Raden Syailendra Atmajaya, pria kota dengan kehidupan yang liar, terpaksa menikah dengan Sahara, gadis desa yang cantik dan baik, karena perintah dari kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sisile, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 19
Malam penutupan ospek, semua mahasiswa dan mahasiswi baru berkumpul di lapangan kampus. Mereka membuat lingkaran untuk mengelilingi api unggun. Raden yang ada di sana terus saja memperhatikan Sahara. Sahara juga diam-diam mencuri pandang ke arah Raden.
Angel yang berada disamping temannya Chika heran dengan keberadaan Raden.
“Chik, gue gak salah liat kan, itu si ada Raden kan?”
“Iya, itu Raden Gel,” jawab Chika.
“Gue heran deh, belakangan ini dia ikut terus acara ospek, padahal kan dulu-dulu dia gak suka ikut-ikutan acara kayak beginian.”
“Iya juga ya, tapi kenapa sekarang dia selalu ada ya?”
“Tapi coba perhatiin deh, kayanya dia ngeliatin seseorang tapi siapa ya?”
“Iya, lo bener, kayanya dia lagi ngeliati seseorang deh, tapi siapa ya?”
Lalu Angel memperhatikan arah pandangan Raden, akhirnya Angel tau bahwa Sahara lah yang selalu Raden lihat.
“Ohh…jadi cewek itu, pantes aja dia belain tuh cewek waktu kejadian itu.”
“Emang lo kenal sama tuh cewek?”
“Enggak sih, tapi di mahasiswa baru,” Angel pun menceritakan Raden yang membela Sahara waktu itu.
“Awas tuh cewek, kalo berani ngerebut Raden dari gue,” gumam Angel dengan tatapan tidak suka.
Acara api unggun pun dimulai, semua berjalan dengan baik dan lancar. Acara tersebut mengusung konsep yang simpel namun tetap berkesan bagi mahasiswa dan mahasiswi baru untuk lebih akrab. Sampai tiba giliran Sahara yang tampil untuk bernyanyi, walaupun sebenarnya gugup Sahara mencoba tampil dengan percaya diri di hadapan semua orang.
“Sahara…”
“Houw…Sahara semangat…”
Riuh suara teman-teman Sahara diiringi tepuk tangan menjadi penyemangat baginya.
Intro lagu pun dimainkan, namun tiba-tiba terdengar suara seseorang memainkan gitar dari arah belakang, Sahara yang bingung pun menoleh ke arah belakang, ternyata itu adalah Raden, Sahara tersenyum.
Mereka pun akhirnya berduet. Ketika menyanyikan lagu, keduanya saling pandang lalu tersenyum menciptakan suasana yang romantis, sehingga yang mendengar mereka bernyanyi pun ikut terbawa perasaan. Angel semakin kesal dan cemburu melihatnya, Tama pun juga ikut cemburu.
“Sepertinya Raden suka sama Sahara. Dulu dia paling anti sama yang namanya kegiatan kayak gini, tapi sekarang tiap hari dia selalu ada. Tapi gue gak bakalan mau kalah dari dia,” batin Tama.
Raden dan Sahara selesai menyanyikan bait terakhir lagu. Semua orang memberikan mereka tepuk tangan.
Setelah bernyanyi Tama menghampiri Sahara.
“Wow, kamu keren banget Sahara, orang-orang suka sama penampilan kamu.”
Sahara tersenyum. “Makasih kak, oh ya kak aku izin mau ke toilet dulu.”
Saat Keluar dari toilet Sahara tersentak melihat Raden yang sudah ada di depan pintu toilet.
“Kak, ngapain di sini?”
“Yaa… nungguin kamu lah.”
“Ada apa kak?”
Raden melingkarkan tangannya di pinggang Sahara.
“Aku mau ini.”
Di tengah momen mereka memadu kasih, Devon dan Ganji tak sengaja muncul.
“Woii… ini kampus Den,” seru Genji.
Sahara langsung melepaskan tangan Raden dari tubuhnya, wajahnya memerah menayan malu.
“Please deh Den, jaga sopan santun, ini kampus. Coba kalo yang lain tadi liat?”
“Iya maaf,” Raden menggaruk tengkuk nya yang tak gatal. “Tadi ga sengaja.”
“Alah… alesan.”
“Emang.”
“Ah, sewot aja kalian. Kalo gitu gue sama Sahara mau pulang aja. Kalo si Tama nanyain bilang aja Sahara di ljemput keluarganya. Oh iya, barang-barang Sahara kalian beresin, jangan sampai ada yang tau.”
