Info!!!! Ini lanjutan dari Novel Istri Nakal Dokter Aziz.
🍁Fadila & Farhan🍁👫
Fadila Annisa Zakri, di hari ulang tahunnya yang ke 18 tahun, dia mendapatkan kado istimewa. Fadila tiba-tiba di lamar oleh pria yang bernama Farhan Aqmora Ahman. Farhan adalah Dosen sekaligus asisten di Laboratorium tempat di mana Fadila kuliah.
Farhan sudah cukup umur, tapi umurnya tidak menjamin kedewasaannya. Pria itu menjadi tegas setelah mendapatkan nasehat dari orang terdekatnya.
Apakah Farhan bisa terus tegas? Atau dia akan kembali menjadi pria yang dibimbing oleh istrinya.
Mari simak kisah romantis mereka 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asni J Kasim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan tamu
Farhan memarkirkan mobilnya di garasi perumahan. Pria itu turun dari mobil begitu juga dengan Fadila. Fadila masuk ke dalam rumah tanpa mengajak suaminya. Wanita itu masih memikirkan peraturan yang membuatnya bulat dengan keputusannya.
"Apa dia masih marah?" batin Farhan.
"By, kamu kenapa?" tanya Farhan menarik tangan istrinya.
"Nggak" balas Fadila dengan singkat. Lalu melepas genggaman tangan suaminya. Tanpa bersuara, Fadila meninggalkan suaminya seorang diri.
Brakkk!!! terdengar pintu kamar tertutup kuat. Di dalam kamar, Fadila membuang tasnya di atas ranjang. Netra matanya mulai berkaca-kaca. Pikirannya kembali tertuju pada Almarhum Mamanya.
"Ma, apa Mama pergi karena kecapean mengurus kami dan tugas kampus atau karena memang sudah ajalnya Mama pergi" gumam Fadila sesenggukan.
"Aku telepon Papa saja. Semoga Papa mau menuruti permintaanku dan menerima keputusanku" gumam Fadila lalu mengambil ponselnya di dalam tas.
Panggilan pertama tidak dijawab oleh Papanya, begitu juga panggilan ke dua. Untuk yang ketiga kalinya, Papa Aziz menjawab panggilan dari putrinya.
"Assalamualaikum" Papa Aziz mengucap salam.
"Waalaikumsalam. Papa" balas Fadila sesenggukan.
"Sayang, kamu kenapa, Nak? Kamu sakit? Kamu sudah minum obat kan? Tunggu di situ nanti Papa datang" pertanyaan beruntun Aziz lontarkan pada putrinya. Boleh dikata pria itu belum mendengar keluhan putrinya.
"Aku nggak sakit" balas Fadila terisak. "Papa, aku mau pindah jurusan saja. Jurusan yang Mama ambil cukup menarik tapi asistennya nggak punya hati semua" keluh Fadila sesenggukan.
"Fadila, putriku. Untuk bisa menggapai kesuksesan butuh perjuangan yang cukup menguras tenaga dan otak. Nggak ada yang mulus, Nak. Kamu mau pindah karena apa?" tanya Papa Aziz.
"Tugas kampus banyak dan praktikum sudah mau dimulai. Baru satu Laboratorium yang mau jalan tapi peraturannya bikin aku nggak mampu untuk bertahan. Apa Papa tahu, masa iya menulis laporan nggak boleh ada tipe-x. Bukankah itu pembunuhan secara halus" jelas Fadila.
"Apa kau tahu bagaimana perjuangan Mama dulu? Mama dulu buat laporannya menggunakan mesin ketik dan nggak boleh ada tanda tipe-x satupun" jelas Aziz.
"Jadi aku harus bagaimana, Pak?" tanya Fadila meminta pendapat.
"Jalanin saja. Papa janji, Papa akan membantumu mengerjakan tugas-tugasmu. Kamu bisa datang ke rumah atau kamu bisa hubungi Papa untuk datang ke situ" jelas Papa Aziz.
"Janji?"
"Papa janji. Papa tahu kau belum mandi kan. Sekarang juga kamu mandi dan jangan lupa siapkan makanan untuk suami kamu. Dan ingat! Jangan jadi istri yang pembangkang pada suami" kata Papa Aziz menasehati.
Di balik pintu, Farhan mendengar semua keluhan istrinya. Tapi dia bisa apa, peraturan itu ada sebelum dia mengajar di kampus tempatnya mengabdi. Mau tidak mau, baik Farhan maupun mahasiswa lainnya harus menerima dan menjalani peraturan yang sudah ditetapkan sejak dahulu.
Cek--lek...
Farhan membuka pintu dan menutupnya kembali. Dilihatnya Fadila sedang menyeka bekas air matanya. Ingin rasanya ia memeluk istrinya tapi melihat Fadila yang tidak seperti biasanya membuat nyali Farhan menciut dan tidak berani mendekati istrinya.
Setelah menyeka bekas air matanya, Fadila beranjak dari bibir ranjang menuju lemari pakaian suaminya. Mengambil pakaian ganti untuk suaminya. Mulai dari baju, celana dan ****** *****. Lalu meletakkannya di atas tempat tidur.
"Om, ini pakaian ganti" kata Fadila. Lalu ke luar dari kamar menuju dapur.
"Kata Papa aku harus menjadi istri yang rajin. Menyiapkan pakaian ganti untuk suami dan menyiapkan makanan untuk suami. Enak ya jadi laki-laki, segala sesuatu harus disiapkan oleh istri" batin Fadila.
