Aryo Pradana adalah seorang pengusaha sukses, namun sayang berada di puncak pencapaian dengan bergelimang harta tak lantas membuatnya jadi suami bersyukur. Ia memilih mengkhianati Sekar—istri setianya yang berasal dari garis keturunan dukun terkuat di sebuah desa terpencil asal Banyuwangi.
Demi ambisi dan gairah, Aryo menikah siri dengan Maya, gadis kota, muda, namun ambisius. Alih-alih meratap dan menangisi nasibnya, Sekar yang mengetahui pengkhianatan ini justru memilih mundur dengan keheningan yang mematikan.
Ketika Maya mulai mengandung anak Aryo dan menuntut posisi sebagai istri sah satu-satunya, teror gaib yang legendaris, Santet Pring Sedapur, mulai dikirimkan.
Di balik keputusasaan Aryo untuk menyelamatkan istri mudanya, ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa satu-satunya cara menghentikan teror ini adalah menyerahkan kembali jiwanya pada Sekar—atau mati bersama seluruh keturunannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 - Kyai Zainal
Membawa raga Maya yang kaku keluar dari kepungan energi hitam Pondok Indah adalah sebuah mukjizat yang dibayar mahal oleh sisa kewarasan Aryo. Di dalam mobil SUV hitam yang dipacu Danu menembus awal badai malam satu Suro, Maya terbaring di kursi belakang, dibungkus kain mori putih yang terus-menerus merembeskan cairan hitam berbau belerang.
Namun, Aryo yang didera ketakutan akut melakukan sebuah langkah di luar rencana investigasi Danu. Sebelum mereka mendaki lebih jauh ke lereng Gunung Salak, Aryo diam-diam menghubungi kerabat lamanya di Jawa Barat, memohon jalur darurat untuk menemui seorang ulama sepuh yang dikenal memiliki karomah benteng spiritual kuat.
Aryo tidak lagi memercayai metode forensik. Dalam keputusasaannya, ia menginginkan intervensi ilahi yang instan.
Menjelang pukul sembilan malam, mobil mereka berbelok masuk ke sebuah kompleks pesantren tua yang tersembunyi di balik rimbunnya pohon-pohon melinjo di daerah paruh bukit menuju kaki gunung.
Pesantren Al-Ikhlas.
Tidak ada kemegahan arsitektur di sana, hanya deretan asrama kayu sederhana dan sebuah surau tua berbahan jati yang memancarkan ketenangan kontras dengan kegelapan yang mengekor di belakang mobil mereka.
Di dalam surau yang temaram oleh lampu minyak, seorang pria sepuh berpakaian jubah putih bersih dan sorban hijau tua telah menunggu bersila di atas sajadah khusyuknya.
Beliau adalah Kyai Zainal, seorang ahli fiqih sekaligus praktisi ruqyah syari'iyyah sepuh yang menghabiskan sisa usianya untuk membersihkan penyakit-penyakit tauhid di kalangan masyarakat.
Wajahnya yang dipenuhi jenggot putih memancarkan aura keteduhan yang mendalam, sepasang matanya yang sayu namun tajam langsung mengunci raga Maya yang digotong masuk oleh Aryo dan Danu.
Danu meletakkan tas kulit buayanya di dekat pintu surau, memilih berdiri di sudut ruangan tanpa mengintervensi. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, memperhatikan dengan tatapan investigator yang skeptis namun menghormati wilayah kekuasaan sang ulama.
"Anakku Aryo," suara Kyai Zainal mengalun tenang, berat, dan penuh wibawa. "Kamu datang membawa beban yang bukan hanya merusak raga wanita ini, tapi telah meruntuhkan tiang-tiang imanmu sendiri karena sumpah masa lalu."
Aryo bersujud di depan sejadah Kyai Zainal, menangis sejadi-jadinya hingga dadanya naik-turun.
"Tolong, Pak Kyai ... tolong ruqyah istri saya. Dia disiksa oleh sihir hitam dari wetan. Anak saya di dalam rahimnya sudah hilang ... kulitnya juga mengeluarkan paku. Saya mohon, bersihkan setan-setan itu dari tubuhnya, Pak Kyai!"
Kyai Zainal menghela napas panjang, menatap raga Maya yang diletakkan di atas tikar pandan di tengah surau.
Tubuh wanita muda itu melengkung kaku, dan dari sela-sela kain mori yang membungkusnya, terdengar bunyi berkerotok halus—jarum-jarum di dalam dagingnya mulai bereaksi negatif terhadap atmosfer suci surau tersebut.
"Ruqyah bukan mantra pembalik nasib, Nak Aryo. Ruqyah adalah pembongkar kepalsuan," kata Kyai Zainal tenang. Beliau bergeser mendekati kepala Maya, meletakkan sebotol air putih yang telah didoakan di sampingnya, lalu mulai memakai sarung tangan kain putih. "Sihir tidak akan bisa menetap jika rumahnya bersih. Tapi jika pondasi rumah itu dibangun di atas air mata perempuan lain dan pengkhianatan sumpah, maka setan-setan itu merasa memiliki hak milik atas raga ini."
Kyai Zainal memejamkan mata, meletakkan telapak tangan kanannya beberapa sentimeter di atas kening Maya yang kuyu dan berserat abu-abu.
Beliau mulai merapalkan ayat-ayat suci Al-Qur'an—Ayat Kursi, surah Al-Falaq, dan An-Nas—dengan tartil yang sangat fasih dan bertenaga. Suara lantunan ayat suci itu menggema di dalam surau tua, menggetarkan dinding-dinding jati yang kokoh.
Bzzzzz ....
