" KARENA MANUSIA SELALU MENGINGINKAN YANG TERBAIK TAPI LUPA MENJADI BAIK DAN BERBUAT BAIK"
Mengisahkan Perjalanan hijrah seorang gadis bernama Gendis.
Masa lalu yang penuh dosa pun membuat Gendis mengalami trauma.
Iqbal seorang pria yang baik namun salah pergaulan menjadikan Iqbal sebagai pribadi yang keras, playboy dan liar.
Mereka dipertemukan pada saat mereka sama sama tidak baik dan bertobat untuk berhijrah.
Perjuangan menuju Jannah yang selalu diimpikan pun harus dilalui dengan kisah yang Tragis, Miris dan Derai Air Mata.
Berhijrah itu mudah tapi untuk Istiqomah itu sulit.
GENDIS.... IQBAL .... JADIKAN SEMUA KISAHMU MENJADI PELAJARAN YANG BERHARGA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Humairah_bidadarisurga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKHIR CERITA BIDAN NUR
SELAMAT MEMBACA
💚💚💚💚💚
Bidan Nur pun menangis meraung sepanjang jalan. Air matanya deras mengalir, kedua matanya ditutupi dengan kedua telapak tangannya. Bahunya bergetar hebat, dadanya begitu sesak. Hatinya kecewa dan sangat hancur, pasalnya pria yang ia idamkan sejak lama ternyata sudah memiliki istri dan anak. Ustadz Iqbal begitu sempurna, dan pesonanya sungguh membuat Bidan Nur kehilangan akal sehatnya.
"Mas Iqbal, kita menikah siri aja gak papa, atau aku jadi istri keduamu. Aku akan buka klinik untuk kita. Istri tuamu bisa bekerja sebagai administrasi. Dan engkau calon imamku, kamu bisa menjadi pemilik klinik. Kita akan bahagia bertiga, aku yakin istrimu pasti menerima tawaran ini. Agar kehidupan kita lebih baik lagi." ucap Bidan Nur dengan rasa percaya diri tinggi.
"Tapi, aku tidak menyukaimu Bu Bidan, cintaku hanya untuk istriku, humairahku, bidadari surgaku yang selama ini ada dikala suka dan dukaku. Walaupun istriku tidak secantik dirimu, tidak semodis wanita milenial yang berhijab pada umumnya, dimataku Gendis satu satunya perempuan yang paling menawan. Gendis bagaikan berlian diantara emas emas yang cantik. Saya dan Bu Bidan hanya sebatas berteman, hubungan kita gak lebih dari seorang teman atau sahabat Bu Bidan, kalau pun saya baik dan perhatian pada Bu Bidan itu karena anda perempuan terhormat dan anak dari Bu Haji Ani yang sangat baik juga kepada saya. Maafkan saya bila sikap saya membuat Bu Bidan jadi salah paham dan salah mengartikan kebaikan saya. Saya tidak mungkin menduakan istri saya Gendis, saya begitu teramat sangat mencintainya, walaupun cintaku kepada Allah SWT dan Rasulullah Saw itu yang paling utama. Tidak ada perempuan lain yang mengalahkan Gendis, aku begitu bahagia bisa menemukannya, mencintainya dan menikahinya. Bu Bidan, saya harap ibu bisa mendapatkan pria yang lebih baik dari saya, lebih terhormat, dan bisa membahagiakan Bu Bidan. Tolong maafkan saya. Saya permisi dulu Bu, assalamualaikum." ucap Iqbal mantap. Matanya begitu memuja Gendis sang Istri yang selalu setia dan rela berkorban untuk Iqbal. Tidak ada celah kosong untuk cinta yang lain, cinta itu sepenuhnya milik Gendis. Cinta yang tumbuh karena Allah SWT.
"Iqbal..... aku mohon nikahi aku, jadikan aku yang kedua, aku ikhlas Iqbal, aku hancur mendengar kamu begitu memuja istrimu seperti itu, tapi aku lebih hancur bila tidak bisa bersanding denganmu. Nikahi aku Iqbal." ucap Bidan Nur penuh harap.
Bidan Nur terlalu mencintai raga Iqbal, bahkan sampai lupa siapa yang memberi cinta itu kepada dirinya. Disaat cinta tidak bersambut dan bertepuk sebelah tangan seharusnya logika dan pikiran harus tetap berjalan. Bukan merendahkan diri untuk menjatuhkan kehormatan sebagai perempuan.
"Maaf Bu Bidan, mungkin anda perlu istirahat, anda terlalu lelah bekerja. Tolong lupakan saya dalam kehidupan anda, anggap saya sebagai saudara anda. Assalamualaikum." ucap Iqbal ketus dan meninggalkan Bidan Nur sendirian dengan tangis yang histeris, hingga banyak orang melihatnya iba.
"Iqbaal....... Iqbaal........... " ucap Bidan Nur histeris, sambil mengejar Iqbal dengan langkah yang kecil.
Iqbal pun terus melangkah jauh dengan langkah besarnya. Kalau aku membalikkan badanku sama saja aku memberikan harapan untuknya. Aku harus pergi dan tidak menampakkan wajahku lagi didepannya. Maafkan aku Bu Bidan aku harus tegas, aku tidak ingin ada salah paham tentang kedekatan kita. Dan aku tidak mungkin menggadaikan rumah tanggaku demi kebahagiaan duniawi yang tidak abadi, Gendis maafkan aku, aku tidak bermaksud mengecewakanmu. Hanya dirimu yang selalu aku puja dan aku cinta. Ketulusanmu sudah membutakan mata hatiku. I Love you, my Humairah 💚.
