Pernikahan yang terjalin selama lima tahun tiba-tiba saja kandas akibat perselingkuhan yang dilakukan sang suami.
Awalnya Maya berusaha berdamai dengan sang suami yang berjanji untuk tidak mengulangi kesalahannya. Namun, rasa sakit yang tak kunjung hilang membuat Maya akhirnya memilih untuk berpisah.
Bukannya reda, rasa sakit itu malah semakin membengkak tatkala mantan suaminya kembali menjalin hubungan dengan wanita selingkuhannya dulu.
Sejak saat itu Maya bertekad membalas dendam dengan cara halus, membuat mantan suaminya terpikat kembali lalu membuangnya begitu saja.
Akankah Maya berhasil melakukan balas dendam? Atau justru Maya terjebak dalam misinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iraurah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesambet?
"T--temani???"
Belum hilang debaran jantung Adhi, kini rasanya rongga dada miliknya mau copot setelah mendengar tawaran yang diajukan Maya.
Ia tahu Maya berniat baik, tapi tidakkah ini terlalu kejauhan? Bukannya Adhi tidak senang, tapi sangatlah aneh jika Maya sampai segitunya mengkhawatirkan Adhi.
Dengan gerakan tak terduga Adhi mengangkat satu tangannya lalu menempelkan punggung tangannya di kening Maya.
Tidak panas, Maya sehat walafiat.
"Mas, apa yang kamu lakukan?" Maya bingung.
"Kamu... Tidak sedang kesambet sesuatu, kan?" Ujar Adhi was-was.
Maya melongo tak percaya, bisa-bisa Adhi menganggapnya tidak waras. Apa sikap yang ia tonjolan terlalu berlebihan? Adhi jadi mencurigai dirinya, ini gawat!
"T-tentu saja tidak! Apa yang mas pikiran, aku benar-benar dalam kondisi normal dan sadar seratus persen" elak Maya tegas.
Adhi pun menarik lagi tangannya, jangan-jangan disini ia yang terlalu baper? Toh Maya juga hanya menawarinya bukan memaksa, lagipula menemani semacam apa yang Maya maksud? Adhi belum tahu.
"Kalau mas Adhi keberatan maka tidak masalah, aku akan pulang setelah menyantap makanan milikku"
"B-bukan begitu maksudku, h-hanya saja... Pekerjaan ku banyak dan kamu pasti akan bosan jika hanya berdiam diri disini, kasihan juga Shakeel kalau kamu tidak pulang ke rumah" ucapnya meluruskan tak mau Maya salah paham.
"Hmm.... Ya sudah, tapi mas harus berjanji untuk dapat mengatur waktu meski sesibuk apapun mas sekarang, jangan lupa makan, mandi, istirahat yang cukup, jangan banyak pikiran, jangan..."
"Syutttt.... Iya iya aku paham, aku mengerti, aku berjanji akan mengatur waktu ku dengan baik. Kenapa kamu jadi cerewet seperti ini Hem?" Potong Adhi sembari mencubit pipi Maya dengan gemas, membuat si empu memekik akibat ulah Adhi.
Maya mencebik bibir dan menunjukkan ekspresi kesal.
"Habisnya mas selalu lupa segala hal kalau berurusan dengan pekerjaan, makanya aku kurang percaya kalau mas bisa memegang ucapan mu"
Adhi terkekeh, memang apa yang dikatakan Maya benar adanya. Namun sebisa mungkin Adhi akan berusaha mengatur segala aktivitasnya sesuai nasihat dari Maya.
"Aku berjanji, kalau aku ketahuan berbohong kau boleh memberiku hukuman" ujar Adhi memberi jaminan.
"Hukuman?" Maya mengangkat satu alisnya.
"Hukuman seperti apa?" Tanya Maya.
Adhi mengedikkan bahunya sebagai jawaban.
"Tidak tahu, itu terserah kau. Pikiran hukuman apa yang tepat untukku. Tapi itu pun jika aku tidak menepati janji"
Beberapa detik kemudian Maya menatap Adhi dengan tatapan licik, ia tersenyum miring membuat Adhi jadi dibuat penasaran dengan hukuman yang direncanakan Maya.
"Kamu sudah memikirkan hukumannya?"
Dengan cepat Maya mengangguk.
"Apa?" Desak Adhi.
"Rahasia!" Maya tergelak sendiri, senang juga menjahili Adhi seperti ini. Belum apa-apa pria itu sudah mati penasaran.
"Haiss... Jangan begitu, beritahu aku apa hukumannya?" Desak Adhi sambil menarik-narik lengan Maya tanpa menyakiti wanita itu.
"Tidak mau, mas juga tidak boleh memaksa aku untuk memberitahu mas sekarang. Kan jadi tidak seru!"
"Iya deh, aku juga akan tunjukkan kalau aku tidak akan mengingkari janjiku apalagi jika sampai aku sakit. Lihat saja" ujar Adhi tidak mau kalah.
Keduanya saling melempar pandangan dengan intens, tapi tak lama mereka pun tertawa bersama-sama.
