NovelToon NovelToon
Hidup Santai Di Bukit Kultivasi

Hidup Santai Di Bukit Kultivasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: MishiSukki

Musim semi tiba, tapi Xiao An hanya mengeluh. Di dunia kultivator perkasa, ia malah dapat "Sistem" penipu yang memberinya perkamen dan pensil arang—bukan ramuan OP! "Sistem scam!" gerutunya. Ia tak tahu, "sampah" ini akan mengubah takdir keluarga Lin yang bobrok dan kekaisaran di ambang kehancuran. Dia cuma ingin sarapan enak, tapi alam semesta punya rencana yang jauh lebih "artistik" dan... menguntungkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MishiSukki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Ironi Kekaisaran Tianlong

Malam itu, setelah seharian penuh dengan kunjungan inspeksi yang rutin ia lakukan, Hakim Prefektur akhirnya tiba di penginapannya. Ia merasa lelah, namun pikirannya masih aktif.

Dengan santai, ia melemparkan gulungan lukisan yang dibelinya dari Lin Cheng ke atas meja. Gulungan perkamen itu jatuh berbaur dengan gulungan-gulungan lain dan beberapa kertas yang tercerai-berai di atas meja kerjanya yang penuh.

Hakim Prefektur menghela napas lelah, pandangannya menyapu meja yang berantakan.

"Rapikan dan kemasi semua dokumen itu ke dalam kotak yang sudah disiapkan," perintahnya tegas.

SIAP

Kedua bawahannya, yang sedari tadi berdiri siaga, segera terkesiap dan bergerak cepat melaksanakan perintah. Mereka mulai memilah gulungan dan kertas yang berserakan, memasukkannya ke dalam kotak kayu yang rapi.

Sementara kedua bawahannya sibuk, Hakim Prefektur melangkah menuju balkon penginapannya. Dia berdiri diam di sana, matanya menatap jauh ke bawah, menyaksikan kemakmuran Kota Bunga Giok.

Lampu-lampu lentera berkelip di kejauhan, menandakan kehidupan yang terus berjalan meskipun malam telah larut. Sebuah kota kecil yang tenang dan damai, jauh di pelosok perbatasan kekaisaran, jauh dari intrik ibu kota.

Di antara tumpukan gulungan yang berserakan, salah satu bawahannya memungut gulungan perkamen yang dibeli Lin Cheng itu dengan cepat. Tanpa ragu, ia segera memasukkannya ke dalam kotak, berbaur dengan dokumen penting lainnya. Hal ini terjadi karena kemiripan warna perkamen tersebut.

Gulungan itu memiliki warna krem yang sama persis dengan perkamen berkualitas tinggi yang biasa digunakan Hakim Prefektur untuk menulis laporan pentingnya. Adapun kertas dengan warna yang kurang bagus atau tekstur kasar, bawahannya sudah hafal.

Itu mengindikasikan bahwa itu adalah kertas murah untuk coret-coret atau catatan tidak penting. Sehingga, bawahan ini sudah terbiasa memilah mana yang penting dan yang tidak.

Sketsa Xiao An, yang sebenarnya adalah sebuah karya seni, tanpa sengaja dikategorikan sebagai dokumen resmi penting karena kualitas kertasnya.

Salah satu bawahan itu kembali kepada Hakim Prefektur.

"Yang Mulia, kotak sudah siap," katanya, sambil memberi hormat.

Hakim Prefektur mengangguk. Dengan gerakan anggun, ia melakukan beberapa gerakan tangan di atas kotak, lalu membubuhkan segel khusus pada kotak itu. Segel itu berkilau samar, menandakan pentingnya isi di dalamnya.

"Segera kirimkan ke ibukota," instruksi Hakim Prefektur dengan nada serius.

"Kaisar ingin secara langsung memeriksa sendiri titik-titik perbatasan terluar wilayah kekaisaran. Jangan membuat kesalahan, kirim dengan fasilitas tercepat."

