Apa jadinya jika seorang Anak kecil memanggilmu Mommy. Bocah perempuan usia 5 tahun yang imut nan cantik lebih sialnya adalah Anak dari bosnya yang dingin tapi genteng yang membuatnya digandrungi kaum hawam.
Yuk baca kelanjutannya...... 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon della1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Datang Keperusahaan
Pagi hari menyambut Cia yang sudah melek tapi ogah-ogahan untuk bangkit dan meninggalkan selimut serta ranjangnya. Jangan lupakan matanya yang sembab karena menangis bahkan matanya tak terlihat dan berat untuk dibuka.
Tok.... Tok.... Tok...
Suara ketukan pintu menggema membaut Cia harus rela bangkit meski kesulitan melihat jalan.
Cia berusaha mengucek matanya agar sembab dimatanya hilang. "Ada apa?" tanya Cia saat ia membuka pintu kamarnya yang memunculkan Daddy-nya.
Rey tersenyum saat lebar membuat Cia yang melihatnya ngeri karena Daddy-nya tersenyum terlalu lebar. "Dad serem" keluh Cia langsung membuat Rey murung dan bibir yang tadi melengkung keatas langsung berubah turun.
Lah ini anak Pagi-pagi udah bikin saki hati aja batin Rey
Cia yang melihat itu hanya mampu menahan tawanya"Ada apa Dad?" tanya Cia membuat Rey memandang Cia lalu menjatuhkan diri mensejajarkan tubuhnya dengan Cia kemudian mengusap mata bengkak Cia "Nanti dikompres pakai air dingin ya?" ucap Rey membuat Cia mengangguk.
Rey bangkit lalu menggendong Cia masuk ke kamarnya "Mandi dulu gihh, habis itu kita kekantor Daddy" ucapnya dengan melepaskan pakaian Cia.
"Dad? nggak sekalian siapin air hangatnya?" canda Cia membuat Rey mengangguk bersiap untuk bangkit namun dicegah oleh Cia"bercanda Dad, masa Daddy yang udah ganteng gini nyiapin air nanti airnya nggak mau keluar lagi" goda Cia lalu mencium pipi Rey membuat Rey tersenyum.
"Cia kamu belum gosok gigi udah main cium-cium Daddy! "keluh Rey mendramatisir membuat Cia yang sudah berada dikamar mandi tertawa.
Rey menyiapkan pakaian ganti untuk Cia, agar lebih cepat "Cia mau pakai baju warna apa" teriak Rey saat hendak mengambil baju untuk Cia yang begitu banyak warna.
Cia yang mendengar teriakan Daddy-nya nampak berpikir tentang warna apa yang cocok dipakai hari ini. "Pink Dad! " teriak Cia mematikan shower ya.
Rey mengambil baju warna pink yang modelnya mini dress yang sangat cantik dengan sepatu plat shoes yang warnanya senada.
Cia keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit ditubuhnya terlihat lucu "Dad di kuncir dua ya rambut Cia" ucap Cia setelah memakai bajunya dan mengambil sisir lalu diserahkannya ke Rey.
Cia duduk di sofa bersama Rey yang sedang menyisir rambutnya lalu mengepang ya. Rey hanya bisa mengepang dua dan kepang satu saja, karena itu adalah sangat mudah ya walau kadang tidak seimbang. Maklum saja ia hanya laki-laki.
Rey bersorak senang menatap puas hasil karyanya di kepala Cia, untuk hari ini kepangan ya berhasil dengan sempurna "Yes,, berhasil" seru Rey.
"Gitu aja bahagia"dumell Cia dengan wajah ingin muntah, Daddy-nya ini terlalu berlebihan.
"Iyalah, karena tidak semua laki-laki bisa mengepang rambut anaknya atau perempuan" jawabnya dengan bangga, karena ia sudah berhasil.
"Ya elah, terserah Daddy aja" ucap Cia lalu bangkit diikuti Rey.
"Cia ikut Papa aja ya?" ucap Papanya Cia saat melihat anaknya Rey dan Cia keluar dari kamar. Ia sebenarnya hendak ke kamar Cia tapi keburu pintunya sudah terbuka jadi ia urungkan.
"Cia pengen ikut Daddy nyari Mommy baru buat Daddy!" ucap Cia menggelengkan kepalanya dengan tangan bersilang dada.
"Lho, emangnya Mommy yang kemarin gimana?" ucap Papanya terkejut akan ucapan Cia.
"Mommy yang itu, Cia udah nggak suka" ucapnya berbohong karena ia terluka akan ucapan Cira kemarin.
Lah ini anak mau bikin gue malu lagi ya?batin Rey menggerutuki Cia dalam hatinya.
