Senin, Jumat
“APA?! Jadi kamu pembunuh?!”
Lise membeku.
Matanya membesar, lalu
“ASTAGA! Jadi kekasihku SEORANG PEMBUNUH? Ya ampun, senangnyaaaaa~!! 😍❤️”
Kevin cuma bisa bengong.
Ia pikir Lise bakal kabur... ternyata malah makin nempel dan mulai nanya-nanya, “Korban pertamamu siapa?”
“Berarti... kamu bakal bunuh siapa pun yang nyakitin aku, kan?”
Kevin terdiam, lalu mengangguk. "Tentu saja"
Lise tersenyum lembut, tapi gila.
🔪❤️✨
✨Ini kisah tentang Lise, gadis biasa yang cuma pengen hidup damai. Tapi semua berubah sejak dia bertemu Kevin, pria pendiam dengan masa lalu yang... berdarah.
Tapi entah kenapa, cinta justru tumbuh di antara dua jiwa yang tak seharusnya bersatu.
Lise tak takut. Bahkan ketika kenyataan paling kelam muncul, dia tetap memilih untuk bertahan.
kadang... cinta tidak datang dari tempat yang aman. Tapi dari seseorang yang diam-diam... bersedia membunuh dunia, demi kamu.
[Novel ini masih dalam tahap REVISI, akan ada sedikit perubahan dan pasti ada TYPO juga😌]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evelyne lisha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
// Bab 19 - Mengobati //
''A-apa yang terjadi kevin ?"'
Ujar lise yang mendekati kevin dengan kotak P3k di tangannya. Lise duduk di samping kevin yang tertunduk dengan masker di wajahnya. Jelas lise terlihat sangat terkejut saat ia membuka masker kevin.
Wajah nya yang terluka, pipinya yang lebam, ujung bibir yang sobek dengan darah yang masih mengalir.
Dengan pelan dan hati-hati, lise membersihkan luka sebelum memoleskan salep pada bagian yang terluka.
kevin tidak menjawab saat lise bertanya apa yang telah terjadi padanya, ia hanya terdiam bisu tanpa suara sedikitpun.
Kevin juga hanya terdiam saat lise membuka pakaiannya dan mengobati tubuh kevin yang penuh dengan sayatan pisau. Memang terkejut, tapi meski bertanya, kevin entah akan menjawabnya atau tidak. Namun lise tidak berhenti disitu.
''ayolah kevin, jangan diam aja sih, kenapa kamu sampe babak belur gini?''
Lise kembali berteriak dengan nada yang cukup tinggi, sembari menutup kotak P3k dengan keras dan menatap kevin dengan khawatir. Berharap pertanyaannya segera di jawab.
''haah~ kevin, kau gak tahu dari tadi aku nungguin? aku liat kamu pulang pulang bawa badan kek abis di siksa gini, Kamu gila ya kevin, mentang-mentang kamu orang yang susah di tebak, seenaknya bikin orang kaget setengah mati''
Kevin memeluk Lise, ia menenggelamkan wajahnya di leher lise.
lise tertegun dan membalas pelukan nya dengan erat.
''kau khawatir ya?'' Tanya kevin sambil mengeratkan pelukannya.
''ya iya lah, siapa coba yang gak khawatir ngeliat orang berdarah darah gitu!''
sekejap, Kevin melepaskan pelukannya dan menatap Lise dengan tajam.
''tapi aku yakin kau bukan tipe orang yang khawatir saat melihat orang lain begini''
Lise tersentak dan menatap kevin dengan perasaan yang tak bisa diartikan sama sekali. Dirinya memang bukan tipe seperti itu, ia pasti hanya akan mengabaikan saja. Ia berpikir keras, sejak kapan dan kenapa ya?. Tapi lise yakin kalau perasaan seperti ini hanya berpengaruh pada kevin saja.
Ia bahkan tak bisa menjelaskan apa-apa, perasaan ini terasa rumit.tapi sangat jelas lise memiliki sebuah 'perasaan khsus' untuk kevin yang selama ini tidak ia sadari.
lise yang tahu perasaan macam apa itu, dirinya tak bisa menyangkal, kalau ia ternyata menyukai sosok kevin.
''Entahlah kevin, aku memang bukan tipe yang begitu, tapi kayaknya kau ngerti deh kenapa aku begini''
kevin tersenyum memandang lise lebih dalam. ''kalo udah ngerti sama perasaan kamu, simpan perasaan itu baik baik, yah ... siapa tau perasan itu sama dengan perasaan aku''
Mata yang saling memandang dalam keheningan, alunan melodi tanpa alat terdengar di dalam inci hati yang mulai merekah.
perasaan yang terpendam di dalamnya, menyiratkan sebuah arti dalam kehidupan merangkai kata menjadi sajak indah, dikala bulan purnama bersinar.
🌸🌸🌸
lise menoleh pada pria yang tadi di bawa oleh kevin.
''siapa dia?''
kevin ikut menoleh mengikuti pandangan mata lise ''dia rekanku, Jared''
''rekan?'' tanya lise penasaran dengan kata rekan itu.
_____________
LISE menghampiri kevin yang sudah lama terdiam di balkon kamar miliknya. Ia baru menyadari kalau dini adalah pertama kalinya ia masuk ke kamar kevin yang terlihat sangat berantakan.
''ya ampun, ternyata bener kata orang, kalo kamar laki laki itu gak ada yang rapih, bawaannya berantakan gitu'
''gimana kondisinya?'' tanya kevin pada Lise yang sudah memeriksa kondisi rekannya itu
''baik, hanya tusukan yang lumayan dalam di daerah dadanya yang parah, untung saja gak kena ke jantungnya''
Kevin menoleh pada Lise sebelum mengeluarkan suaranya ''Terima kasih''
Lise menatap Kevin sambil berdiri disampingnya ''yang ingin aku dengar darimu bukan itu, Kevin''
__________________________________
semangattt/Determined//Determined/