NovelToon NovelToon
Wafa Dan Hijabnya

Wafa Dan Hijabnya

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Tamat
Popularitas:78.9k
Nilai: 5
Nama Author: AwanMendung26

"Gue peringatin sama lo, jangan pernah sentuh barang-barang gue!" ucap Refano sambil menarik kasar gantungan kunci yang ada di tangan Wafa.

"Dan satu lagi. Jangan pernah lo deketin Fani. Karena lo cuman bawa pengaruh buruk buat dia." suara datar dan tatapan tajam Refano tujukan kepada Wafa yang masih setia berdiri didepannya.

"Fani teman aku. Dan aku merasa bahwa nggak ada salahnya Fani membuat keputusan yang membuat dia jadi lebih baik." balas Wafa dengan berusaha untuk tidak sakit hati dengan ucapan Refano barusan.

"Lebih baik dengan berhijab maksud lo?"

"Apa yang salah dengan hijab?"

"Nggak usah ikut campur urusan keluarga gue. Dan ingat, lo nggak tahu apa-apa soal kehidupan gue. Jadi berhenti untuk pengaruhin Fani atau lo akan menyesal."


Bagaimana kisah Wafa selanjutnya? akankah dia mampu untuk menghadapi rintangan demi rintangan yang menimpa hidupnya?


Silahkan berkunjung di IG author: awanmendung_26 🌻🌻

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AwanMendung26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makan Malam

..."Tidak akan pernah ada yang tahu bagaimana kehidupan kita kedepannya. Namun, satu hal yang pasti. Akan selalu ada kesempatan kedua bagi mereka yang pernah terjebak di jurang kesalahan."...

...-AwanMendung26-...

HAPPY READING....

"Wafa," panggil seseorang dari belakang. Wafa yang baru saja selesai memarkir motornya lalu membuka helm dan berbalik badan. Terlihat Zeya yang sedang melambaikan tangan kearahnya dengan wajah ceria gadis itu. Namun, ada yang berbeda dengan Zeya hari ini. Saat berangkat kekampus biasanya gadis itu selalu diantar oleh supir pribadi. Tapi, hari ini dia diantar oleh Gian. Iya, laki-laki itu kini berdiri tepat disamping Zeya dengan raut wajah datar.

"Assalamualaikum," ucap Zeya yang kini berada tepat didepan Wafa.

"Wa'alaikumussalam." Jawab Wafa.

"Kak, pulang gih. Aku kan udah sampai dikampus dengan selamat. Sekarang kak Gian bisa pergi." Meski dengan nada lembut. Namun kalimat yang dilontarkan Zeya terdengar seperti mengusir Gian secara halus.

"Gue tungguin aja. Kan mata kuliah lo cuman satu hari ini." Ucap Gian dengan santai.

"Nggak usah. Kak Gian mending nongkrong sama teman-teman kakak. Dari pada disini, nanti kak Gian bosen lho."

"Gue tetap tungguin lo," kekeh Gian. Jika laki-laki itu sudah mengubah nada bicaranya, artinya keputusan dia sudah tidak bisa dibantah lagi.

Zeya memutar bola matanya malas meladeni sepupunya yang tiba-tiba berubah itu. Bukannya tadi dia bilang akan kumpul dengan teman-temannya? Tapi kenapa sekarang dia kekeh sendiri untuk menunggu Zeya selesai kuliah.

"Fa, masuk, yuk!" Ajak Zeya pada Wafa sambil menarik paksa lengan Wafa untuk masuk kegedung kampus. Sedang yang ditarik hanya bisa pasrah mengikuti langkah kaki Zeya.

"Fa, kamu udah sarapan belum?" Tanya Zeya sambil menatap Wafa tanpa menghentikan langkah kaki mereka.

"Belum," jawab Wafa singkat.

"Ya, udah, sarapan dikantin yuk! Mumpung masih ada waktu 30 menit."

Zeya kemudian melirik sekilas kebelakang ternyata Gian mengikuti mereka berdua sampai di gedung kampus. Seketika Zeya menghentingkan langkahnya menatap Gian dengan raut wajah jengkel.

