Maxwell, Daniel, Edric dan Vernon adalah keempat CEO yang suka menghambur - hamburkan uang demi mendapatkan kesenangan duniawi.
Bagi mereka uang bisa membuat mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan bahkan seorang wanita sekalipun akan bertekuk lutut di hadapan mereka berempat demi mendapatkan beberapa lembar uang.
Sampai suatu hari Maxwell yang bertemu dengan mantan calon istrinya, Daniel yang bertemu dengan dokter hewan, Edric yang bertemu dengan dokter yang bekerja di salah satu rumah sakitnya, dan Vernon yang bertemu dengan adik Maxwell yang seorang pramugari.
Harga diri keempat CEO merasa di rendahkan saat keempat wanita tersebut menolak secara terang terangan perasaan mereka.
Mau tidak mau Maxwell, Daniel, Edric dan Vernon melakukan rencana licik agar wanita incaran mereka masuk ke dalam kehidupan mereka berempat.
Tanpa tahu jika keempat wanita tersebut memang sengaja mendekati dan menargetkan mereka sejak awal, dan membuat keempat CEO tersebut menjadi budak cinta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon si_orion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 19
Pagi ini Chelsea rasanya terbangun dengan perasaan yang aneh. Dia melihat suaminya yang masih terlelap itu dengan kecut, entah kenapa dia jadi kesal saat melihat wajah tampan itu.
Chelsea menyingkirkan tangan besar Edric dari perutnya, lalu dia menyingkap selimut dan beranjak turun dari ranjang.
Kucing cantik kepunyaan Edric itu membasuh wajah dan menggosok giginya sebelum beranjak menuju dapur guna menyiapkan sarapan untuk sang suami.
Chelsea terus-terusan mendesah kesal selama dia memasak. Entah apa yang membuat paginya terasa begitu jelek. Chelsea merasa kesal tanpa sebab, bahkan dia membuang masakan yang sudah setengah matang diwajan itu ke tong sampah. Chelsea kembali beranjak ke kamar untuk membangunkan suaminya, meskipun sarapan belum terhidang dimeja makan.
Chelsea menghembuskan nafasnya ketika melihat sang suami masih tidur dengan tubuh shirtless tengkurap diranjang. Biasanya pipi Chelsea akan memerah dan panas melihat pemandangan rutin pagi harinya, tapi entah pagi ini rasanya Chelsea sedang tak bernafsu pada suaminya itu.
Chelsea menggoyangkan bahu Edric, membangunkan kuda liar itu hingga dia terusik dan bangun.
"Morning my kitten." sapa Edric dengan suara serak khas bangun tidur, memonyongkan bibirnya siap mencium istrinya.
Namun Chelsea justru segera menjauh dan pergi ke walking closet menyiapkan pakaian Edric.
"Is there no morning kiss? no morning sex too, kitten?"teriak Edric yang diabaikan oleh Chelsea.
"Segera mandi dan sarapan." ucap Chelsea cuek meletakkan pakaian kantor Edric di sofa.
"Hey, what's wrong?" tanya Edric mengernyitkan keningnya bingung dengan sikap sang istri pagi ini. Padahal semalam Chelsea masih malu-malu manja padanya.
"It doesn't matter. Hurry up, take a shower, and get ready." jawab Chelsea mendorong tubuh besar suaminya.
Namun Edric dengan nakalnya menahan tangan Chelsea. "Take a bath together, hem?" ucapnya menaikturunkan alisnya nakal.
Chelsea tak menjawab, ekspresinya masih datar dan tak mau melayani kenakalan Edric.
Melihat mood istrinya yang sepertinya sedang jelek, Edric akhirnya segera beranjak ke kamar mandi meninggalkan Chelsea yang sedang merapikan ranjang mereka.
Saat kembali ke kamar, rupanya Chelsea sudah selesai merapikan kamar. Edric pergi ke dapur dengan kemeja yang belum terkancing rapi, jas menggantung ditangan, serta dasi yang hanya melilit bak syal dilehernya.
Edric seperti anak kecil yang menghampiri ibunya. Dia tak bisa mengurus dirinya sendiri, bahkan untuk urusan memasang dasi sekali pun. Chelsea sudah terbiasa dengan itu sejak pernikahan mereka. Padahal jika mengingat usia, Edric 6 tahun lebih tua dari Chelsea, tapi kenapa justru malah Edric yang seperti anak kecil dihadapan Chelsea.
Kebiasaan rutin mereka dipagi hari, setelah bercinta, Chelsea akan menyiapkan pakaian Edric, menyiapkan sarapan, lalu membantu, suaminya itu berpakaian. Chelsea belum memiliki anak, tapi kelakuan Edric sudah seperti anaknya Chelsea.
Namun, menurut Chelsea, Edric adalah sosok pria yang bertanggungjawab dan berwibawa. Dibalik sikap polos menyebalkan, mesum, dan bocahnya, Edric adalah sosok pria yang bisa mengayomi Chelsea. Chelsea tak tahu jika Edric bisa begitu dewasa dan bijaksana sebagai kepala keluarga. Perlakuan Edric padanya semakin lama membuat Chelsea jatuh cinta pada pria itu. Meskipun Chelsea harus bersabar dengan sifat baru Edric.
"Sayang." panggil Edric manja memeluk pinggang Chelsea yang sedang memanggang roti.
Chelsea menghela nafasnya dan masih sibuk mengoles selai ke roti panggang itu.
"Mau kopi atau susu?" tanya Chelsea sembari merapikan kemeja Edric setelah selesai mengoles roti dengan selai.
"Mau susu yang langsung dari sumbernya, boleh?" tanya Edric nakal, tangannya hendak menyentuh gundukan favoritnya itu, tapi Chelsea dengan cepat menepisnya.