FLASHBACK ON
"Bunda kok ingat aja masalah itu sih, jadi malu kan Iqbal. Tapi Bidan Nur sudah menikah kok bunda, alhamdulillah sudah dapat jodohnya." ucap Iqbal datar.
"Gimana gak ingat, istrimu Gendis datang dari pasar menangis nangis melihat kamu jalan berdua dengan Bu Bidan Nur. Bunda harus mendiamkan seharian. Jangan nakal Iqbal kasihan istrimu Gendis, dia begitu mencintaimu dan sangat setia. Gendis itu bisa menjaga dirinya, kehormatannya sebagai perempuan dikala suaminya tidak ada." ucap bunda lembut dengan senyum mengembang.
"Iqbal memang beruntung bunda bisa mendapatkan perempuan tangguh, kuat dan mandiri seperti Gendis. Dia bahkan tidak pernah mengeluh. Mengerjakan apapun yang bisa dikerjakan untuk bisa mendapatkan uang dengan halal. Iqbal jadi ingat waktu jualan sandal di taman kota bunda, Gendis begitu luwes menawarkan dagangannya." ucap Iqbal dengan tatapan rindu.
FLASHBACK OFF
Adzan ashar berkumandang, aku dan Gendis melakukan sholat berjamaah disalah satu masjid taman kota. Seperti biasa setiap Sabtu sore, kita akan berjualan sandal ataupun sepatu sekolah dengan harga murah.
Waktu itu Gendis baru memiliki anak satu, Nadia. Nadia selalu dalam gendongan kain batik Gendis pemberian orang tuanya. Tanpa aba aba Gendis menggelar lapak dari kain terpal dan mulai menata sandal sandal dagangannya. Dagangan itu kita dapat kan dari teman kita hanya membantu menjualkan dan kita mendapatkan upah. Untuk menuju jaman kota pun kita difasilitasi motor dari pemilik dagangan.
Saat itu pukul empat sore, matahari senja masih menyorot panas. Sandal dan sepatu pun sudah tertata dengan rapih. Nadia masih anteng dalam gendongan Gendis. Gendis selalu mempersiapkan botol susu, kue dan selimut bila kedinginan. Tidak lupa air mineral dan cemilan untuk Gendis.
Jujur, Gendis aku tinggalkan, aku berada agak jauh dari tempat itu. Aku malu dan aku tidak ada bakat berjualan. Aku melihat Gendis yang luwes, menjajakan dagangannya tanpa rasa malu dan canggung sedikitpun.
"Silahkan dipilih pak, Bu, mas, mbak murah banget cuma sepuluh ribuan aja, lengkap untuk nomornya. Sepuluh ribu.... sepuluh ribu.... sandalnya sayang anak, sayang pacar dan sayang istri.... silahkan boleh pilih pilih dulu." begitu kita kira Gendis menjajakannya dengan suara lantang dan keras.
Orang yang lalu lalang pun, melirik, ada yang berhenti, mencoba, mencari nomor untuk kakinya agar pas, memilih warna, mencocokkan model dengan bentuk kakinya, akhirnya membeli juga.
Satu kata SABAR......
SALUT..... punya istri yang bisa diajak susah notabene masa lalunya tidak berkekurangan apapun. Tapi Gendis tidak pernah bilang KURANG. Semua kebutuhan dicukup cukupkan. Tidak pernah melihat menangis, meratapi nasibnya. Tidak pernah mengadu kepada orang tuanya. Tidak pernah mengadu kepada bunda juga.
Hari mulai gelap, pengunjung taman kota pun semakin ramai. Sudah dipastikan yang tadinya iseng melihat lihat akhirnya banyak yang membeli.
Sungguh luar biasa membawa 200 pasang sandal dan sepatu campur hanya tersisa 30 pasang saja. LUAR BIASA......
Bisa dibayangkan seorang Ibu menggendong anak, sambil berteriak dan melayani pembeli dan membungkus serta memberikan kembalian. Terlihat repot, tapi Gendis sanggup. Gendis terlihat selalu ramah dan tersenyum kepada setiap pembeli yang datang.
Malam pun semakin gelap, sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
"Gendis, kita pulang ya, kasihan Nadia kayaknya mulai kedinginan." ucap Iqbal penuh perhatian.
"Iya mas Iqbal, kita pulang sudah malam juga." ucap Gendis datar seperti sudah lelah tapi masih tetap tersenyum.
Iqbal membereskan lapak sedangkan Gendis mencari makanan untuk dimakan.
"Sudah selesai mas Iqbal, ini sudah aku belikan nasi goreng kesukaanmu, nanti kita makan bareng ya mas." ucap Gendis penuh bahagia.
"Sudah beres yuk kita pulang." ucap Iqbal semangat.
FLASHBACK ON
-----------------------------------
TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR BACA
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚
subhanalloh.....
wanita surga " Sayyidah Fatima Az-Zahra "
❤️❤️❤️
NEXT
bisa mampir lagi
apa kabar ?
alhamdulillah baru sempat mampir lagi 😊😊🤗🤗
mohon dukungan
My lovely Gea
Istriku dokter Cintaku