Erika yang polos dan miskin jatuh cinta pada Evans, lelaki tampan dan kaya, lelaki yang sangat diidam-idamkan banyak wanita.
Mencintai Evans sama seperti menggenggam mata pisau, semakin menggenggamnya erat semakin berdarah-darahlah yang kamu rasakan.
Rasa kecewa dan sakit hati, itulah yang dirasakan Erika sejak bersama Evans. Tapi Erika tidak mampu melepaskan lelaki itu.
Mampukah Erika meraih hati Evans sepenuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sun Shine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Erika sakit
Visual Erika 👆
Beberapa hari ini Erika jarang makan. Perutnya terasa sakit. Sepanjang perjalanan menuju kampus tak henti-hentinya dia memegang perutnya. Wajahnya tampak pucat. Sesekali dia meringis. Evans dan Anna tampak berjalan mesra menjauhi areal parkir.
"Erika?"
Evans tidak sengaja melihat Erika yang berjalan sangat pelan dari kejauhan.
"Siang makan bareng ya, Kak." Anna mendongak menatap Evans yang berada di sisinya.
"Oke, sampai nanti Anna," ucap Evans lembut.
"Iya , Kak."
Cup!
Anna berjinjit mencium pipi Evans lalu langsung berlari kecil meninggalkan Evans hendak menuju kelas.
Evans yang melihat Anna menuju kelas, langsung mengalihkan pandangan pada Erika, dan segera berjalan menuju ke arahnya. Tanpa dia sadari ternyata mata Anna memperhatikan tindakannya, karena sambil berlari kecil Anna sempat kembali menoleh pada Evans.
"Erika, Kamu tidak apa-apa?" sapa Evans.
Erika mendongak terkejut. Evans memperhatikan wajah Erika yang tampak pucat.
"Apa ini? Kenapa Kak Evans tiba-tiba di sini? Aku tidak boleh tampak lemah."
Erika menurunkan tangannya dari perut dan menegakkan tubuhnya yang tadi sedikit membungkuk.
"Tampaknya kamu sakit. Wajahmu pucat," ucap Evans khawatir. Tangannya naik secara refleks memegang kening Erika. Tetapi seketika itu juga tangan Erika menepis tangan Evans. Membuat Evans tertegun.
"Jangan pedulikan aku. Aku tidak apa-apa," jawab Erika dengan suara rendah dan pergi berlalu begitu saja. Evans masih terdiam di tempat melihat ke arah Erika yang pergi menjauh. Lalu dia melangkah hendak menyusul Erika, tetapi salah satu teman menghampirinya.
"Van! Kok lambat banget? Dosennya ada di kantor, ayo kita temui segera," ucap teman Evans itu.
"Ahh." Evans terlihat kesal melihat situasi yang tak memungkinkan. Maka dia dan temannya itu pun segera pergi menuju kantor.
Erika berjalan pelan-pelan masuk menuju ruang belajar, lalu...
Plllaaakkk!
"Akkhh..!" teriak Erika.
Tamparan keras yang membuat Erika terhempas dan dahinya membentur tembok.
"Itu hukuman buat cewek yang sudah berani-beraninya ganggu pacar aku!" Anna membentak.
Erika terlihat sempoyongan. Semua serius menonton.
"Anna! Jangan kelewatan dong," ucap Adit, ketua kelas mereka sambil segera memegang Erika.
"Kenapa Dit? Kamu suka sama Erika?" tanya Anna dengan suara tinggi.
Adit tidak menggubris kata-kata Anna dan langsung membawa Erika ke ruang kesehatan.
Beberapa waktu kemudian, petugas kesehatan telah mengobati kening Erika yang memar dan memberi obat untuk perutnya.
"Kamu sudah mendingan?" tanya Adit.
"Sudah. Makasih ya, Dit."
"Iya, sama-sama."
"Sepertinya aku harus pulang ke rumah, Dit?" Erika berupaya bangkit. Rasanya tubuhnya lemas sekali.
"Ya sudah, aku antar pulang. Kamu tahan kan kubonceng pakai motor?" Adit memegang Erika.
"Nanti merepotkanmu, Dit?"
"Tidak apa-apa. Santai aja."
Adit dan Erika berjalan pelan hendak menuju areal parkir sepeda motor. Lalu di tengah jalan.
"Erika?"
Adit dan Erika menoleh ke sumber suara. Revin berjalan cepat ke arah mereka.
"Lho Erika, kamu kenapa?" Revin memperhatikan wajah Erika yang pucat. Dan matanya langsung fokus pada kening Erika yang membiru.
"Ini Kenapa? Kamu jatuh?" Revin sedikit menyentuh kening Erika.
"Nanti aja, Kak. Saya mau antar Erika pulang," jawab Adit.
"Biar aku yang antar. Aku bawa mobil."
"Apa tidak merepotkan, Kak?" tanya Erika lemah pada Revin.
"Tidak kok, Erika."
Mereka pergi menuju mobil, Revin membuka pintu mobil dan membantu Erika masuk ke mobil.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Revin pada Adit sebelum dia masuk ke mobil.
"Tadi dia ditampar orang sampai terbentur ke tembok," jelas Adit.
"Siapa yang menampar Erika?" tanya Revin marah.
"Itu.. Namanya Annastasya." Adit agak ragu.
"Anna..? Hmmm, keterlaluan sekali gadis itu. Pantas Evans tak tertarik padanya. Kalau aku jadi Evans, sudah cepat-cepat kutinggal perempuan kasar seperti itu." Revin merutuki dalam hati.