"Kak Gian ngapain coba ikut sampai kesini?" Sewot Zeya. Gian yang mendengar ucapan sepupunya hanya acuh. Dia tak menjawab gadis itu. Justru dia terus melangkah menuju kearah kantin.

"Aaaa kak Gian. Ngapain coba kekantin." Zeya merengek bagaikan anak kecil sambil menghentak-hentakkan kakinya di lantai.

"Gue laper. Tadi belum sempat sarapan gara-gara lo yang pagi-pagi buta udah bangun gue." dengan raut wajah santai. Laki-laki itu berjalan dengan memasukkan tangan kanannya kedalam saku celana bagian depan.

"Kak Gian aja yang kayak putri tidur susah banget buat dibangunin."

Zeya sekarang sedang berdiri didepan Gian. Gadis itu sungguh tidak mengerti dengan tingkah sepupunya. Laki-laki itu dengan santainya duduk dan memesan makanan tanpa memperdulikan Zeya yang sekarang ini sedang kesal.

"Udah, Ze. Dari pada ngomel mulu mending duduk disini terus makan. Lo laper juga kan?"

"Kita cari tempat yang kosong aja, yuk, Fa." Ucap Zeya lalu melangkah menjauh dari meja Gian.

"Fa, kamu mau pesan apa?"

"Nasi goreng sama teh tawar."

"Bu, pesan nasi gorengnya 2, sama teh tawarnya juga 2, ya, Bu."

Mereka kemudian duduk dikursi kosong yang ada dikantin. Sambil menunggu pesanan datang. Wafa mengecek ponsel miliknya. Zeya sedari tadi memperhatikan Wafa, sepertinya perempuan itu sedikit pendiam dari hari biasanya.

"Fa, kok kamu diam aja sih dari tadi? Lagi sariawan, ya?" Zeya bertanya seolah-olah diam adalah hal yang tidak biasa dilakukan Wafa.

"Nggak," lagi-lagi Wafa menjawab pertanyaan Zeya dengan singkat.

"Terus Kenapa kamu diam dari tadi? Kamu nggak nyaman, ya, ada kak Gian yang ngikutin kita?"

"Nggak kok. Aku cuman laper aja nungguin pesanan yang belum datang."

"Kirain kamu nggak nyaman. Sebenarnya aku heran sih sama kak Gian, nggak biasanya dia bertingkah kayak gitu."

"Kayak gitu gimana maksudnya?" Tanya Wafa sambil sedikit mendongak menatap Zeya yang tampak serius.

"Biasanya nih, ya. Kalau aku mau minta dianterin ke kampus sama dia. Itu harus pakai adegan memohon-mohon dulu biar bisa dianter. Kemarin tiba-tiba dia yang nawarin. Terus ditungguin lagi sampai selesai kuliah. Aneh kan?"

"Ini dek pesanannya," ibu kantin tiba-tiba datang mengantar pesanan ke meja mereka.

Wafa dan Zeya baru bersiap untuk menyantap nasi goreng yang dipesannya. Tiba-tiba saja seseorang pindah ke meja yang sama dengan mereka.

"Lho, kak Gian ngapain pindah kesini?"

"Nggak enak duduk sendirian. Mending gabung sama kalian." Gian duduk dengan posisi berhadapan dengan Wafa. Terlihat wajah Wafa yang mulai tidak nyaman dengan kedatangan laki-laki itu. Mereka bertiga akhirnya diam sambil menikmati makanan pesanan masing-masing.

"Kalian satu kelas?" Tanya Gian memecah keheningan.

"Iya. Kita juga satu kelas sama kembaran Fani, yang kemarin hampir bertengkar sama kak Gian." Inilah salah satu kelebihan Zeya yang selalu menjawab lebih ketika ditanya. Padahal Gian tadi hanya menanyakan mereka satu kelas atau tidak. Dan gadis itu justru memberi informasi lebih pada Gian.

"Refano maksud lo?" Tanya Gian memastikan.

"Iya. Kok kak Gian tahu namanya? Kak Gian kenal sama Refano?"

"Maybe,"

"Jawabannya ambigu banget. Nggak jelas."

"Udah, mending makan sarapan lo." Putus Gian.

