Ketika seorang gadis yang hidupnya hanya untuk membalaskan dendam kematian keluarganya, tapi hati gadis itu ditakdirkan untuk mencintai pembunuh keluarganya. Akankah gadis itu memilih memaafkan pembunuh keluarganya atau terus pada tujuan utamanya yaitu balas dendam? Ikuti keseruannya yuk!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
"Bangun su! Lo gak boleh mati!" benta Zylva lagi ditambah tamparan di pipi Raka. Gadis itu mengecek denyut nadi Raka. Hatinya lega ternyata cowok itu masih hidup.
Tanpa di duga Zylva, Raka membuka matanya sedikit. Dan mengatakan sesuatu. "Gue masih hidup." ucap dengan samar-samar.
Zylva melepaskan jaketnya dan memakaikannya kepada Raka untuk menutupi baju cowok itu yang berlumuran darah, jika tidak warga biasa yang tidak tahu menahu soal dunia mafia bisa histeris melihat kondisi Raka yang seperti itu. Setelah itu sebisanya Zylva memapah Raka untuk naik ke motornya. Dan membawanya ke rumah sakit pribadi keluarga Jjoxaviel.
Terhitung sudah 1 jam Raka ada di rumah sakit pribadi keluarga Jjoxaviel. Tetapi cowok itu masih juga belum sadar. Anehnya walaupun Zylva membencinya, dia tetap setia menunggunya sampai sadar.
Kata dokter dia baik-baik saja, mungkin karena terlalu lama digantung terbalik membuatnya lama tidak sadarkan diri. Ya, digantung dengan posisi terbalik itu cukup berbahaya. Mari kita belajar sedikit.
Menggantung kepala ke bawah dalam waktu lama dapat menyebabkan kematian. Penyebabnya ditengarai sebagai paru yang kolaps dan tertekan ke arah leher. Paru-paru seperti yang kita tahu adalah organ yang cukup elastis seperti balon. Jika kepala dalam kondisi menggantung ke bawah, maka organ-organ yang lebih berat seperti hati, lambung dan usus akan menekannya. Hal ini jika terjadi dalam waktu lama akan menyebabkan kematian karena pernafasan yang terganggu. Selain paru, kerusakan yang mungkin terjadi adalah pendarahan otak dan gagal jantung. Jantung terbiasa memompa darah dalam kondisi ketika kita berdiri. Saat dalam keadaan tergantung ke bawah, pompaan jantung melambat. Selain itu, mekanisme yang berbeda dari biasanya menyebabkan pecahnya pembuluh darah di berbagai tempat termasuk di otak.
Maka dari itu Zylva sangat khawatir saat menemukan kondisi Raka yang sudah tidak sadarkan diri.
"Orang tua gila.." gumamnya. Dia tidak habis pikir dengan orang tua Raka. Bisa-bisanya cuma karena Lucy anaknya sendiri dihukum sekejam ini.
Ceklek.. seseorang datang. Ya, itu adalah Matthew, Varrel, dan si kakak beradik Reygan dan Gibran.
"Baby..." panggil orang tersebut.
"Kakak..."
"Gimana keadaannya?" tanya Matthew.
Zylva menggeleng pelan. Kemudian menatap Raka lagi. Cowok itu telanjang dada. Ralat, dadanya berbalut perban. Zylva sedikit kaget tadi saat melihat luka-luka di tubuh Raka. Mulai dari tangan, punggung, perut, dada hampir semuanya dihiasi bekas luka.
"Dia rapuh." ucap Varrel tiba-tiba.
"Tapi.. kenapa di tubuhnya banyak luka kayak gitu?" tanya Gibran.
"Bukannya di tubuh kita semua juga ada? Itu pasti karena latihan." jawab Reygan yakin. Tetapi langsung ditepis Varrel.
"Itu hukuman dari orang tuanya."
Semua mata tertuju ke arah Varrel menuntut agar cowok itu mengatakan lebih banyak lagi.
"Setiap terluka, hukumannya adalah lukanya ditambah dua kali. Setiap gagal menjaga Lucy yang merupakan sekutu mereka dia akan di hukum seperti ini." jelasnya. "Dia lupa ingatan, jika suatu saat dia mengingat perbuatannya.. Tanpa ragu dia akan menyerahkan nyawanya ke Lo Va." ucap Varrel kemudian.
"Apalagi yang Lo tahu?" tanya Matthew.
Varrel menatap Matthew sambil tersenyum miring. Artinya dia memang tahu lebih banyak. Tapi cowok itu hanya diam, yang artinya belum saatnya dia memberitahukan hal yang ia ketahui tersebut. Karena itu bisa menggagalkan balas dendamnya.
