Belasan tahun terpisahkan dari sang ayah biologis, kini Kagami Rui telah kembali dan menemukan keluarganya kembali.
Saatnya memimpin Doragonshadou, sebuah yakuza legendaris yang selama ini dipimpin oleh sang ayah!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anezaki Igarashi Ricky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketulusan ...
Rui masih saja terdiam dan hanya fokus untuk menikmati makan malamnya. Namun Rui melakukan semua itu dengan sedikit terburu-buru.
Sebenarnya Rui masih merasa sedikit kesal, karena menganggap Nickhun malah tak menghiraukan ucapannya beberapa saat yang lalu. Seakan Nickhun benar-benar tak menganggap dan tak menghargai Rui.
"Rui, makanlah dengan pelan dan hati-hati. Nanti kamu bisa tersedak." ucap Nickhun mengingatkan dengan begitu hangat seperti biasanya.
"Hhm ..." sahut Rui cuek dan dingin lalu mulai meneguk teh ocha hangatnya.
"Aku akan menceritakannya kepadamu setelah kita menyelesaikan makan malam ini. Jadi jangan cemberut seperti itu. Dan jangan pernah merasa jika aku menyembunyikan sesuatu darimu." ucap Nickhun lagi yang rupanya begitu memahami jika Rui sedang merasa sangat kesal kepadanya saat ini.
Namun tak ada jawaban dari Rui. Gadis itu hanya fokus untuk menghabiskan makan malamnya saja.
.
.
.
.
.
"Jadi ... soal gadis yang aku sukai itu ... semua adalah bohong. Aku mengatakan seperti itu kepada Aira agar dia tak berharap lagi padaku, Rui." ucap Nickhun yang rupanya lebih memilih untuk tidak berkata jujur.
Karena apa? Karena Nickhun merasa sangat tak pantas untuk Rui. Saat ini mereka tidaklah seperti dulu lagi. Saat ini mereka bagaikan langit dan bumi. Perbedaan diantara mereka sangatlah jauh. Dan hal itu sangat membuat Nickhun merasa begitu kecil, rendah dan tak bernilai di hadapan Rui.
"Hhm? Begitu ya? Jadi kamu sama sekai tidak sedang menyukai seorang gadis?" tanya Rui dengan mudahnya mempercayai Nickhun begitu saja.
"Hhm. Lagipula aku masih belum memikirkan hal seperti itu, Rui. Aku hanya ingin bekerja dan menjadi pria sukses dulu. Agar aku merasa sedikit lebih pantas untuk seorang gadis." ucap Nickhun menyembulkan senyum tipis menatap langit gelap malam ini.
"Jadi kamu benar-benar sedang menyukai seorang gadis dan sedang memantaskan diri untuk gadis itu?" tanya Rui lagi.
"Tidak, Rui. Maksudku bukan seperti itu. Namun maksudku adalah ... aku harus menjadi pria matang yang paling tidak harus memiliki sebuah pekerjaan layak, rumah ... atau kalau bisa lebih dari itu semua. Untuk membuat seorang gadis bahagia saat hidup bersamaku kelak, maka aku harus bisa memenuhi semua fasilitas itu bukan? Paling tidak agar dia merasa nyaman dan tidak menyesal karena sudah menerimaku yang jauh dari kata sempurna ini untuk hidup bersama." ucap Nickhun begitu lirih.
"Bukan hanya sekedar perkataan suka dan soal hati saja ... tapi aku harus siap untuk selalu membuatnya bahagia karena dia telah memilih untuk hidup bersamaku." imbuh Nickhun berusaha untuk tetap tersenyum, meskipun sebenarnya hatinya merasa sedikit sesak dan nyeri karena selalu memendam perasaannya sendiri selama belasan tahun.
"Nick! Jujur saja, sebenarnya secara logika semua perkataanmu itu adalah benar. Namun menurutku bukan seperti itu. Karena menurutku yang terpenting adalah hati. Jika dia memang menyukai kita dengan tulus, maka dia akan selalu berusaha untuk membahagiakan kita. Bukan dengan harta, kekayaan, maupun tahta yang dia miliki. Kebahagiaan bisa dihadirkan melalui hal-hal sederhana, dengan cinta dan kasih sayang. Ketulusan adalah yang terpenting. Dan dia yang tulus kepadamu, tak akan pernah memandang siapa dirimu. Karena berada di dekatmu akan selalu membuatnya merasa nyaman ... hanya itu."