"Kok lo tumben diam?" Baru saja Zeya disuruh fokus menyelesaikan makanannya. Tapi, laki-laki itu justru menanyakan kembali kenapa dia diam? Benar-benar hampir gila Zeya rasanya mengahadapi laki-laki yang tengah duduk disampingnya itu.

"Kan--"

"Bukan lo, Ze. Tapi, tuh cewek didepan lo." Ucap Gian sambil menunjuk Wafa dengan dagunya. Sedang yang ditatap langsung menghentikan kegiatannya.

"Kenapa liatin aku?" Tanya Wafa dengan polos. Dia benar-benar fokus makan hingga lupa untuk mengobrol dengan orang yang ada didepannya.

"Lo kayak orang belum makan satu minggu aja. Lahap banget kayaknya." Ucap Gian dengan kekehan kecil.

"Fokus makan itu lebih baik dari pada harus berdebat sama orang lain."

"Jadi orang kok suka banget nyindir,"

"Lagian siapa juga sih yang mau berdebat sama lo. Ge-er banget jadi cewek." Wafa refleks memandang laki-laki itu dengan wajah sedikit kesal.

"Kak Gian!" Tegur Zeya.

"Lho emang gue salah? Siapa juga yang mau berdebat sama dia. Orang gue cuman nanya baik-baik tadi." Suasana kembali hening. Zeya sedikit canggung dengan situasi saat ini. Tapi, hal itu berbeda dengan Gian yang justru terlihat santai.

"Aneh aja gitu. Kita kan nggak saling kenal dan tiba-tiba kamu nanya ke saya seolah-olah kita udah pernah ketemu sebelumnya." Ucap Wafa tanpa berani menatap laki-laki itu.

"Wah, gue jadi curiga apa jangan-jangan lo amnesia, ya? Kok bisa lo lupa sama cowok seganteng gue." Zeya yang mendengar ucapan Gian serasa ingin muntah dibuatnya. Selalu saja laki-laki itu menyebut dirinya ganteng disetiap tempat.

Wafa menyeritkan dahi heran dengan ucapan Gian. "Maksud kamu?"

"Padahal belum cukup satu minggu lho kejadiannya. Masa lo udah lupa aja." Tunggu, Wafa semakin dibuat bingung dengan semua ini.

"Lo nggak inget kalau lo hampir mati gara-gara nolongin anak kucing itu?"

Berhasil, Wafa berhasil mengingat kejadian itu. Kenapa dia jadi cepat pelupa. Dia bahkan lupa dengan wajah Gian. Laki-laki yang pernah berdebat dengan dia dijalan.

"Oh, kamu--"

"Iya, itu gue. Udah inget kan?" Wafa berdehem sebagai jawaban.

"Tunggu sebentar. Tadi kak Gian bilang Wafa hampir mati gara-gara nolongin kucing?" Zeya sedikit syok mendengar itu. Karena Wafa tidak pernah menceritakan hal itu pada Zeya maupun Fani.

"Lebih tepatnya dia hampir ketabrak sama gue karena nyelamatin anak kucing yang lagi nyebrang."

"Ini pasti karena kak Gian ngebut, ya, dijalan?"

"Nggak--"

"Ze, ke kelas, yuk! 5 menit lagi dosen mau masuk." Ucap Wafa sambil memperlihatkan jam diponselnya. Tanpa disadari piring Wafa sudah kosong tanpa tersisa. Sedangkan makanan di piring Zeya tinggal sedikit lagi.

"Ya, ampun hampir aja."

"Yuk, cepetan kekelas." Mereka berdua akhirnya pergi meninggalkan Gian yang duduk sendiri.

Kelas berlangsung selama 3 jam lamanya. Dan selama itu pula Gian harus bersabar menunggu Zeya keluar kelas. Awalnya Gian hanya berencana untuk mengantarkan Zeya kekampus hari ini. Tapi, melihat perempuan yang selalu membuatnya penasaran itu akhirnya dia mengubah rencana awalnya. Dia pikir waktu bertemu dengan Wafa wajar saja jika memang perempuan itu terlihat cuek karena mereka baru pertama kali bertemu. Namun, dugaannya salah besar. Setelah beberapa kali bertemu sikap gadis itu tetap saja sama. Dia terlihat cuek dan dingin. Dan hal itu justru semakin membuat Gian penasaran. Entahlah mungkin di mata Gian perempuan itu cukup berbeda dari yang lainnya.

