°•°Serial Detektif/Kriminal°•°
Novel lanjutan dari CLBK [Cinta Lama Belum Kelar].
Alangka baiknya membaca novel tersebut di atas, sebelum membaca novel ini. Agar bisa mengikuti lanjutan kisah 'Kasus Selokan' dan 'Asmara' serta 'Problem Hidup' dari tokoh-tokohnya.
Tawa dan tangis seiring sejalan dalam hidup seseorang. Tidak selamanya ada tangis, tidak selamanya tertawa. Semuanya silih berganti menghiasi hidup. Itulah romantika kehidupan'.
Mampukah Kaliana sang detektif dan 'Team Sopape' bisa menolong Chasina yang telah ditahan sebagai pelaku pembunuhan?
Bagaimana dengan 'Kasus Hati' Marons dan Kaliana? Siapakah yang akan menyelesaikan kasus ini?
"Kebenaran selalu menemukan jalannya, untuk menolong setiap orang yang berjalan di jalan-Nya."
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Tidak Terduga.
...~•Happy Reading•~...
Putra mengambil gambar alat yang dikirim Kaliana dengan cepat. "Pelangi Boy, Clear..." Jawab Putra yang sudah melihat alatnya dengan sempurna dan akan menganalisanya.
Semua orang tertegun melihat Kaliana berbicara sendiri. Tetapi Bryan jadi mengerti mengapa handsfree Kaliana terus berkedap kedip. 'Sepertinya dia terkoneksi dengan seseorang.' Bryan berkata dalam hati.
'Itu sebabnya, dia tahu mobilnya sedang bermasalah di tempat parkir. Jika tidak, tidak mungkin dia tahu mobilnya sedang dikerjain orang.' Bryan kembali membatin.
Dalam kondisi yang tidak diduga oleh Kaliana, dia berpikir cepat. Dia mengeluarkan ponselnya dari saku rompi, lalu mencari nomor Bram untuk menelpon. Dia membutuhkan pertolongan Bram dalam kondisi seperti ini.
"Negriku, bangsaku. Tolong kirim Raka ke tempat yang barusan aku shareloc, ya. Ada yang pasang GPS di mobilku." Kaliana berkata cepat, saat Bram merespon panggilannya.
Bram terkejut mendengar apa yang dikatakan Kaliana. Biasanya salam itu dia katakan setelah ada salam dari Bram. Tetapi sekarang, tanpa salam dari Bram, Kaliana langsung katakan.
Bram melihat lokasi yang dishare oleh Kaliana, sebuah restoran mewah. 'Pasti dia tidak sendiri dan tidak mau ada yang tahu, dia sedang menghubungi siapa.' Itu yang ada dalam pikiran Bram.
"Baik. Segera. Kau tidak apa-apa?" Bram khawatir keadaan Kaliana, karena situasi di kantornya sedang memanas. Sehubungan dengan penangkapan dan konferensi pers yang dilakukan.
"Aman, terkendali. Nanti baru kita bicara, ya. Tolong amankan orang ini, sampai aku datang." Ucap Kaliana lagi, karena dia hendak pergi ke tempat Pak Adolfis terlebih dulu.
"Oh. Yang pasang nyangkut juga?" Tanya Bram yang tidak menyangka, Kaliana bisa menangkap yang pasang GPS.
"Nyangkut. Ada bersamaku. Nanti aku ceritakan." Ucap Kaliana, lalu mengakhiri pembicaraan mereka setelah saling memberikan salam.
"Pak, tolong berdiriin orangnya. Saya mau lihat wajahnya." Ucap Kaliana kepada security sambil mendekati tersangka yang sedang meringis sambil memegang tungkainya.
"Pelangi food, paket." Kaliana berkata pelan, sambil mengarahkan kamera ke arah wajah tersangka untuk diselidiki Putra. Kaliana terus mengarahkan kamera ke arah yang dikatakan Putra.
"Kau akan rasakan akibatnya, jika diketahui bossku." tersangka geram dan mengancam, karena tidak bisa membalas apa yang dilakukan Kaliana kepadanya.
"Aku pun tidak sabar mau bertemu dengan boss mu. Tapi sebelumnya, aku akan patahkan kakimu sebagai salam perkenalan dengan boss mu." Ucap Kaliana tenang dan dingin. Dia sangat marah mengetahui mobil kesayangannya diotak-atik dan juga ada yang mau mengikutinya.
"Pelangi boy. Itu anggota. Bekerja di kantor yang sama dengan Pak Bram, tapi di bagian lain." Putra menyampaikan hasil penyelidikan, setelah mengambil wajah tersangka.
Mendengar itu, Kaliana tertegun. 'Apa yang sedang terjadi di kantor Bram?' Kaliana bertanya dalam hati dan terus berpikir untuk hal yang tidak diduganya. Dia melihat wajah tersangka dengan serius.
"Setelah ini, pulang cuci otakmu dengan deterjen dan jangan berikan makan keluargamu dengan uang comberan." Kaliana menyadari ada punguk lain di kantor Bram. Hal itu sangat mengkhawatirkannya.
Ketika melihat petugas polisi tiba dengan mobil polisi lalu mendekati Kaliana sambil memberi hormat, Bryan, Pak Adolfis dan pengacaranya kembali tertegun dan bertanya-tanya. 'Siapa Kaliana sebenarnya, sehingga aparat kepolisian pun menghormatinya.'
