Zalina dan Riki sama-sama saling mencintai, mereka menyembunyikan dalam diam hingga waktu yang tepat. Ketika akan meminta izin untuk menikah, tiba-tiba Zalina mengetahui sebuah rahasia bahwa ia dan Riki adalah saudara sepersusuan sehingga haram untuk menikah. Dengan berat hati ia melepas cinta pertamanya.
Sementara Riki tak mudah menerima kenyataan itu, ia terus menteror Zalina. Menuduh hanya mempermainkan perasaannya hingga diminta membuktikan dengan kawin lari.
Zalina tetap teguh. Tak ingin menentang Sang Pemilik kehidupan ini. Berbagai cara ia lakukan agar bisa lepas dari Riki, termasuk membuka hati untuk lelaki lain.
Memang tak mudah menemukan pelabuhan hati meski Zalina punya banyak pengagum. Berbagai hambatan ia temui. Lalu pada siapakah hatinya akhirnya berlabuh?
(Dear pembaca, semoga ada hikmah dari cerita ini yang bisa diambil. Jangan lupa like dan komen yaa :)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Doa Umi
"Siapa yang akan bercerai, Zal? Kenapa dengan Riki dan Puti?" tiba-tiba Umi muncul di hadapan kami berdua sehingga membuat kami kaget. Tidak tahu harus berbuat apa. Entahlah, untuk saat ini rasanya tak ingin jika Abi dan Umi mengetahui hubunganku di masa lalu. Aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaan mereka jika tahu. Meskipun sebenarnya aku juga tak mau ada masalah yang timbul. "Rizal, Zalina. Kenapa diam? Umi nanya kok tidak dijawab. Siapa yang bercerai? Lalu kenapa dengan Riki dan Puti?" Umi kembali mengulangi pertanyaannya.
Aku membiarkan Uda Rizal untuk menjawab sebab aku tak akan punya kepandaian berbohong di hadapan Umi. Pasti akan ketahuan.
"Perceraian Rizal dan Tasya, Mi. Kami sedang membahasnya agar Zalina bisa mengambil pelajaran." jawab Uda Rizal.
"O, perceraian kamu. Umi kira Puti dan Riki. Makanya Umi kaget sekali. Jangan sampai itu terjadi, bisa-bisa Abimu syok. Pasti akan terpukul sekali ia jika hal buruk itu terjadi. Naudzubillah." Umi menggelengkan kepalanya. "Oh ya Zal, bagaimana urusan perceraian kamu dan Tasya. Sudah ketemu sama dia?"
"Belum Mi. Rizal sudah menyerahkan semuanya pada pengacara. Rizal malas juga bertemu dengannya meski ia terus mengajak ketemu. Dia sudah tidak menuruti perintah Rizal padahal semuanya sudah Rizal berikan untuknya. Bahkan sampai berkelahi dengan Umi. Astagfirullah, maaf ya Mi. Tapi ia malah berhubungan dengan mantan kekasihnya itu." Uda Rizal tampak kesal.
"Semoga urusan kamu cepat selesai ya Zal dan segera dapat pengganti yang lebih baik." kata Umi.
"Aamiin, Mi. Tapi Rizal belum tahu apakah bisa menemukan penggantinya atau nggak."
"Lho, katanya Tasya nggak baik, masa kamu nggak bisa move on dari perempuan seperti itu? Atau jangan-jangan kamu masih cinta, Zal?"
"Bukan nggak bisa move on, Mi. Rizal masih trauma saja dengan pernikahan." Uda Rizal menundukkan kepalanya. "Biar Rizal berbakti dulu sama Abi dan Umi. Barangkali ini teguran untuk Rizal sebab selama ini belum baik baktinya. Rizal hanya menyusahkan Abi dan Umi saja."
"Astagfirullah, ya nggak begitu, Zal. Bagi Umi, kalian berdua adalah Anak-anak terbaik yang wajib Ini syukuri. Umi benar-benar bahagia bisa jadi ibu kalian, nak." Umi memukul pelan punggungku dan Uda Rizal. "Umi selalu berdoa agar kalian berdua menemukan jodoh yang baik dan segera mendapatkan kebahagiaan."
"Aamiin. Terimakasih doanya Mi." Uda Rizal memeluk Umi.
"Oh ya Na, kenapa tadi tidak keluar? Padahal Sharim menanyakan kamu lho. Umi tunggu-tunggu kamu masuk malah lewat belakang." timpal Umi.
"Buat apa ia ke sini, Mi?" aku berusaha bersikap biasa meski ada perasaan aneh saat namanya disebut oleh Umi. Tidak seperti sebelum-sebelumnya.
"Ada urusan bisnis dengan Abi. Dia mau membantu modal usaha Abi, Na." jawab Umi. "Baik ya nak Sharim, Na. meminjamkan uang tanpa agunan dan ia bersedia membantu perkembangan usaha Abi."
"Oh, begitu." Ada perasaan senang tapi ada juga tidak enaknya saat mendengar jawaban Umi. Entah apa yang hati ini harapkan, tapi rasanya tidak puas sebab Sharim tidak mencarimu. Berarti apa yang ia katakan di depan tadi bohong. Apakah ia hanya berbasa-basi. Atau sedang mengolokku yang gagal di lamar. Ya Allah, kenapa lagi-lagi rasanya sedih sekali.