Reaksi instan yang mengerikan langsung terjadi. Begitu ayat-ayat suci dibacakan, tubuh Maya yang semula pingsan mendadak tersentak hebat. Sepasang matanya melotot terbuka, putih sempurna tanpa ada bagian hitamnya.
Dari dalam tenggorokannya, keluar suara erangan berlapis-lapis—perpaduan antara pekikan wanita muda, lenguhan berat orang tua, dan derit patahnya batang bambu hijau yang basah.
"Matiii!!! Wong kutha iki kudu matiii!!!"
Raga Maya menjerit menggunakan bahasa Jawa kuno yang kasar, suaranya menggelegar memecahkan keheningan pekatnya malam di pesantren.
"Siapa kamu?! Keluar dari raga hamba Allah ini!" bentak Kyai Zainal dengan nada yang meninggi, suaranya tetap stabil tanpa ada rasa takut sedikit pun. Beliau mempercepat ritme bacaan surah Al-Baqarah.
Seer ... serrrr ....
Kulit leher Maya kembali melepuh hebat. Di bawah siraman ayat suci, kekuatan Pring Sedapur justru melakukan perlawanan yang sangat brutal.
Tiga buah paku bumi berkarat sepanjang belasan senti mendadak mendesak keluar dari balik kulit dadanya, menembus kain mori putih hingga darah hitam berbau busuk karat menyembur keluar, membasahi tikar pandan surau.
"Aaaahhh! Panasss! Panasss!"
Entitas di dalam tubuh Maya meraung, namun ia tidak mundur. Sebaliknya, udara di dalam surau tua itu mendadak dipenuhi oleh suara gerisik dedaunan bambu yang sangat bising ... srekk ... srekk ... srekk ... seolah-olah sekelompok penabuh gaib sedang mengepung surau dari luar dinding kayu.
Danu yang berdiri di sudut ruangan melihat alat EMF Meter di dalam saku mantelnya berbunyi konstan tanpa putus, sementara suhu udara merosot hingga ke titik ekstrem yang membuat napas semua orang berembun.
Kyai Zainal terus bertahan, keringat dingin bercucuran di dahinya yang berkerut. Beliau mengambil air doa, lalu memercikkannya ke wajah Maya sambil terus melantunkan ayat-ayat pembakar sihir.
Cesssss!
Uap putih menyengat mengepul dari wajah Maya. Kulit wajahnya yang robek horizontal bergetar liar, dan dari sela-sela robekan itu, keluar untaian serat bambu hitam yang kaku dan tajam.
Entitas Pring Sedapur di dalam tubuh Maya mendadak memutar leher raga itu hingga seratus delapan puluh derajat ke arah Aryo yang sedang membaca istighfar dengan gemetar di sudut lain.
"Aryo ... utang getih dibayar getih! Kyai iki ora bakal bisa medot perkoro adat!"
Suara itu bergaung kencang, disusul oleh hantaman angin gaib yang sangat besar dari arah luar pintu surau.
Brakkk!!!
Pintu kayu jati surau tua itu jebol dihantam angin hitam bercampur jelaga mistis kembang kantil. Seluruh lampu minyak di dalam surau padam seketika.
Di dalam kegelapan yang pekat, Kyai Zainal mendadak terbatuk darah, memegangi dadanya sendiri seolah ada pasak tak kasat mata yang baru saja menghantam ulu hatinya dari jarak jauh. Beliau jatuh terduduk di atas sejadahnya, napasnya memburu kaku.
Ruqyah syari'iyyah itu tidak gagal karena ayat sucinya kalah, melainkan karena target utamanya—Aryo—belum menyelesaikan secara syariat dan adat urusan hak manusia (habluminannas) dengan Sekar di Banyuwangi.
Sumpah darah itu memiliki legalitas mistis yang kuat karena Aryo sendiri yang menyerahkan ibu jarinya untuk diikat belasan tahun lalu.
Danu segera melangkah maju, memantik korek kuningan tuanya untuk mengusir sisa kabut hitam yang mulai memenuhi surau, lalu membantu Kyai Zainal berdiri.
"Maaf, Pak Kyai, energinya terlalu kuat karena jangkarnya mengikat hak darah yang belum ditunaikan," ucap Danu dengan suara baritonnya yang tenang, membantu sang ulama sepuh menyeka sisa darah di bibirnya.
Kyai Zainal menatap Aryo dengan pandangan mata yang penuh rasa prihatin sekaligus peringatan keras.
"Anakku Aryo ... apa yang dikatakan makhluk itu benar. Al-Qur'an adalah syifa (penyembuh), tapi Allah tidak akan mengangkat sebuah azab selama kamu belum menyelesaikan kezalimanmu pada manusia yang kamu aniaya. Bersihkan dirimu dulu di tempat asalmu, kembalikan apa yang menjadi hak perempuan itu, baru raga ini bisa dibersihkan secara total."
Kyai Zainal menarik napas berat, bersandar pada pilar surau yang retak.
Seseorang yang bisa memutus santett Pring sedapur Ki demangkah ??
Dia tidak mau "menjatuhkan" dirinya di hadapan Sekar.
tapi ....
pada akhirnya azab yang akan memaksa dia untuk "jatuh" ..... sejatuh jatuhnya
dasar laki laki tidak tau diri
Rumah Sekar? atau
alas Purwo?
Aryo yang berbuat
tapi Maya yang menanggung siksa jiwa dan raga atas ulah Aryo.
Aryo menderita dan hampir gila dengan menyaksikan semua penderitaan Maya yang terkena santett Pring Sedapurr
Maya sudah hampir menjadi Pring/bambu yang kering dan mati .