Zylva menatap Raka dengan iba tetapi juga dengan tatapan kebencian. Dia juga keturunan mafia, dia juga dilatih dengan keras. Dihukum jika melakukan kesalahan-kesalahan. Tetapi tidak seperti ini. Jika hukumannya seperti ini kesannya malah seperti menyiksa.
"Keluar, dia udah sadar.." ucap Reygan yang melihat tangan Raka mulai bergerak.
Mendengar ucapan Reygan semua buru-buru keluar ruangan kecuali Zylva.
"Enak tidurnya?" tanya Zylva dengan muka judes ketika Raka baru saja membuka matanya.
"Hm, nyenyak."
"Sinting! Kenapa gak ngelawan?!" tanya Zylva.
"Mereka orang tua gue, itu cara mereka mendidik gue."
Zylva menghela napasnya. Hampir saja dia melayangkan bogem mentah ke wajah cowok di depannya tersebut. Tapi dia masih ingat jika Raka masih lemah. Pengecut namanya jika menyerang orang lemah.
"Itu bukan mendidik, itu menyiksa." ujar Zylva.
"Lo sendiri? Kenapa nyelamatin gue? Bukannya Lo pengen gue mati?" tanya Raka.
Zylva diam sejenak. Dia tidak menyangka Raka tahu bahwa dia yang menyelamatkannya tadi. Pada dia sudah memakai topeng.
"Lo cuma boleh mati di tangan gue." ucap Zylva. Kemudian beranjak pergi dari sana.
"Thanks, gue bakal berusaha ingat apa salah gue ke Lo."
"Saat hari itu tiba, itu juga hari terakhir Lo bisa ngelihat matahari." sahut Zylva kemudian keluar dari ruangan tersebut.
*
Malam harinya, Zylva berkumpul bersama semua saudaranya di markas utama Mafia The Blood Moon. Mereka duduk melingkari meja berbentuk lingkaran yang diatasnya terdapat peta, dan foto-foto target mereka. Di setiap foto di beri angka menggunakan spidol merah. Semua orang di foto tersebut akan dihabisi oleh Zylva. Foto-foto itu diletakkan di daerah yang berbeda-beda. Yang menunjukkan lokasi dimana mereka akan dibunuh.
"Cainsley Ayexxa. Adik sepupu Raka yang akan pulang dari Jogja besok malam." ucap Reygan membaca informasi.
"Dia yang akan menjadi pembuka?" tanya Gibran. "Dia hanya gadis muda yang tidak tahu apa-apa." ucap Gibran menyampaikan pendapatnya.
"Lalu? Bagaimana dengan Zelva dan Felly?" tanya Zylva dan langsung membuat Gibran terdiam.
"Bagaimana cuaca besok malam?" tanya Matthew kepada Varrel.
"Hujan deras disertai petir. " jawabnya setelah melihat ramalan cuaca buatannya.
"Cuaca yang sangat bagus." ucap Zylva sambil tersenyum jahat. Ya cuaca yang sama dengan malam kematian kedua orangtuanya, dan juga adik-adiknya.
*
Di sisi lain, Raka tidak tidur dengan nyenyak karena cowok itu bermimpi buruk. Bukan, itu kilasan ingatannya dahulu.
Jleb.
"MAMA!!"
Cowok itu mendengar teriakkan seorang gadis di dalam mimpinya ketika ia melihat sebuah pisau menusuk dada seseorang. Raka juga melihat wanita yang terbaring tak berdaya bersimbah darah. Tangannya yang memegang pisau berlumuran darah.
Entah bagaimana bisa, mimpinya berpindah lagi. Saat ini dia melihat dirinya sendiri menikam seorang pria. Gadis yang sama juga menangisi pria tersebut.
"Kenapa Lo lakuin ini ke keluarga gue?!!" teriak gadis di mimpinya tersebut.
"Karena takdir." jawabnya kemudian dia melihat dirinya pergi dari lokasi tersebut.
Setelah itu mimpinya berubah lagi. Kini dia melihat dirinya masuk sebuah kamar dan menggorok leher dua orang gadis. Di dalam mimpinya tersebut dia mendengar bahwa dirinya tidak berhenti mengucapkan kata maaf dengan suara pelan. Keringatnya bercucuran. Napasnya tidak beraturan.
"GUE BENCI LO BERENGSEK!!!" teriak seorang gadis. Bersamaan dengan teriakan tersebut Raka terbangun dari mimpinya dengan kepala yang dirasakannya sangat sakit.
"Akh..." cowok itu memegang kepalanya yang terasa sakit. Satu persatu ingatannya kembali. Dia mengingat telah membunuh banyak orang. Termasuk orang tua Zylva. Dia ingat bagaimana dia menghabisi korbannya dengan sadis. Itulah mengapa Zylva sangat membenci dirinya.
"Maaf... maaf..." kata yang terus terucap dari bibir Raka saat ini.
...***...
...Bersambung......