Lanjutan Dari Novel Terpaksa Menikah. Sebelum membaca kisah dari Anak - Anak Raka dan Eva beserta sahabatnya. Mohon di baca untuk Season pertamanya.
Sebelum ke sini tolong baca dulu Terpaksa Menikah.
Memilih pasangan yang pas, seperti sang mama adalah keinginginan Rava Atmadja. Banyak keinginan yang ia dasari dari kisah cinta papa dan mamanya, yang bersatu karena sebuah kesalahan. Kesalahan yang menurut sang papa dan juga mamanya, adalah berkat dan kebahagiaan dengan hadirnya, Rava di kehidupan mereka.
.
Karena di Jodohkan oleh sang mama dengan anak sahabatnya, Rava mencoba untuk lari dari kenyataan. Dan berusaha untuk memilih yang terbaik antara pilihan sang mama dan juga pilihannya sendiri. Mari baca dan berikan dukungan kalian. Terima Kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putritritrii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MELAWAN PERASAAN.
"Hello Nona," sapa nya dengan suara lembutnya.
Sontak saja Rava dan Renata bersamaan menatap pada pria, tinggi, kekar, berkulit putih , dengan kaca mata hitam yang melingkar di kedua matanya, balutan baju casualnya tampak mempertegas ketampaanannya sedang menatap Renata dengan senyum yang melingkar di bibirnya.
"Hah... Tuan." balas Renata dengan raut wajahnya yang senang, lalu ia teringat sesuata, dengan gerakan refleks, Renata mengambil buku dalam tas yang di gantung di bahunya.
"Maaf... Tuan, ini... saya lupa mengembalikannya." ucap Renata dengan memberikan buku yang ia bawa, karena saat Renata terbangun, si Pria tadi sudah tidak ada. Sempat kesal, karena tetanggaan malahan meninggalkan dia, pikirnya.
Rava menatap pada keduanya, bagaikan tidak tampak, di tengah keduanya yang asik saling sapa dan tersenyum dengan manisnya.
"Tidak usah, ambilah. Sebagai perkenalan kita. Maaf, tadinya saya sedang ke toilet dan ternyata anda sudah meninggalkan saya." ucap Pria tersebut dengan senyum simpul.
"Benarkah?, Hah tidak masalah Tuan... Terima kasih. Kalau boleh tahu, siapa nama anda, Tuan? sedari di pesawat, kita sama sekali belum berkenalan." ucap Renata, sekilas melirik ke Rava.
Pria tersebut mengulurkan tangannya ke arah Renata, "Perkenalkan nama saya, Albert. Panggil aja Al." kata nya dengan ramah.
Renata pun mengulurkan tangannya, ingin membalas tangan dari Al, Rava pun menarik tangan Renata yang terulur dan menatap pada si Al. "Maaf Tuan Al, lain kali saja." ucap Rava langsung menarik Renata berjalan ke arah mobil yang sudah datang, pikirnya Harsen penyelamat yang tepat waktu.
"Lepaskan aku," ucap Renata menarik tangan Rava, seraya menatap kebelakang melihat Al yang bingung melihat ke arah Rava dan Renata.
"Jangan banyak bicara!" ketus Rava, menatap dingin ke Renata.
Renata pun semakin meronta-ronta, "Lepaskan aku! kau ini sudah gila ya!" teriaknya ke Rava. Rava pun terhenti, melepaskan tangan Renata.
"Jangan membuatku malu, Renata!."
"Kau sendiri yang membuatku malu! kenapa kau menarik tanganku!." ucap Renata enggak kalah marah.
"Kau itu... di sini dalam pantaunku, Renata. Jadi... Kau itu harus mengikuti, aturanku." ucap Rava dengan nada rendah.
"Kau tidak salah, Rava? Kau itu bukan siapa-siapa aku. Jadi tidak berhak untuk mengatur hidupk—."
"Jalan!." bentak Rava, karena malas berdebat, mana perutnya lapar lagi.
Renata kaget mendengar suara bentakan Rava padanya, menatapnya dengan kesal dan bibir yang di kerucutkan, kemudian berjalan ke arah mobil Harsen. Harsen hanya bisa menatapi keduanya, yang dari dulu tidak pernah akur. Membuat Harsen, sering jadi sasaran keduanya.
Renata memilih untuk duduk di depan, ia menghindari Rava, karena sangat kesal. Rava melirik sekilas ke arah Renata, saat ia berjalan ke arah bagasi mobil menyimpan koper Renata, tanpa meminta Harsen untuk turun.
Usai menutup pintu bagasi, Rava berjalan ke arah bangku pengemudi. Meminta Harsen untuk pindah kebelakang. Saat berganti kursi, Renata ingin turun , untuk duduk bersama Harsen di belakang, tangan Rava menahannya.
