NovelToon NovelToon
Silence

Silence

Status: tamat
Genre:Tamat
Popularitas:467.3k
Nilai: 4.8
Nama Author: Yen Lamour

WARNING 21+

Tidak ada seorang anak yang ingin menjadi Broken Home. Menjadi utuh lagi adalah impian Rayla Pramanta, seorang anak perempuan yang ditinggalkan sang Ayah ketika berumur 12 tahun dan kurangnya perhatian kasih sayang dari sang Ibu menyebabkan hubungan antar Ibu dan Anak seringnya berakhir dengan pertengkaran.

Seolah semua itu belum cukup, sahabat sekaligus menjadi cinta pertamanya juga tiba-tiba meninggalkan dirinya tanpa penjelasan apa-apa. Rasa takut kehilangan orang yang disayangi, juga takut menikah karena dampak dari pertengkaran kedua orang tuanya, membuat dirinya tertutup. Luka demi luka terus menemani dirinya hingga Rayla merasa semakin putus asa.

Dapatkah Rayla bertahan menjaga kewarasannya setelah mengetahui rahasia dibalik pertengkaran kedua orang tuanya? Apakah Rayla dapat memaafkan Ayahnya ketika akhirnya mereka bertemu kembali? Lalu, kepada siapakah Rayla membiarkan hatinya berlabuh dan mengatasi traumanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yen Lamour, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Happy reading 📖📖 ya guys

“Lo suruh gue datang tepat waktu, tapi lo sendiri malah telat!” gerutu Bella ketika melihatku yang baru tiba.

“Sorry. Jalanan macet. Gue menunggu taksi online sampai tiga puluh menit,” jawabku menjelaskan.

Bella hanya menguap lebar karena masih belum puas tidur. Matanya sedikit merah. Sepertinya semalam dia hangover lagi.

“Sarapan dulu, yuk!” ajak Peter yang tiba-tiba datang dari arah dapur.

Aku dan Bella mengikuti langkah Peter menuju dapur dari belakang. Agatha sedang duduk manis di sana.

“Semalam lo hangover lagi, Bel?” tanya Agatha. Matanya mengarah pada Bella yang sedang tidak bersemangat.

“Sudah saatnya kamu berubah, Bella. Mau sampai kapan seperti ini? Tempat itu dapat merusak kesehatan tubuhmu,” ucap Peter.

“Iya, gue tahu, Pak Peter. Mumpung gue masih muda boleh, dong, gue main-main dulu sepuasnya sebelum diajak berumah tangga.”

“Maksud lo, gue sudah tua, begitu?” protes Agatha.

“Bumil sensitif banget, sih! Nanti Vivi ikutan seperti ibunya sensitif, loh!” balas Bella dengan santai.

Alisku mengernyit. “Vivi? Siapa?” tanyaku.

“Violetta Wales. Kami sudah memberikan nama kepada putri kami,” jawab Peter. Ada rasa bangga dari nada suaranya.

Sebersit rasa cemburu menyelinap masuk dalam benakku ketika mendengar Peter mengucapkan nama putri mereka dengan bangga dan melihat Peter mengelus perut Agatha disertai senyum lebar bahagia.

Aku menjadi bertanya-tanya pada diri sendiri. Apakah saat mama sedang mengandungku, papa juga bersikap sama seperti Peter? Dengan bangga menyebut namaku di depan orang-orang?

‘Keberadaanmu adalah sebuah kesalahan’

Aku membuang napas berat menyadari kenyataan pahit bahwa diriku adalah hasil dari perselingkuhan. Mana mungkin papa berani menyebut namaku dengan bangga di hadapan orang lain?

“Hei! Jangan membuat kami cemburu melihat kemesraan kalian!” protes Bella tiba-tiba.

Suaranya membuatku tersadar dari pikiranku.

“Kalau lo cemburu jujur saja apa adanya, Bel. Jangan bawa gue ikut dalam drama lo.” Aku mendelik sebal kepada Bella.

“Kalau lo tidak cemburu, kenapa lo melihat mereka dengan tatapan mupeng? Aduh, coba saja kalau gue tidak putus dengan Erik. Gue juga bisa membangun rumah tangga yang bahagia seperti Agatha dan Peter. Ya, kan?”

Aku tersenyum geli mendengar ucapan sok tahunya Bella.

