Ketika hidup tak lagi memberi ruang bernapas—diusir dari kos, ditolak pekerjaan, dan janji keluarga di kampung tak kunjung ditepati—Cika memilih langkah paling nekat: menawarkan pernikahan kontrak.
Al, CEO muda dan dingin, tak mencari cinta. Tapi ia butuh istri, cepat dan tanpa drama. Tawaran Cika datang di saat yang tepat—meski ia yang menentukan semua syarat dan batasannya.
Mereka hanya sepakat satu hal: tak melibatkan perasaan.
Namun, siapa yang bisa mengatur hati?
Ketika peran pura-pura perlahan terasa nyata, dan rumah yang dingin mulai hangat oleh tawa, benarkah mereka masih bisa berpura-pura?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asni Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Ujung Pilihan
Sudah tiga hari sejak Cika resmi keluar dari YukBelanja. Suasana di apartemen berubah. Bukan tegang atau marah, tapi sepi. Sunyi yang menggantung di antara mereka, meski tinggal serumah.
Cika mulai bangun lebih siang, menyeduh teh sendiri, dan duduk di balkon lebih lama. Al masih berangkat pagi-pagi, pulang malam, dan tak banyak bicara. Mereka bertukar sapa, tapi bukan percakapan. Lebih seperti dua orang asing yang saling menghargai batasan.
Jarak diantara mereka terasa semakin jauh kembali ke semula, mungkin dia salah. Cika merasa bersalah, karena dia hidup Al menjadi berantakan. Seharusnya tidak seperti ini, tanpa perasaan mereka setidaknya tidak saling menyakiti.
Di dalam dirinya, Cika tahu ia perlu ruang. Tapi semakin hari, ia merasa kehilangan. Bukan hanya kehilangan pekerjaan—tapi kehilangan ritme, kehilangan tujuan. Dan pelan-pelan, kehilangan kepercayaan diri.
Malam itu, saat Al belum pulang, Cika membuka laptop dan mencari kamar kos. Ia merasa waktunya di apartemen ini... tinggal sebentar lagi. Ia tak bisa terus menumpang dalam status yang menggantung. Ia ingin Al bahagia, dan jika itu artinya ia harus pergi—ia akan melakukannya.
Tapi hatinya perih. Teramat perih.
---
Di tempat lain, Al berdiri mematung di balkon lantai tertinggi kantor YukBelanja. Tangannya memegang gelas kopi yang sudah dingin. Marvin berdiri di belakangnya.
"Kamu nggak turun, Pak? Rapat udah mau mulai."
Al menghela napas. "Pernah nggak, Vin... kamu ngerasa punya semua hal, tapi kayaknya nggak punya satu pun yang bikin kamu merasa hidup?"
Marvin menatapnya sejenak. "Saya pernah kehilangan ibu saya. Waktu itu rasanya hidup saya kosong. Tapi sekarang saya tahu, ada orang-orang yang bikin hidup berarti lagi."
Al menoleh. "Cika udah pergi dari kantor. Sekarang dia lagi beresin barang di rumah. Mungkin nyari tempat baru. Dan aku... cuma diem."
"Kamu masih cinta?"
Al terdiam.
"Kalau iya, kejar. Jangan jadi orang yang nunggu semuanya terlambat."
---
Hari berikutnya, Cika pergi ke luar untuk wawancara kerja di sebuah kafe kecil. Tempatnya jauh lebih sederhana dibanding YukBelanja, tapi suasananya hangat. Ia merasa kembali jadi dirinya sendiri. Tapi begitu pulang, ia melihat pemandangan yang membuatnya terpaku.
Meja makan di apartemen dihiasi lilin kecil dan bunga segar. Ada makanan kesukaannya di atas meja. Dan di tengah-tengahnya, sebuah kotak kecil dengan kertas di bawahnya:
“Kalau ini bukan rumahmu, kenapa rasanya kosong setiap kamu pergi?”
Al muncul dari dapur, masih mengenakan kemeja kantor, tapi wajahnya terlihat gugup.
"Aku nggak pinter bikin pidato. Tapi... aku tahu satu hal: kamu bukan hanya istri kontrak. Kamu bagian dari hidupku. Aku nggak mau kamu pergi. Aku nggak peduli apa kata orang. Aku cuma mau kamu tinggal. Karena aku jatuh cinta sama kamu."
Cika menatapnya lama. Bibirnya gemetar. "Aku juga cinta, Mas. Tapi... aku nggak tahu harus bagaimana kalau kamu berubah pikiran nanti."
Al mendekat. Menggenggam tangannya. "Kalau aku berubah pikiran, aku cuma akan tambah yakin. Yakin bahwa nggak ada yang lebih penting dari kamu."
---
Malam itu, mereka makan malam dalam kehangatan yang berbeda. Tidak ada kontrak. Tidak ada status yang ditahan-tahan. Hanya dua orang yang akhirnya saling memilih. Dengan seluruh luka, ragu, dan harapan di antara mereka.
Dan di luar, angin malam berembus pelan. Seperti membisikkan bahwa cinta itu... tidak pernah tentang status. Tapi tentang siapa yang tetap tinggal saat semuanya terasa ingin runtuh.
Bersambung....