Sejak lahir, Varren Kaelor tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih jalan hidupnya sendiri.
Di balik wajah tampan yang dikagumi banyak orang, tersembunyi sebuah rahasia yang bahkan tidak boleh ia akui pada dirinya sendiri. Setiap langkah, setiap senyum, bahkan setiap hubungan yang ia jalani hanyalah bagian dari sandiwara yang dipaksakan oleh seseorang.
Ketika harus memasuki sekolah paling bergengsi di negeri itu, Varren yakin ia hanya perlu bertahan seperti biasanya.
Namun, semuanya berubah saat seseorang mulai menembus tembok yang selama ini ia bangun.
Semakin dekat orang itu, semakin sulit Varren membedakan mana kebohongan yang harus dipertahankan, dan mana perasaan yang tidak seharusnya pernah tumbuh.
Lalu... apa yang sebenarnya disembunyikan oleh keluarga Kaelor?
"Aku tidak takut jika dunia membenciku. Aku hanya takut... saat dunia mengetahui siapa diriku sebenarnya." — Varren
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pertama..
"Varren..!" Varren celingak-celinguk di kelasnya menatap orang memanggil namanya.
Reja dan Tavian melambaikan tangan semangat. "Sini duduk sini aja!" teriak Reja menunjuk kursi yang masih kosong di depan mereka.
Varren melirik orang-orang yang menatapnya. Segera Varren duduk di kursi kosong. "Loe perasaan tadi duluan ke kelas, kenapa jadi paling lama?" tanya Reja saat Varren sudah duduk di bangkunya.
Varren meliriknya dan mengusap perutnya. "Gue ngasih anak-anak gue makan dulu." jelas Varren.
"Si anj, dikira hamil," bisik Tavian membuat Varren terkekeh. "Anak-anak cacing gue." jelas Varren.
"Loe cacingan?" Reja bertanya tapi berteriak membuat Varren ditatap semua orang.
Varren tercegang menatap malas Reja. "Pernah di lempar dari lantai tiga belom?" tanya Varren mendesis.
Reja menciut menatap Varren yang melotot tajam padanya. "Berjanda gue berjanda. Yatuhan." gumam Varren mendesis lalu menyandarkan tubuhnya.
"Bercanda bege!!!" kepalanya di jitak oleh Tavian di sebelahnya membuat Reja meringis. Varren segera menatap kedepan saja malas melanjutkan perdebatan.
Di sisi lain ada Sylas yang diam saja menatap Varren dingin. Kelas ini memang bangkunya dipisah satu orang hanya di isi satu orang, jadi baik Sylas, Tavian dan juga Reja mereka duduknya sendiri-sendiri. Yang paling belakang ada Sylas, di depan Sylas ada Reja dan di sebelah Reja ada Tavian. Di depannya ada Varren, dan Varren berada di baris ke tiga dari depan dan kedua bagian belakang.
Sesaat setelahnya beberapa kakak tingkat masuk dengan menggunakan baju khas kebanggaan OSIS menatap tajam seluruh murid yang ada di kelas. Kelas yang berisi dua puluh lima orang diam menatap OSIS-OSIS yang datang.
"Silahkan taro tasnya di atas meja..!" tegas salah satu OSIS laki-laki kepada semua murid yang ada di dalam kelas.
Varren berdiam dan melipatkan tangan di depan dada. Saat semua OSIS sedang merazia murid, sekolah ini tidak boleh ada yang membawa beberapa peralatan, salah satunya seperti make up dan juga HP. Itu terjadi saat MOS saja, saat tidak MOS boleh membawa HP tapi tidak dengan make up.
"Mana tas loe?" tanya OSIS laki-laki di hadapan Varren tegas.
Varren meliriknya tak minat. "Gue nggak bawa tas." tegas Varren pelan.
OSIS laki-laki bernama Bimo itu menatap Varren nyalang. "Jangan bohong. Mana tas loe gue tanya?" tegas Bimo kepada Varren.
Varren mengusap telinganya pelan melirik Bimo yang berteriak di dekat telinganya. Dipikir keren apa bersikap begini? batin Varren. "Gue nggak bawa tas." tegas Varren lagi, kali ini lebih pelan dari sebelumnya.
"Jadi loe ke sekolah bawa apa kalo nggak bawa tas ha??? Bawa dengkul doang?" tanya Bimo keras kepada Varren. Semacam sudah memiliki dendam saja.
Varren meliriknya dingin. "Mending lo sikat gigi dulu lagi deh dibanding ngurusin hidup gue." tegas Varren kepada Bimo di sebelahnya.
Bimo terlihat tidak terima menatap Varren lebih tajam. "Anak baru udah belagu. Mentang-mentang ganteng loe yah..!!!" tegas Bimo memukul keras meja Varren yang berada di hadapannya.
"Makasih udh muji gue..." ujar Varren tersenyum miring.
Reja dan Tavian melihatnya menatap Varren meringis pelan. Semua murid bahkan sekarang melihat mereka.