"Aku sedang tidak mood." jawab Chelsea lempeng.
Edric memindai wajah sang istri, kenapa pagi ini Chelsea terlihat begitu lesu dan tak bersemangat. Biasanya Chelsea akan terbangun dengan pipi yang memerah, dia bahkan akan terlihat malu-malu saat mengancingkan kemejanya.
Namun pagi ini, Chelsea tak seperti biasanya. Dia banyak diam, ekspresi lempeng, dan seperti orang yang kelelahan.
"Kau sakit?" tanya Edric meletakkan telapak tangannya didahi Chelsea.
Chelsea kembali menepis tangan Edric, lalu tangannya mulai menyimpul dasi dileher Edric. Kemudian mendorongnya untuk duduk dikursi dan menyodorkan roti panggang dengan selai coklat kepada pria itu.
Edric ingin protes ketika sarapan kali ini hanyalah roti panggang dan susu, padahal biasanya Chelsea selalu menyumpalnya dengan beragam jenis sarapan western. Tapi ketika melihat istrinya yang sedang dalam mood buruk, Edric urung dan melahap sarapannya itu.
"Hei, are you okay?" tanya Edric yang mulai khawatir dengan tingkah istrinya pagi ini.
Chelsea mengulum senyumnya sambil mengangguk. Edric hanya mendesah pasrah sebelum mengecup kening dan bibir Chelsea saat akan berangkat kerja.
"Telepon aku kalau ada apapun, hem." ucapnya sebelum pamit.
Selepas kepergian Edric, Chelsea langsung pergi ke kamar mandi saat merasakan mules dan sesuatu keluar dari kewanitaannya.
Chelsea menghela nafasnya antara senang dan sedih saat bercak merah hadir di underwarenya.
Tamu bulanannya telah datang.
Chelsea senang ketika dia menstruasi itu artinya adalah waktu istirahat Chelsea dari kegiatan bercinta dengan sang suaminya yang hyper. Namun, Chelsea juga sedih karena itu artinya dia belum juga hamil.
Meskipun menikah atas dasar perjodohan dan keterpaksaan, tapi Chelsea tetaplah seorang wanita sekaligus istri yang mendambakan hadirnya buah hati ditengah-tengah keluarga kecilnya.
Dia berharap bahwa dia bisa mengandung anaknya Edric. Chelsea berharap bahwa rahimnya kini berisi buah hatinya dengan Edric. Namun nyatanya, harapan Chelsea belum bisa terealisasi.
Chelsea tak mengerti mengapa sampai sekarang, 3 bulan pernikahan dia belum juga positif hamil. Padahal bulan ini dia sudah terlambat, niatnya besok Chelsea akan melakukan tes kehamilan jika menstruasinya belum datang juga. Tapi ternyata menstruasinya datang pagi ini. Pantas saja mood Chelsea terasa hancur pagi ini tanpa sebab.
Ya, terlepas dari kesedihan Chelsea mengenai kehamilan, setidaknya ada hikmah dan waktunya untuk istirahat dari gempuran Edric.
Dan saatnya memberikan Edric semangat, karena selain harus berpuasa bercinta, dia juga harus menghadapi mood swing Chelsea saat menstruasi.
***
Semenjak hari dimana Maxwell datang ke apartemennya dan tidur bertiga disana. Pria itu mendadak melunak pada Zayden. Dia bahkan senang sekali menghabiskan waktu bersama Zayden. Maxwell sering datang ke apartemennya dengan alasan untuk menjenguk Zayden.
Ya, Pricilla tahu alasan Maxwell yang mulai luluh pada Zayden. Tentu saja karena hasil tes DNA mereka telah keluar. Hasil tes yang menyatakan bahwa Zayden adalah 100% anak Maxwell.
Semenjak itu, Maxwell sering membawa Zayden kemana-mana. Meskipun hati Pricilla masih dendam atas perlakuan Maxwell sebelumnya, tapi setidaknya dendam itu semakin terkubur oleh kebahagiaan Zayden.
Pricilla begitu senang ketika melihat kebahagiaan Zayden saat sedang bersama Maxwell. Anaknya bertambah aktif saat Maxwell bersamanya. Zayden seolah mengetahui dan memiliki ikatan batin dengan Ayahnya. Keduanya bahkan sering kompak, Maxwell pun sekarang sering menginap di apartemen Pricilla karena sering ketiduran setelah bermain dengan Zayden.
Namun sejauh ini, hubungan Pricilla dan Maxwell tak ada kemajuan. Pricilla menerima Maxwell diapartemennya hanya karena Zayden. Maxwell pun tak pernah membahas mengenai hubungan mereka. Obrolan mereka hanya berkisar pada tumbuh kembangnya Zayden. Ya, Pricilla bersyukur karena setidaknya kini Zayden sudah bisa merasakan kasih sayang dan perhatian seorang Ayah.
Zayden sekarang sedang bersama Maxwell, karena pria itu sendiri yang mengatakan ingin berduaan dengan Zayden. Pricilla tak melarang karena menurut dia Maxwell pun punya hak untuk bersama Zayden.
Karena Zayden di bawa Maxwell, Pricilla akhirnya merasa bosan sendirian diapartemen. Akhirnya pula Pricilla yang sedang mendapat cuti pun mengajak Chelsea untuk girlstime. Kebetulan Chelsea pun sedang bosan sendirian dirumah karena Edric sedang keluar kota.
"Jadi bagaimana? Kau siap berkenalan dengan dia? Aku jamin dia adalah pria yang dewasa dan bijaksana. Dia seorang duda, anaknya ikut bersama mantan istrinya." ucap Chelsea semangat.