Tak lama kemudian satu persatu mahasiswa keluar ruangan. Gian mengamati setiap wajah mereka. Tapi, dia tidak menemukan Refano keluar dari kelas itu. Padahal tadi Zeya bilang bahwa mereka satu kelas. Apa laki-laki tidak masuk kuliah hari ini?

"Kak Gian pulang, yuk!" Ucap Zeya pada Gian yang masih setia mengamati orang-orang disana.

"Nyari siapa sih kak?" Tanya Zeya penasaran. Gian seperti sedang mencari seseorang. Sejak tadi pandangannya tidak terlepas dari pintu kelas.

"Refano nggak masuk kuliah?" Akhirnya Gian membuka suara.

"Nggak. Dia lagi izin hari ini."

"Temen lo mana?"

"Teman yang mana kak?"

"Wafa,"

"Wafa?" Dahi Zeya berkerut mendengar pertanyaan Gian. Laki-laki itu mencari Wafa?

"Dia masih dikelas. Ada urusan katanya. Memangnya kenapa sih kak?"

Gian tak menjawab. Laki-laki itu justru melangkahkan kakinya menjauh dari tempat Zeya menuju kearah parkiran. Dengan langkah lebar, Zeya berusaha menyusul sepupu yang paling menyebalkan menurutnya.

"Kak Gian suka, ya, sama Wafa?" Celetuk Zeya asal. Dan tiba-tiba saja langkah Gian terhenti mendengar itu.

"Ngomong apa lo barusan?" Gian menatap garang sambil memicingkan matanya kearah Zeya. Nyali Zeya seketika menciut mendapatkan tatapan seperti itu.

"Ya, habisnya kak Gian aneh sih. Semenjak ketemu sama Wafa, kak Gian jadi berubah baik sama aku. Pasti ini salah satu modus doang kan? Karena kak Gian tahu aku sahabatan sama Wafa makanya kak Gian jadi baik sama aku. Hayo ngaku!" Zeya terus saja menggoda Gian tanpa memperdulikan laki-laki itu memberi tatapan tajam.

"Gue nggak sama cewek kayak gitu." Protes Gian.

"Yakin nih, nggak suka sama Wafa?" Lagi-lagi Zeya menggoda laki-laki itu.

"Sekali lagi lu ngomong nggak jelas, gue tinggalin lo disini." Ancam Gian. Bukannya takut, Zeya malah tertawa mendengar hal itu. Mungkin tebakannya memang benar tentang Gian. Tapi, karena tak ingin pulang sendiri akhirnya dia memilih diam dan mengikuti langkah kaki Gian yang sudah meninggalkannya lebih dulu.

Sedangkan didalam kelas Wafa masih sibuk mengerjakan beberapa tugas yang diberikan oleh dosen. Dia ingin menyelesaikan tugasnya lebih cepat agar memiliki waktu untuk rebahan dirumah. Tiba-tiba saja suara di ponsel membuat Wafa menghentikan aktivitasnya . Tertera nama Fani yang ada dilayar. Gadis berhijab itu kemudian menggeser kearah icon berwarna hijau.

"Assalamualaikum, Fa." Suara seseorang mengucapkan salam dari seberang sana.

"Wa'alaikumussalam Fan. Iya, ada apa?" Tanya Wafa sambil memfokuskan dirinya untuk menyimak ucapan Fani.

"Ini tadi Mama bilang sama aku, kalau dia mau ngajakin kamu makan malam dirumah. Gimana kamu bisa nggak?" Wafa berfikir sejenak. Jika dia meng'iya'kan permintaan tante Maya. Maka, dia pasti akan bertemu dengan Refano. Tapi jika dia menolak, dia tidak enak hati dengan tante Maya. Wafa jadi bingung harus menyetujui atau menolak.

"Malam ini, ya, Fan?"

"Iya. Apa kamu bisa datang? Mama berharap banget kamu datang kerumah. Katanya Mama udah lama nggak ketemu sama kamu."

"Ayok lah Fa. Mau, ya?" Lanjut Fani dengan suara memelas.

"Nanti aku tanya Ibu dulu, ya. Kalau Ibu kasih izin. Nanti aku rumah kamu habis salat magrib." Balas Wafa.