Setelah memasak, Fadila kembali ke kamar. Dilihatnya Farhan sedang menjawab panggilan dari seseorang. Entah itu dari rekan dosen atau dari kerabat wanitanya. Tidak mungkin kan Farhan tidak memiliki teman wanita selama ini.
"Nanti baru lanjut lagi ya. Kalau kamu mau datang kamu datang saja di rumah. Aku masih tinggal di perumahan" kata Farhan pada lawan bicaranya di telepon.
Tut tut tut... panggilan telepon terputus.
"By, sekarang kamu mandi. Nanti malam ada sahabatku yang mau datang ke sini. Dia mau kenalan sama kamu" kata Farhan tersenyum.
"Laki-laki atau perempuan?" tanya Fadila mencoba menarik senyum.
"Perempuan. Dia baru kembali dari Italia. Dan apa kau tahu, dia akan mengajar di kampus kita" balas Farhan mengukir senyum lebar. Sudah dua tahun dia tidak bertemu sahabatnya itu.
"Oww" balas Fadila kemudian mengambil pakaian ganti. Wanita itu tidak mau mengganti pakaiannya di depan suaminya lagi.
Farhan terdiam setelah mendapatkan respon singkat dari istrinya. "Apa dia masih marah?" batin Farhan.
Adzan magrib berkumandang, Farhan bersiap-siap ke masjid terdekat. Berhubung Nikollas belum juga pulang maka Farhan memilih jalan kaki ke masjid.
...---...
Pukul 20:01 PM
Nikollas baru tiba di rumah bersamaan dengan Farhan yang baru pulang dari masjid. Keduanya mengucap salam lalu masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah, tepatnya di ruang tengah. Nampak Fadila mengenakan baju Ibu-Ibu yang ukuran jumbo. Wanita itu sibuk mengerjakan tugas-tugasnya.
"Apa istri Om kehabisan obat?" tanya Nikollas berbisik.
"Aku rasa begitu" balas Farhan.
Ehem... Farhan berdehem agar Fadila menoleh namun usahanya gagal. Fadila enggan untuk menoleh bahkan wanita itu sibuk menulis sambil menatap ponselnya.
"Teman, kamu sedang apa?" tanya Nikollas menghampiri Fadila. "Tadi ku kira ada Ibu-Ibu yang nyasar ke rumah ini dan setelah aku perhatikan ternyata sang pemilik rumah" sambungnya bercanda gurau.
"Iya. Bajuku cantik kan, Kak. Aku sengaja berdandan cantik seperti ini. Karena nanti kita akan kedatangan tamu spesial Om Farhan" jelas Fadila tersenyum.
"Cantik dari mananya. Kamu justru terlihat seperti Ibu-Ibu anak sepuluh" sindir Nikollas.
Fadila membulatkan mata tak percaya. "Ya Allah, Kak. Ini tuh model baju masa kini. Aku belinya di Mall dengan harga 750 ribu!!" ketus Fadila.
"750 ribu? Baju jelek begini harganya 750 ribu! Sepertinya matamu rabun saat melihat harga dan kasir di sana matanya buram" sanggah Nikollas. Pria itu tidak terima dengan harga baju yang disebut istri dosennya.
Fadila beranjak dari atas permadani lalu masuk ke kamar. Kemudian ke luar membawa cap baju gamis yang dikenakannya. "Tuh lihat!!" kata Fadila sambil memperlihatkan harga baju yang dia kenakan.
Farhan dan Nikollas membulatkan mata tak percaya. Kedua pria itu menatap Fadila dari kepala hingga hingga kaki. "Baju sejelek itu harganya selangit" gumam Nikollas.
Tok tok tok...
"Itu pasti tamu istimewa Om Farhan" gumam Fadila. "Kakak, tolong bantu aku bereskan buku-buku ku" pinta Fadila yang dibalas anggukan oleh Nikollas.
Nikollas membantu Fadila sementara Farhan bergegas membuka pintu. Farhan meraih handle pintu lalu menariknya. Dilihatnya seorang wanita yang berdiri mengukir senyum menatapnya.
"Helena" Farhan nampak Bahagia melihat sahabatnya datang.
Dari kejauhan, Nikollas dan Fadila menyaksikan tingkah Farhan dan Helena. "Sepertinya itu ulat bulu baru. Kamu harus berhati-hati dengannya dan juga Fitri" bisik Nikollas.
"Kak, apa ini resiko menikah dengan pria lajang?" tanya Fadila serius.
"Sepertinya begitu" balas Nikollas.
Fadila mengangguk paham. "Jadi ceritanya aku punya dua saingan ini. Hahahaha" kekeh Fadila. Wanita itu merasa lucu dengan suasana baru dalam hidupnya. Belum juga memberantas Fitri kini dia kedatangan ulat bulu baru.
"Ck ck ck.... keasikan reuni hingga lupa istri" sindir Fadila.
Degh!! Farhan baru menyadari kesalahannya, kalau dia belum memperkenalkan Helena dengan Fadila. Saat menoleh ke dalam rumah, Fadila dan Nikollas sudah tidak ada di ruang tengah. Yang ada hanya dua gelas kosong dan satu ceret serta kue kering di meja.
"Mati aku" batin Farhan.
Farhan oh Farhan,kau suami idaman.kalo suamiku......jangankan masak, rebus air aja bisa di hitung dengan jari lima 🤣
dan buatlah niko tuk tinggal bersama dengan pak asiana thorr 🙏✌
semoga Niko dan Ummu tidak seperti ke dua orang tua nya ...
semangaatt Niko ....💪💪💪
kalo Fadilah dari bayi ,ibu Amrita sudah tidak ada ...
berharap surlin segra tau kebenarannya tentang isi hatinya ibunya niko 🙏✌