Rey mengelus rambut Cia,lalu memandang Papanya "Biar Cia sama Rey aja Pa, nanti kalau bosan juga larinya ke Papa" terang Rey membuat Papa murung, biasanya Cia selalu ikut kekantor Papanya jika tidak ada kelas, disana ia bisa bermain ditaman atau diruangan khususnya.
"Yaudah, Papa berangkat sekarang ya, tadi Papa juga udah sarapan. Kalian jangan lupa sarapan ya?" ucap Papanya mencium pipi Cia.
Rey yang merasa dilewati oleh Papa, pura-pura meresa kesal "Rey kok tidak dicium" goda Rey membuat Papanya mengerjitkan dahinya bingung.
"Ih,, Daddy udah tua juga" pukul Cia pada perut Rey membuat Rey sedikit meringis, akibat pukulan dari Cia.
Papanya yang baru mengerti kembali membalas godaan Rey "Cupcup anak Papa lagi marah ya? sini Papa cium mana pipinya" ucapnya sembari mengulurkan tangannya menggapai Rey dengan bibir dimajukan.
Rey dan Cia yang melihat tingkah Papanya itu segera berlari menjauh dan supaya tidak ditangkap oleh Papanya. Mereka berdua langsung masuk ke dalam mobil melupakan sarapan.
Rey menelepon asisten rumah tangganya untuk membungkuskan sarapannya agar nanti mereka makan di kantor saja.
"Huh, untung aja nggak kena ciuman maut" ucap Rey yang sedang ngos-ngosan akibat lari. Cia justru tertawa melihat Daddynya yang haus oksigen.
"Itu Papa Daddy lo"ucap Cia disela tawanya membuat Rey memandang Cia kesal.
Saat Rey menggunakan sabuk pengaman tiba-tiba aja dia dicium. Siapa lagi kalau bukan Papanya yang aneh itu. Cia yang melihat itu tertawa terbahak-bahak bahkan sampai memegang perutnya melihat ekspresi Daddy nya yang terkejut.
"PAPA! "jerit Rey lalu mengusap bekas ciumanan Papanya dengan tisu basah.
"Alah pakai sok-sokan dihapus, dulu aja kalau nggak dicium Papa nggak mau ngapa-ngapain" goda Papanya membuat Rey kesal.
Papanya Rey masuk kemobil dan dipangkunya Cia. Rey yang melihat hal itu pun langsung protes"Lho Papa kok masuk" tanya Rey
"Papa numpang"ucapnya membuat Cia bersorak bahagia.
"Mobil Papa kemana?" ucap Rey lalu mengambil makanan yang sudah diserahkan oleh asisten rumah tangganya.
"Lagi dicuci Antony" jawab Papanya sekenanya. Membuat Rey kesal lalu melajukan mobilnya. Jadilah sekarang ia seperti supir pajangan tanpa hendak ingin diajak mengombrol oleh mereka.
Inilah Rey yang tidak suka saat Papa bersama Cia maka ia akan terlupakan "Hai emak-emak cantik" ucap Rey saat melihat emak-emak lewat bawa sepeda motor dengan santainya. Namun,Rey hanya berani lewat mobil dengan kaca mobil dibuka setengah. "Goda aku dong, aku lagi dikacangin nih" ucapnya lagi membuat Cia dan Papa nya memandang Rey jijik.
"Daddy terlalu murahan" ucap Cia memandang Rey tidak suka. "Untung Papa jual mahal" ucap Cia lalu mencium pipi Papanya. Membuat Rey kesal lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Cia yang memang senang ngebut-ngebutan bersorak riang beda halnya dengan Papanya yang sudah pucat pasi ketakutan. Rey memang anak durhaka membuat Papanya jantungan dan meninggal dengan cepat.
Berbagai umpatan keluar dari mulut Papanya membuat Cia tertawa. Papanya sudah tidak memikir apa-apa lagi selain nyawa mereka.
"Rey!!!" teriak Papanya membuat Rey memelankan laju mobilnya.
Rey mengeluarkan smirknya dan melirik Papanya sekilas. Saat itu pula Rey mendapatkan pukulan keras dibahunya. Membuat Rey tertawa terbahak-bahak seolah kejadian itu adalah hal yang menyenangkan.
"Kamu mau bikin Papa mati?!"ucap Papanya kesal.
"Daddy sih!, Papakan masih jomblo!"bela Cia namun jangan salah ia justru membuat Papanya merasa tertohok akibat ucapnya.
"Yaelah, nanti juga Papa akan bertemu bidadari disana" ucap Rey dengan santainya.