"Oke deh. Aku tunggu, ya, kabar dari kamu."

"Iya, Fan."

"Ya, udah, aku tutup telfonya dulu, ya. Assalamualaikum."

"Wa'alaikumussalam." Panggilan tersebut pun berakhir setelah Wafa membalas salam dari Fani.

Wafa meletakkan ponselnya kembali ke meja kemudian melanjutkan kegiatannya. Waktu terus berputar hingga tak terasa jam di dinding kelas sudah menunjukkan pukul 14.00, pantas saja badan Wafa serasa pegal semua. Ternyata sudah berjam-jam dia duduk seorang diri dikelas. Karena saat ini Wafa sedang tidak salat (halangan) maka dia bersiap-siap untuk pulang. Dia merapikan buku dan leptopnya lalu memasukkan kedalam tas ransel hitam miliknya.

Sampai dirumah Wafa merebahkan tubuhnya diatas kasur. Rasa kantuk tiba-tiba menyerang Wafa. Tanpa sadar, dia memejamkan mata hingga akhirnya tertidur selama 2 jam.

Tok...tok...tok....

"Kak Wafa?" panggil Meila dari balik pintu.

"Kayaknya tidur deh Bu. Soalnya pas pulang dari kampus kak Wafa kayak keliatan capek banget." Ucap Meila pada bu Yana yang juga ikut berdiri didepan pintu kamar Wafa.

"Coba kamu bangun kedalam, ya. Ibu mau kedapur dulu."

"Iya, Bu." Setelah mendapat perintah. Gadis SMP itu kini masuk kedalam kamar. Dilihatnya sang kakak sedang tertidur dengan pulas. Bahkan Wafa tidak sempat berganti baju saat pulang kuliah tadi.

"Kak Wafa, bangun." Ucap Meila lembut sambil menggoyang-goyangkan kecil bahu Wafa. Terlihat pergerakan dari Wafa. Perlahan dia membuka matanya dan melihat Meila yang kini berada didepannya.

"Enggghhh, iya, Mei. Kenapa?" Tanya Wafa dengan suara khas bangun tidur.

"Bangun kak ini udah sore. Udah 2 jam kakak tidur. Biasanya kak Wafa nggak selama ini tidurnya."

"Iya, kakak capek banget habis ngerjain tugas tadi." Ucap Wafa yang kini sudah merubah posisinya menjadi duduk disisi ranjang.

"Ibu udah pulang?" Meila mengangguk.

"Ya, udah. Meila keluar dulu, ya, kak." Ucap Meila kemudian melangkah keluar kamar.

Wafa lalu membersihkan diri dan berganti pakaian. Cahaya matahari kini sudah digantikan oleh sinar rembulan. Wafa yang sudah siap kemudian pamit pada ibunya. Dia sudah meminta izin pada sang ibu untuk memenuhi ajakan dari tante Maya. Dan beliau memberi izin dengan syarat tidak boleh pulang terlalu larut malam.

20 menit Wafa mengendarai motor dan akhirnya sampai di kediaman tante Maya. Dia lalu mengetuk pintu rumah tersebut.

"Assalamualaikum," ucap Wafa degan sedikit meninggikan suaranya.

"Wa'alaikumussalam," pintu terbuka menampilkan sosok Fani dengan hijab yang dikenakan.

"Ayok, Fa. Masuk."

Fani melangkah lebih dulu dengan Wafa yang mengikuti dari belakang.

"Eh, Wafa. Apa kabar?" Tanya tante Maya dari arah dapur.

"Alhamdulillah baik tante. Tante sendiri gimana kabarnya?"

"Alhamdulillah tante juga baik."

"Tante senang banget kamu mau makan malam dirumah tante." Lanjut tante Maya sambil tersenyum. Wafa hanya mengangguk sambil tersenyum kikuk.

"Oh, iya, Fani. Kamu udah kabarin Naila untuk makan malam sama kita?" Tanya tante Maya pada Fani yang kini terlihat sedang menuliskan pesan diponselnya.

"Iya, Ma. Ini aku lagi kabarin Naila."

