Bukan novel Plagiat! Kalau ditemukan isi(Alur, nama tokoh, seting tempat, waktu, sudut pandang) cerita sama dengan yang lain, silahkan report karya ini, namun kalau tuduhan itu tidak terbukti, saya yang akan balik mereport anda, seperti itu😊
Berdasarkan kisah seorang teman ditambah dengan bumbu-bumbu halu. Nama dan profesi disamarkan. Sebut saja namanya Lia, dia datang ke kota untuk mencari kerja, sampailah dia bertemu dengan Sera, yang menawarkannya untuk bekerja menjadi pengasuh anaknya, dan inilah kisahnya.
Awalnya kupikir rumah tangga yang aku jalani dengan Mas Haris selama tiga tahun ini baik-baik saja. Tapi ternyata aku salah, saat itu aku tidak sengaja membuka pesan mesra yang dikirimkan suamiku untuk wanita lain, aku bertanya-tanya, siapa wanita itu? Mungkinkah Mas Haris cuma bercanda dengan rekan kerjanya?
Tapi ternyata orang ketiga itu adalah orang terdekatku, orang yang tinggal satu atap denganku, orang yang aku perlakukan dengan baik, ternyata dia orang ketiga di dalam rumah tanggaku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon violla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kita Bertemu Disaat Yang Tepat
Hakim pergi begitu saja meninggalkan aku dan Mas Haris, kami tidak hanya berdua masih banyak orang di tempat ini.
"Kamu mau bicara apa lagi, Mas? Aku harap ini untuk yang terakhir kali kita bertemu," ucapku kepadanya.
"Terima kasih, karena kamu sudah mengijinkan aku ketemu sama Bima. Gajiku sudah dipotong setiap bulan, dikirim dari kantor khusus untuk tabungan Bima, apa sudah kamu cek?" tanya Mas Haris.
Memang sebelumnya kami sudah sempat buat tabungan khusus untuk pendidikan Bima di masa depan, ternyata berguna juga tabungan itu.
"Belum, biarkan saja ... dan terima kasih karena kamu masih ingat sama Bima."
"Bima anakku darah dagingku, sampai kapanpun aku ayahnya, aku akan tetap bertanggung jawab untuknya."
"Gak perlu repot Mas, mending uangnya kamu simpan untuk biaya istrimu melahirkan nanti, aku harap persalinannya lancar."
"Justru itu aku mau bahas masalah ini, kamu 'kan sudah tau, alasan aku menikahinya, aku bahkan tidak pernah menyentuhnya lagi, kamu juga tahu kenapa aku rela kamu gugat, kalau nanti hasil DNA itu sudah keluar dan anak itu bukan anakku, aku mau kita rujuk lagi, aku masih cinta sama kamu, Sera. Aku benar-benar menyesal."
"Sudahlah, Mas... aku gak ada waktu untuk bahas ini lagi, tolong jangan ganggu aku lagi, Mas."
"Sampai kapanpun aku akan tetap menunggu kamu, jujur sama hatimu Sera, kamu juga masih cinta sama Mas, kan? Gak mungkin secepat itu kamu bisa lupain semua tentang kita."
"Cintaku sudah terkikis untukmu Mas, pelan tapi pasti, aku pasti bisa lupain kamu."
"Tapi Mas benar-benar menyesal Sera, Mas tersiksa tanpamu dan Bima, Mas masih berharap kita bisa rujuk lagi, Mas masih mau kita bersama seperti dulu lagi."
"Sudahlah Mas, aku pergi, kamu jaga saja istri dan anakmu itu, terima kasih untuk semuanya Mas."
Aku pergi meninggalkan Mas Haris, dia masih saja memanggilku tapi aku mengabaikannya. Aku tidak mau melihatnya lebih lama lagi, karena aku takut hatiku menjadi goyah, istri mana yang begitu mudah melupakan semua kenangan indah bersama suaminya? Bagaimanapun selama kami berumah tangga, aku juga pernah merasakan kebahagiaan dengannya, aku tahu perasaanku masih saja lemah, namun inilah jalan yang sudah aku pilih.
"Sudah selesai?" tanya Hakim, ternyata dia menungguku di luar gedung.
"Sudah, aku pikir kamu sudah pergi."
"Aku tidak mungkin meninggalkanmu, kita pulang sekarang, aku khawatir Bima mencarimu."
"Aku pulang naik taksi saja, aku juga mau ke bengkel mengambil mobilku."
"Kamu tenang saja, masalah mobilmu biar aku yang mengurusnya." Hakim memang selalu bisa diandalkan.
Aku tidak punya pilihan, aku mengikuti langkahnya menuju mobil, dia membukakan pintu untukku, lalu Hakim mengitari mobil menuju pintu kemudi dan duduk disampingku. Hakim sudah menjalankan mobilnya, ntah kenapa aku masih saja merasa canggung, padahal kami sudah sering bertemu, mungkin ini saatnya aku bertanya tentangnya.
"Lagi mikirin apa?" tanya Hakim, aku jadi salah tingkah karena ketahuan meliriknya.
"Aku penasaran, siapa kamu sebenarnya? Kamu tahu banyak tentang aku, tapi sampai sekarang aku masih belum ingat apapun tentang kamu."
"Ya sudah, kamu mau tanya apa?" Hakim selalu seperti ini, yang ditanya apa, yang dijawab apa, sepertinya dia menyembunyikan sesuatu dariku, tapi apa ya?
