Pusaka Tambun Tulang: Bangkitnya Pendekar Terbuang
Arya Wiguna, seorang yatim piatu yang difitnah mencuri Kitab Pusaka Jurus Pedang Penggetar Langit, diusir dari padepokan oleh pamannya sendiri, Bujang Larang. Dibuang ke Bukit Tambun Tulang yang menyeramkan, Arya diselamatkan oleh Panglima Hijau, seorang pertapa sakti. Di sana, Arya ditempa untuk menguasai Pedang Pusaka Tambun Tulang yang memberinya kekuatan kebal dan tenaga dahsyat, menjadikannya pendekar tak terkalahkan.
Kembali untuk membalas dendam, Arya harus menghadapi Bujang Larang yang kini bersekutu dengan komplotan bandit Bajing Bukit Tiga Puluh. Di tengah perjuangannya, ia bertemu dan jatuh cinta pada Anggun Sari, pendekar cantik dari Bukit Sanggar Puyuh, yang menjadi sekutu setia dan kekasihnya. Namun, pesona Arya menarik banyak gadis lain, memicu intrik romansa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Pesan Terakhir dan Senyuman Perpisahan
Pagi di Desa Dusun Tua terasa sejuk dan damai, jauh berbeda dengan ketegangan yang menyelimuti sesaat sebelumnya.
Matahari mulai menghangat, menyinari warung pojok yang kini kembali ramai dengan penduduk desa yang berbisik kagum tentang kehebatan Arya Wiguna.
Aki Samad dan beberapa pemuda desa dengan sigap mengikat para perampok Hutan Kulim yang tak berdaya, termasuk Jagat Kulim yang masih pingsan, ke sebuah tiang di tengah alun-alun.
Si Bagor Tangan Besi, yang kini telah sadar namun masih meringis kesakitan dengan kedua lengan yang terkulai lemas, duduk bersandar pada tiang yang sama, wajahnya penuh ketakutan dan penyesalan.
Arya Wiguna mendekati Si Bagor Tangan Besi. Matanya yang biasanya tenang kini memancarkan ketegasan, namun juga ada jejak kebijaksanaan yang mendalam.
Arya Wiguna berdiri tegak, membiarkan auranya yang kini kuat menyelimuti pemimpin perampok itu.
"Bagor. Kau mungkin pernah menjadi pendekar yang dihormati, seorang yang disegani di masa lampau. Aku bisa melihat jejak ilmu di balik tubuh besarmu. Tapi keserakahan telah membutakan matamu. Kau telah menindas banyak orang, menimbulkan ketakutan di hati rakyat kecil, hanya demi harta dan kekuasaan semu," kata Arya, suaranya rendah namun penuh wibawa.
Si Bagor Tangan Besi mengangkat pandangannya yang keruh, menatap Arya dengan tatapan yang bercampur antara ketakutan dan rasa hormat yang baru tumbuh.
Bagor Tangan Besi telah menyaksikan sendiri kekuatan yang tak terbayangkan dari pemuda di depannya ini.
Kekuatan yang bahkan kekebalan "Tangan Besi"-nya tak mampu menandingi, ia merasakan setiap kata Arya menusuk relung hatinya.
"Aku... aku tahu. Aku... aku pantas menerima hukuman yang paling berat," ucap Si Bagor Tangan Besi lemah,suaranya serak dan putus asa, ia menundukkan kepala, rasa malu dan penyesalan memenuhi dirinya.
Arya mengangguk perlahan.
"Memang kau akan menerima hukuman yang setimpal dari pihak berwenang. Itu adalah konsekuensi logis dari setiap tindakan jahat. Namun, ada satu hal yang ingin kusampaikan padamu, Si Bagor. Atau lebih tepatnya, sebuah peringatan yang harus kau tanamkan dalam jiwamu."
Arya berlutut di depan Si Bagor Tangan Besi, menatap lurus ke matanya yang kini memancarkan keputusasaan.
