Dikejar tenggat waktu menikah oleh sang nenek, Sari Maheswara CEO kaya raya yang dingin dan perfeksionis. Mobilnya mogok di dekat pasar subuh. Namun, kesialan itu membawanya bertemu dengan Arka, seorang duda tampan penjual kue basah yang karismatik. Hanya dengan sebutir kue klepon buatan Arka, lidah dan hati Sari langsung meleleh.
Terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang, Sari dengan angkuh menyodorkan Black Card-nya untuk membeli seluruh dagangan, gerobak, sekaligus sang penjual! Bukannya tergiur, Arka yang berprinsip justru menolak mentah-mentah keangkuhan sang CEO.
Penolakan itu malah menyulut jiwa kompetitif Sari. Demi menaklukkan hati sang duda, Sari rela menanggalkan gengsinya: bangun jam 4 subuh, menerjang beceknya pasar dengan high heels, hingga berebut kue dengan emak-emak berdaster. Meski Arka berulang kali memintanya mundur karena perbedaan kasta dan status dudanya, Sari justru makin tertantang untuk membuktikan bahwa cinta sejatinya tidak bisa dibeli melainkan diperjuangkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Sesampainya di dalam pesawat, Sari duduk di kursi kelas bisnis yang nyaman. Sembari menunggu instruksi dari pramugari, ia membuka kotak wadah kue tradisional yang sempat ia bawa.
Tangannya kembali mengambil sebutir klepon, lalu menyuapkannya ke dalam mulut.
"Hmm, rasanya enak sekali," gumam Sari pelan. Manisnya gula aren dan gurihnya kelapa seolah menjadi penenang instan di tengah kepalanya yang pening memikirkan sang nenek.
Saat hendak menutup kembali wadah tersebut, mata jeli Sari menangkap sesuatu.
Di pojok atas tutup kotak mika itu, terdapat sebuah stiker kecil sederhana bertuliskan nama toko dan sebuah baris angka. Itu adalah nomor telepon Arka.
Tanpa membuang waktu, Sari langsung merogoh ponselnya, mengetik nomor tersebut, dan menyimpannya dengan nama 'Duda Klepon'.
Begitu selesai, suara pramugari terdengar meminta penumpang memakai sabuk pengaman.
Ponselnya segera ia ubah ke mode pesawat, dan tak lama kemudian, burung besi itu mulai lepas landas membelah langit subuh menuju ke Singapura.
Sementara itu, di sudut Pasar Subuh yang masih ramai, suasana di lapak Arka mendadak heboh.
Sekelompok ibu-ibu sosialita yang baru saja selesai senam pagi dengan pakaian olahraga bermerek datang berbondong-bondong mendekat.
Namun, mereka kompak merengut kecewa saat melihat Arka sudah mulai membersihkan gerobaknya yang kosong melompong.
"Lho, Mas Arka, kok sudah mau pulang?" tanya salah satu ibu dengan nada manja yang dibuat-buat.
Arka mendongak, lalu mengumbar senyum ramah yang menjadi ciri khasnya.
"Iya, Bu. Tadi dagangan saya sudah diborong habis sama mbak-mbak aneh."
"Mbak-mbak?!" sahut ibu-ibu itu hampir bersamaan.
Nada suara mereka meninggi, terselip rasa cemburu yang kentara mendengar ada sosok wanita lain yang mendahului mereka pagi ini.
"Siapa Mas? Cantik ya? Genit nggak?" cecar yang lain, mulai kepo.
Arka hanya terkekeh pelan, tidak berniat memperpanjang obrolan tentang wanita ber-high heels yang membawa Black Card tadi.
Ia mengelap sisa parutan kelapa di mejanya lalu mengunci laci gerobak.
"Saya permisi duluan ya, Ibu-ibu. Besok subuh saja datang lagi kalau mau beli dagangan saya," pamit Arka dengan sopan namun tegas, membatasi diri agar tidak terlalu akrab.
Arka kemudian mendorong gerobaknya perlahan, berjalan mapan menuju ke area parkiran belakang pasar untuk menaikkan gerobak saktinya ke atas mobil bak terbuka miliknya.
Melihat punggung tegap Arka yang kian menjauh, ibu-ibu sosialita itu hanya bisa menghentakkan kaki ke aspal dengan kecewa.
"Ahh, gagal deh sarapan sambil cuci mata ketemu sama duda ganteng hari ini!" keluh salah satu dari mereka, disambut helaan napas kompak oleh yang lainnya.
Setelah merapikan gerobaknya, Arka memutuskan untuk tidak langsung pulang ke rumah.
Perutnya juga butuh diisi setelah terjaga sejak tengah malam untuk membuat adonan kue.
Ia melajukan sepeda motor bebeknya membelah jalanan pagi yang mulai hangat, lalu menepikan motornya di sebuah warung soto ayam langganan di dekat persimpangan jalan.
Sembari menunggu pesanannya dibuat, Arka merogoh kantong celananya.
Ia mengeluarkan seikat uang seratus ribuan yang diberikan oleh wanita bergaun formal tadi. Ditatapnya lembaran uang merah yang bersih dan masih kaku itu.
"Dasar wanita aneh," gumam Arka pelan sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Ia sama sekali belum tahu jika wanita yang mengacungkan kartu hitam dan mencoba membeli gerobaknya itu adalah seorang CEO Maheswara Group yang menguasai belasan perusahaan besar.
Di mata Arka, wanita tadi hanyalah orang kaya
baru yang kurang piknik ke pasar tradisional.