Ucap Rui dengan jujur dan juga menatap langit malam yang begitu gelap yang telah menyembunyikan bintang-bintang indah itu dengan kegelapannya.
Mendengarkan ucapan dari Rui, sebenarnya membuat Nickhun merasa sedikit bahagia dan lega, karena mengetahui jika Rui yang Nickhun kenal sedikitpun tak pernah berubah. Gadis itu adalah tetaplah Rui yang selalu baik tanpa pernah memandang rendah orang lain hanya dengan harta, tahta dan kekayaan.
Nickhun masih saja menatap gadis cantik itu dan tersenyum dengan segala angannya. Karena ucapan dari Rui sungguh membuatnya tersihir dan terpana begitu saja.
Kamu adalah benar satu-satunya gadis yang bisa mengatakan hal seperti itu, Rui. Kamu begitu baik dan tulus. Kamu tak pernah berubah sedikitpun, padahal saat ini kamu sudah memiliki segalanya. Namun, aku sangat merasa tak pantas dan tak tau diri jika masih saja terus menyukaimu. Haruskah aku menghapus rasa ini? Aku tau ... suatu saat nanti kamu pasti akan bertemu dengan pria yang jauh lebih baik dan lebih sempurna dariku.
Batin Nickhun mulai terlihat murung kembali.
"Nick! Apa kamu tidak mendengar ucapanku?! Huft ... dasar menyebalkan sekali!" Rui mendengus kesal dan mulai berbalik dan bersiap untuk segera memasuki Supercar Lamborghini hitam metaliknya. "Ayo pulang! Ini sudah sangat larut!!"
GREPP ...
Tiba-tiba saja Nickhun meraih tangan Rui dan membuatnya tertahan kembali.
"Aku mendengar semuanya. Setiap ucapanmu tak akan pernah aku lupakan dan aku akan selalu mengingatnya. Bahkan ucapanmu saat kita baru pertama kali bertemu, aku juga sangat mengingatnya." ucap Nikhun menatap lekat Rui.
"Saat pertama kali bertemu? Saat masih kecil? Tentang bermain di sungai?" ucap Rui menerka.
"Ya, Rui. Saat kamu pertama kali mengajakku untuk melihat ikan di sungai."
"Wah! Ingatanmu sungguh luar biasa!" ucap Rui takjub.
"Tidak juga kok. Mungkin saat itu aku terlalu bersemangat karena memiliki teman baru. Terima kasih sudah selalu menjadi temanku hingga saat ini, Rui."
"Hhm. Ya sudah. Ayo segera pulang! Ayah dan ibu pasti akan cemas jika aku pulang terlambat." ucap Rui mulai memasuki mobilnya.
...🍁🍁🍁...
Sesampainya di rumah besar Kagami, rupanya Kagami Jiro dan Yuna sudah berada di ruang tamu dan sudah menunggu Rui sejak dari tadi.
"Sayang! Kamu darimana saja? Kamu meminta asisten pribadimu untuk pulang sendirian tanpa mengantarmu lebih dulu. Kamu bahkan tak bisa dihubungi sama sekali." ucap Kagami Jiro terlihat begitu khawatir.
"Oh, iya ... maaf, Ayah. Baterai ponselku habis, jadi aku tak bisa menghubungi ibu maupun ayah. Aku pulang dan makan malam bersama Nick, karena dia sudah menungguku sejak sore. Aku segan dan akhirnya malah pulang bersama dia." jelas Rui dengan jujur.
"Sayang. Lain kali jangan seperti ini. Jika memang kamu ingin pergi ke suatu tempat, maka hubungi kami juga. Karena situasi akhir-akhir ini sungguh masih begitu berbahaya. Kin Izumi masih berkeliaran di luar dan sangat berbahaya." ucap Yuna sangat khawatir. "Huft, untung saja saat itu Ryuga begitu cekatan dan sangat cepat menyadari semua itu."
"Bai, Ibu. Maafkan aku. Lain kali aku tak akan mengulanginya lagi." jawab Rui menyesal.
"Ya sudah sekarang cepat mandi dan segera beristirahatlah. Kamu pasti sangat capek kan?" ucap Yuna begitu hangat.
"Baik, Ibu, ayah. Aku akan segera ke kamar." ucap Rui membungkukkan badannya dan segera berlalu begitu saja untuk pergi ke kamarnya.
...🍁🍁🍁...