“Gue malah akan menyesal kalau gue bersedia menikah dengan Erik. Sekolah kursus keterampilan, high heel, make up, barang branded … baru dipikirkan saja sudah membuat gue sesak napas. Bagaimana kalau sudah dijalani?”

“What?” Agatha dan Bella sontak berteriak keras.

Peter terbatuk-batuk karena tersedak makanan. Agatha bergegas menepuk punggung suaminya dan memberinya air untuk minum.

“Sekarang aku mengerti mengapa aku harus menjauh dari kalian saat sedang berkumpul,” ucap Peter setelah dia berhasil selamat dari tragedi tersedak tadi.

Aku tertawa geli. “Lo harus terbiasa dengan suara cempreng mereka, Peter.”

“Shut up, La!” Agatha melirikku tajam.

“Kembali ke topik tentang kalimat yang diucapkan Rayla tadi,” tutur Bella kemudian. “Erik meminta lo mengubah penampilan lo?”

Aku tidak segera menjawab pertanyaan Bella. Kulirik Peter yang ternyata juga sedang menatapku.

“Jika kamu keberatan bercerita karena ada aku di sini, aku akan-”

“Tidak, Peter.” Aku segera memotong ucapan Peter. “Lo adalah suami dari sahabat gue. Berarti lo juga sahabat gue.”

Peter mengucapkan terima kasih kepadaku sementara Agatha tersenyum menatapku.

Aku mengerti maksud dari senyumannya. Aku tipe orang yang tertutup dan tidak dapat cepat berbaur dengan orang asing. Orang-orang terdekatku masih dapat dihitung dengan jari, yaitu tante Fifi, Maylin, Agatha, Bella dan Jason.

Tetapi seiring berjalannya waktu, sejak aku mulai akrab dengan Deon, aku mulai berpikir sampai kapan aku membatasi lingkungan pergaulanku?

Agatha akan segera menjadi seorang ibu. Tentunya dia akan sibuk dengan peran barunya itu setelah melahirkan.

Sedangkan bella, suatu hari nanti dia akan menemukan pria yang berhasil menarik hatinya dan membangun rumah tangga.

Aku tidak bisa terus-terusan bergantung kepada mereka.

“La, kami sedang menunggu lo bercerita.” Suara Bella yang tiba-tiba memanggilku, membuatku sadar bahwa aku tadi sedang melamun.

“Rayla!” panggilnya lagi dengan tidak sabar.

“Iya, iya. Bawel banget, sih, lo?” sungutku kesal.

Bibir bella kontras dengan namanya. Bel yang berbunyi tanpa henti saat kabelnya sedang korslet.

*****

“Mamanya Erik memang kurang sopan santun! Seenaknya menilai orang lain! Memangnya siapa dia, hah? Presiden, bukan. Ratu kerajaan, juga bukan. Sikap Erik juga sama saja seperti mamanya,” tukas Bella penuh emosi setelah mendengar ceritaku.

“Sebelumnya dia tidak pernah protes penampilanku,” ucapku.

“Mungkin dari awal dia memang keberatan sama penampilan lo? Dia hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk mengutarakannya?” Agatha mengerutkan alis. Satu tangannya menopang kepalanya dengan posisi kepala menyamping.

“Aku rasa bukan,” ucap Peter ikut memberi komentar. Sontak kami bertiga langsung menoleh ke arahnya bersamaan.

“Aku mengatakan ini dalam sudut pandang sebagai sesama pria. Menurutku dia tidak tahu bagaimana solusinya agar mamanya mau menerima Rayla,” imbuh Peter.

Ada jeda beberapa saat, sebelum Peter kembali melanjutkan pemikirannya. “Mungkin Erik tahu mamanya sangat keras kepala. Sulit untuk mengubah pola pikir mamanya. Keputusasaan, membuat dia mengatakan hal seperti itu kepadamu, Rayla. Dia berharap kamu mau melakukannya demi mempertahankan hubungan kalian.”

“Kalau begitu, bagaimana tentang wanita yang berbicara dengan gue di telepon? Gue bukan anak kecil yang bisa di bohongi, Peter. Apa yang sedang dia lakukan pada saat tengah malam, di tempat teman atau kekasih temannya itu?” tanyaku.