Sungguh momen yang tak pernah mereka sangka, Adhi dan Maya mulai akrab kembali setelah sekian purnama berada dalam lingkaran panas, dan kini suasana pun sudah kembali mencari.
"Mas, bagaimana kalau kita telpon Shakeel?"
"Ide bagus, aku juga sudah sangat rindu anak itu" ucap Adhi setuju.
Maya merogoh tas nya kemudian mengeluarkan ponsel untuk mencari nomor Catherine dimana putranya itu sedang bersama sang sahabat.
"Hallo..." Seru Catherine dari balik telepon.
"Hallo, Cath. Sedang apa?"
"Kenapa May? Kau ingin menelepon Shakeel?" Tebak Catherine tanpa basa-basi.
"Iya, dia ada disana?"
"Shakeel bersamaku sekarang"
"Berikan ponselmu padanya, aku ingin melakukan video call"
"Baiklah"
Maya mengubah telepon menjadi panggilan video, di balik layar ponselnya terpampang wajah sang buah hati yang masih menggenakan seragam sekolah.
"Mamiiiii.....!" Teriak Shakeel antusias.
"Hai sayang, Shakeel lagi dimana? Sedang apa?" Balas Maya tak kalah gembira.
"Shakeel di Mall, mami. Shakeel lagi makan di restoran bareng Tante Cath. Mami dimana? Kok gak jemput Shakeel?" Ujarnya menyerang Maya dengan beberapa pertanyaan.
"Maaf sayang, tadi mami ada urusan. Mami punya kejutan buat Shakeel"
"Kejutan apa mi?!"
Maya pun mengarahkan kamera pada Adhi yang berada di sebelahnya, kini wajah mereka berdua terpampang di layar.
"PAPIIII.......!!!"
Suara Shakeel makin melengking kala melihat keberadaan sang papi, mukanya berseri-seri sekaligus kaget diwaktu bersamaan.
"Hai Shakeel..." Adhi melambai-lambaikan tangan ke arah kamera.
"Mami lagi sama papi?? Shakeel pingin kesana...!! Mami dimana?" Rengeknya seketika, yang tadinya anteng-anteng saja kini mendadak ingin menyusul kedua orang tuanya.
"Sebentar lagi mami juga pulang, Shakeel tunggu aja di rumah"
"Shakeel pingin ketemu papi, mi..." Ucapnya memelas, jarang-jarang mami dan papi nya bersama Shakeel tak boleh melewatkan momen tersebut.
"Sebentar lagi malam, nanti saja Shakeel ketemu papi nya. Nanti papi ke rumah kalau pekerjaan papi sudah selesai, papi juga rindu sama Shakeel" kata Adhi berbicara. Bukannya tak mau bertemu dengan anaknya, namun adhi juga harus segera kembali bekerja, kalau Shakeel datang pasti yang ada Adhi hanya berfokus pada pekerjaan dan malah mengacuhkan sang anak.
"Tapi mami kok gak ajak Shakeel kesana? Mami curang" Rupanya Shakeel masih belum terima ditinggalkan begitu saja.
"Shakeel kan masih sekolah tadi, makanya mami titip dulu sebentar sama Tante Catherine. Tante Catherine juga katanya kangen pingin ketemu Shakeel"
"Shakeel jangan marah dong sama mami, papi janji bakal datang secepatnya biar kita bisa ketemu. Nanti kita jalan-jalan sepuasnya ya" bujuk Adhi meredam kekesalan Shakeel, ia juga tak mau Shakeel marah pada Maya akibat tidak mengajaknya bertemu dengan Adhi.
"Tapi kapan? Shakeel udah gak sabar!"
"Papi usahain secepatnya, Shakeel doain supaya pekerjaan papah cepet beres ya. Nanti kita liburan ke tempat yang Shakeel mau" jelas Adhi.
"Beneran pi? Kita liburan bertiga???" Kekesalan Shakeel dalam sekejap menghilang bak diterpa angin.
Maya dan Adhi saling pandang dibuatnya, mereka bingung harus menjawab apa. Kalau menjawab tidak bisa-bisa Shakeel mode ngambek lagi. Tapi kalau iya Shakeel pasti mengingatnya hingga kapanpun.
"Pih... Kok gak dijawab?"
"I-iya sayang, kita liburan bertiga" putus Adhi.
"YEAYYYYY.......!!!" Soraknya gembira.
Adhi pun tersenyum melihat Shakeel yang teramat senang, tak apa sekali-kali mereka liburan bertiga, toh memang mereka sudah sepakat dalam hal ini sebelumnya.
"Kalau gitu mami tutup telponnya ya, Shakeel lanjut lagi makannya"
"Iya, mami"
"Dah Shakeel...."
"Dah mami... Papi...."
Ketiganya saling melambaikan tangan sebelum akhirnya sambungan telepon itu terputus sampai disitu.
tp mw gimana lagi... setiap orang mempunyai pemikiran sendiri seperti maya,,, mungkin karena terlalu sakit hatinya,,