NovelToon NovelToon
Bukan Kontrak Pernikahan

Bukan Kontrak Pernikahan

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / CEO / Konflik Rumah Tangga- Terpaksa Nikah / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Percintaan Konglomerat / Tamat
Popularitas:27.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Adinasya mahila

Warning!
(Kram perut yang disebabkan membaca cerita ini tidak ditanggung BPJS, Jika gejala berlanjut hubungi Otor)


Bianca Nataniasunny seorang gadis mandiri dan sedikit arogan harus menjalani pernikahan tanpa cinta dengan seorang pria bernama Skala Prawira yang tak kalah arogan seperti dirinya. Kedua mahkluk itu sama-sama mengincar warisan dari keluarga mereka dan sepakat untuk melakukan kerjasama.

Menikah tidak membuat mereka lantas dengan mudah saling mencintai. Pertengkaran yang berujung kekonyolan menjadi santapan mereka sehari-hari.

"Kalau gue Anaconda loe Piranha Amazon," ~ Ska.

"Hah...ogah gue sehabitat sama loe," ~ Bian.

Tanpa Skala dan Bianca sadari jeratan takdir masa lalu telah mengikat keduanya.

_
_
_

Note :
JANGAN PLAGIAT ATAU TAMBAL SULAM!
INGAT AZAB
Carilah Rezeki yang halal dengan mencari ide sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinasya mahila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Kesucian Anaconda

"Kenapa? loe kaget?" tanya Ska yang melihat istrinya terbengong. "Kayaknya elo masih ga sadar seberapa kaya kakek gue." lanjutnya.

"Hem.. kayaknya gue nikah sama cucu sultan," jawab Bianca masih tak percaya.

"Tapi ngenes banget deh mobil gue aja belum di ganti sampai sekarang," sindirnya.

Skala yang merasa tersindir dengan ucapan Bianca terlihat langsung meraih ponselnya yang berada di dekatnya, tangannya terlihat sibuk mengetikkan sesuatu.

"Gue pastiin besok pagi loe akan liat mobil dengan model dan spesifikasi yang sama persis dengan mobil yang gue buang ke sungai sudah ada di depan rumah."

Bianca menaikkan kedua alisnya, masih memandang remeh suaminya.

"Mulai besok loe harus manggil gue Sultan Ska," ucapnya bangga.

"Eleh, belagu banget sih loe," cibir Bian.

Selesai makan seperti biasa Bian memilih duduk di sofa dan membaca diary sang mama, gadis itu tersenyum sendiri membaca tulisan almarhumah Kiran di sana, hal itu membuat Skala yang mau tak mau melihat merasa heran dengan kelakuan istrinya.

"Woi tidur! bukannya loe sakit."

"Ngapain loe nyuruh-nyuruh gue tidur? ntar juga kalau ngantuk gue tidur sendiri," ketus Bian.

Skala yang kesal lantas menyambar remote lampu yang ada di dekat kepala ranjang, seketika menekan tombol dan membuat gelap seisi kamar miliknya.

"Skala loe ga ada ahklak bener deh!" teriak istrinya.

Sementara Bian kebingungan di dalam kegelapan, laki-laki itu malah tertawa sambil memiringkan badannya untuk segera mengistirahatkan raganya. Bianca berjalan glagapan ke arah ranjang, berusaha meraba benda-benda yang dilewatinya agar tidak jatuh tersandung, ia sedang berusaha untuk menyalakan lampu tidur yang barada di atas nakas.

"Ska, hidupin lampu tidur loe, gue bener-bener ga bisa lihat ini," gerutu Bian.

Tangan gadis itu menggapai-gapai ranjang dan ternyata meraih bagian bawah badan suaminya. Namun, tanpa sengaja ia memegang sebuah benda bulat lalu memanjang yang terasa kenyal.

