Cerita ini berlatar belakang seribu tujuh ratus tahun setelah pertarungan dewa, batu-batu sakral kini tersebar ke berbagai penjuru dunia, setiap kaum yang memilikinya memanfaatkan batu tersebut untuk kepentingan kaum mereka, Zeel Greenlight seorang pemuda dari kota benteng Clever kehilangan kedua orang tuanya saat peristiwa malam darah, inilah awal dari perjalanannya untuk mencari siapa dan kenapa pembunuhan itu terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefrie Pratama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 5 : Hutan Tidur
17 september tahun 1700, desa Bibury, wilayah netral.
Tok,tok,tok ....
Pagi itu Zeel dan Clare terbangun dari tidur karena suara ketukan pintu.
Zeel bangkit dari kursi kemudian pergi ke arah pintu kamar penginapan, sementara Clare masih setengah sadar di atas tempat tidur.
“Permisi,” terdengar suara dari balik pintu.
Kreeek ....
Zeel membuka pintu kamar penginapan.
Terpandang oleh Zeel sosok pemilik penginapan sedang berdiri tepat di hadapan kamar penginapan sembari memegang surat.
“Ada apa?” tanya Zeel sembari menggosok matanya.
Pemilik penginapan bertanya, “apakah nama tuan Zeel?”
“Iya,” kata Zeel.
Pemilik penginapan berkata, “kalau begitu ada surat untukmu.”
“Surat?” tanya Zeel.
Pemilik penginapan berkata, “pagi-pagi sekali seorang gadis muda datang menghampiriku, kemudian ia menyerahkan surat ini."
"Nama gadis itu ... siapa?" tanya Zeel penasaran.
Selepas itu pemilik penginapan menyodorkan surat itu pada Zeel.
Zeel menerima surat itu.
"Kalau begitu ... saya permisi dulu," tutur pemilik penginapan.
Zeel berkata, "terima kasih."
Lalu pemilik penginapan pergi ke lantai bawah.
Kreeek ....
Zeel menutup kembali pintu kamar.
Lalu Zeel duduk di kursi kemudian membaca isi surat tersebut.
"Jika kamu ingin mengetahui lebih banyak tentang batu sakral, datanglah ke kota benteng Haven, pergilah ke arah tenggara, kota benteng Haven ada di sana - tertanda Sophia"
Selepas membaca isi surat itu, Zeel membangunkan Clare lalu mereka bersiap-siap untuk pergi.
Setelah siap Zeel dan Clare pergi ke lobi penginapan untuk mengembalikan kunci penginapan.
“Ini kuncinya,” kata Zeel sembari menyerahkan kunci kamar.
Pemilik penginapan berkata, “kalian menginap hanya untuk satu malam?”
“Begitulah, ada tempat yang harus kami tuju.” Kata Zeel.
“Oh … begitu,” ucap pemilik penginapan.
Zeel berkata, “terima kasih.”
“Sama-sama,” balas pemilik penginapan.
Selepas itu Zeel dan Clare pergi ke arah timur mengendarai kereta chobo, hari itu cuaca cukup cerah serta sedikit berangin.
Jalanan sedikit becek karena pengaruh dari musim hujan.
Setelah menempuh beberapa jam perjalanan siang hari akhirnya tiba.
Zeel dan Clare memutuskan untuk mencari tempat singgah di hutan yang berada pada sekitaran mereka.
Mereka bertujuan untuk mencari sungai serta buah-buahan yang berada di hutan.
Wiilayah netral adalah wilayah yang tidak berada di bawah satu penguasa, tetapi wilayah ini di kuasai oleh sejumlah desa independen
Pedesaan kecil tersebar di berbagai titik pada wilayah ini.
wilayah netral didominasi oleh hutan hijau serta beberapa sungai kecil.
Setelah beberapa saat mencari sungai dan buah-buahan.
Zeel dan Clare menemukan sebuah sungai kecil serta beberapa pohon sunetta.
Lalu Clare menghampiri sungai kecil tersebut.
Sementara Zeel menghampiri pohon sunetta yang berada di sekitar sungai kecil.
Terlihat oleh Clare air sungai yang jernih.
Lalu Clare membentuk kedua tangannya seperti mangkok kemudian mengambil air sungai tersebut dengan kedua tangannya lalu meminum air sungai itu.
Sementara itu Zeel memetik sejumlah buah sunetta, pohon sunetta memiliki tinggi yang cukup rendah sehingga tidak sulit mengambil buahnya.
Buah sunetta yang tumbuh di tepian sungai ini nampak cukup banyak serta masih segar.
“Zeel kemarilah … air sungai ini sangat segar dan bersih,” ajak Clare.
“Sebentar,” balas Zeel sembari memetik buah sunetta.
Beberapa saat kemudian Zeel datang menghampiri Clare yang sedang berdiri di tepian sungai kecil.