"Kok cuma oh, kayak nggak puas saja Na." ujar Uda Rizal.
"Nggak puas kenapa Uda?" aku langsung cemberut.
"Jangan-jangan kamu berharap ditanyakan oleh Sharim, ya? Dia kan nggak kenal kamu, Na. Tapi dia kenalnya Puti." ejek Uda Rizal dan sialnya aku benar-benar terbawa perasaan. Mendadak hatiku merasakan Kecewa.
"Sudah, jangan mengolok Zalina seperti itu, Zal!" seru Umi.
"Dia sudah lulus, Mi?" tanya Uda Rizal lagi.
Sebenarnya bisa saja aku beranjak ke kamar, tetapi hatiku bertahan. Seolah ingin mendapatkan lebih banyak lagi informasi tentang Sharim.
"Sudah jadi sarjana kedokteran. Tinggal menjalani pendidikan profesi di rumah sakit ini." ungkap Umi.
"Oh, pantesan mondar-mandir di sini, ternyata nggak balik lagi ke Jakarta." aku menimpali.
"Kamu senang Na?" goda Uda Rizal lagi.
"Apasih Uda ini!" aku kembali cemberut, berusaha menyembunyikan semu merah di pipi.
"Halah, ngaku saja!" cetus Uda Rizal. Ia tersenyum jahil melihat gelagat ku yang tampak tidak nyaman.
"Apasih Uda ini!" aku pura-pura marah, berharap ia mengakhiri candaannya. Tapi namanya Uda Rizal, sejak dahulu selalu usil pada adik perempuannya. Ada saja caranya untuk membuatku mati kutu. Sama seperti saat ini.
Saling ejek antara kami kembali terjadi. Umi membiarkan saja, bahkan sesekali ikut menimpali. Menggodaku dengan Sharim hingga pipi ini semakin menjadi-jadi ronanya.
Aku benar-benar malu. Tapi ada perasaan senang juga saat Umi berdoa semoga aku berjodoh dengannya. Sebenarnya ingin mengamini kencang-kencang, tapi aku nggak mau jadi sasaran bulan-bulanan Uda Rizal.
***
Hari sudah semakin larut, aku belum juga bisa memejamkan mata sebab memikirkan Sharim. Berulangkali aku mengucapkan istighfar.. khawatir karena ini permainan setan. Menggoda orang-orang yang sedang terkena virus merah jambu agar jatuh kelumuran dosa.
"Astagfirullah, semoga saja aku tak salah dengan perasaan ini." kembali teringat tentang perkataannya di halaman saat bertemu denganku. Ia ingin melamarku. Tapi ternyata malah membicarakan urusan bisnis. Berarti ia hanya memberi harapan kosong. Ya Allah ...
"Sadar Zalina, sadar. Kamu siapa? Sementara Sharim siapa? Kalian bagai langit dan bumi. Ia itu lelaki yang berasal dari keluarga kaya raya. Bahkan kekayaannya tak akan habis tujuh turunan, sementara aku hanya gadis biasa yang orang tuanya sedang mengalami masalah perekonomian.
Ia juga lelaki cerdas yang memiliki wajah rupawan. Seorang dokter muda dengan karir pastinya gemilang. Rasanya tak mungkin berharap. Pastilah begutu banyak perempuan cantik yang tak kalah berprestasi, ngantri untuk dipersunting olehnya."
Lagi-lagi aku hanya bisa menggumam. Menyadarkan diri sendiri tentang siapa aku dan Sharim.
Lagipula sekarang bukan waktunya memikirkan masalah cinta dulu setelah dua kali kegagalan yang terjadi pada hidupku. Rasanya masih banyak masalah yang harus aku selesaikan. Tiba-tiba aku teringat kan Arya. Kemana ia perginya? Sudah sepekan selepas janji yang diucapkan untuk melamarku, hingga hari ini belum ada kabar darinya, bahkan sekedar penjelasan ataupun permohonan maaf. Ia benar-benar menghilang bagaikan di telan bumi. Sementara aku sendiri memutuskan di rumah saja dahulu sebab hatiku masih belum baik-baik saja.
Memang benar aku belum mencintainya. Tapi aku terlanjur menggantungkan harapan padanya dan rasa sakit itu tetaplah terasa.
Tetesan air mata itu kembali luruh. Kenapa terjadi lagi? Aku hanya bisa berharap agar ini jadi kegagalan yang terakhir kalinya. Entahlah, jika terulang lagi, mungkin aku tak akan sanggup.
tetap semangat dan jaga kesehatan Thor .
semoga yang semua baca ini di jauhkan dari namanya iri dengki Aamiin .
hiks terharu aku semoga calon imam masa depan ku seperti sharim yah Thor hehehheheh .
puas saya bacanya
padahal masih banyak yg belum selesau dari cerita2 sebelumnya.
selalu samawa utk za dan sahrim ya thor, urusan umi dan abi biar athor saja yg urus
hhee
10 like mendarat buat kk.
Lanjut up ya.
msmpir jg di bukalah hatimu untukku