NovelToon NovelToon
Mama yang Terlupakan

Mama yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Anak Genius
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Genki Harto, pewaris tunggal konglomerat terkaya se-Asia, baru berusia tiga tahun. Tapi setiap malam, dia mengemas baju-baju kecilnya ke dalam buntalan kain usang dan berjalan keluar gerbang mansion.
"Genki mau cari Mama."
Tidak ada yang bisa menghentikannya — bukan pengawal, bukan pengasuh, bukan ayahnya sendiri, Rayhan Harto, CEO yang membuat seluruh dunia bisnis tunduk. Satu-satunya hal yang bisa membuat Genki berhenti menangis... adalah seorang perempuan biasa bernama Keira.
Keira Yanto. Anak angkat yang selalu dianggap rendah oleh keluarganya sendiri. Desainer muda yang terbiasa menelan kepahitan dalam diam. Perempuan yang tidak ingat apa yang terjadi padanya empat tahun lalu — satu tahun penuh yang lenyap dari ingatannya.
Tapi Genki tahu. Entah bagaimana, anak kecil itu tahu.
Dia menolak semua orang, kecuali Keira. Dia memeluk Keira seperti sudah mengenalnya seumur hidup. Dan saat Rayhan mulai menyelidiki masa lalu Keira yang hilang, kebenaran yang muncul jauh lebih mengerikan dari yang ia bayangkan:
Keira bukan siapa yang ia kira.
Genki bukan anak siapa yang semua orang sangka.
Dan orang-orang yang selama ini tersenyum di hadapan Keira... adalah dalang di balik segalanya.
"Kamu bilang aku cuma anak angkat? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya berdiri di depanmu."
Saat identitas asli Keira terungkap, dunia mereka semua akan terbalik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14: Jawaban Sabtu Malam

Dua kata itu tinggal di kepala Keira sampai ia pulang dari Vila Biru, seperti janji yang belum berani ia sebut janji.

Sabtu malam.

Selama dua hari setelahnya, kata itu muncul di tempat-tempat yang tidak seharusnya. Di sela revisi deck untuk Naomi. Di antara tawa Salma saat makan siang. Bahkan ketika Keira sedang memilih warna benang untuk sample scarf, pikirannya tiba-tiba kembali pada suara Rayhan yang tenang.

Makan malam. Hanya kamu dan aku.

"Kamu sudah pilih baju belum?" tanya Salma pada Jumat sore, tanpa melihat dari laptopnya.

Keira pura-pura tidak mengerti. "Baju apa?"

"Baju untuk pergi sama pria yang membuat kamu menatap benang seperti sedang menatap masa depan."

"Salma."

"Aku serius." Salma menutup laptop, lalu memutar kursi. "Jangan pakai yang terlalu formal. Jangan juga terlalu kantor. Kamu punya dress hijau sage itu, kan? Yang bikin kamu kelihatan lembut tapi mahal."

"Aku belum bilang iya."

"Tapi kamu belum bilang tidak."

Keira diam.

Salma tersenyum, kali ini tanpa menggoda berlebihan. "Kei, kamu boleh pelan-pelan. Tapi jangan menghukum diri sendiri hanya karena rumahmu sering membuatmu merasa tidak pantas."

Kalimat itu membuat Keira menatap sahabatnya.

Salma mengangkat bahu. "Aku cuma bilang. Kalau bahagia datang dengan sopan, bukakan pintu sedikit."

Malam Sabtu akhirnya datang.

Keira berdiri di depan cermin kamar kecilnya, memakai dress hijau sage yang disebut Salma. Potongannya sederhana, jatuh lembut di tubuh, tanpa perhiasan mencolok. Ia membiarkan rambutnya terurai dan hanya memakai anting kecil.

Ponselnya bergetar.

Aku sudah di bawah. Tidak perlu buru-buru.

Rayhan bahkan menunggu dengan cara yang tidak membuat orang panik.

Keira mengambil tas kecil, lalu turun.

