Arsya Guntara seorang anak dari pemilik perusahaan Sandyakala Corp, setelah lulus kuliah ia di didik oleh sang Ayah untuk menjadi penerus perusahaan Sandyakala Corp. Ia selalu diajarkan bagaimana memimpin perusahaan.
Suatu hari ia ditugaskan oleh orangtuanya untuk menghadiri acara bisnis di negara dimana dulu ia menyelesaikan kuliahnya.
Tanpa disangka ia bertemu dengan seorang gadis yang pernah berada di masa lalu nya.
Apakah pertemuan ini akan membuat mereka kembali bersama atau malah sebaliknya ? Dan sebenarnya siapakah gadis itu ?
Jawabannya hanya di Novel " Tentang Kita "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Hari-hari dilalui Arsya cukup bahagia, ia sangat menanti kepulangan Nala, walaupun ia masih tetap di teror oleh Mikhalea namun itu tidak membuat Arsya bergeming. Karena ia merasa memang sudah tidak ada hubungan apa-apa dengan Mikhalea.
Arsya tidak pernah menggubris apapun yang dilakukan oleh Mikhalea.
Hari ini ia bekerja seperti biasa, ia sudah mulai menikmati pekerjaannya, beberapa urusan perusahaan sudah dapat ia handle sendiri, semakin hari kinerja Arsya semakin baik, Itu menjadikan Papa nya selalu puas dengan hasil kerja Arsya.
Tok tok tok
Rossa sekertaris Papa nya menghampiri nya ke ruangan.
" Iya tante Rossa ada apa ? "
" Ar, kamu belum ambil gaji ya, ini sudah tanggal 18, barusan saya di telepon bagian keuangan "
" Oh iya saya lupa, nanti saya ambil "
" Oke, langsung ke bagian ke uangan aja ya "
" Siap "
Arsya memang digaji setiap bulan karena status nya sebagai karyawan, Aksa tidak ingin membeda-bedakan walaupun Arsya anaknya dan calon penerus Sandyakala Corp, karena Arsya masih berstatus karyawan ia tetap diberikan hak nya seperti karyawan yang lain.
Arsya menuju ruangan bagian divisi keuangan.
" Eh Mas Arsya, mau ambil gaji ya "
" Iya Pak "
" Kok baru diambil , yang lain kayanya udah mau habis gajinya hehe "
" Saya lupa Pak "
Bagian keuangan menyerahkan Amplop berisi gaji Arsya dan juga rincian gajinya.
" Mas Arsya selamat ya, Mas mendapatkan bonus dari Pak Presdir karena kinerja Mas Arsya makin hari semakin membaik "
" Oh seperti itu, terima kasih Pak "
" Sama-sama Mas Arsya "
" Saya permisi Pak "
" Silakan "
Arsya kembali ke ruangannya nya dengan amplop gaji yang ia pegang.
Lalu ia duduk dan melihat gaji yang ia dapatkan bulan ini.
" Banyak juga ya, pantesan karyawan yang yang lain pada betah kerja disini " gumam Arsya.
Arsya menyimpan amplop kedalam tasnya, ia lalu kembali dengan pekerjaan nya.
...****************...
Waktu sudah menunjukkan jam pulang kantor, Arsya sekilas melihat ruangan Papa nya sudah sepi, Gerry pun tidak ada, hanya ada Rossa yang masih merapikan barang-barang nya.
" Tante Rossa, Papa udah pulang ? " tanya Arsya.
" Iya Ar kayanya sih, tadi Pak Aksa keluar ada meeting sama Om Gerry, tapi kayanya gak balik lagi kesini "
" Oh oke, aku duluan ya Tan "
" Oke "
Arsya berjalan meninggalkan Rossa menuju lift, ia memasuki lift karyawan, padahal Aksa sudah pernah berkata, Arsya boleh menggunakan lift khusus presdir, namun Arsya tetap selalu menggunakan lift khusus karyawan, ia tidak ingin disebut mentang-mentang oleh karyawan lain, terkecuali jika statusnya memang sudah berubah, bukan lagi karyawan biasa seperti yang lain.
Arsya berjalan ke parkiran mobil melalui pintu samping, ia menuju mobilnya, masuk kedalam mobil, menyalakan mesin, mobil berlalu meninggalkan kantor Sandyakala Corp.
Lalu lintas sore cukup padat karena memang ini jam pulang kantor, biasanya ia hanya membutuhkan waktu 30-40 menit sampai rumah, namun kali ini ia terjebak kemacetan sudah hampir satu jam lebih Arsya berada di jalanan yang ia lewati.
Sampai akhirnya ia sampai rumah saat langit sudah berubah menjadi kelabu.
