Sekali dalam hidupnya Safana pernah jatuh cinta. Namun enam tahun lalu Ia mengubur semua hal tentang pria itu.
Hingga takdir mempertemukan mereka kembali, disaat Ia telah memiliki Ayu dan pria yang dicintainya memiliki Alia.
Akankah ia membiarkan pria itu memporak-porandakan hidupnya lagi demi sebuah cinta yang Ia ragukan pernah ada ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratna dks, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perih hati
Pagelaran berlangsung meriah, banyak undangan yang hadir menyaksikkan fashion show busana koleksi terbaru perusahaan batik Prapta.
Dibuka dengan lantunan lagu dari artis kenamaan ibukota, lalu dilanjutkan dengan penampilan para model yang memperagakan busana batik ready to wear bergaya K Pop dengan motif tabrak dan potongan yang simple.
Prapta dan istrinya duduk dibaris depan. Di sebelah Safana, Pak Awi dan istri turut hadir. Sementara disebelah Prapta, para tamu undangan.
“Koleksi busana batik perusahaan anda begitu simple. Sangat cocok dengan kebutuhan pasar eropa”
Mendengar komentar pria disebelahnya Prapta menoleh.
“Saya Wawan. Staff Deperindag yang ditugasi oleh Bu Menteri untuk datang melihat hasil kreativitas batik perusahaan Anda. Bisa kita bicara di belakang, disini agak bising”
“Bisa” Prapta berdiri dari kursinya, begitu juga Wawan.
“Aku ke belakang sebentar”
Safana yang sejak tadi menyimak perbincangan Mereka mengangguki.
“Deperindag akan mengikuti kegiatan International Trading Days di Casablanca, Maroko. Tujuannya untuk membangun dan memperkuat citra produk Indonesia yang berkualitas. Produk yang akan ditampilkan adalah furniture, perhiasan, fashion, food dan dekorasi rumah. Kalau perusahaan anda berminat bergabung untuk merambah pasar dunia Kami akan menyediakan stand untuk promosinya. Sedang akomodasinya ditanggung pihak perusahaan Anda. Bagaimana ?”
“Itu tawaran yang menggembirakan. Kami bersedia mengikuti pameran tersebut. Mengenai akomodasi bukan masalah bagi Kami“ Prapta menyambut antusias.
“Kalau begitu besok Saya tunggu di kantor Deperindag untuk pembicaraan lebih lanjut mengenai sample produk yang akan Anda bawa dan schedule disana. Saya permisi” Wawan pamit meninggalkan tempat acara.
Prapta mengangguki.
Sepeninggal Wawan, Prapta melihat ke depan. Istrinya masih duduk menonton pagelaran yang menurutnya membosankan.
Dulu sebelum menikah Ia selalu bermain bersama para model di backstage untuk mengisi kebosanan hingga acara selesai.
Mengingat itu Ia jadi terpikir untuk mengulangnya. Prapta pun berlalu menuju belakang panggung.
Beberapa model tampak sibuk berganti baju, beberapa lainnya menunggu giliran tampil. Prapta melihat dari kejauhan dan tak berniat menghampiri.
Tapi tunggu, ada satu gadis yang sejak kemarin membuatnya penasaran. Gadis itu tengah mengutak atik kamera nikon DSLR-nya yang sepertinya tidak berfungsi.
"Sedang apa ?" Prapta berdiri dibelakang punggungnya.
"Eh Mas Prapta. Ini, sebenarnya bukan sesuatu yang penting. Saya ingin mengabadikan tiap adegan dalam sesi pagelaran busana yang sekarang berlangsung dengan kamera saya. Tapi nggak tau kenapa kameranya error" Lana menunjukkan pesan 'Err' yang muncul dipanel LCD kamera bagian belakang.
"Akan Ku ajarkan caranya memperbaiki" Prapta mengalungkan tangannya ke leher Lana sambil mengambil alih kamera ditangannya.
"Yang perlu Kau lakukan saat kameramu error adalah mematikan kamera, melepas lensanya dan membersihkan sambungan kontak antara kamera dan lensanya dengan tisu. Kau bawa ?" Sambil melakukan apa yang dikatakannya Prapta bertanya.
Di depan panggung pagelaran Safana duduk menunggu dengan gelisah. Ia bertanya -tanya kenapa suaminya belum juga kembali.
Ditolehkannya kepala kebelakang bangku deret pengunjung. Prapta tak tampak diantara kerumunan manusia.
Safana yang merasa tak tenang beranjak dari kursinya.
"Mau kemana ?" Bu Awi bertanya pada menantunya
"Mencari Mas Prapta"
Bu Awi mengangguki dan membiarkan Safana berlalu.
Safana berjalan menyisir kerumunan tiap tamu dan berharap bertemu Prapta. Tapi pria itu tak jua terlihat.
Ia yang kebingungan berpikir untuk mencarinya kebelakang panggung.
Prapta memasang sambungan kontak antara kamera dan lensa yang sudah dibersihkan Lana. Ia kemudian mencoba menyalakannya, pesan error kembalii muncul.
"Sepertinya tidak berhasil" Lana tersenyum kecut
"Terimakasih sudah mencoba memperbaikinya" Lana hendak mengambil kameranya. Tapi Prapta menahan.
"Masih ada cara lain yang mungkin berhasil" Prapta melepas batere kamera dan memasangnya kembali.
"Kalau kali ini berhasil kau harus menghadiahiku ciuman disini" Prapta menunjuk pipinya. Lana mengulum senyum malu-malu.
Keduanya terlalu asyik sampai tak menyadari Safana yang berdiri tak jauh dibelakang Mereka dan menyimak semua perbincangan.
Batere sudah terpasang, Prapta mencoba menyalakan. Pesan error tak lagi muncul dilayar LCD.
"Berhasil. Kau harus berikan hadiahnya" Prapta memberikan kamera ditangannya pada Lana.
Ia pindah berdiri ke hadapan gadis itu dengan mata tertutup. Lana malu-malu memberikan apa yang diminta pria itu. Ia mencium pipi Prapta.
Untuk beberapa detik Safana mematung tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Prapta membuka mata dan menyadari kehadiran Safana.
"Safana" Prapta menggumam, Ia tertangkap basah lagi dan tak tahu apa yang harus dilakukan.
Safana membalikkan badan dan berlari pulang tanpa mengindahkan Prapta yang mengejarnya.
semangat brkarya
seperti biasa karya kak Ratna selalu menarik untuk d baca❤❤❤
up
up
up
di tunggu up nya