Mobil yang menunggunya bukan mobil paling mencolok milik Harto, tetapi sedan gelap yang cukup rapi untuk membuat satpam kos menoleh dua kali. Rayhan berdiri di samping pintu, kemeja hitam tanpa dasi, jas gelap, wajah tetap tenang.

Namun matanya berubah saat melihat Keira.

Tidak banyak.

Cukup untuk membuat langkah Keira melambat.

"Kamu cantik," katanya.

Keira menunduk sedikit. "Terima kasih."

"Aku mengatakan fakta. Kamu tidak perlu bingung menerimanya."

Pipi Keira panas. "Anda selalu begini?"

"Tidak."

"Lalu?"

"Hanya kepadamu."

Keira hampir berbalik masuk lagi.

Rayhan membuka pintu mobil untuknya. "Aku janji, setelah ini aku akan mengurangi kalimat yang membuatmu ingin kabur."

"Saya tidak ingin kabur."

"Bagus."

"Hanya ingin mengatur napas."

Sudut bibir Rayhan bergerak tipis. "Itu masih boleh."

Restoran yang dipilih Rayhan berada di Senopati, tidak terlalu ramai, dengan pencahayaan hangat dan meja yang cukup jauh dari tamu lain. Tidak ada lilin berlebihan, tidak ada biola, tidak ada dekorasi yang membuat Keira merasa sedang masuk iklan lamaran.

Hanya meja kecil dekat jendela, dua gelas air, dan menu yang disodorkan pelayan dengan sopan.

"Aku tidak memesan seluruh restoran," kata Rayhan saat mereka duduk.

Keira menatapnya.

"Kamu terlihat seperti takut aku melakukannya."

Keira tidak bisa menahan tawa. "Sedikit."

"Aku belajar."

"Dari siapa?"

"Dari wajahmu setiap kali melihat sesuatu terlalu mahal."

Keira menutup menu. "Wajahku seterbaca itu?"

"Untukku, iya."

Kalimat itu lagi-lagi sederhana, tetapi Keira merasa dadanya disentuh pelan.

Mereka makan tanpa banyak formalitas. Rayhan tidak memaksa Keira memilih menu mahal. Ia hanya menyarankan sup yang ringan ketika Keira tampak ragu, lalu membiarkannya menentukan sendiri. Percakapan mereka berjalan dari pekerjaan Keira di D.N, Genki yang masih marah karena tidak ikut, sampai Aiden yang mengirim pesan berisi foto dirinya pura-pura menangis di ruang keluarga.

Keira tertawa saat melihat foto itu.

"Dia benar-benar mengirim ini?"

"Dengan lima belas stiker."

"Kamu balas apa?"

"Aku blokir selama sepuluh menit."

Keira tertawa lebih keras.

Rayhan menatapnya dari seberang meja. "Kamu lebih sering tertawa kalau tidak sedang menahan diri."

Tawa Keira perlahan mereda.

"Mungkin aku terbiasa menahan diri."

"Aku tahu."

"Dari laporan Gio?"

"Dari caramu meminta maaf untuk hal yang tidak salah."

Keira menatap gelas airnya.

Rayhan tidak melanjutkan. Ia memberi jeda, seperti biasa. Dalam jeda itu, Keira tidak merasa dikejar. Ia merasa diberi ruang untuk memilih kalimatnya sendiri.

"Aku belum bisa menjanjikan banyak," katanya pelan.

Rayhan meletakkan sendok. "Aku tidak meminta janji besar."

"Aku masih takut."

"Aku tahu."

"Keluargaku rumit."

"Aku tidak takut pada hal rumit."

"Aku juga tidak ingin Genki kecewa."

"Genki tanggung jawabku. Perasaannya penting, tapi hubungan ini bukan beban yang harus kamu pikul sendirian."

Keira menggenggam ujung serbet di pangkuannya.

Rayhan menatapnya. "Kei, aku ingin mengejarmu dengan jelas. Tapi aku hanya akan maju sejauh kamu mengizinkan."