Ia memarkirkan mobilnya di garasi, mobil Papa nya sudah terparkir disana.
Lalu masuk kedalam rumah melalui pintu samping rumah, yang tembus langsung ke ruang makan dan ruang keluarga.
" Assalamu'alaikum"
Ucap Arsya seraya membuka pintu lalu masuk kedalam rumah.
" Wa'alaikumusalam " ucap Kedua orangtuanya secara berbarengan.
Papa nya sudah menunggu nya di meja makan, begitupun Mama Nika sedang mempersiapkan untuk makan malam mereka.
" Sore sekali Kak ? " tanya Papanya.
" Macet banget Pah " jawab Arsya menyalami Papa dan Mama nya.
Arsya memang terlihat lelah sore ini.
" Ya udah Kak, kamu bersih-bersih lalu shalat ya, Mama sama Papa tunggu disini "
" Iya Mah "
Arsya berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya, ia rasanya ingin segera merebahkan tubuhnya diatas kasur, namun ia harus melaksanakan kewajibannya terlebih dahulu.
Setelah mandi dan shalat Arsya kembali turun dari kamarnya, untuk bergabung bersama kedua orangtuanya.
" Mama masak apa ? " tanya Arsya sambil duduk di samping Papa nya.
" Ini, kesukaan kamu " jawab Mamanya.
" Wah pasti mantap nih "
" Ayo makan Kak "
Mereka menikmati makan malamnya yang hanya bertiga karena Arsyi sedang berkuliah diluar kota.
" Kak, kamu keliatan capek banget " tanya Mama Nika.
" Sedikit Ma " jawab Arsya tersenyum kecil.
" Itulah bekerja Kak, tapi Papa apresiasi beberapa bulan ini kami bekerja sangat baik, bahkan beberapa tender yang kamu ajukan itu lolos dan berhasil kita ambil, Papa tidak akan meragukan kamu lagi kalo seperti ini "
" Benar Kak ? "
Arsya hanya mengangguk sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.
" Mah, Papa sudah tenang sekarang untuk pekerjaan dan penerus Sandyakala Corp, Papa sudah yakin ke Kakak, tapi.. Ada satu hal "
" Satu hal apa pah ? " Arsya penasaran.
" Hmm.. Gini Kak, Papa kan gak mungkin selama nya seperti ini Mama juga kan, Papa berniat menjodohkan kamu dengan anak rekanan bisnis Papa, Papa harap kamu bisa menerimanya ya Kak.. "
" Apa Pah ? Kok mendadak gini ? "
" Gak mendadak ini pembicaraan sudah lama sekali Kak, Papa baru bisa mengutarakan sekarang "
" Tapi Pah.. " Arsya menghentikan makannya.
Apaan sih Papa, mau jodohin gue sama anak rekan bisnisnya, gak gur gak mau.. Gue mau nya Nala.
" Kenapa ? "
" Maaf Pah Arsya gak bisa "
" Kok gitu ? Kamu mau mempertahankan teman wanitamu itu ? "
Arsya terdiam.
" Bukan Pah, Arsya sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan wanita itu "
Mamanya yang mendengar ucapan anaknya sedikit tenang.
" Lalu alasan kamu ? "
" Mmh.. Pokonya Arsya gak bisa nerima perjodohan ini "
" Kak ! Tidak ada penolakan ya ! "
" Maaf Pah Arsya gak bisa ! "
Arsya bangun dari duduknya, lalu pergi menaiki anak tangga menuju kamarnya.
" Kak !! Arsyaaaa !!! " Papanya sedikit berteriak namun tidak Arsya gubris.
" Pah.. Udah Pah .. Tenang dulu " Mama Nika menenangkan suaminya.
" Mungkin Kakak masih kaget Pah, nanti Mama coba bicara pelan-pelan ya Pah "
" Pokonya Papa gak mau tahu Arsya harus bersedia di jodohkan dengan anak Dika "
" Iya " Mama Nika mengangguk.
Didalam kamar Arsya merebahkan tubuhnya ke atas kasur, ia kembali mengingat ucapan Papa nya.
Kenapa harus dijodohin sih, padahal dalam waktu dekat gue bakal ngenalin Nala ke Mama sama Papa..
Apa Nala gak bakal di setujuin sama Mama, Papa lagi..
Ckk..
Arsya mengacak rambutnya, padahal beberapa hari kemarin ia merasa cukup bahagia karena Nala akan pulang dan ia akan langsung mengutarakan isi hatinya kepada Nala.
Beberapa hari ini Arsya sangat intens menghubungi Nala, hampir satu minggu lagi Nala akan pulang, ingin rasanya Arsya mempercepat waktu, agar bisa segera bertemu Nala.
🌻🌻🌻
ayo dong semangat