"Dengarkan aku baik-baik. Aku bisa saja membunuhmu. Dengan ilmu yang kumiliki saat ini, mengakhiri hidupmu bukan hal sulit.
Tubuhmu, sekuat apa pun, tidak akan mampu menahan kemarahan alam yang mengalir dalam diriku. Namun, aku tidak melakukannya.
Aku memberimu kesempatan untuk berubah. Sebuah kesempatan untuk menebus kesalahanmu yang lampau, meskipun takkan pernah bisa sepenuhnya terhapus," ujar Arya Wiguna.
Arya menarik napas dalam-dalam, menyalurkan energi yang tenang.
Arya mendekatkan wajahnya sedikit, suaranya berubah menjadi sangat dingin dan penuh ancaman yang jelas.
"Jika aku mendengar atau melihatmu, Si Bagor Tangan Besi, atau anak buahmu, kembali melakukan kejahatan sekecil apa pun; merampok, menindas, menculik, atau mengganggu ketenteraman rakyat, maka jangan harap ada ampun lagi dariku. Tidak akan ada kesempatan kedua," kata Arya Wiguna, ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap.
"Pada saat itu, aku tidak akan segan-segan untuk melumpuhkanmu selamanya, membuatmu tidak akan pernah bisa melangkah lagi, atau bahkan mengakhiri hidupmu di tempat. Apakah kau paham semua yang kukatakan, Si Bagor?" lanjut Arya lagi.
Si Bagor Tangan Besi mengangguk cepat, wajahnya semakin pucat. Keringat dingin membasahi pelipisnya, bukan karena kesakitan fisiknya, melainkan karena ketakutan yang mendalam akan ancaman Arya.
"Pa... paham, Tuan Arya. Aku bersumpah demi langit dan bumi. Aku akan berhenti. Aku... aku tidak akan mengganggu siapa pun lagi. Aku berjanji. Aku akan membubarkan sisa anak buahku dan mencari jalan hidup yang baru. Tolong... percayalah padaku," sahut Bagor Tangan Besi ketakutan.
"Bagus, ingatlah janjimu itu. Sekarang, biarkan Aki Samad dan penduduk desa menyerahkan kalian kepada yang berwenang. Ini adalah akibat dari perbuatan kalian. Hukuman ini harus kalian terima agar kalian bisa merenungi semua kesalahanmu," kata Arya bangkit, kembali berdiri tegak.
Aki Samad dan para pemuda desa kemudian mulai membawa para perampok, termasuk Si Bagor Tangan Besi, menuju pos penjaga desa. Penduduk desa bersorak gembira, merasa lega dan aman setelah sekian lama di teror.
Setelah memastikan para perampok diurus, Arya kembali ke warung pojok. Arya sudah selesai sarapan, dan saatnya untuk melanjutkan perjalanan.
Mirah, dengan mata berbinar-binar seperti embun pagi, menghampirinya. Wajah gadis itu memancarkan kekaguman yang mendalam, bercampur dengan sedikit kesedihan karena Arya akan pergi.
Di belakangnya, beberapa gadis desa lain mengintip dari balik tiang, saling berbisik dan melirik Arya dengan rona merah di pipi.
"Tuan Arya, terima kasih banyak sudah menyelamatkan kami dari teror perampok itu. Kami... kami tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikan, Tuan," ucap Mirah pelan, suaranya sedikit bergetar, berusaha menyembunyikan kekecewaannya.
"Tidak perlu berterima kasih lagi, Mirah," jawab Arya lembut, tersenyum hangat.
"Sudah kewajibanku untuk melindungi orang-orang yang tidak berdaya. Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan, satu lagi jangan panggil tuan, panggil saja Arya."
"Tapi... tapi kami akan merindukan Tuan Arya," kata Mirah, matanya mulai berkaca-kaca. Gadis itu menunduk, tak kuasa menatap mata Arya yang meneduhkan.