"Kenapa kamu belum menikah? Kamu baik, kamu sudah mapan, kamu ganteng, ka--
"Jadi selama ini kamu diam-diam perhatiin aku ya?" tanya Hakim, aku memukul lengannya, dia cuma menyengir kuda, kenapa dia bisa berpikir seperti itu? Aku malu untuk yang kesekian kali.
"Aku sudah pernah tunangan, bahkan kami sudah menentukan tanggal pernikahan, tapi Tuhan punya rencana lain, dia meninggal karena kecelakaan," jawab Hakim dengan wajah yang sendu.
"Aku turut prihatin ya, maaf udah buat kamu ingat sama kejadian itu."
"Kenapa harus minta maaf...? Aku tidak menyesali itu, bukan 'kah sudah aku katakan, Tuhan punya rencana lain untukku, dan sekarang sudah terbukti, KITA bertemu disaat yang tepat."
KITA? Hakim menekankan kata kita, apa maksudnya? Apa dia menaruh harapan kepadaku? Apa dia diam-diam punya perasaan kepadaku? Aku menjadi khawatir, aku masih trauma untuk membuka hatiku ini.
"Sera ... aku tidak bisa menjanjikan apapun untukmu, karena aku takut tidak bisa menepatinya, dan aku tidak mau kamu kecewa untuk yang kesekian kalinya, tapi biarkan aku egois, aku mau kamu mengenaliku, aku mau kamu membuka hatimu untukku."
Apa maksudnya ini? Kenapa aku tidak bisa mencerna maksud Hakim? Kenapa harus aku yang membuka hati? Kalau dia ada rasa sama aku, kenapa dia tidak bilang cinta?
"Ak--
"Aku tahu ini terlalu cepat, aku juga tidak mau memaksamu, aku cukup tahu di mana batasanku, aku menunggu sampai masa iddah-mu selesai," jawab Hakim, sekilas dia melihatku, wajahnya nampak serius, Hakim memarkirkan mobilnya di depan butikku yang tidak terlalu besar ini.
***
Malam sudah semakin larut, aku sudah terbiasa tidur berdua dengan Bima, siang tadi kata Rossa mama Mas Haris datang untuk melihat Bima, tidak kusangka rumah tanggaku berantakan seperti ini, sampai mama mertua sakit memikirkan kami, terkadang aku merindukan saat-saat seperti. dulu, Bima tidur diantara aku dan Mas Haris, tapi sekarang, ah sudahlah aku harus move on.
"Bima, anak mama, kelak kamu dewasa jadilah laki-laki yang setia dan bertanggung jawab ya, Nak," hanya Bima yang menjadi teman tidurku, aku terkejut saat mendapati suhu badan Bima yang terasa panas, sepertinya anakku demam.
Aku menggendong dan membawa Bima, aku semakin panik karena tidak ada taksi yang melintasi tempat ini, aku harus bagaimana? Sepertinya akan turun hujan.
"Sabar sayang, sabar ya Nak..." Bima semakin rewel, aku menangis dan terus mencoba untuk menenagkan Bima, inikah rasanya menjadi orang tua tunggal? Aku tidak mungkin lagi menghubungi Mas Haris.
Aku semakin berjalan, ntah sudah berapa kendaraan yang sudah coba aku hentikan, tapi hasilnya tetap sama, aku hampir putus asa.
Tin....Tin....Tin....
"Sera...!"
Itu Hakim, dia keluar dari mobil yang baru berhenti di sampingku.
"Kenapa nangis? Kamu mau ke mana?" Hakim heran melihatku, "Bima sakit?" tanya Hakim saat menyentuh kening Bima, aku tidak bisa menjawab.
"Masuklah! Kita ke rumah sakit sekarang."
Aku tidak mau buang waktu, Hakim mau berbaik hati mengantarkan kami, dia menyetir dengan raut wajah yang serius, ntah sudah berapa mobil yang sudah di laluinya, tidak ada yang membuka suara, aku hanya menangis sembari memangku Bima.
****
"Sudah jangan menangis lagi, Bima pasti akan baik-baik saja," Hakim masih di sini menemaniku, sementara Bima masih ditangani Dokter di ruangan anak.
"Ibu mana yang bisa tenang melihat anaknya seperti ini? Aku takut, aku gak punya siapa-siapa lagi, Hakim aku takut..." aku semakin menangis sampai hampir tidak sadar kalau saat ini Hakim sedang memelukku, kenapa seperti ini? Seharusnya Mas Haris yang ada di sini, karena dia ayahnya Bima, bukan orang lain, kasihan sekali anakku, dia jauh dari ayahnya karena ke-egoisan orang tuanya.
"Sera, kamu tidak sendiri, ada aku di sini. Sudah aku bilang aku tidak akan meninggalkanmu."
Hakim mengulangi ucapannya lagi, mungkinkah yang dia katakan benar, kalau kami bertemu disaat yang tepat, disaat seperti ini, disaat aku sudah resmi menyandang status sebagai janda?
***
**Terima kasih sudah mendukung.
Kalau kemarin Mantan Tercinta 😊
Nah Disini Mantan Terkutuk 😱
Besok Mantan kembali Rujuk 😅
Hahahahahha kabur🏃🏃🏃🏃🏃🏃🏃
Siap-siap mau undangan ke tempat Sera dan Hakim 🏃🏃🏃
Jangan ada yang nabung bab ya gais, kalau mau baca nunggu tamat, jangan difavoritkan, karena itu bisa buat Novelnya turun Level, karena ini juga banyak author yang pindah✌
sukses
semangat
mksh