Bagaimana jika manusia diibaratkan seperti es krim? Es krim itu dingin dan manis. Akan tetapi, itu adalah es krim dan es krim jelas berbeda dengan manusia yang memiliki hati dan emosi.
Bagaimana jika dingin dan manis, hati dan emosi itu dilebur menjadi satu? Kemudian dibumbui sedikit rasa traumatis yang begitu membekas hingga membuat kisahnya menjadi dramatis.
Ini adalah Ambar dan itu adalah Damar. Ambar adalah penikmat es krim yang sangat menyukai perpaduan manis dan dingin. Sedangkan Damar yang dingin tapi diam-diam manis dan dipenuhi emosi yang dramatis.
Ketika salah satu dari mereka menyadari keberadaan yang lain, itu hanya pertemuan singkat yang melibatkan sebuah kecelakaan kecil. Iya, itu hanya kecelakaan kecil. Namun, bagaimana jika selanjutnya mereka terlibat dalam serangan panik hingga percobaan bunuh diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia Istik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1 9. L i k e A n I c e C r e a m
Ambar dan Damar berjalan beriringan menuju ruang ekstra jurnalistik, tempat di mana Putri sedang menunggu mereka. Tapi saat tiba di sana, Putri tidak sendirian. Dia di temani oleh Lala yang sudah bosan menunggu di mobil tapi saat menelfon Ambar tidak satupun panggilannya diangkat.
"Ngapain di sini?" tanya Ambar pertama kali begitu melihat Lala.
"Nunggin lo, lah. Lagian lama banget. Udahan ngobrol sama Mas Cru--" Ambar spontan melompat pada Lala untuk membekap mulut gadis itu. Aksi itu membuat mereka berdua terguling ke lantai.
"Heh! Kalian itu, ya. Ribut mulu!" bentak Putri yang membuat Ambar dan Lala segera bangkit. "La, gue bilangin Bara, loh'" ucap Putri tiba-tiba begitu Ambar dan Lala sudah duduk.
Lala langsung melotot setelah mendengar ucapan Putri. "Ih, apa hubungannya sama gue?" Lala mencebikkan bibir. Gadis itu paling malas jika sudah dihubung-hubungkan dengan Bara. Memang ganteng, pinter, dan idaman bagi separuh lebih siswi-siswi AHS, tetapi sama sekali tidak bagi Lala. Bara itu cowok stres, begitulah cap yang Lala berikan.
"Halah, lo habis ditembak lagi, kan sama dia?" tanya Putri yang membuat Ambar langsung menatap Lala.
"Serius? Gak ada kapok-kapoknya banget Kak Bara. Padahal udah ditolak terus sama Lala," ucap Ambar. Sedangkan Lala hanya mengendikkan bahu, kemudian beranjak dari duduknya.
"Ayo," ajak Lala sembari melangkah lebih dulu dari ruang esktra.
"Udah, lah. Terima aja. Dari pada rumor tentang lo makin meluas." Putri langsung disenggol oleh Ambar setelah mengucapkan hal itu. Tatapan Ambar mengisyaratkannya untuk diam. Lalu Ambar memilih untuk ikut beranjak dari ruang ekstra jurnalistik.
Saat gadis itu sampai di luar, dia mendapati Damar sedang duduk di dapan ruangan. "Kenapa gak ikut masuk?" tanya Ambar yang dijawabi gelengan kepala oleh Damar.
"Geleng-geleng kepala mulu, Dam," sahut Putri yang sedang mengunci pintu ruang ekstra. "Udah, ah. Gue balik dulu, ya. Kerjain yang bener." Kemudian Putri meninggalkan mereka berdua.
"Kamu naik apa?" tanya Ambar
"Sepeda," jawab Damar singkat.
"Gimana kalau pakai mobil Lala. Nanti biar dianterin pulang sekalian," tawar Ambar yang membuat sedikit perasaan panik dalam diri Damar menyeruak seketika. Lelaki itu tidak kenal siapa Lala. Dia hanya tau gadis itu adalah junior Bara. Itu artinya Lala masih orang asing di mata Damar. "Gak apa-apa. Lala sahabatku, meskipun bar-bar tapi dia baik. Lagian kamu gak sendiri, ada aku," ucap Ambar seolah mengerti kegelisahan Damar.
"Gimana? mau?" Damar menganggukkan kepala sebagai jawaban. Selain kalimat-kalimat singkat dan anggukan kepala, sepertinya memang tidak ada jawaban lain yang bisa diharapkan dari Damar.
🍒🍒🍒
"Kok dia bisa numpang di mobil gue, sih?" tanya Lala berbisik pada Ambar agar Damar yang duduk di samping kiri Ambar tidak mendengar. Meskipun nyatanya tetap terdengar oleh telinga Damar.
Alih-alih menjawab, Ambar justru meletakkan salah satu telunjuk di depan bibirnya sambil mengeluarkan suara mendesis. Lala yang mendapati perlakuan seperti itu seketika memalingkan wajahnya kesal. "Sekarang udah sok dewasa, huh," cibir Lala pelan yang langsung dihadiahi tepukan pelan oleh Ambar pada bahunya.
Ambar sebenarnya belum menentukan tempat tujuannya pergi, jadi akhirnya dengan pilihan Lala, mereka berhenti di sebuah tempat yang sering dijadikan pasangan-pasangan kekasih, atau keluarga untuk berkumpul di sore hari seperti ini.
Beberapa kali memotret tetapi tidak juga Ambar mendapat hasil yang dia inginkan. Dia juga sudah beberapa kali berganti objek. Bahkan karena saking fokusnya, Ambar sampai lupa jika dia harus melibatkan Damar juga. Sedangkan Damar sendiri lebih memilih diam dan mengikuti saja kemanapun Ambar akan melangkah. Begitu juga dengan Lala, tapi bedanya gadis itu sudah memegangi permen kapas di tangan kanannya, dan air mineral di tangan kirinya.
Setelah lelah dengan beberapa percobaannya, Ambar mengalungkan tali kamera pada leheranya kemudian mengacak-acak rambut. Lala sudah biasa melihat Ambar seperti itu, tetapi tidak dengan Damar. "Kenapa?" tanya lelaki itu.
Setelah pertanyaan yang diajukan Damar masuk ke telinganya, baru Ambar sadar kembali jika dia bersama Damar dan mengingat kembali apa yang harus dia lakukan terhadap Damar. "Pusing. Gak ada yang bagus."
Damar mengangguk-anggukkan kepala. "Ya udah, ayo duduk dulu," ajak Damar sembari menyambar pergelangan tangan Ambar kemudian berjalan menuju salah satu kursi taman yang ada di sana.
Sejenak Ambar tertegun. Damar yang dulu pernah bicara dengan nada ketus, yang menabrak Ambar, yang hanya menatap Ambar saat bertemu, yang punya image begitu dingin di mata Ambar, tiba-tiba hari ini melakukan hal yang tidak pernah Ambar pikirkan. Bahkan hingga dua kali. Mendadak Damar seperti es krim, yang dingin tetapi sekaligus juga manis.
bagus banget sumpah 😍😍
secara mereka LDR jd bisa buat pemanis cerita angga Nova n lala
Rate-5 ku juga sudah mendarat ya🛬
Jangan lupa feedback ke karyaku 🥰🥰
❤"Meisya & Randi "❤
Kisah sahabat kecil jadi cinta 💕
Terima kasih🙏🙏