"Duduklah yang benar, di sini kau akan lebih leluasa untuk beristirahat dari perjalanan panjangmu." ucap Rava dengan suara terendah.
Tanpa menjawab, Renata pun kembali duduk dengan benar dan menatap ke arah depan. Ia benar-benar sangat kesal di buat Rava. Baru saja tiba, momen awalnya untuk mencari pria matang pun gagal di buat oleh Rava.
Rava melajukan mobilnya, sesekali ia melirik ke Ranata, yang benar-benar tidak bersuara. Rava semakin pusing di buat perubahan wanita di sampingnya itu. Sepertinya, Renata benar-benar serius tidak ingin menyangkut pautkan Rava di dalam hidupnya.
"Apa kau lapar?" Rava mencoba mengajaknya bicara.
"Tidak." balas nya singkat.
"Aku sangat lapar, sedari pagi aku belum makan. Karena aku ingin menjemputmu." ucap Rava jujur, Harsen di belakang tersenyum. Pikirnya, si Rava mencari perhatian pada Renata, dulu Renata yang terus-terusan mengajaknya berbicara. Dan Harsen sendiri menyadari perbedaan Renata.
"Bukankah aku tidak memintamu untuk menjemputku, dari mana kau tahu aku kemari! sengaja aku tidak ingin memberitahukanmu!." Renata kesal, ia pun menyandarkan kepalanya di kaca mobil dan memejamkan matanya.
Rava melirik ke Renata, "Apa kepalamu pusing?"
"Bukan urusanmu! Mengemudilah dengan baik, anggap saja aku tidak ada di sini! Oh ya, bawa aku ke apartemen di dekat perusahaan papaku bekerja sama 3 tahun lalu." ucapnya masih dengan memejamkan matanya.
"Baiklah," balas Rava.
Rava memutar lagu dari audio mobilnya, musik pengantar tidur. Dengan musik klasik, yang bisa membuat pikiran kita relax, musik yang biasa Renata putar.
"Tolong di matikan! aku terganggu." ucap Renata dengan ketus.
Harsen terkaget, apa lagi si Rava. Dia sempat menatap Renata, lalu ia menghentikan musik klasik dari audio mobil.
Rava sebenarnya sudah sangat geram, kenapa Renata menjadi seperti itu, pikirnya. Kenapa Renata berubah ketus, suka kesal, biasanya dia sangat manja, banyak berbicara, perhatian. "Entahlah... mungkin dia sudah lelah, denganku." gumamnya dalam hati.
Beberapa jam kemudian, mereka tiba di Apartemen yang pernah Renata singgahi , Renata yang benaran sudah tertidur, sangat enggan Rava untuk membangunkannya. Lalu Harsen dan Rava saling memandang.
"Sen... kembalilah ke kantor, naik taxy. Kalau saya bangunkan , saya kasihan, nanti kepalanya bisa pusing."
"Baik Tuan, apa Tuan enggak mau saya belikan, makanan dulu?" tanya Harsen menawarkan diri.
"Tidak usah, Sen. Nanti saya makan sendiri saja." balasnya.
"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi." balas Harsen dengan pelan membuka pintu dan turun dari mobil. Usai kepergian Harsen, Rava menatapi wajah Renata yang terrtidur pulas. Rava tersenyum, ada rasa bersalah di hatinya, tetapi Rava sangat perduli pada Renata dan yang lainnya. Apa lagi Renata yang mirip dengan Vara, pastila rasa untuk melindungi Renata sangatlah besar.
Rava memilih menyandarkan tubuhnya, menarik nafasnya sejenak , perutnya mulai berasa perih. Tangan nya berasa keringat dingin, "Sepertinya , anggota tubuhku mulai mau demo." ucap Rava mengusap keringat dingin di keningnya.
Selang beberapa menit, mata Renata mengerjap dan langsung menoleh ke Rava yang menatap dirinya. Sontak Renata duduk dengan benar, merasa ada keganjilan, kenapa hanya ada dia dan Rava pikirnya.
"Turunlah." perintah Rava kemudian turun dari mobil dan mengambil koper Renata. Renata memilih untuk mengikuti Rava. Keduanya berjalan masuk pada pintu Lobi Apartemen dengan fasilitas mewah.
Usai mengurusi sewa apartemennya Renata, keduanya berjalan ke arah lift dan nenuju lantai 16 tempat di mana kamar Renata. Tidak ada kata-kata yang keluar dari dalam mulut keduanya, hanya saja Renata sekilas menatapi wajah Rava yang tampak pucat.