Raden menggenggam tangan Sahara dan membawanya pergi.
“Yahh… dia mah enak pulang ke rumah bawa bini nya, kita yang harus beresin barang-barangnya, mana harusbilang ke si Tama lagi.”
“Ngomong-ngomong si Raden mau ngapain yah buru-buru pulang ke rumah?”
“Wahh, itu urusan rumah tangga orang Ji, jangan ngebayangin yang macem-macam. Entar lo ***** lagi.”
“Enak aja lo, ya udah yuk ah kita ambil barang-barang Sahara mumpung gak ada yang liat.”
“Mendingan gini aja, lo Ji ambil barang-barang si Sahara, gue sama Nicho yang ngomong ke si Tama.”
“Oke deh kalo gitu.”
Mereka pun bubar, Rizki dan Nicho menemui Tama.
“Tama gue mau ngasih tau, tadi Sahara udah pulang di jemput keluarganya, dan dia izin sama kita.”
“Iya, tadi katanya mau izin sama kamu, tapi dianya lagi buru-buru banget.”
“Ohh iya gak papa.”
“Kenapa ya Sahara pulang buru-buru. Tadinya gue mau nganterin dia pulang, tapi dianya malah pulang duluan, gagal lagi deh gue.”
Tama harus menelan kekecewaan malam itu.
***
Raden baru saja selesai mengimami Sahara sholat shubuh. Selesai mereka berdoa, terdengar suara pintu rumah diketuk.
“Siapa sih pagi-pagi gini yang datang?”
“Bukak aja kak, siapa tau penting.”
“Ya udah, aku ke depan dulu ya.”
Raden yang masih menggunakan sarung meraih knop pintu dan membukanya. Saat pintu terbuka, ternyata yang datang bertamu adalah teman-teman Raden.
“Lo pake sarung sama pake baju koko abis ngapain?”
“Ya… abis shalat lah.”
Rizki bedecak kagum sembari bertolak pinggang. Ia melirik Raden dari atas hingga bawah. “Ternyata seorang perempuan bisa membuat seorang Raden berubah ya.”
“Udah jangan berisik! shubuh-shubuh kesini kalian mau ngapain?”
“Nih, barang-barang Sahara,” Genji mengulurkan sebuah paperbag kepada Raden.
“Ohh, iya deh makasih ya.”
Tanpa meminta izin terlebih dahulu, teman-temannya itu langsung masuk kedalam rumah dan mereka langsung merebahkan diri sofa seraya menyalakan televisi.
“Heii…siapa yang ngizinin kalian masuk, mau ngapain kalian di situ?”
“Kita gak kuat, ngantuk banget nih, kita numpang tidur disini lah.”
Raden hanya menggelengkan kepala melihat teman-temannya yang tepar di sofa.
Raden kembali ke kamar untuk menemui Sahara. Di kamar, Sahara tampak tengah berkaca di meja rias.
“Ra, temen-temen aku numpang tidur, mereka ada diluar tuh.”
Sahara menoleh ke arah Raden. “Iya kak, gak papa.”
Setelah itu, ia melirik ke arah ponselnya yang berdering di atas meja, tak jauh darinya. Sahara meraih ponsel itu lalu menjawab telepon yang menampilkan nama Sahabat nya di desa, Luna.
“Iya Lun, ada apa?”
“Ra, sekarang aku lagi jalan menuju Jakarta, kamu jemput aku dong di terminal.”
“Ohh iya bentar, aku izin dulu sama kak Raden ya.”
“Kak, Luna lagi jalan mau ke Jakarta, boleh gak kalo aku jemput ke terminal?"
“Boleh dong, nanti aku anterin. Kamu kan belum hafal jalanan di Jakarta.”
Senyum Sahara merekah. “Makasih ya kak.”
Sahara kembali melanjutkan obrolan nya dengan Luna di telepon.
“Lun, nanti aku jemput kamu, nanti aku di anter kak Raden, soalnya aku juga belum tau jalan Jakarta.”
“Oke Ra, nanti aku telpon lagi deh.”
Sahara pun menutup telepon nya.
“Kita berangkat sekarang aja yuk, sambil jalan-jalan juga.”
“Iya kak, tapi kak Rizki, Devon sama kak Genji gimana?”
“Udah biarin aja, biar jaga rumah.”
BERSAMBUNG…