“Mengenai hal itu memang patut dicurigai. Mungkin saja dia hanya bermain-main dengan wanita itu. Atau mungkin saja wanita itu adalah wanita penghibur.”

“Mana ada seorang pelanggan bercerita tentang kekasihnya kepada wanita penghibur? Wanita itu bahkan, mengetahui nama gue,” ucapku sinis.

“Otak pria memang tidak jauh-jauh dari selanggkangann. Baru ditinggal jauh sebulan lebih saja sudah bertingkah mencari wanita simpanan hanya untuk buang sperrma, apalagi sampai enam bulan?” tukas Bella sarkasme.

“Keputusan lo memang tepat, La! Lo masih muda. Carilah pria yang umurnya tidak beda jauh sama lo. Erik akan menyesal karena sudah menyia-nyiakan diri lo.”

Aku berdehem keras, memberi kode kepada Bella melalui gerakan kepala menunjuk Peter dan tatapan mata 'Peter ada di sini dan dia juga salah satu jenis kelamin pria yang lo sebut tadi’.

Bella tersadar lalu segera berkata, “Sorry, ya, Pet. Lo tidak tersinggung atas ucapan gue tadi, kan?”

“It’s ok. Aku tidak tersinggung karena aku bukan tipe pria yang kamu katakan tadi. Agatha tahu seperti apa aku dulu sebelum menikah dengannya.” Kemudian Peter dan Agatha saling berpandangan dengan tatapan penuh cinta.

“Perut gue jadi mules. Numpang ke toilet, ya.” Bella berdiri dari kursi tempatnya duduk, lalu berjalan melangkah ke toilet.

Aku, Agatha dan Peter tertawa melihat reaksi Bella.

Agatha sangat beruntung bertemu pria yang sangat mencintainya. Aku berharap rumah tangganya selalu bahagia. Aku juga berharap kehadian anak dalam rumah tangga mereka, tidak akan merusak keharmonisan hubungan mereka berdua.

Peter Wales, pria campuran dari keturunan ras Chinese Hongkong-Skotlandia. Dia lahir di Indonesia, tetapi saat berumur lima tahun, keluarganya kembali tinggal di Skotlandia, negara kelahiran papanya.

Disebabkan karena Peter tinggal di Skotlandia lebih lama, dia tidak bisa menggunakan bahasa gaul Jakarta.

Peter baru kembali ke Indonesia ketika ia berumur dua puluh lima tahun, menjadi Direktur dari pusat perusahaan keluarganya. Peter satu-satunya pewaris anak sekaligus cucu keturunan pria di keluarga Wales. Semua aset perusahaan papanya dan kakeknya diwariskan kepadanya.

Dan ternyata perusahaan papa Agatha bekerja sama dengan perusahaan Wales sejak lama. Saat menyelenggarakan sebuah acara perusahaan, di sanalah Agatha dan Peter bertemu pertama kali, lalu jatuh cinta pada pandangan pertama.

Cerita cinta yang romantis bukan? Sayangnya tidak berlaku dalam kehidupanku.

Aku sangsi apakah dapat menemukan kisah cinta yang berakhir bahagia tanpa perlu menikah?

*****

Mobil Bella berhenti di depan gerbang rumahku. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam.

“Lo yakin bisa menghadapi tante Restin?” tanya Bella khawatir.

Saat aku masih berada di rumah Agatha, Maylin mengirim pesan Whats App kepadaku.

Maylin: Tante Nia tadi datang dan mengobrol lama dengan mama.

Maylin: Lo dan Erik putus? Thank’s, God! Sebenarnya gue dan tante Fifi tidak menyukai Erik, tapi kami tidak berani mengatakannya kepada lo karena kami menghargai pilihan lo.

Maylin: Mama sepertinya sangat marah! Walau dia tidak menunjukkannya di hadapan tante Nia, tapi gue bisa lihat dari raut wajah mama. Nanti lo harus hati-hati saat bicara dengan mama, ya.

“Semarah apa pun dia sama gue, tetap saja gue adalah anaknya. Tidak ada ibu yang lebih mementingkan orang lain daripada perasaan anaknya sendiri, kan?” jawabku berusaha untuk meyakinkan diri sendiri.