Semua orang kini sudah berkumpul dimeja makan. Tak terkecuali dengan Refano, Naila dan Wafa. Sejak melihat Wafa datang kerumahnya Refano tampak tak suka. Tapi, dia juga tidak bisa mengusir Wafa begitu saja. Bisa-bisa bu Maya akan marah pada dirinya. Sedangkan Naila kali ini terlihat lebih banyak diam. Mungkin kejadian Wafa yang menolongnya waktu itu sedikit menyentuh hati Naila.

"Ma, kenapa kita belum makan sih?" Tanya Refano yang rasanya sudah tidak sanggup satu meja dengan Wafa. Apalagi dia harus makan malam bersama dengan gadis itu.

"Kita tungguin Papa kamu dulu." Ucap bu Maya. Refano lantas mengeram rendah menahan amarah mendengar orang yang dibencinya juga akan makan bersama dengan mereka. Bisakah Refano menganggap bahwa hari ini adalah hari yang paling dia benci.

"Maaf saya telat." Ucap seseorang yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.

"Nggak apa-apa Mas. Silahkan duduk." ucap bu Maya sambil menyambut baik kedatangan pak Mahendra.

"Naila, Fani, kalian apa kabar?" Tanya pak Mahendra pada kedua gadis itu.

"Alhamdulillah baik, Pa."

"Baik, om."

"Lho, kamu teman Fani yang waktu itu datang kerumah kan?" pak Mahendra sedikit kaget melihat Wafa yang ternyata juga ada disana.

"Iya, om." Ucap Wafa sopan.

"Refano kamu apa kabar nak?" Kini tatapan pak Mahendra dialihkan pada Refano.

"Bisa liat sendiri kan?" Refano menjawab dengan malas pertanyaan dari pak Mahendra.

"Fano!" Teguran dari bu Maya kembali dilontarkan untuk Refano.

"Sudah, tidak apa-apa May," meski sedikit sedih dengan cara Refano menjawabnya. Namun, pak Mahendra bersyukur Refano mau makan malam bersama dengan dirinya. Itu sudah merupakan kemajuan yang baik untuk hubungan ayah dan anak.

"Ya, sudah. Silahkan dimakan makanannya." Ucap bu Maya mempersilahkan.

Semuanya tampak menikmati makan malam. Namun, hanya ada keheningan yang menyelimuti ruangan itu.

"Gimana kuliah kalian?" Tanya pak Mahendra yang berusaha memecah keheningan.

"Sejauh ini lancar-lancar aja sih, Pa." Jawab Fani sambil menikmati makan malamnya dengan lahap.

"Kalau kamu Refano?"

"Sama kayak Fani." Jawab Refano singkat tanpa menatap kearah pak Mahendra. Bu Maya yang melihat tingkah putranya hanya mampu membuang nafas dengan kasar.

"Selesai kuliah nanti kamu rencananya mau lanjut S2 atau kerja?"

"Nggak tahu."

"Kalau nanti kamu mau kerja. Kamu bisa kerja di salah satu perusahaan Papa."

"Nggak perlu. Aku bisa kerja ditempat lain." Semua orang hanya diam sambil menjadi pendengar setia pembicaraan ayah dan anak itu.

"Kenapa harus ditempat lain. Lagi pula suatu saat semua perusahaan dan harta Papa akan Papa wariskan sama kamu." Ucap Pak Mahendra dengan tegas.

"Aku nggak butuh harta warisan. Hidup aku udah bahagia sama Mama. Dan akan selalu kayak gitu tanpa harta dan kasih sayang dari anda."

"Refano!" bu Maya secara refleks membentak Refano ketika mendengar kata terakhir Refano yang mengganti panggilan "Papa" menjadi "Anda". Bagi bu Maya itu sudah keterlaluan. Bagaimana pun pak Mahendra tetaplah ayah kandung dari Refano.

"Benar kan, Ma apa yang barusan aku bilang. Kita udah puluhan tahun hidup tanpa harta dia sedikit pun. Dan sekarang dia datang seolah-olah ingin menebus semua kesalahannya dengan mengatas namakan harta."

"Kemana dia selama ini saat aku sama Fani butuh sosok Papa. Kita bahkan nggak pernah minta sepeser pun uang dari dia. Kita berdua cuman butuh kasih sayang dari dia. Tapi, itu semua dulu. Sekarang aku nggak butuh semua itu lagi!" Ucap Refano meluapkan segala emosinya.

