Aundy Saesya Baghaskara, gadis 25 tahun yang sedang dikejar-kejar tagihan pinjaman online. Berusaha keras menutupinya dari keluarga.
Hari itu rumahnya kedatangan Hugo Kresnajaya yang berniat menagih hutang. Akan tetapi Aundy justru mengenalkan Hugo sebagai kekasihnya, demi menutupi fakta yang terjadi.
Permasalahan semakin rumit saat Hugo paham dengan benar mengenai latar belakang Aundy. Membuat hubungan keduanya semakin terikat dan berakhir di pernikahan.
Trauma yang pernah dialami dan tidak sukanya dengan hubungan casual membuat keduanya menciptakan beberapa perjanjian pernikahan. Akankah keduanya saling memegang komitmen itu, atau mereka akan tetap jauh, seperti jarak Malang-Jakarta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rehuella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aundy - Ratu Marmut
"Kok kamu angkat sih, Wil?!" Jelas saja aku protes atas tindakannya itu. Wanita berprinsip enggak akan mudah luluh setelah diperlakukan seperti itu oleh Mas Hugo. "Nanti ke ge-er-ran dia!"
"Emang masalahnya apa sih, Mut?!" Jelas saja Wildan bingung karena aku belum menceritakan detail masalahku dengan mas Hugo. Mungkin tidak pernah.
"Tadi kamu kenapa, kok bisa marah-marah ke dia kaya gitu? kamu kan nggak tahu duduk perkaranya? Bisa aja kan aku yang salah." sengaja aku menutupi masalahku.
"Dari tangisanmu, dan keluhanmu itu bukan kamu yang salah, Mut!"
Memang susah bicara dengan pria yang level keponya tinggi. "Terus kamu bicara apa ke dia?" tanyaku.
"Aku maki dia. Aku nuntut penjelasan sama dia tapi sama saja dia tidak mau menjelaskan."
Jelas saja, orang dia yang salah. "Udah lah, nggak perlu tahu. Kamu pulang sana, aku mau siap-siap kerja!" berusaha mengusir halus, supaya aku tidak keceplosan.
Tangan Wildan mendarat di keningku. "Siapa yang nyuruh kamu kerja? Nggak ada kata kerja buat karyawan yang sedang sakit!"
Nada bicara Wildan naik setengah oktaf. Aku melirik ke arahnya. "Wildan, utang ku banyak banget!"
"Lo mau nyari uang atau nambah utang? Emang kalau Lo nekat masuk kerja, nggak bahaya ta? Yakin, nggak bakal keluar uang lebih banyak lagi?! Terus kalau sakit Lo makin parah gimana? Masuk rumah sakit lagi, diopname lagi! Mikirin sampai ke sana nggak?!"
"Kan ada BPJS," sahutku.
Tatapan Wildan semakin jengah ke arahku. Aku paham dengan sikapku yang keras kepala.
"Enggak. Pokoknya Lo nggak boleh masuk kerja. Sampai gue lihat Lo masuk, gue sobek design Lo ya!"
Ancaman Wildan membuatku mati kutu, aku berterima kasih sebanyak-banyaknya atas kepedulian Wildan padaku. Tapi kalau aku terus menerus di dalam kamar. Otak ini tak mau berhenti memikirkan kebrutalan sikap mas Hugo malam itu. Ah sialan, apa sebenarnya yang dilakukan mereka berdua. Apa mungkin pria itu sengaja menabur benih di rahim Audrey?
"Kamu mau makan apa?!"
Lamunanku ambyar oleh suara bentakan Wildan.
"Nggak mau makan. Lagi males."
"Mut. Aku laporin ke ayah Sabda, mau?!" Wildan bertanya dengan nada mengancam.
"Ancaman mu kok selalu ayah sih, Wil? Nggak keren banget ngerti engga!"
"Lagian Lo tu sakit, Mut. Harus makan, kalau nggak mau semakin parah sakitmu!"
Wildan memang seperti itu, sedikit pemaksa meski itu baik untukku tapi aku sama sekali tidak menyukai sikapnya itu. "Karedok aja. Lagi nggak pengen makan berat."
"Heleh, karedok belinya di Jawa Barat, kamu mau aku terbang ke Bandung dulu buat nyari karedok. Lalu balik ke Malang lagi untuk dipersembahkan ke Ratu Marmut!"
Bibirku tersenyum getir, jokesnya benar-benar garing. Tapi aku apresiasi, karena Wildan sudah mau berusaha. "Ya, udah. Aku mau makan ...."
"Hm?" dia mengangguk senang.
"Makan rawon aja. Dagingnya yang banyak. Sama teh panas kasih perasaan lemon."
Wildan tidak merespon, tapi dia berbalik untuk mencari apa yang aku mau. Setelah Wildan pergi, aku beranjak untuk menutup pintu.
Saat hendak berbaring, ponselku kembali bergetar. Ada telepon lagi dari 'MiSua' tapi aku menolak panggilan itu. Biar dia peka dan paham kalau aku sedang marah dengannya.