"Bimo ada apa ini?" tanya salah satu OSIS lain, lebih dingin dan beraura tajam. Bisa dilihat Varren yakni dia ketua OSIS. Varren menatap tajam nama yang di almamater biru dikenakannya. Revo. Uh seperti nama motor, batinnya pelan.
"Ini Rev. dia nggak bawa tas." tegas Bimo kepada Revo mengadu.
Revo menatap Varren dingin tapi terdiam sejenak. "Loe nggak bawa tas?" tanyanya pelan.
Varren berdehem mengangguk. "Gue nggak bawa tas atau bawa tas itu bukan urusan kalian yah. Lagi pula sebelumnya juga nggak ada tu peraturan harus bawa tas." tegas Varren dengan dagu yang terangkat kesal.
Bimo dan Revo menatap Varren dingin. "Belagu banget loe baru anak baru juga. Nggak ada etitutnya loe yah." tegas Bimo kepada Varren dingin.
Varren meliriknya dengan malas. "Ngapain gue beretitut sama loe? Gue salah dimana emang ha? Yang teriak siapa yang marah-marah siapa. Selagi gue nggak ngelanggar aturan gue nggak takut sama loe." tegas Varren dingin. Varren bukan orang yang mau berurusan sama orang lain, tapi jika orang lain berurusan dengannya dirinya tidak masalah.
Brak. Bimo mengepak meja kembali di hadapan Varren. "Loe nggak bawa tas udah langgar aturan."
"Kasih tunjuk gue mana aturannya yang ngelarang murid nggak bawa tas? Gue mau lihat." tegas Varren kepada Bimo yang masih menatapnya tajam dan tidak suka.
Bimo menunjuk wajah Varren dengan telunjuknya. Revo menarik tubuh Bimo menjauh. "Udah Mo." jelasnya tegas.
"Dia anak belagu. Harus dikasih ultimatum Rev. Kalo nggak bisa-bisa mijak kepala." tegas Bimo kepada Revo. Varren mencibir dalam batin mendengarnya. Bilang saja tidak mau disalahkan.
Revo melirik Varren dingin. "Peralatan MOS kamu dimana?" tanya Revo mencari lagi alasan agar temannya kembali tidak disalahkan.
Varren meliriknya tersenyum sinis. "Ah iya. Mana peralatan MOS loe? Nggak liat loe orang bawa peralatan MOS ha?" tanyanya tegas kepada Varren lagi. Kali ini ia seperti menang jackpot besar untuk mengalahkan argumen Varren.
Varren mengeluarkan surat dari kantungnya di atas meja. Bimo dan Revo melirik kertas tersebut dan membacanya. Varren dinyatakan bebas dari MOS untuk tiga hari mendatang untuk persiapan lomba debat bahasa Inggris yang diadakan dua minggu lagi. "Udah kan? Sana pergi. Bikin muak aja." tegas Varren di sana kesal melihat keduanya.
Revo dan Bimo menatap Varren lebih dingin, tapi tidak bisa dipungkiri mereka kalah. Ada rasa malu di dada Bimo tapi ia tidak lagi banyak bicara selain diam menatap lamban Varren.
Varren yang ditatap begitu lamban dan dalam melirik Bimo. "Nggak usah liat-liat gitu. Naksir tau rasa." bisik Varren pelan mengedipkan matanya.
"Najis." jelas Bimo segera pergi. Varren malah terbahak melihat Bimo menjauh dengan wajah merah padam. Tau bukan salting tetapi lebih ke kesal karena kalah.
Varren melirik lagi ke arah Revo yang berdiri di sana melihat Varren lebih lama. "Kenapa??? Mau minta dansos?" tanya Varren lagi meremehkan.
Revo segera melirik Varren sinis. "Lain kali mulut di jaga." bisiknya dan segera pergi.
"Besok deh gue beli anjing buat jagainnya." teriak Varren. Revo menjauh mengepalkan tangan. Apalagi mendengar tawa dari Varren yang terdengar jelas. Ditambah beberapa anak kelas ikut tertawa. Kali ini mereka malu karena Varren.
"Njir hari pertama cari masalah si anjirr..!" bahu Varren ditepuk oleh Reja.
Varren melirik Reja. "Dia ngeselin, datang-datang nggak ucap salam tiba-tiba razia. Dikira dia doang nggak punya etitut. Gue juga bisa kali." jelasnya sinis. Reja dan Tavian saling lirik dan menggeleng.
Mereka pikir Varren ini anak yang kalem. Rupanya kebalikannya.
Sylas di belakang sekali memandang lamban Varren yang masih selonjoran kaki dan bersandar di kursi. Ada secarik senyum miring yang ia sematkan di bibirnya. Ia menatap lamban tangannya yang terasa masih lembut sentuhan Varren. Ia pikir Varren perempuan. Ternyata salah. Dia benar-benar seorang pria.
---
Setelah kelas selesai, mereka semua diarahkan ke lapangan untuk memulai MOS. Para senior sudah menunggu dengan ekspresi galak.
