Vanya Mentari, gadis yang memulai peruntungan bekerja di ibu kota menjadi kupu-kupu malam, terpaksa harus terlibat pernikahan kontrak dengan pria yang terkenal sangat dingin.
Pernikahan yang membawa penderitaan pada Vanya di setiap harinya. Bukan hanya luka fisik, melainkan luka batin. Tiap hari, perkataan yang terlontar dari mulut pria yang menikahinya begitu sangat pedis, dan tanjam hingga mampu menusuk rongga jantung dan membuat luka yang teramat mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KKM 19
Rossa tersenyum penuh arti saat tahu yang sebenarnya jika ternyata sang menantu yang sudah ia anggap sebagai anak sendiri adalah wanita suci. Wanita yang masih perawan, yang artinya hanya Bian yang pertama kali menjama tubuh menantunya.
"Aku tidak menyangkah jika Vanya mampu mempertahankan kesuciannya di era gempuran yang mana seks adalah kebutuhan." Kata Rossa lalu menyesap teh hangatnya.
Rossa ternyata tidak salah menilai Vanya dari saat pertama kali bertemu. Tatapan mata Vanya saat pertama kali menatapnya terlihat begitu teduh. Tatapan yang seolah ingin memperlihatkan ketangguhan tapo terlihat kekuatan atau kesedihan secara bersamaan. Dan dari tatapan itulah Rossa mengambil kesimpulan jika Vanya gadis yang baik.
Antara Neysia dan Vanya. Tentu memiliki perbedaan yang sangat jauh pesat. Walau dulu Neysia baik tapi tetap saja di mata Rossa, Neysia sangat memiliki kekurangan yang tidak bisa di lihat oleh Bian karena sangat cintanya Bian pada Neysia.
"Zam, bagaimana rumah tangga wanita itu?" Tanya Rossa sambil melihat foto Glen yang saat ini sedang ia pegang.
"Sampai saat ini nona Neysia belum tahu tentang perselingkuhan suaminya, nyonya." Jawab Zam.
Rossa tersenyum tipis. "Itu balasan dari orang yang serakah. Orang yang tidak tahu terima kasih, sudah di beri cinta dan segalanya bahkan Bian rela menukar nyawanya tapi apa? Dia benar-benar wanita serakah." Rossa benar-benar kecewa dengan Neysia yang mampu membuat porak poranda hati anak kesayangannya.
"Bagaimana kabar ibunya?" Tanya Rossa tentang ibunya Neysia.
"Sampai saat ini beliau juga belum tahu nyonya. Saat ini beliau masih sibuk bertemu dengan ibu-ibu sosialita di luar sana."
Lagi! Rossa tersenyum.
"Oh ya Zam, atur jadwal ki untuk bertemu dengan group sosialita mereka."
"Baik nyonya."
Setelah Zam pergi, Rossa tersenyum devil ia sudah siap berperang dengan ibu Neysia. Perempuan tua yang tidak tahu di untung.. Bian bahkan telah menghabiskan banyak sekali uang untuk membuatnya bisa sampai di kalangan atas, tapi apa balasan yang Bian dapatkan hanya cacian dan penghinaan tentang kekurangan Bian yang masih bisa untuk di sembuhkan.
"Lihat saja, akan aku buat kau jatuh ke tempat semula mu" gumam Rossa.
•••••
Malam harinya, kini Neysia telah berdiri tepat di salah satu rumah yang berada di perumahan elit. Neysia menatap pintu rumah dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Neysia berharap apa yang dia lihat di ponsel beda dengan akan terjadi saat ini.
Neysia memantapkan diri mengetuk pintu.
Saat pintu terbuka, munculnya seorang wanita dengan perut yang besar. Neysia menatap gadis yang terlihat sangat cantik.
"Siapa sayang?" Tanya Glen tanpa melihat siapa tamu yang saat ini sedang berada di depan pintu. Bahkan Glen spontan memeluk tubuh gadis yang saat ini sedang hamil yang bernama ismi.
"Glen." Panggil Neysia dengan air mata yang menetes.
Glen yang hapal betul dengan sang pemilik suara langsung menoleh.
"Neysia! Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Glen.
Neysia maju menampar pipi Glen dengan sangat keras.
"Harusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan di sini? Kenapa kau tidak pulang? Dan kenapa panggilanku tidak ada yang kau jawab sama sekali. Dan dia!?" Tunjuk Neysia pada Ismi. "Siapa wanita ini?"
"Aku?"
"Tutup mulutmu atau aku akan menamparmu.." Teriak Neysia dengan sangat lantang tapi tamparannya melayang di udara karena di tahan oleh Glen.
"Glen." Neysia protes karena Glen menghempaskan tangannya dengan sangat kasar. Lalu Glen menarik lengan Ismi membawa Ismi ke belakang tubuhnya.
"Kau bisa menamparku tapi tidak dengan menampar istriku." Ucap Glen lantang.
DUARRR.....
Istri? Bak di sambar petir dengan tegangan yang sangat kuat. Kaki Neysia kini sudah seperti jelly. Tidak mampu menopang tubunya. Seketika penglihatan Neysia kabur, dan tiba-tiba tubuh Neysia amruk ke lantai.
"Sayang, dia pingsan." Kata Ismi dengan panik.
saking banyaknya dosis obat lerangsang sampe lupa gawang yg udah loss doll atau masih tersegel rapi😅
Apa Bian jg gak liat bekas darah d sprei🤔
mereka sekarang saling mencintai lho Tor ....
beruntung sekali nasibmu Zam...
bertaubat lah ZAM...😂
apa sudah menyadari klo dia satu²nya pria yang tidur sama Vanya...??
lihat aja...