Blurb :
Seorang dokter muda, tanpa sengaja bertemu dengan gadis SMA.
Gadis tanpa orang tua itu diam-diam mengidap satu gejala penyakit yang berbahaya jika terlambat ditanganinya.
Mereka kembali dipertemukan sebagai pemilik dan penyewa rumah yang akhirnya terpaksa harus tinggal bersama.
Bukan hanya cerita tentang Dokter dan pasien-nya, melainkan ada kisah cinta di antara dua manusia yang berbeda usia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Interogasi
Pulang sekolah, Shasha memaksa Sita ke rumahnya, dia hanya ingin memperlihatkan bahwa ada orang lain yang mengisi rumahnya.
"Ngobrol di dapur aja, yuk, sambil aku masak buat makan siang Pak Wahyu," ucap Shasha setelah berganti baju.
Sita masih bertanya-tanya, mulai kapan rumah temannya itu berubah. Ada banyak alat medis bahkan ada seorang pasien yang menginap di sana.
"Berarti sekarang kamu tinggal bareng dokter ganteng itu Sha?" Mata Sita membulat ketika Shasha bahkan belum menyelesaikan ceritanya.
"Gak tinggal bareng, enggak!" Shasha segera menepis prasangka yang mungkin muncul di benak sahabatnya. "Aku tinggal di lantai atas kok, terus dia di bawah, jadi gak tinggal satu atap." Berusaha meyakinkan Sita supaya dia tidak berpikir yang tidak-tidak.
"Di atas atau pun di bawah, sama aja kali. Masih rumah yang sama," sanggahnya.
Shasha tampak menghela napas sambil mematikan kompor. "Terus aku mesti gimana?" Dia duduk di depan Sita, masih dengan wajah kalut.
"Kenapa gak minta bantuanku?"
"Waktu itu aku sempet mau hubungin kamu. Mau numpang tidur barang semalam aja karena Kak Rena gak ngizinin aku tidur di rumahnya, dan gak jadi karena takut ngerepotin, secara aku gak tau juga kan, setelah nginep di rumahmu, harus pergi ke mana lagi?" tuturnya sambil memilin ujung serbet yang tertata di meja makan.
"Terus?"
"Dokter itu menyarankanku untuk tinggal di lantai atas, karena di sana selalu kosong." Mata Shasha tertuju ke lantai atas. "Dia bilang, sayang banget kalau gak ada yang isi"
"Jadi gitu?" gumam Sita sambil manggut-manggut. "Pantesan akrab banget sama tu dokter ganteng."
"Mungkin, karena kebetulan dia itu ternyata teman kuliah Kak Zidan, Ta. Jadi aku bisa cepet akrab sama dia."
"Lha? Dia temen kuliah Kakakmu, Sha?"
"Iya, beda fakultas, sih, kan Kak Zidan ambil hukum, Kak Luthfie kedokteran, tapi katanya mereka cukup dekat."
Tetiba, terdengar seorang lelaki mengucap salam dari arah depan. Dia masuk dan terdengarlah suara percakapan dari sana. Tak lain, suara Luthfie yang baru pulang lalu menyapa Pak Wahyu di kamarnya. Kemudian menuju dapur sebelum masuk ke kamar.
"Udah pulang, ya?" serunya sambil menerobos tanpa melihat seseorang di depan Shasha. Saat ia mengambil minuman dingin dari lemari es, sudah tercium wangi masakan yang baru matang dari atas kompor.
"Makin hari, makin pinter masak calon istriku ini. Coba kulihat, masak apa tadi." Dia buka penutup wajan sambil menghirup wanginya.
Sita tampak membulatkan matanya. "Apa? Calon istri, Sha? Dia bilang calon istri?" Dia melirik Shasha heran. Suara Sita membuat Luthfie segera memutar badan sambil mengerutkan kening.
Luthfie kaget setelah menyadari ternyata di dapur tidak hanya ada dirinya dan Shasha saja.
Shasha hanya menggaruk-garuk kepalanya sambil mendesis kesal, karena Luthfie selalu mengulang candaan itu.
"Bercanda, Ta." Ia menyilangkan tangannya sambil menggelengkan kepala, berusaha meyakinkan Sita untuk tidak menanggapi ucapan Luthfie. Sesekali dia menatap tajam ke arah Luthfie dengan mata melotot.
"Ternyata ada tamu, ya. Maaf saya gak lihat tadi." Luthfie coba menebak sambil berjalan ke arah mereka. "Sita, ya?"
"Kok, tau, Pak Dokter?" tanya sita dengan wajah berseri-seri. "Pasti Shasha suka cerita soal aku, bener, gak?"
"Iya, katanya Banana gak punya teman selain Sita," jawabnya sambil meneguk air minum lalu duduk bertiga.
"Banana...? Siapa Banana?" Sita dibuat bingung lagi.
"Ah, sudahlah. Kak, mending bawain makan buat Pak Wahyu, daripada ngomong mulu, gak jelas banget," ucap Shasha sambil menyerahkan nampan berisi makanan dan sedikit mendorong tubuh Luthfie supaya cepet pergi dari hadapannya.
"Iya, iya. Jangan didorong, entar tumpah makanannya." Nada bicaranya lembut seperti bicara pada anak kecil.
Setelah dokter itu benar-benar pergi, Sita kembali mengguncang pundak Shasha supaya dia memuaskan rasa penasarannya. "Cepetan, Sha, cepetan. Ceritain semuanya."
"Gak ada yang perlu diceritain lagi, Ta. Dokter itu emang suka kelewatan kalau bercanda. Dokter aneh, emang. Jan heran, ya kalau dia kek gitu."
"Seaneh itu kah? Sampe dia manggil kamu calon istriku? Kenapa gak manggil adikku aja, gitu?"
"Gara-gara candaan pasien itu, Ta. Sebenarnya dia gak niat manggil calon istri. Spontan aja kali," ucapnya sambil mengangkat kedua bahu dan mengernyitkan dahinya bersamaan.
"Terus Banana itu siapa? Kok, dia bilang temen Banana cuma aku?"
"Ya aku. Sudah berkali kali aku bilang, namaku Banafsha, tetep aja dia panggil aku Banana. Lama-lama, pegel juga kan bibirku ngasih tau, ya udahlah suka-suka dia aja mau manggil apa. Yang penting kamu sudah tau, ya, kalau dia itu dokter aneh. Udah jangan nanya lagi."
Sita hanya terkekeh menahan tawa.
"Ya udah Sha, kalau gak boleh nanya lagi, aku pulang aja, dah sore juga ini."
"Eh, kok gak makan dulu?"
"Tar aja di rumah, soalnya tadi Ibu telepon, dia masak seafood kesukaanku banyak banget katanya."
"Tapi kamu janji ya, kapan-kapan nginep sini."
"Ya, kapan-kapan tapi gak janji, soalnya kan kamu tau sendiri, sekarang kita masih sibuk persiapan ujian dulu." Sita berdiri sambil menarik tas gendongnya.
"Ayo, anter aku sampe depan. Jan lupa, sampein salam buat dokter ganteng, ya."
"Idiihh... apaan. Bilang aja ndiri." Shasha bergidik.
°
°
°
BERSAMBUNG.