Begitu juga dengan tersangka, dia terkejut melihat petugas menghormati Kaliana. Dia jadi berpikir, siapa yang ada di depannya dan apakah seorang anggota kepolisian dan pangkatnya lebih tinggi dari pimpinannya? Dia mulai cemas dan menyadari, dia sudah diketahui sebagai anggota polisi.
'Pantas tadi beliau katakan jangan memberi makan keluarga dengan uang comberan.' Tersangka membatin dan makin cemas. Rasa percaya diri dan garangnya hilang, diganti dengan rasa panik.
"Apakah saya akan membacakan haknya, Bu?" Tanya Raka yang sudah siap dengan gelang besi di tangan, sesuai perintah Bram.
Kaliana mengajak Raka agak menjauh dari tersangka. "Raka, orangnya juga anggota kepolisian dan bertugas di kantor kalian. Hanya di bagian lain. Jadi tunggu sebentar, saya bicarakan dulu." Kaliana sedang berpikir bagaimana baiknya membawa orang tersebut. Dia khawatir terjadi sesuatu di jalan dengan ketiga petugas yang datang menjemput tersangka.
"Tolong lucuti semua alat komunikasinya." Kaliana ingat dia belum mengambil alat komunikasi tersangka, karena menunggu petugas Raka yang mengambil.
Kemudian Kaliana mengirim pesan kepada Putra untuk mengecek siapa pimpinan tersangka dan pangkatnya. Ketika Putera mengatakan pimpinannya memiliki pangkat yang lebih rendah dari Bram, Kaliana kembali menghubungi Bram.
"Negriku, bangsaku. Yang nyangkut orang dalam di situ. Aku sudah kirim nama dan pangkatnya. Sepertinya ini kloning Punguk, yang bermain di comberan. Dia mengancamku dengan bossnya." Kaliana memakai istilah untuk polisi kotor yang suka menerima suap atau korup.
"Kau bawa pengikat? Tolong bilang Raka untuk ikat kaki dan tangannya. Segera bawa dia ke sini." Ucap Bram serius. Dia mulai mengerti, di kantornya bukan saja memanas tetapi juga ada kebocoran. Mereka sudah melacak dan mengikuti Kaliana.
"Baik. Aku akan kirim dia untukmu dan tunggu perkembangan prosesnya darimu saja." Kaliana berkata demikian, karena dia tidak bisa datang ke kantor polisi untuk interogasi. Berbeda jika tersangkanya dari kalangan sipil.
Kaliana mengakhiri pembicaraan dengan Bram lalu mengambil pengikat di mobilnya. Dia memanggil Raka lalu memberikan instruksi kepadanya. "Raka, bacakan haknya lalu ikat tangannya. Bawa ke mobil lalu ikat kakinya. Kalian berdua pegang dia selama perjalanan. Hati-hati dengan pistol kalian." Kaliana benar-benar khawatir dengan petugas yang membawa polisi kotor tersebut. Dia bisa melakukan segala cara untuk meloloskan diri.
"Siap Bu. Kerjakan." Raka bersikap sigap dan hormat. Dia mengerti situasi, setelah mendengar instruksi Kaliana yang sangat rinci.
"Pelangi Boy. Pak Yosa masih di jalan, tunggu perintah." Putra sudah menyambungkan Pak Yosa dengan Kaliana. Sedangkan Yicoe dan Novie tetap memantau bersama Putra dalam keadaan siaga, setelah tahu ada yang mengganggu mobil Kaliana.
"Pak Yosa, lanjut saja tugasnya. Yang di sini sudah ditangani Bram." Ucap Kaliana, setelah tahu Pak Yosa sudah terhubung dengannya.
"Baik. Hati-hati. Ada yang memantaumu." Pak Yosa ingatkan, sebab sudah dapat informasi dari yuniornya yang masih aktif tentang perkembangan hasil penangkapan dan konferensi pers Bram.
"Sepertinya, begitu Pak Yosa. Putra, aku ada ide, mau kirim GPS nya dengan mobil petugas, agar bisa mengacaukan mereka mengikutiku." Kaliana mau kerjain yang mau melacaknya, sebab mereka belum tahu kalau petugas yang diminta untuk pasang GPS sudah ditangkap.
"Ide yang bagus, Mbak. Aku ijin masuk untuk melacak mereka." Putra berniat mengetahui siapa yang melacak Kaliana, agar mereka bisa tahu musuh yang sedang memantau. Putra sudah tidak sabar, tapi harus menunggu ijin dari Kaliana.
"Kalau dari markas, tidak usah masuk. Tapi kalau sipil, aku serahkan padamu." Saat ini, Kaliana tidak mau berhadapan dengan anggota kepolisian, karena kasus yang ditanganinya sedang bergulir.
Kemudian Kaliana mengikuti Raka dan rekan petugas yang membawa tersangka ke mobil untuk pasang GPS di mobil petugas. Tiba-tiba tersangka hendak mengambil pistol rekan Raka yang tidak memperhatikan posisi tersangka. Dia sudah condong kepadanya, sambil berusaha mengambil dengan tangan yang masih terikat.
...~°°°~...
...~●○¤○●~...