Zeel datang dengan membawa sejumlah buah sunetta di tangannya.
Kemudian Zeel meletakan buah-buah sunetta itu di atas rerumputan yang berada di tepian sungai.
“Banyak sekali,” kata Clare dengan wajah terkejut.
Zeel berkata, “iya … mungkin karena pohon-pohonnya tumbuh di tepian sungai.”
Selepas itu Zeel meminum air sungai kecil itu, sesuai perkataan Clare air sungai itu segar dan bersih.
Zeel meminum air sungai itu hingga hausnya
hilang, lalu Zeel dan Clare duduk berseblahan di tepian sungai sembari menyantap buah yang Zeel petik.
“Manis sekali,” kata Clare dengan wajah senang.
Zeel berkata, “syukurlah kamu senang.”
“andai kita membawa kantung air … akan aku ambil air sungai ini sampai habis,” kata Clare.
“ini air mentah … tidak baik meminumnya banyak-banyak,” ucap Clare.
Clare dengan wajah tercerahkan berkata, “oh iya, guru juga pernah bilang begitu.”
“Guru?” tanya Zeel.
“Salah satu guru di pabrik kain pernah bilang begitu,” kata Clare sembari mengunyah buah sunetta.
“Zeel … kenapa kita pergi ke kota benteng Haven? Tanya Clare.
“Aku ingin mencari tahu sesuatu tentang mataku,” kata Zeel.
Clare berkata, “kalau begitu … Clare yang cantik ini akan menemanimu.”
“Terima kasih,” balas Zeel.
Lalu Zeel mengelus kepala Clare seperti majikan yang sedang mengelus kepala peliharaanya.
Clare tampak menikmati elusan itu.
Selepas puas minum dan makan Zeel dan Clare kembali mengendarai kereta chobo untuk pergi ke kota benteng Haven.
Zeel dan Clare membawa banyak buah Sunetta ke dalam kereta.
Setelah beberapa jam perjalanan sore hari tiba.
Zeel dan Clare merasakan suasana aneh menanti mereka di depan.
Pohon-pohon nampak rapat dengan tinggi yang menjulang ke atas.
Suasana hutan yang ada di depan mereka nampak sedikit gelap karena sinar matahari tertahan oleh dedaunan.
“Zeel … ada yang aneh dengan tempat ini,” ucap Clare.
Zeel membalas, “iya, aku juga merasakannya.”
Zeel dan Clare memutuskan
untuk tetap melalui hutan tersebut.
Zeel dan Clare tidak ingin melewati rute
lain karena akan memakan banyak waktu.
Setelah beberapa menit di dalam hutan tersebut Zeel dan Clare merasakan pusing.
“Zeel … kepalaku,” kata Clare.
Setelah mengucapkan itu Clare jatuh tebaring di dalam kereta.
tidak lama kemudian chobo yang membawa kereta Zeel dan Clare berhenti berjalan lalu terbaring ke tanah.
Zeel melihat bayang-bayang tiga orang dari kejauhan, tak lama kemudian Zeel tampak tidak sadarkan diri kemudian terkapar di tanah.
“Mereka sudah tertidur,” terdengar suara anak-anak.
Terdengar suara anak-anak lainnya, “wah, mereka membawa buah banyak sekali."
“Emily … bantu aku membawa buah-buah ini,” terdengar suara anak-anak lainnya.
“Bagaimana dengan mereka?” terdengar suara anak-anak perempuan.
“Biarkan saja ... jika kita menolong mereka, pasti mereka akan membunuh kita,” terdengar suara anak-anak.
Zeel yang terkapar di tanah tiba-tiba bergerak dengan cepat lalu mengarahkan pedangnya pada seorang anak.
Terlihat oleh Zeel dua anak laki-laki serta satu anak perempuan sedang menggenggam buah sunetta yang Zeel bawa.
Anak-anak kecil itu nampak menggunakan penutup wajah yang aneh.
“Bagaimana bisa?” ucap seorang anak laki-laki.
Seketika tubuh anak-anak kecil itu gemetar melihat Zeel yang sedang menggengam pedang besi.
Gedebug ...
Buah-buah sunetta yang tadinya ada di genggaman mereka kini jatuh ke tanah.
Lalu anak-anak kecil itu jongkok sembari memegangi atas kepala mereka masing-masing.
“Siapa kalian?” tanya Zeel sembari menodongkan pedangnya kepada anak-anak itu.
“Ja ... jangan bunuh kami,” ucap salah satu anak laki-laki dengan nada gemetar.
“Bawa kami keluar dari hutan ini,” kata Zeel.
..."Ada sesuatu yang aneh pada hutan ini."...
...-Clare-...
kak jangan lupa mampir do novel ku NEGRI JIRAN.
mohon dukungannya