Baru saja mati, panggilan mas Hugo kembali hadir. Dan lagi-lagi aku kembali menolak panggilan itu. Setelah panggilan kesekian kutolak dia beralih mengirimkan pesan padaku. Aku bisa membaca dari bar notifikasi, dia memberi perintah supaya aku menerima telepon darinya. Akan tetapi, aku kekeh menolak sebanyak dia melakukan panggilan ke nomorku.
MiSua : Aundy, kata temanmu kamu sakit? Sorry ya nggak bisa jagain. 🥴
Bukannya meredam rasa kesal, kepalaku rasanya semakin panas setelah membaca pesan pria itu. Aku pun menjauhkan ponsel itu dari jangkauan. Berharap mas Hugo tak lagi menggangguku ketenanganku.
"Paham sih jarak kita itu jauh. Coba kalau yang sakit Audrey, langsung deh lompat! Gila cowok zaman sekarang." Aku nggak mau lagi menangisi Mas Hugo. Air mataku sudah terkuras habis, semalam sudah aku luapkan semuanya. Namun, untuk kesekian kalinya ponselku kembali bergetar, kali ini ada dorongan kuat seolah memintaku untuk menjawab. Tapi aku masih berusaha jual mahal. Jemariku menggeser tombol tolak saat mas Hugo kembali menghubungi.
MiSua : Angkat bentar aja, boleh?!
"Enggak boleh. Hatiku ini mudah luluh! Kalau aku angkat pasti aku akan termakan ucapanmu. Padahal aku masih kesal sekali," gumamku sambil menatap roomchat mas Hugo.
Panggilan suara dari Mas Hugo kembali hadir, kali ini aku terpaksa menerima panggilan itu. Niatanku, tidak akan ngobrol lebih dari satu menit dengannya.
Setelah panggilan itu terhubung, aku masih saja mengunci mulutku rapat. Lebih baik menunggu dia berbicara terlebih dahulu.
"Hallo, Aundy ... Akhirnya kamu angkat juga."
Aku masih setia bungkam. Menunggu apa yang hendak pria itu katakan padaku.
"Kamu sakit?"
"Udah dikasih tahu kan tadi sama Wildan!" jawabku ketus.
"Ya, ampun, Dy jangan galak-galak! Aku suamimu loh."
"Ngakunya suami, tapi ditinggalin, Cuakz!"
Hening, entah apa yang dilakukan mas Hugo saat ini. Mungkin tertawa mendengar kabar aku sedang sakit. Atau menertawakan tingkahku yang kekanakan ini? Ah terserah dia mau apa, aku nggak mau peduli lagi.
"Hari Jum'at, ya kita ketemu. Pekerjaanku banyak banget."
"Nggak usah serepot itu deh. Aku nggak papa kok. Beneran! Aku nggak ngarep kamu datang juga, ada Wildan dan Embun di sini. Mereka sudah biasa menghadapi ku."
"Aundy!"
Manggil aja terus sampai gigimu kering. Ngomong tinggal ngomong kok, harus manggil segala. Dasar pria menyebalkan.
"Kamu marah ya sama aku?"
"Jelas lah. Siapa juga yang nggak marah ngeliat suami lebih mentingin selingkuhan ketimbang istri SAH! Mungkin mbak Kunti yang suka manjat pohon itu. Tapi kamu juga harus paham kalau aku bukan mbak Kunti, aku punya hati yang bisa sakit saat laki-laki janji tapi dilanggar." Aku menarik napas dalam dan pelan. Bukan bermaksud lebay, tapi dadaku kembali sesak mengingat perlakuannya malam itu. "Yang bilang mau berubah siapa? Yang ingkar siapa, Nggak malu tuh sama dinding yang tetap berdiri kokoh di tempatnya."
"Hla emang aku ngapain sama Audrey."
"Lah, emang gue pikirin! Bayangin kegiatan kalian di atas ranjang bikin sakit hati sendiri! Ah, sudah ya jangan hubungi gue lagi. Muak banget dengerin Lo ngoceh. Mulut Lo tuh ringan banget! tapi sama sekali nggak bisa dipegang ucapannya."
"Dy! Jangan begitu, aku sama Audrey udah selesai!"
Aku benar-benar kesal dengan Mas Hugo. Aku sengaja mematikan panggilan itu,+ khawatir semakin emosi. Baru saja hendak melatakan ponselku di atas meja. Notifikasi pesan masuk kembali terdengar.
MiSua : Pas kita ketemu aku jelasin!
MiSua : Aku kerja dulu.
MiSua : Get well soon, Istriku. 🌹
semangatttttt bikin karya..
anak yg d'ajak ngobrol umur 25.. istri'y msh menyusui Adik'y..
k'inget yg kpn hari viral Abang Adik..
Abang'y umur 23 Adik'y umur 2th..
semangatttttt Thor
bahasa santai dan alur yang baik membuat pembaca lebih mudah ngalir ke ceritanya,
berasa kita berada didekat tokohnya.
terima kasih,
tetap berkarya ya....