Suara riuh rendah khas jam kosong di kelas 10-MIPA 3 selalu didominasi oleh dua hal: gosip hangat di pojok belakang, atau teriakan frustrasi dari gerombolan siswa di baris tengah. Bagi Naomy, suara yang kedua jauh lebih mengganggu sekaligus memicu rasa penasarannya belakangan ini.
"Kiri, kiri! Woy, lindungi gue! Ah, telat lo, mati kan gue!"
"Sabar, cooldown skill gue masih jalan! Mundur dulu, mundur!"
Naomy menghentikan goresan pulpennya di atas buku catatan Biologi. Ia menoleh ke arah meja milik Tasya dan sisa gengnya. Tiga gadis yang biasanya sibuk membahas drama Korea atau warna lipstik terbaru itu kini tengah menunduk dalam-dalam, menatap layar ponsel masing-masing dengan posisi lanskap. Ibu jari mereka bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal, sementara wajah mereka tampak sangat tegang, seolah-olah masa depan bangsa sedang dipertaruhkan di dalam layar berukuran enam inci tersebut.
Rasa asing itu mulai merayap di dada Naomy. Fear of Missing Out. FOMO. Istilah yang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia Memang Sempit
Malam itu, suasana di meja makan kediaman keluarga Andandra terasa begitu hangat dan akrab. Berbagai hidangan lezat tersaji rapi, namun yang membuat suasana begitu hidup adalah percakapan yang mengalir tanpa canggung.
Mama Raka tak henti-hentinya mengambilkan lauk untuk Naomy. "Ayo dimakan yang banyak, Naomy. Kamu kelihatan agak kurusan. Raka ini pasti kurang pinter jagain kamu ya selama ini?"
"Eh, tidak kok, Tante. Raka sangat perhatian," jawab Naomy dengan senyum manisnya, merasa tersanjung sekaligus tersipu oleh perhatian ibu dari kekasihnya itu.
Subroto Andandra yang duduk di ujung meja ikut berdeham pelan, menatap Naomy dengan pandangan penuh rasa ingin tahu yang hangat. "Naomy, Raka bilang kamu sekarang mengajar sebagai guru di daerah lereng gunung Karanganyar ya? Gimana rasanya mengajar di sana?"
"Iya, Om," tutur Naomy sopan. "Mengajar di sana memberikan pengalaman yang luar biasa buat saya. Anak-anak di sana sangat semangat belajar meskipun dengan fasilitas yang serba terbatas. Kehangatan warga di sana juga membuat saya betah."
Subroto mengangguk-angguk terkesan. Ia menatap Raka sejenak, lalu kembali menatap Naomy. "Jarang sekali anak muda zaman sekarang yang mau mendedikasikan diri mengajar di daerah. Om bangga dan sangat menghargai prinsip hidupmu."
"Terima kasih banyak, Om," balas Naomy lega.
Setelah makan malam usai, mereka berpindah ke ruang keluarga yang luas. Mama Raka duduk persis di samping Naomy, memegang jemari Naomy dengan tatapan yang sangat lembut.
"Naomy, Tante jujur ya... kemarin Tante dan Om sempat salah paham. Tapi melihat Raka yang begitu gigih memperjuangkan kamu, dan sekarang melihat sendiri betapa santun dan tulusnya kamu... Tante benar-benar merestui hubungan kalian," ucap Mama Raka dengan mata yang berkaca-kaca haru.
Raka yang duduk di samping Naomy langsung merangkul pundak kekasihnya itu, menatap kedua orang tuanya dengan penuh rasa syukur.
"Jadi, kapan kalian mau merencanakan acara lamaran resminya?" tanya Subroto dengan senyum tipis, membuat Raka dan Naomy saling pandang dengan binar bahagia yang tak terbendung.
Mendengar pertanyaan Subroto tentang acara lamaran, wajah Naomy mendadak merona. Ia melirik Raka sejenak sebelum meremas jemarinya pelan.
"Belum kepikiran ke sana, Tante..." ucap Naomy jujur dengan nada lembut dan tersipu malu. "Kami masih ingin menyelesaikan beberapa hal dulu, terutama soal tugas mengajar saya di sana."
Mama Raka terkekeh geli melihat kepolosan Naomy, sementara Subroto tersenyum memaklumi. Pria paruh baya itu lalu membetulkan posisi duduknya, menatap Naomy dengan rasa ingin tahu yang lebih dalam.
"Ngomong-ngomong, Naomy... selama di Jakarta ini kamu tinggal di mana? Dan kalau Om boleh tahu, siapa nama orang tuamu?" tanya Subroto ramah.
"Sementara ini saya tinggal di hunian yang disediakan sekolah di sana, Om. Tapi kalau di Jakarta, keluarga saya tinggal di daerah Selatan," jawab Naomy santun. Ia menarik napas pelan sebelum melanjutkan, "Nama Papa saya Surya... Surya Hadisusanto."
Seketika itu juga, raut wajah Subroto berubah. Matanya melebar, dan cangkir teh yang hampir ia angkat terhenti di udara.
"Surya? Surya Hadisusanto yang dulu punya usaha perkayuan dan alumni Teknik UI?" tanya Subroto memastikan dengan nada suara yang sedikit bergetar.
Naomy mengangguk polos, agak terkejut melihat reaksi ayah Raka. "Iya, betul Om. Om kenal dengan Papa?"
"Ya Tuhan!" Subroto menghembuskan napas panjang, lalu terkekeh tak percaya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia menatap istrinya, lalu beralih menatap Raka yang ikut kebingungan. "Surya itu sahabat dekat Om waktu kuliah dulu! Kami dulu berjuang bareng dari nol sebelum akhirnya Papa kamu pindah dan fokus mengurus usahanya di luar kota!"
"Serius, Pa?" potong Raka terperanjat, matanya berbinar tak menyangka.
"Serius!" seru Subroto dengan binar bahagia yang terpancar jelas di wajah tegasnya. "Dulu waktu kalian masih kecil, Om dan Papamu bahkan sempat berseloroh ingin menjodohkan anak-anak kita kalau sudah besar. Tapi karena sama-sama sibuk dan sempat hilang kontak, Om pikir itu cuma gurauan masa lalu!"
Mama Raka menutup mulutnya dengan kedua tangan, ikut terkejut sekaligus terharu. "Jadi... Naomy ini putrinya Mas Surya? Dunia benar-benar sempit ya, Pa!"
Raka menoleh ke arah Naomy, menggenggam erat tangan wanita itu dengan senyuman lebar yang tak mampu ia sembunyikan. Takdir seolah sedang bermain manis dengan mereka; jalan yang tadinya penuh dengan rintangan dan penolakan, kini justru terbuka lebar dengan alasan yang tak pernah mereka duga sebelumnya.