[Area termehek-mehek, siapkan tisu untuk menyeka air mata]
George selalu memperlakukan Gabby dengan kasar, dingin, dan mereka berdua selalu berseteru. Hingga membuat Gabby sangat membenci George.
Suatu ketika, Geroge mengetahui siapa Gabby sesungguhnya. Orang yang ia cari selama ini. Ia hendak menepati janjinya untuk menikah dengan Gabby setelah mengetahui identitas wanita itu. Namun sayang, hati Gabby sudah terlanjur beku. Ia sudah membenci George.
Disaat George sedang mencoba mendekati Gabby, seorang pria bernama Marvel hadir dengan membawa pembuktian cinta untuk Gabby.
Hingga suatu hari, George dan Gabby terjebak dalam satu ruangan dan terjadilah malam yang membuat Gabby kehilangan kehormatannya.
“Aku akan bertanggung jawab dengan perbuatanku, aku akan menikahimu.” George.
“Jika kau ingin menikah denganku hanya karena ingin bertanggung jawab atas kejadian ini atau ingin memenuhi janjimu dulu. Maka lupakan, aku tak membutuhkannya.” Gabby.
“Aku tetap mencintaimu, walaupun bedebah itu sudah mengambil sesuatu yang berharga darimu.” Marvel.
Siapakah yang akan dipilih oleh Gabby? George yang sudah merenggut kehormatannya atau Marvel yang menunjukkan betapa besar cintanya pada Gabby?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NuKha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 18
Hembusan angin pantai itu terasa panas membelai kulit. Ditambah cuaca yang begitu terik membuat George ingin sekali menenggak sesuatu yang segar.
Pria itu tak memperdulikan pertanyaannya tadi yang diabaikan oleh orang di sampingnya. Meskipun sedikit terusik karena tiba-tiba saja suasana menjadi hening tak ada keributan seperti biasanya, namun ia mencoba untuk biasa saja.
Ia terus menikmati pemandangan indah di hadapannya tanpa menoleh sedikitpun ke samping.
Sesungguhnya ada rasa penasaran yang menyeruak pada diri George. Ingin ia menoleh, namun diurungkan. Sebab ia tak ingin terlihat memperhatikan wanita itu.
Tak mungkin juga Gabby tiba-tiba pergi meninggalkannya. Sebab tak ada pergerakan kaki yang didengar atau dirasakan olehnya. Pertanda Gabby masih menemaninya disana.
Seolah lenyap wanita itu dari muka bumi saat suara galaknya tak menggema disapu oleh angin dan masuk ke gendang telinganya.
Kornea mata pria itu memilih memandang ke arah beberapa wisatawan yang asik menyeruput kelapa muda langsung dari buah utuhnya. Seperti terlihat sangat segar.
Segera berdiri dan membersihkan celananya yang sedikit terdapat bulir-bulir pasir. Kakinya mengayun membawa ke pedagang es kelapa muda.
Beruntung ia berteman dengan Davis yang selalu mengajaknya belajar bahasa asing. Terbukti saat ini ia tak kesulitan berkomunikasi dengan pedagang menggunakan Bahasa Indonesia.
“Kelapa muda dua,” pesan George lengkap dengan wajah yang tak pernah berubah, tetap datar dan suara terdengar begitu dingin.
Pedagang itu terlihat berbinar mendengar seorang bule berbicara menggunakan bahasanya. “Kenalan dulu, Mang Suep.” Ia mengulurkan tangannya. Siapa tahu dia akan tertular menjadi tampan juga setelah berjabatan.
George sadar ia sedang di negara yang penduduknya terkenal ramah. Ia membalas Mang Suep. “George.”
Di telinga Mang Suep, ia mendengar Joss. “Ada extranya gak itu namanya?” kelakarnya. Bukannya segera menyiapkan pesanan George, ia malah antusias untuk mengobrol dengan bule.
George mengernyitkan dahinya, tak paham dengan yang dimaksud oleh Mang Suep.
Mang Suep tertawa melihat raut kebingungan George. “Ini loh maksud saya.” Ia menunjukkan bungkus bubuk minuman saset berwarna kuning.
George hanya bisa menghela nafasnya pelan mendengar candaan yang tak terdengar candaan di telinga pria dingin itu.
“Es kelapa muda dua.” Ia memilih mengulangi mengucapkan pesanannya dengan wajah yang terlihat menakutkan di mata Mang Suep.
Membuat Mang Suep langsung mengurungkan niatnya untuk melayangkan candaan lagi. “Oke oke, tunggu sebentar.”
Dua buah kelapa muda yang sangat segar sudah berada di tangan George setelah ia membayarnya dengan uang Euro yang belum sempat ia tukarkan.
“Minum!” Langsung meletakkan buah itu ke samping Gabby yang tengah tidur terlentang.
Pantas saja wanita itu tak merespon George, ternyata sudah memejamkan matanya.
Mata George lagi-lagi mencuri pandang pada wajah cantik itu. Ada yang aneh, tapi apa?
Terus ia menelisik setiap inchinya. Pandangannya terhenti pada bibir yang terlihat sangat pucat.
“Bangun!” Ia mencoba menggoyang-goyangkan tubuh lemas itu.
“Apa dia sakit?” gumamnya.
Tanpa banyak bicara, George langsung menggendong Gabby, meninggalkan es kelapa mudanya begitu saja yang belum sempat ia cicipi, dan memilih membawa Gabby ke kamarnya. Sebelumnya ia meminta kunci pada resepsionis dan berpesan untuk mencarikan dokter.
Ia tak ingin disalahkan oleh Lord nantinya jika tak menjaga anak bos mafia itu.
Hati-hati George membaringkan Gabby.
Tak berselang lama, pintu pun diketuk. George segera membukanya.
“Periksa dia,” titahnya pada Dokter yang baru saja masuk ke dalam.
mending mati aja klo kyk gtu
huhuhu😭😭😭
sakit bngt jd gabby
*aku kalau diposisi George mana mau menunggu gabi, ditolak, melihat gabi bermesraan dengan pria lain, melihat gabi bercumbu dengan pria lain, dan hanya dibuat kayak boneka yang pasrah dan megiti gabi selesai dia harus ada
thor aku tanya pribadi padamu, apakah kau diposisi George dan dilakukan kayak gitu kau mau menerima begitu saja
thor jadi novelis netral, lihat lah semua disitu pandang jangan hanya melihat sudut pandang wanita saja
*sudut pandang gabi enak menolak Georg menikah dan bercumbu dengan pria lain didepan Georg setelah dia selesai dengan pria itu, Georgia harus ada untuknya, enak benar hidupnya
*yang kasian geoge, ditolak, harus pasah melihat gabi bermesraan dan bercumbu dengan pria lain, setelah gabi selesai dengan pria itu, George harus menerima begitu saja
thor pakai hati berkarya, kalau kau adil buat gabi berjuang juga untuk George, karena faktanya gabi telah melukai hati George, jangan semudah itu, kalian buat George kayak boneka yang tidak punya hati yang bisa terluka juga
pakai hati thor