Saat hendak memukul Rey. Tiba-tiba saja ada mengetok pintu mobil. Tanpa dirasa mereka sudah sampai didepan kantor Papanya yang sudah disambut oleh Antony. Papanya berbohong ternyata ini akal-akalannya saja.
"Mau mampir Rey, liat tante-tante yang ada didalam, mereka kangen lho" goda Papanya.
"Yang ada aku digebugkin" dumel Rey.
"Iya Dad, setiap Cia ketemu sama tante-tante disana, pasti ditanya? Daddy mu kok nggak ikut, bilang sama Daddy mu tante rindu... bla... bla... bala dan masih banyak lagi" ucapnya dengan kesal.
Rey yang mendengar itu cuek saja, tapi saat hendak melajukan mobilnya pergi meninggalkan halaman kantor Papanya ada suara yang memanggilnya "REY!" Rey yang melihat dari kaca sepionnya segera menancap gas mobilnya agar tidak melihat orang tersebut.
Bagaimana tidak orang yang memanggilnya adalah salah satu dari banyaknya tante-tante yang menyukainya di kantor Papanya, dengan wajah yang dipoles bagai tembok, bibir merah bagai darah dan pakaian yang kurang bahan bahkan hanya menutupi dibagian tertentu saya.
Rey yang membanyangkannya saja ngeri apalagi bertemu dengannya bisa mati kutu dia disana.
"Daddy tadi dipanggil sama tante laura kok langsung pergi?" goda Cia membuat Rey mendengus kesal.
"Lebih baik Daddy jomblo seumur hidup daripada harus sama tante ondel-ondel itu" ucapnya ngeri.
Setelah hal itu Cia dan Rey sudah sampai dikantor. Rey menggendong Cia yang disamping sudah berada Chan. Semua orang berbisik tentang pesta kemarin.
Rey tadi masuk kekantor lewat parkir karyawan karena didepan kantornya sudah terdapat banyak wartawan yang menunggu penjelasan dari mereka.
"Daddy wartawannya banyak banget"ucap Cia dengan melihat banyak wartawan di depan kantornya melalui kaca dinding yang ada diruangannya.
"Biarin aja nanti juga mereka akan menghilang" ucap Rey tanpa melihat ke arah Cia.
"Rey ada yang mau bertemu" ucap Chan yang masuk dan menghampiri Cia yang sedang memandang orang dibawah.
"Siapa?" tanya Rey lalu menghampiri Chan dan Cia.
Rey ikut melihat wartawan yang sedang duduk dan berdiri menunggu konfirmasi darinya dengan menanyai setiap karyawan yang lewat, membuat Rey geram lalu menelpon satpam untuk mengusir wartawan karena mengganggu kerja karyawannya.
"Yah kok diusir sih!" tak tega Cia karena kehilangan tontonannya.
"Itu-itu Cira" ucap Chan melihat kearah Rey yang sedang tersenyum jahat. Chan penasaran apa yang akan dilakukan Bos nya ini terhadap perempuan itu.
"Daddy ikut!" ucap Cia yang tau bahwa Daddynya akan bertemu dengan Mommynya.
"Yaudah ayo"ajak Rey"Chan lo periksa lagi berkas itu ya gue mau ketemu Cira dulu" ucapnya menyerahkan kerjaannya pada Chan.
"Daddy jangan marahin Mommy ya?"ucap Cia menasehati Daddy nya agar tidak keterlaluan sama Mommynya. Rey hanya menggangguk saja.
"Sarah, ikut saya" ucap Rey membuat Sarah yang sedang sibuk dan serius mengetik membuat ia kaget bahkan sampai berdiri. Cia yang melihat itu pun tertawa terbahak-bahak membuat Sarah nyengir kuda karena malu.
Rey sengaja membawa Sarah karena ia ingin memanas-manasi Cira ya walau sedikit kemungkinan Cira akan terpengaruh setidaknya masih adalah sekitar 2-3% harapannya.
Mereka sampai ditempat atau lebih tepatnya disebuah ruangan yang khusus untuk menerima tamu. Rey melihat Cira sudah disana duduk dengan tangan dipangkunya.
Cklek..
Suara pintu terbuka dibarengin dengan suara cempreng dari Cia yang memanggil Cira tante "Tante Cira!" panggil Cia yang membuat hati Cira bagai tertusuk belati tajam. Ingin rasa ia menangis sekarang karena panggilan yang keluar dari mulut gadis munggil dan menggemaskan itu sudah berubah.
Padahal ia sudah mulai terbiasa dan menyayangi gadis munggil itu seperti anaknya sendiri. Sampai kejadian kemarin membuat semuanya berubah dalam sekejap malam.