"Sial! Ca loe megang uler gue tau," pekik Skala yang langsung menghidupkan lampu tidur di sebelahnya, sementara itu Bian yang mendengar kata ular langsung melompat-lompat ketakutan.

"Ska, sumpah gue takut ular," gadis itu berteriak-teriak dan hampir menangis, ia naik ke atas ranjang dan tanpa sadar melompat ke pangkuan suaminya yang sudah duduk sambil terheran-heran.

Bian menggelayuti Skala, menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memejamkan mata, masih terus menjerit dan berteriak ketakutan.

"Hei.. stop Ca! stop! ga ada ular beneran disini!" ucap Ska.

Bian terdiam lalu perlahan membuka matanya, Skala menyambar remote lampu kamar membuat kamar mereka terang kembali, melihat dirinya yang tengah duduk di pangkuan suaminya Bianca langsung melompat turun, gadis itu salah tingkah sambil merapikan baju dan rambutnya.

Bian berdehem tapi tetap saja dengan nada ketus ia berucap, "Maaf, gue takut sama ular Ska, apalagi tadi loe bilangnya ul...," Sadar, Bian mengedip-ngedipkan dan menggerakkan bola matanya ke kiri dan ke kanan sambil berpikir.

"Ular? ular loe?" Bian awalnya terlihat kebingungan.

Namun, setelah paham akan maksud sang suami gadis itu melebarkan bola matanya, wajahnya menunjukkan rasa tidak percaya, mulutnya menganga dan segera ia tutupi dengan sebelah tangannya.

"Jangan bilang tadi yang ga sengaja gue pegang itu....," Bian tak sanggup meneruskan kalimatnya, ia memandang iba tangannya yang sudah ternistakan oleh perbuatannya sendiri.

"Gila loe emang, asal loe remes aja barang berharga gue," Ska berdiri lantas mendekat ke lemari pendingin yang ada di kamarnya, menyambar satu kaleng bir dari dalam sana.

"Siapa suruh loe matiin lampu?" Bian kesal karena merasa disalahkan dengan insiden salah pegang tadi.

"Bener-bener loe ga ada adab deh Ca, bukannya merasa bersalah." Ska menenggak minuman ditangannya sambil memandang ke arah Bian.

"Apa salah gue ha? apa?" bentak Bian untuk menutupi rasa malunya.

"Elo udah menistakan kesucian anaconda gue." Ska menunjuk-nujuk Bian dengan tangan yang dia pakai untuk memegang kaleng minuman.

"Dan loe udah menistakan tangan dan jemari gue yang berharga, coba loe ga matiin lampu tadi?" omel Bian.

"Lagian kayak gede aja loe kasih nama anaconda," gerutu gadis itu lagi.

"Loe ngomong apa? ha?" Skala terlihat tak terima dengan ucapan sang istri yang meremehkan ukuran ular miliknya, "Loe mau coba?"

"Enggak, makasih, gue masih waras." Bian naik ke atas ranjang, merebahkan badannya kemudian memejamkan matanya rapat-rapat, di balik selimut yang ia gunakan untuk menutupi tubuhnya sampai ke leher, Bian sibuk memegangi dadanya, mencoba untuk tenang karena ia merasa ada gemuruh di dalam sana.

"Jangan dibayangin! jangan dibayangin! jangan dibayangin," racau gadis itu dalam hati.

***

Keesokan paginya seperti biasa mereka terbangun dengan posisi tidur Bianca dengan kepala sudah berada di ujung ranjang, lagi-lagi tanpa sengaja tangan gadis itu memegang sesuatu yang seharusnya tidak dia pegang.

"Sumpah, ga bisa kayaknya gue lama-lama tidur satu ranjang sama loe," gumam Skala yang langsung berdiri dan pergi ke kamar mandi.

Pasangan itu sudah terlihat rapi, Bian memutuskan untuk berangkat bekerja meskipun belum genap seminggu waktu cuti menikahnya habis, begitu juga dengan sang suami.