Tanpa sadar, sudut bibir Arka terangkat, membentuk senyuman tipis mengingat betapa keras kepalanya wajah cantik yang merengut saat ia tolak tadi.
"Kenapa senyum-senyum sendiri, Mas?" tanya Tania, pelayan warung soto yang datang mengantarkan semangkuk soto ayam hangat berkepul asap.
Gadis muda itu berdiri mematung sejenak, menatap Arka dengan pandangan terpesona.
Ketampanan matang dan pembawaan tenang sang duda memang selalu sukses membuat jantung para wanita di sekitar pasar berdegup lebih kencang, tak terkecuali dirinya.
Arka tersentak kecil, lalu dengan cepat melipat kembali uangnya dan memasukkannya ke dalam saku.
"Oh, nggak ada apa-apa, Mbak. Terima kasih ya sotonya," jawab Arka ramah, lengkap dengan senyum sopan yang membuat pipi Tania bersemu merah.
"S-sama-sama, Mas Arka. Selamat menikmati," sahut Tania salah tingkah sebelum akhirnya berjalan mundur ke belakang meja kasir dengan hati berbunga-bunga.
Arka tidak terlalu memedulikan reaksi pelayan tersebut.
Ia memeras jeruk nipis, menambahkan sedikit sambal, dan mulai menikmati soto ayamnya dengan tenang.
Setelah mangkuknya tandas, Arka membayar makanan tersebut lalu bergegas pulang ke rumahnya yang sederhana untuk beristirahat, memulihkan tenaga sebelum esok subuh kembali bergelut dengan adonan kleponnya.
Arka memarkirkan motornya di halaman rumah kontrakan kecilnya yang sangat sederhana.
Dindingnya yang bercat putih kusam dan berpagar bambu itu menjadi tempat bernaungnya setelah segala badai kehidupan menimpanya.
Namun, rasa lelah yang menggelayuti pundaknya mendadak berubah menjadi ketegangan begitu ia membuka pintu depan.
Sesosok wanita dengan pakaian modis namun berwajah ketus sudah berdiri di ruang tamu kecilnya.
Belum juga Arka sempat melepas jaketnya, Niken langsung berkacak pinggang tanpa tahu malu.
"Mas, aku mau minta uang," tagih Niken tanpa basa-basi, ketus dan menuntut.
Arka mengembuskan napas berat. Rasa lelahnya berganti menjadi kilatan amarah di matanya.
Padahal, ia selalu disiplin memberikan nafkah bulanan untuk mantan istrinya itu sesuai kesepakatan cerai mereka.
"Minta uang?" Arka mendengus remeh.
"Apa kamu lupa kalau kita sudah bercerai? Dan aku juga sudah memberikan jatah bulanan kamu beberapa hari lalu. Kenapa kamu tidak minta saja ke selingkuhanmu, juragan ayam itu?"
Wajah Niken sempat memerah karena rahasia masa lalunya diungkit. Namun, rasa serakahnya jauh lebih besar daripada rasa malunya.
Ia melangkah maju, menatap Arka dengan pandangan menantang.
"Aku tidak peduli! Sekarang aku minta uang!!" bentak Niken kasar, bahkan mencoba merogoh paksa saku celana Arka—tempat di mana uang hasil borongan dari Sari tadi disimpan.
Arka yang sudah sangat lelah fisik dan batin tidak tinggal diam.
Kehormatannya terusik. Dengan sekali sentakan, Arka langsung mendorong tubuh Niken menjauh hingga wanita itu termundur beberapa langkah ke arah pintu.
"Cukup, Niken! Keluar dari rumahku!" tegas Arka dengan suara baritonnya yang kini terdengar bergetar menahan amarah yang teramat sangat.
Arka bersandar pada daun pintu yang baru saja ia kunci rapat setelah mengusir Niken.
Dada tegapnya naik turun, mencoba mengatur napasnya yang memburu akibat amarah yang tertahan.
Suasana rumah kontrakan itu kembali hening, namun pikiran Arka justru mendadak bising oleh bayang-bayang masa lalu.
Kenangan pahit itu berputar kembali tanpa bisa dicegah.
Pernikahan satu tahunnya yang semula ia bangun dengan penuh harapan, harus kandas dengan cara yang paling menghancurkan harga dirinya sebagai seorang suami.
Semua karena Niken memilih berselingkuh dengan Baron, seorang juragan ayam kaya raya di pasar tempatnya berjualan.
Saat itu, Arka yang baru saja merintis usaha kue basahnya dianggap tidak mampu memenuhi gaya hidup Niken yang tinggi.
Niken lebih memilih silau oleh harta Baron yang bergelimang, ketimbang menemani Arka yang harus memeras keringat sejak tengah malam demi mengaduk adonan kue.
Arka memejamkan matanya rapat-rapat, meremas jemarinya sendiri.
Pengkhianatan itu meninggalkan luka batin yang sangat dalam, sekaligus menjadi alasan mengapa ia kini menjelma menjadi sosok duda yang begitu dingin dan skeptis terhadap wanita—terutama wanita-wanita kaya yang menganggap segala hal di dunia ini bisa dinilai dan dibeli dengan uang, persis seperti wanita aneh ber-Black Card yang ia temui di pasar subuh tadi.
klo mas duda menolak cinta sih 1000 : 1...
di dunia kita laki2 tu ibarat kucing garong...ikan asin bejejer j di cuntan makinya awewe bungas ✌️✌️✌️🤎