sudah capek Kim...aku ingin istirahat dengan tenang. Dan sebelum aku istirahat untuk selama-lamanya,ada hal yang ingin aku sampaikan padamu" Bang Farhan terdiam sesaat,mengatur nafasnya yang mulai tersengal.
"Sudahlah bang,abang istirahat dulu...kita bicara nanti lagi ya..."
"Enggak Kim,hal ini harus aku sampaikan padamu sekarang...aku nggak mau terlambat menyampaikannya padamu. Karna ini menyangkut masa depanmu."
"Maksud abang?"
"Don,nyonya sudah kau suruh kesini?"
"Sudah boss...lagi di jalan katanya..."
"Kim,ini untukmu...tapi amplop ini baru boleh kamu buka setelah kamu sampai dirumah" Bang Farhan memberikan amplop coklat yang di berikan oleh Doni tadi.
"Apa ini bang? Abang kok main rahasia-rahasiaan sih?" ucapku penasaran.
"Kim,selama ini kamu ingin tau wajah istriku kan? Sebentar lagi dia akan ke sini,kau akan tau betapa cantiknya istriku. Iya kan Don?"
"Iya boss..."
Tak lama kemudian terdengar suara pintu diketuk dan disusul dengan suara seorang wanita mengucap salam.
'Tok...tok...tok...'
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam..."
"Masuklah dek..."
"Ada tamu ya bang..."
"Iya...Dia teman sekaligus dokter yang merawatku..."
"Ooo..."
"Ke sinilah...duduklah di sampingku..."
Doni berdiri memberikan tempat duduknya pada istri boss nya. Sementara aku sedang sibuk membalas chat dari mama sambil mencoba menenangkan hatiku. Karna entah kenapa semenjak istri Bang Farhan masuk ke ruangan ini,jantungku tiba-tiba berdebar tak menentu.
"Kim,belum selesai bales chatnya? Kenalin dulu ini istriku yang pernah aku ceritakan padamu dulu..."
"Iya bang..."
Aku mengangkat wajahku,mengalihkan pandanganku ke arah Bang Farhan dan istrinya. Seketika jantungku seolah berhenti,melihat wanita yang ada disamping Bang Farhan dan wanita itu...istri Bang Farhan yang teryata adalah Rahma teman SMP ku pun tak kalah terkejutnya dari aku.
"Ra...Rahma..." ucapku sedikit gugup.
"Hakim..." kata Rahma sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Kalian saling kenal?"
"Eee...istrinya abang temanku waktu SMP dulu bang..." jawabku sambil mencoba menguasai diri.
"Cewek yang kau taksirkah?" pertanyaan Bang Farhan kali ini bikin aku sesak tak bisa bernafas.
"Eeh bukan bang...dari dulu kami hanya berteman kok..."
"Kamu pembohong yang buruk pak dokter..."
Bang Farhan tersenyum lalu pandangannya beralih ke arah Rahma yang tengah tertunduk.
"Pak dokter inikah yang kau tunggu selama ini dek?"
"Eeh abang ngomong apaan sih...tentu saja bukanlah bang..."
"Oya? Sejak kapan adek suka berbohong?"
"Maaf bang...tapi adek nggak bohong kok"
"Kamu nggak pinter berbohong dek...Hmmm...kalau kamu nggak bohong,kenapa kamu pake minta maaf segala?"
Bang Farhan tersenyum melihat kecanggungan kami. Ya Alloh...kenapa Kau pertemukan kami dalam situasi seperti ini?
.
.
.
.
.
.
.
Lanjut...