"Oh. Kamu kembalilah. Aku akan mengantarnya." Revin masuk ke mobil.
"Makasih Adit," ucap Erika lemah sebelum mobil melaju.
"Iya. Hati-hati Erika."
Mobil melaju. Sesekali Revin melihat ke arah Erika. Sebenarnya dia sudah ingin menanyakan kenapa Anna menamparnya, tetapi Erika terlihat meringis sambil memegangi perutnya.
"Erika kamu kenapa? Perutmu sakit?" tanya Revin.
"Iya Kak. Tadi sudah minum obat perut dikasih petugas kesehatan," jawab Erika lemah.
"Tapi masih sakit?"
Erika mengangguk.
"Kita ke rumah sakit sekarang ya?" tawar Revin.
"Aku mau pulang ke rumah aja, Kak. Aku gak bawa uang."
"Astaga. Tidak usah memikirkan uang. Wajahmu pucat banget."
Revin langsung membawa Erika ke rumah sakit. Tidak lupa Erika meminta Revin menghubungi ibunya agar datang.
Dokter mengatakan Erika mengalami gangguan maag karena faktor stres dan makan tidak teratur. Jadi Erika harus dirawat di rumah sakit satu atau dua hari karena tubuh Erika benar-benar lemah.
"Terimakasih ya nak Revin sudah mengantar Erika ke rumah sakit," ucap Ibu Wilma.
"Sama-sama, Tante."
"Erika, aku balik ke kampus ya. Kamu banyaklah istirahat. Jangan banyak pikiran," kata Revin lembut.
"Iya Kak. Makasih ya." Erika tersenyum lemah. Revin mengangguk sambil tersenyum. Lalu pamit meninggalkan ruangan. Tidak lama setelah Revin pergi.
"Ibu.. Maaf ya.. Aku tidak menjaga kesehatanku.." Suara Erika terdengar parau karena menangis.
"Makanya Ibu bilang, jangan kuliah dulu hari ini. Makan teratur. Tapi kamu keras kepala. Terus kenapa ini memar?" tanya Ibu Wilma sambil menyentuh kening Erika.
"Jatuh, Bu," jawab Erika berbohong.
"Hmmm. Makanya hati-hati. Ya sudah. Kamu istirahatlah. Kakakmu nanti siang kemari."
"Bu.. Aku mau telepon Kak Danish."
***
Revin melajukan mobilnya kembali ke kampus. Sebenarnya dia masih penasaran kenapa Anna menampar Erika. Revin terlihat menggelengkan kepalanya. Merasa tidak habis pikir akan sikap kasar Anna. Yang Revin perhatikan selama Evans pacaran dengan Anna, tiap di samping Evans, perempuan itu terlihat imut tingkahnya. Sangat manis dan penurut, juga ramah pada Revin.
Sesampainya di kampus, Revin menyelesaikan beberapa urusannya lalu siangnya dia pergi ke kantin. Di sana dia melihat Evans dan Anna lagi makan bersama. Anna terlihat melambai-lambai ke arah Revin.
Visual Anna 👆
"Kak Revin, ayo gabung," ajaknya ramah dengan suara agak keras agar Revin mendengarnya. Revin menggeleng dan mengisyaratkan kalau dia malas beranjak dari kursinya. Anna hanya mengangguk lalu tersenyum. Evans terlihat santai saja sambil menikmati makanannya. Sehabis makan, Evans dan Anna meninggalkan kantin. Revin pun mengirim pesan pada Evans.
Ponsel Evans bergetar,
"Revin?" Evans langsung membaca pesan.
Revin
"Erika di rumah sakit. Tadi aku yang mengantarnya ke sana."
Deggg!
Raut wajah Evans seketika berubah menjadi cemas. Memang tadi pagi dia sudah merasa kalau Erika sedang sakit. Siapa sangka sampai harus dibawa ke rumah sakit? Evans melirik pada Anna. Lalu membalas pesan Revin.
Evans
"Kamu masih di kantin? Aku ke sana sekarang!"
Revin
"Oke."
"Anna, aku masih ada beberapa urusan. Kamu nongkrong dengan teman-temanmu aja ya?"
"Ya sudah deh Kak. Tak apa," jawab Anna dengan lembut.
Evans segera pergi meninggalkan Anna dan menuju ke kantin.
Revin yang membaca pesan Evans, tersenyum geli. Cepat juga responnya ya? Ckckck. Pikir Revin di dalam hati.
Evans langsung duduk di samping Revin.
"Erika di rumah sakit mana?"
"Bagaimana ceritanya sampai kamu yang mengantarnya?"
"Dia sakit apa?"
Evans memberondong beberapa pertanyaan pada Revin.
"Tadi pagi aku lihat Erika keluar dari ruang kesehatan dengan temannya. Karena Erika ingin pulang aku tawarkan untuk mengantarnya. Dan kulihat dia sangat pucat. Jadi aku bawa dia ke rumah sakit. Kata dokter dia sakit maag karena stres dan tidak teratur makan. Tubuhnya sangat lemah jadi harus rawat inap," jelas Revin apa adanya.
"Di rumah sakit mana?" tanya Evans tak sabar.
"Kamu mau ke sana?"
"Iya, aku akan menjenguknya," jawab Evans kemudian.
***
Evans
Kalau sempat, update lagi ntar malem. Klik like dukungan, Guys! 😉