Di luar jendela, lampu jalan memantul di kaca. Jakarta malam itu tetap bising, tetapi di meja mereka, suara dunia terasa lebih kecil.

Keira mengangkat wajah.

"Kalau aku bilang aku mau mencoba?"

Tatapan Rayhan berubah.

Sangat pelan.

Seperti pintu yang akhirnya terbuka.

"Maka aku akan menjaganya baik-baik."

Keira menarik napas. Ini bukan keputusan yang datang dari keberanian besar. Lebih seperti langkah kecil setelah terlalu lama berdiri di tempat yang membuat kaki kebas.

"Aku mau mencoba," katanya. Suaranya bergetar sedikit, tetapi tidak mundur. "Denganmu."

Rayhan diam beberapa detik.

Lalu ia tersenyum.

Bukan senyum sopan. Bukan senyum tipis yang biasa hilang sebelum sempat diingat. Kali ini, senyumnya nyata, hangat, dan membuat Keira lupa bahwa pria di depannya adalah Rayhan Harto yang ditakuti banyak orang.

"Terima kasih, Kei."

Keira menunduk, tetapi kali ini bukan karena ingin bersembunyi. "Ray."

Nama itu keluar pelan.

Rayhan berhenti bernapas sejenak.

Keira mengangkat mata, malu tapi tidak menarik kembali ucapannya. "Kalau kita mencoba, aku harus mulai membiasakan diri, kan?"

Rayhan menatapnya seolah satu kata itu lebih berharga daripada semua angka di laporan keuangannya.

"Iya," jawabnya rendah. "Pelan-pelan."

Setelah makan malam, Rayhan mengantarnya berjalan sebentar di trotoar yang tidak terlalu ramai. Angin malam membawa aroma hujan yang belum turun. Keira berjalan di sisinya, jarak mereka dekat, tetapi tangan mereka belum bersentuhan.

Di depan mobil, Rayhan berhenti.

"Aku boleh menggenggam tanganmu?"

Keira menatap tangannya, lalu mengangguk.

Jari Rayhan menutup di sekitar jemarinya dengan hati-hati. Hangat. Kuat. Tidak memaksa.

Keira merasa sesuatu di dalam dirinya yang selama ini selalu bersiap mundur, perlahan berhenti berlari.

Rayhan menatapnya. "Kalau aku menciummu?"

Napas Keira tertahan.

Pertanyaan itu membuat wajahnya panas sampai ke telinga, tetapi justru karena Rayhan bertanya, ia tidak takut.

Ia mengangguk sangat pelan.

Rayhan mendekat, memberi waktu untuknya mundur jika berubah pikiran. Keira tidak mundur.

Ciuman itu turun lembut di bibirnya.

Tidak terburu-buru. Tidak menuntut. Hanya hangat yang pelan, seperti seseorang mengetuk pintu yang sudah ia izinkan terbuka.

Keira memejamkan mata.

Ketika Rayhan menjauh, ia masih menggenggam tangannya.

"Kei," bisiknya.

Keira membuka mata.

"Mulai hari ini, aku pacarmu?"

Pertanyaan itu terdengar terlalu serius untuk kalimat yang seharusnya ringan.

Keira tertawa kecil, masih malu. "Iya."

Rayhan mengangguk, seolah baru menyetujui keputusan penting perusahaan. "Baik."

"Baik saja?"

"Kalau aku terlalu senang, kamu bisa takut."

Keira tertawa lagi.

Rayhan mengantarnya pulang tanpa adegan berlebihan. Di depan kos, ia hanya memastikan Keira masuk sampai pintu dalam, lalu kembali ke mobil.

Begitu duduk, ponselnya bergetar.

Gio.

Laporan awal tentang Keira Yanto sudah masuk, Pak. Ada beberapa bagian masa lalunya yang tidak sesuai catatan resmi.

Senyum di wajah Rayhan menghilang perlahan.

Ia menatap pesan itu lama, lalu membalas singkat.

Kirim semuanya ke ruang kerjaku.

1
Diana Silaen
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!