Saat keluar dari kamarnya Bian berpapasan dengan Feli, keduanya saling menatap satu sama lain, coba saja jika adegan saling memandang mereka ini berada di sebuah film-film drama bisa dipastikan mata mereka sudah mengeluarkan kilatan-kilatan petir atau saling melemparkan benda-benda berbahaya seperti palu, pisau bahkan batu.

Tama dan Skala yang melihat istri mereka saling pandang terlihat sama-sama tak peduli, kedua laki-laki itu berjalan menuruni anak tangga, tak beda dengan kedua istri mereka, Skala dan Tama yang juga saling membenci itu terlibat insiden saling sikut saat kaki mereka baru saja menginjak satu anak tangga.

"Minggir deh loe Tamia!" ucap Skala.

"Apa sih loe Sketek, gue tampol juga loe," balas Tama.

Bianca terheran-heran dengan tingkah kedua laki-laki itu, meskipun Tama lebih tua dua tahun dari sang suami ternyata kelakuaannya juga tak jauh berbeda.

Tama dan Ska hubungan keduanya sebenarnya amat sangat baik, mungkin bagaikan brother goal untuk orang-orang yang mengenal mereka berdua sejak kecil.

Namun, sampai suatu ketika dimana rasa saling curiga dan iri muncul diantara keduanya, hubungan mereka menjadi renggang. Di satu sisi Tama iri dengan Skala yang sangat dimanja dan berlimpah kasih sayang dari sang kakek Prawira, sementara Skala membenci Tama karena ia anak Maher, Om nya yang ia tahu begitu membenci almarhum papanya.

Ya, saat Skala mulai beranjak dewasa, ia mulai curiga dan beranggapan bahwa kecelakaan yang menimpa papa, mama dan dirinya dulu adalah rekayasa yang dibuat oleh Maher, baginya Om nya adalah monster dan karena Tama dibesarkan oleh seorang monster maka Skala memilih untuk tidak terlalu dekat dengan sepupunya itu.

-

-

-

-

-

-

Jangan lupa tinggalkan LIKE ❤ KOMEN 👄 VOTE dan RATE ya Zeyengggg. Baca juga Novel Na yang judulnya MENIKAHI BUMI YANG DICINTAI LANGIT biar Na bisa nglirik kinderjo di deket kasir Alpa 😄

Makasih 🥰

1
Evi Nopianti
Baca ulang karya mu thor, ngakak Mulu /Kiss//Kiss//Kiss/
irish gia
balik lagi buat bacaan bermutu..
jumirah slavina
yang bilang ngebosenin fix gak punya selera humor
jumirah slavina
suara hati kamu kan ini Thor
Nabila zaskia
Biasa
Nabila zaskia
Buruk
jumirah slavina
prestasi k'encuman yg hakiki....


🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
jumirah slavina
hidup Caca Marica.... hiduppppp....
jumirah slavina
Pak Dewan : kamu selingkuh dari Aku


🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
jumirah slavina
prasangka buruk 'y malah makin menjadi


🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
jumirah slavina
cepat... cepat... beli lingerie... buat ngasih jatah juga buat Ska...


🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
jumirah slavina
yaelah Bi... gak peka banget...

cemburu Bi... c e m b u r u
jumirah slavina
yang d'khawatirkan malah GE makan mie

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
jumirah slavina
walaupun itu bohong tapi Aku menyukai jawaban'mu Ska
jumirah slavina
tembulu ya Kamu tembuluuuu 🤣🤣🤣
jumirah slavina
menistakan konon... keq masih suci aja tuh anaconda...

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
jumirah slavina
pasti Lo ngebayangin isi kutan9 Bianca kan

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣😍😍😍
jumirah slavina
dan gadis gila itu bakalan bikin Kamu tergila²
jumirah slavina
gadis menjengkelkan yang akan menemani hari²mu jadi berwarna
Mulyani Asti
Halah ibu peri sok²an menabur akhlak hahaha
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!