"Kenapa menatapku!" Rava tahu Renata berkali-kali melirik ke arahnya.
"Perasaan!." Renata menyangkal, dan memilih memandang kedepan.
Suasana kembali hening, Renata tidak berani menatapnya lagi. Takut kena semprot cairan pengusir hama dari mulut Rava.
Tingggg.....
Pintu Lift terbuka, Rava meminta Renata untuk jalan duluan. Saat hampir tiba 5 kamar dari tempat Renata tuju, tampak Al yang juga menginap di satu Apartemen dengannya. Dengan mata yang tak kala kagetnya, Renata memanggil Albert yang juga barusan tiba di depan pintunya.
"Al," seru Renata dengan senang.
"Kamu di sini juga, Nona?" jawabnya seraya melirik ke Rava.
"Iya, saya 5 kamar dari sini." balas Renata senang.
"Kemarikan kunci kamarmu!" minta Rava dengan kesal.
Dengan cepat Renata membarikan kuncinya ke Rava, lalu melanjutkan perkenalan mereka yang tertunda tadi karena Rava memotong.
"Sepertinya, ada yang tidak beres dengan kekasih kamu, Rena." ucap Al.
"Perasaan kamu saja, Al... hahaha." Renata pun merasa begitu, tapi dia tidak ingin mengada-ngada.
"Maaf Al, aku ke kamar dulu, ya." batinnya tidak tenang, usai mendapatkan jawaban si Albert, dengan berjalan cepat Renata masuk kedalam kamarnya.
"Mana dia," gumam Renata melihat ke sekeliling kamarnya.
Hueeeekkk.... Hueeekkkk...
Suara Rava terdengar dari arah kamar mandi, dengan cepat Renata berlari ke arah kamar mandi. Ternyata pintu di kunci dari dalam, dengan kepanikan yang tinggi Renata menggedor pintu dan memanggil nama Rava yang tidak di jawabnya.
"Apa kau mendengarkanku! aku katakan padamu, Rava buka pintunya." teriak Renata menjadi-jadi.
Ada lima menit di dalam sana , suara Rava memuntahkan sesuatu dari dalam mulutnya. Hingga pintu kamar mandi terbuka, dengan wajah yang pucat dan lemas , Renata menyentuh tubuh Rava dengan rasa paniknya.
"Kau... Kenapa denganmu! Apa ada yang salah?" tanyanya dengan menyentuh kedua pipi Rava dan mencoba ikut mengusap perut Rava yang di sentuh Rava sendiri.
"Sudahlah... Jangan memperdulikanku. Lakukan sesuai dengan yang kau mau, bersikap seperti awal kita berjumpa." balas Rava dan mencoba berjalan sendiri.
Renata menarik lengan Rava, "Aku tanya kau kenapa, Rava! apa kau hamil? Siapa yang berani mengahamilimu, Apakah si Vanessa, apa ada perempuan lain di Negara ini, katakan padaku! biar aku bisa mencari mereka dan membawa mereka padamu."
Rava menepis tangan Renata, "Aku sedang tidak ingin bercanda Renata. Jaga dirimu baik-baik, aku mau pulang."
"Ravaaaa! apa kau tidak paham dengan perasaanku selama ini! Kau terus saja menyakiti perasaanku. Dan baru saja aku menghukummu, kau sudah seperti ini." ucap Renata meneteskan air matanya dengan rasa bersalah. Renata tahu, Rava tidak makan seharian karena ingin menyambut dan mejemput dirinya . Di ajak untuk menemaninya makan, Renata sengaja tidak mau. Renata tidak mau perduli lagi dengan Rava, tapi kenyataannya apa. Ravalah yang menariknya untuk kembali lagi perduli padanya.
Rava tersenyum dan mengusap air mata Renata, "Jangan menangis.... Kau sangat jelek kalau lagi menangis, carilah kebahagiaanmu, aku sudah sangat banyak membuatmu menderita, jangan menyakiti dirimu karena aku."
"Kau yakin? Apa aku boleh mencari pria lain?" isak tangis Renata semakin menjadi-jadi.
Rava tersenyum dan menganggukan kepalanya, "Yakin... Jika kau mau. Istirahatlah, aku akan pulang" balas Rava dengan sisa kekuatannya, mencoba berjalan keluar kamar Renata.
Baru saja hendak melangkah, "Jika kau melangkah dari pintu kamar ini, aku benar-benar akan melapasmu." ucap Renata dengan suara berat.
Rava tersenyum dan berjalan mengarah ke pintu keluar. Renata semakin terisak.
Bragggggg....!!!!
terima kasih krn masih mau menulis cerita untuk kami di sini 😍😍