"Refano, jaga ucapan kamu. Biar bagaimanapun dia Papa kamu. Dan kamu harus menghormati beliau!" Ucap bu Maya dengan suara tegas.

"Selama ini aku udah coba sabar saat aku harus mengormati dia yang jelas-jelas pernah bikin kehidupan kita hancur dan itu semua Refano lakuin karena Mama. Kalau bukan Mama yang minta Refano ngelakuin semua ini. Refano nggak akan mau, Ma. Nggak akan pernah."

"Re--"

"Refano udah kenyang."

"Maaf kalau Refano buat acara makan malam Mama jadi berantakan." Lanjut Refano kemudian melangkah menuju kearah pintu. Hanya dengan meninggalkan rumah saat ini sedikit membuat Refano bisa tenang kembali.

1
Lilis N Andini
fani dan gian gimana kelanjutannya kak🙏
Lilis N Andini
Aku mampir kak....novel ke 3 karya kak Awan mendung yg ku baca👍🥰
Ksatria_90
mampir Thor 👍👍 semangat ya 🤗
AwanMendung26: Terima kasih sudah berkenan mampir kak. 🌻

Semangat juga untuk kakak. ❤
total 1 replies
Hasanah Ana
mampir dlu kyax seru
Uthie
Coba keep ahh.. ❤️
Agustina Kusuma Dewi
paket kumplit sdh tersemat kak..
betapa indahnya bersama mahrom yg sejalan..
semoga solih sholihah q, juga mendapatkan spt keindahan kisah ini d akhirnya..aamiin
sub
like
vote
iklan
komen
kopi
stars
cha yo..
😘😍😘😍😘😍😘😍
Agustina Kusuma Dewi: aamiin Allahumma aamiin..
doa yg sama kembali ke anty..😘😍😘😍
total 3 replies
Agustina Kusuma Dewi
yup..pengatur sebaik baiknya takdir hanya Allah
Agustina Kusuma Dewi
benar..mengikhlaskan adalah puncak tertinggi dr mencintai
AwanMendung26
Tetap istiqomah dalam menjaga hati, ya, kak. 🌻
Agustina Kusuma Dewi
sakit perih tp tak berbekas
Agustina Kusuma Dewi
penantian badai..yg berujung ada pelangi hidayah..kapankah akan menghampiri..hanya Allah sj yg tau..
berharap terbaik
Agustina Kusuma Dewi
ya menyadari, ikhlas..
apa yg terjadi skrg..adlah berharap terbaik kedepanya. aamiin..
menjaga hati..
Agustina Kusuma Dewi
luka tak berdarah
Agustina Kusuma Dewi
mmg bnr, bl sepihak akan sakit sendiri..merana sendiri..lebih baik dicintai drpd mencintai..
sakit
Agustina Kusuma Dewi
aissss..back to jadul th.80an dah..
buku diary
Agustina Kusuma Dewi
model anyar kie..
dl zaman nabi yusuf yg oncek2 bagianya kaum hawa, yg ampe tak menyadari tanganya kepisau saking gantenge..nabi yusuf
x ini berbeda ....hehehhe
🤣😂😁😀😃😅😆😉
Agustina Kusuma Dewi
aamiin..sehat juga kak
Agustina Kusuma Dewi
ya semua perempuan di dunia ini pasti adlh wanita tangguh berhati rapuh.
krn tak bs melupakan jk hati terluka. uhhhhh..hny bs menguatkan diri sendiri.. cha yo..semua siper women disini i luv u pull
😘😍😘😍😘😍😘😍😘😍😘😍
Agustina Kusuma Dewi: always.. 😘😍
total 2 replies
Agustina Kusuma Dewi
Allah jlah yg mudah membolak balikan hati
berharap yg yerbaik
Agustina Kusuma Dewi
kebalikan q dl..kerja 1th dpt modal u. byr uang daftar..mlamnya kuliah
Agustina Kusuma Dewi: Aamiin, hanya Allah lah yg tau kak..apa yg ada dilangit dan dibumi.. takdirnya😘😍 kt berusaha terbaik menjalaninya
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!