Bella membuang napasnya dalam. “Tante Restin bukan ibu yang baik, La. Maaf, gue berkata seperti itu, tapi memang begitulah kenyataannya. Kalau ada apa-apa, lo bisa cari gue. Apartemen gue masih ada kamar kosong. Selalu terbuka lebar untuk lo.”

Aku mencoba tersenyum padanya, tapi bibirku terasa kaku. “Thank’s, Bel.”

Aku beranjak turun dari mobilnya. Bella melambaikan tangannya kepadaku, lalu membawa mobilnya meninggalkan rumahku.

Jantungku berdebar dengan cepat. Tanganku gemetar sekaligus mengeluarkan keringat dingin.

Malam ini pulang ke rumah bagaikan menggali lubang kuburan untukku sendiri. Entah apa yang akan terjadi setelah aku masuk ke dalam rumah.

Ya, Tuhan. Aku mohon. Semoga mama tidak makin membenciku.

Dengan pelan kubuka gerbang pintu rumah, lalu berjalan melewati teras. Kuputar handle pintu, kemudian mendorongnya hingga terbuka lebar.

Mama sedang berdiri dengan wajah memerah menahan amarah. “Ma ....”

Semua terjadi terlalu cepat. Mama mengambil vas bunga yang berada di sampingnya, kemudian melemparnya ke arahku tanpa sempat dicegah siapa pun.

Refleks kedua mataku tertutup dan  kedua tanganku terayun ke atas untuk melindungi bagian kepala.

Suara teriakan Tante Fifi dan Maylin terdengar sangat nyaring bersamaan dengan suara pecahan vas bunga.

Seluruh tubuhku gemetar dengan hebat. Telingaku berdenging. 'Keberadaanmu adalah sebuah kesalahan'. 

Suara itu kembali menggema dalam kepala. Dadaku terasa sesak. Air mata tiba-tiba mengalir tanpa bisa ditahan.

When did this end? Who’s Right, Who’s Wrong?

Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘

1
Lia Kiftia Usman
mama mu terobsesi u dapat menantu kaya raya.. tanpa melihat keadaan dirinya dan keluarga nya..
g salah juga sebenarnya tapi lupa bekali anak dgn 'value' yg memungkinkan u naik kelas.
Lia Kiftia Usman
🖤🖤🖤
Lia Kiftia Usman
dewasa pada saat nya..
Lia Kiftia Usman
begini rupanya pengusaha... dilihatnya mereka punya kehidupan diatas mapan... dibalik semua itu..ada proses panjang yang dijalani,tanggung jawab yg berat, bersakit2.. berat ...berdarah2..... sudah sepantasnyalah mereka menikmati ... hasil nya.
Lia Kiftia Usman
😭😭😭😭sedihnya sampai ke hati...

merasakan berada diposisi maylin, rayla...
Lia Kiftia Usman
suka deon...
Lia Kiftia Usman
si mama punya target tinggi u yg jadi menantu ... tapi tidak meninggikan kualitas anaknya (seperti mama erik utarakan)...🤷‍♀️, cantik saja tidak cukuplah
bunda DF 💞
deooon,, ❤❤❤
Fina Fitriani
cerita yang bener2 banyak penjelasan karena tidak semua pembaca paham atas setiap kata2 yg disuguhkan oleh penulis.... bagus banget ceritanya walaupun awalnya aga sedikit membosankan tapi makin kebawah makin menarik .. konflik keluarga yg buat haru dan tersenyum2 sendiri membacanya.... semangat💪💪 Thor karya yg bagus♥️👏👏👏♥️
Lia Kiftia Usman
🖤🖤🖤🖤
Lia Kiftia Usman
jikalau saya punya anak laki2... kan saya ajarkan seperti deon bila bertemu dgn yg dicintai nya..😊
Lia Kiftia Usman
/Heart/...deon
Lia Kiftia Usman
tapi marah juga wanitanya ciuman dgn yg lain... 🤭
Lia Kiftia Usman
Luar biasa
Rifka Aqila
cerita ini menyentuh hati, Aku dapat merasakannya
Suyudana Arta
when nothing go'es right, go left.
Lia S
selamat thor..tamat 1 cerita. karyamu indah sangat ternikmati.
cinta dan dendam kami tunggu
Lia S
karya yang good
Yolan Apolonia
ya ampun deon
Yolan Apolonia
semangat mengejar cintamu Deon😇
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!