"Apa... apa Arya akan kembali lagi ke Desa Dusun Tua ini? Setelah semua ini... desa kami akan aman, bukan?" tanya Mirah terbata.
Arya menatap Mirah, lalu melirik para gadis desa lain yang menatapnya dengan penuh harap dan sedikit kesedihan.
Sebuah senyuman tipis dan hangat terukir di wajahnya yang rupawan, senyuman yang penuh pengertian namun juga menyimpan rahasia dari jalan hidupnya.
"Perjalananku masih sangat panjang, Mirah," jawab Arya, suaranya terdengar jauh namun penuh makna, seolah-olah ia sedang berbicara tentang samudra luas yang belum terjelajahi.
"Aku masih punya banyak tugas yang harus kulaksanakan, banyak kejahatan yang harus kutumpas, dan banyak orang yang harus kulindungi di luar sana. Jalan yang kubuka ini adalah jalan seorang penegak keadilan, yang harus selalu bergerak ke mana pun kegelapan menyelimuti," jawab Arya Wiguna lembut.
Arya Wiguna tidak memberikan janji pasti untuk kembali, karena ia tahu jalan yang dirinya pilih adalah jalan seorang pengembara penegak keadilan, yang harus bergerak ke mana pun kejahatan berada.
Senyuman Arya itu seolah menjanjikan harapan, kebaikan, dan jejak langkah yang tak akan mudah terlupakan.
"Jadi... Arya tidak akan kembali?" tanya salah satu gadis desa yang lain, suaranya terdengar kecewa. Gadis-gadis lain ikut menghela napas.
"Jangan sedih," kata Arya, suaranya menenangkan. "Yang terpenting, sekarang desa kalian aman. Jaga diri kalian baik-baik, Mirah, dan kalian semua. Dan ingatlah pesan ini: jika ada kejahatan lagi, jangan takut untuk melawan dan mencari pertolongan. Kebaikan akan selalu menang jika ada yang berani memperjuangkannya dengan hati yang tulus," lanjutnya.
Aki Samad mendekat, menepuk bahu Arya dengan rasa hormat yang mendalam.
"Berhati-hatilah di jalan, Nak Arya. Semoga Tuhan selalu melindungimu dalam setiap langkahmu. Jangan lupakan kami di Desa Dusun Tua ini, Nak. Kami akan selalu mengenang kebaikan dan keberanianmu," ucap Aki Samad tulus.
"Tidak akan, Aki, aku tidak akan melupakan kalian," jawab Arya tulus, ia tahu, pengalaman di Desa Dusun Tua ini adalah pelajaran berharga bagi perjalanannya.
Arya telah berhasil mengendalikan amarahnya, menggunakan kekuatannya untuk tujuan yang benar, dan merasakan betapa berharganya melindungi orang yang tak berdaya. Ia telah memenuhi misi kecilnya di sini.
Arya kemudian mengangguk hormat kepada Aki Samad, memberikan senyuman terakhir yang hangat kepada Mirah dan para gadis desa yang kini menatapnya dengan pandangan penuh kekecewaan bercampur kekaguman.
Mereka ingin Arya tinggal, menjadi pahlawan mereka selamanya, namun mereka mengerti bahwa panggilan Arya lebih besar dari sekadar satu desa.
Tanpa menoleh lagi, Arya Wiguna berbalik dengan langkah yang ringan namun penuh tujuan, Arya melangkah keluar dari warung pojok, meninggalkan Desa Dusun Tua.
Arya Wiguna kembali ke jalur utama, menuju arah timur. Desa Lingkar Naga dan tugas pertamanya, membantu Perguruan Mawar Putih dari teror penculik gadis yang menantinya.
Arya tahu jalan di depannya mungkin penuh bahaya dan rintangan, namun ia siap menghadapinya.
Dirinya adalah Arya Wiguna, Pendekar Harimau Putih, dan ia akan menegakkan keadilan di setiap jengkal tanah yang ia pijak.
Bersambung....
makin seru kisahnya