Hakim Prefektur mendesah dalam. Dari balkon penginapannya, ia memandang ke arah Kota Bunga Giok yang berkerlip dalam remang malam. Wilayahnya, yang terletak di sisi terluar selatan kekaisaran, sangatlah damai dan bahkan bisa dihitung makmur.

Sebuah kontras yang mencolok jika dibandingkan dengan tiga sisi perbatasan lainnya yang selalu tegang, bahkan tak jarang dilanda peperangan. Sebuah kedamaian yang ia syukuri, namun juga membuatnya merasa sedikit terisolasi dari pergolakan besar di inti kekaisaran.

Kekaisaran Tianlong, sebuah entitas yang membentang luas dengan sejarah yang terukir panjang, kini sedang terhuyung di ambang badai. Bagi Hakim Prefektur, yang wilayahnya di sisi terluar selatan kekaisaran selalu damai dan makmur, kondisi ini menjadi semacam ironi pahit.

Tiga sisi perbatasan lainnya terus menerus bergejolak, dilanda ketegangan, bahkan peperangan yang tak berkesudahan.

Kekaisaran Tianlong memang terlalu besar. Ibarat sehelai kain sutra yang ditenun terlalu lebar, ujung-ujungnya mulai terlepas dari benang pusatnya. Di generasi belakangan ini, banyak wilayah yang melepaskan diri dan lolos dari kekuasaan sang Kaisar, satu per satu, bagai mutiara yang berjatuhan dari kalung yang putus.

Penyebabnya kompleks, saling terkait seperti akar pohon tua. Kekuasaan pusat di ibukota kian melemah, menjulur terlalu tipis untuk mencapai setiap sudut wilayahnya. Semakin jauh dari singgasana Kaisar, semakin samar pula kendalinya.

Di banyak tempat, korupsi merajalela di kalangan pejabat lokal, menggerogoti loyalitas rakyat dan pundi-pundi kekaisaran. Mereka bagai parasit yang mengisap darah vital kekaisaran, membuat rakyat muak dan memandang Kaisar dengan pandangan hampa.

Selain itu, pembangunan tidak merata menciptakan jurang kesenjangan. Sementara ibukota dan beberapa kota inti bermandikan kemegahan, wilayah perbatasan seringkali diabaikan. Jalanan tak terawat, pendidikan minim, dan kemiskinan merajalela, memupuk benih-benih pemberontakan.

Wilayah yang kaya sumber daya alam, seperti yang memiliki tambang emas atau tanah super subur, mulai merasa lebih baik mengurus diri sendiri daripada harus berbagi dengan istana yang serakah.

Tak bisa dipungkiri, kebangkitan kekuatan regional juga menjadi faktor penentu. Di dunia yang dipenuhi kultivator, sebuah sekte atau klan yang cukup kuat bisa dengan mudah mendeklarasikan kemerdekaan jika mereka merasa Kaisar tak lagi mampu memberi perlindungan atau keuntungan.

Para panglima perang lokal, yang dulunya setia, kini membesarkan pasukan sendiri, siap mencabik-cabik kekaisaran demi kekuasaan pribadi mereka. Terkadang, bahkan identitas budaya atau etnis yang berbeda memicu keinginan untuk merdeka, melepaskan diri dari bayang-bayang budaya dominan kekaisaran.

Di balik semua itu, ada krisis internal kekaisaran yang tak terlihat. Bisik-bisik tentang Kaisar yang lemah, intrik istana yang menguras energi dan sumber daya, serta kegagalan penanganan bencana alam atau wabah, semakin mempercepat keruntuhan.

Kekaisaran Tianlong, yang dulunya kokoh, kini terancam terpecah belah, dan sang Kaisar harus menemukan cara untuk menegaskan kembali kekuasaannya, atau risiko melihat kerajaannya runtuh berkeping-keping di bawah kakinya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!