"Perhatian!" suara Revo menggema. "Kalian akan menghadapi berbagai tantangan! Dan ingat, tidak ada yang boleh menolak perintah senior!"
Varren berdiri di barisan dengan santai, tangannya tetap di saku celana. Revo menatapnya tajam—masih dendam dengan kejadian di kelas tadi.
"Kamu!" tunjuk Revo pada Varren. "Push-up lima puluh kali! Sekarang!"
Varren mengangkat satu alis. "Lima puluh? Itu aja?" ucapnya pelan, tapi cukup keras untuk didengar.
Revo memerah. "APA KAMU BILANG?! PUSH-UP! SEKARANG!"
Varren menghela napas, lalu menurunkan tubuhnya. Dengan gerakan santai, ia mulai melakukan push-up. Satu, dua, tiga—hitungannya cepat dan stabil. Reja menutup mulutnya menahan tawa. Tavian hanya menggeleng.
Sampai hitungan kelima puluh, Varren berdiri kembali dengan wajah datar, tidak sedikit pun berkeringat.
"Selesai," katanya. "Ada tantangan lain, Ketua?"
Revo mengepalkan tangan. "KAMU—nyanyi!
Varren menatap Revo sebentar, lalu tersenyum miring. "Nyanyi? Lagu apa?"
"TERSERAH!"
Dengan tenang, Varren mulai bersenandung. Lagu anak-anak, dengan nada datar dan tanpa ekspresi. Beberapa siswa baru terkekeh. Senior-senior lainnya saling melirik bingung.
Revo benar-benar tidak bisa berkata-kata. "Kau… kau sungguh keterlaluan!"
"Gue cuma ngikutin instruksi."
Sylas dari barisan depan menatap Varren dengan tatapan sulit dibaca. Ada sesuatu di balik tatapan dinginnya—mungkin kekaguman, mungkin rasa penasaran.
---
MOS berlanjut dengan tantangan berikutnya. Kali ini tantangan berpasangan.
"Pasangan akan kami tentukan dengan undian!" teriak senior di panggung.
Nama-nama mulai dipanggil. Reja dipasangkan dengan Tavian—mereka berdua langsung tertawa lega. Sylas dipasangkan dengan Farhan, yang tampak gugup di dekatnya.
Varren menunggu dengan tenang.
"Dan pasangan berikutnya… Varren Lucien Kaelor dengan—"
Drum roll kecil.
"—Celine Aurelia Wijaya!"
Varren membeku.
Celine?
Dari kerumunan, seorang gadis cantik melangkah keluar. Rambut panjang hitam pekatnya tergerai indah, seragam putih abu-abunya dikenakan sempurna. Matanya langsung mencari Varren—dan ketika bertemu, senyumnya melebar.
"Varren!" seru Celine gembira. "Aku tidak tahu kamu di sini! Sungguh kejutan yang menyenangkan!"
Varren terdiam. Kenapa dia ada di sini? Apa ini rencana mama?
"Varren?" Celine mendekat. "Kamu baik-baik saja?"
"Gue baik," jawab Varren datar. "Kita selesaikan tantangan ini dulu."
Celine tersenyum patuh. "Baik, Sayang."
Varren hampir tersedak. Reja dan Tavian saling melirik dengan tatapan penuh selidik. Sylas dari kejauhan memperhatikan dingin.
Tantangan mereka: membawa telur di sendok sambil melewati rintangan. Varren melakukannya dengan cepat dan stabil. Celine berusaha mengikuti, tapi beberapa kali hampir terjatuh. Varren buru-buru menangkapnya.
Celine tersenyum malu. "Maaf, Varren. Aku gugup dekatmu."
Varren tidak menjawab. Ia hanya terus bergerak maju, menjaga jarak di antara mereka.
Mereka berhasil menyelesaikan tantangan. Celine bersorak kegirangan. "Kita berhasil, Varren! Aku senang banget!"
Varren hanya mengangguk. "Ya."
Celine terus menempel, berbicara tentang betapa ia merindukan Varren, betapa ia sudah mempersiapkan masa depan mereka. Varren mendengarkan dengan setengah hati.
Reja mendekati Varren. "Ren, lo..."
"Nanti," potong Varren cepat. "Gue jelasin nanti."
Tapi Celine telah mendekat. "Varren, aku tahu kamu masih sulit terbuka, tapi aku sabar." Ia menggenggam tangan Varren.
Varren menatap tangan Celine yang menggenggamnya. Rasanya aneh. Salah.
Varren menarik tangannya perlahan. "Cel... nanti ya. Gue masih ada urusan."
Celine tampak kecewa, tapi tetap tersenyum. "Baik, Sayang."
Varren berbalik dan melangkah cepat. Ia hanya ingin menjauh.
Di kejauhan, Sylas menatap Varren dengan tatapan sulit dibaca. Matanya mengikuti sosok Varren yang menjauh, lalu beralih ke Celine yang masih tersenyum manis.
Apa hubungan mereka sebenarnya?
Bersambung...