NovelToon NovelToon
SAJADAH Di Atas BARA

SAJADAH Di Atas BARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:482
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Sebuah proses perjalanan pulang seorang wanita yang tersesat jauh dari Agama.
karena,kehancurannya di masa lalu.
Perjalanan mencari makna hidup,keikhlasan,dan cinta yang tulus untuknya.

happy reading💗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TITIK AWAL DI ATAS SEJADAH

Setelah hampir satu jam Maira menumpahkan seluruh air matanya di atas hamparan karpet masjid, badai di dalam dadanya perlahan mereda. Tanpa sepatah kata pun yang sanggup terucap dari bibirnya yang kelu, rasa lelah yang teramat sangat akhirnya menguasai kesadaran gadis itu. Maira terlelap, tertidur meringkuk di sudut ruangan yang sepi dengan tubuh yang masih dibalut mukena putih bersih.

Dari balik pembatas shaf, lelaki asing yang menyelamatkannya tadi malam memperhatikan wajah Maira yang kini tertidur pulas. Jejak air mata masih berbekas di pipi pucat gadis itu, memperlihatkan betapa beratnya beban yang selama ini dipikulnya sendiri. Seulas senyum teduh dan penuh kelegaan terukir di wajah tampan lelaki tersebut.

Lelaki itu bernama Fatih. Ia adalah seorang santri dari sebuah pondok pesantren yang malam itu kebetulan sedang menempuh perjalanan dan berhenti untuk beriktikaf. Fatih tidak berniat mengusik ketenangan Maira. Ia membiarkan gadis yang rapuh itu beristirahat di rumah Tuhan.

Saat jarum jam dinding masjid menunjukkan pukul tiga dini hari, atmosfer sunyi berubah menjadi syahdu. Fatih kembali melangkah ke dalam area masjid, mengambil wudhu, lalu mendirikan sholat Tahajjud dengan khusyuk. Di bawah temaram lampu masjid, suara lirih Fatih yang melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an menggema lembut, mengiringi tidur lelap Maira hingga fajar perlahan menyingsing.

Ketika kumandang adzan Subuh berkumandang dengan merdu, kelopak mata Maira bergerak perlahan. Ia terbangun, mengerjapkan matanya yang terasa sangat sembap dan perih. Kesadarannya terkumpul sepenuhnya saat ia melihat dirinya yang masih berbalut mukena utuh. Di sekelilingnya, beberapa jamaah pria paruh baya dari warga sekitar mulai melangkah masuk memenuhi masjid.

Maira refleks mengedarkan pandangan ke arah shaf depan. Di sana, ia kembali menangkap sosok lelaki asing semalam. Menyadari Maira sudah terbangun, Fatih menoleh sedikit dan memberikan isyarat sopan dengan anggukan kepala, mengajaknya untuk bersiap mendirikan sholat Subuh berjamaah.

Setelah membasuh wajah dan mengambil air wudhu kembali untuk menyegarkan matanya yang bengkak, Maira mengambil tempat di shaf paling belakang. Ia mengikuti setiap gerakan sholat berjamaah dengan hati yang bergetar. Air matanya kembali menetes luruh, namun kali ini bukan karena amarah, melainkan karena rasa haru yang tak terbendung. Tuhan ternyata masih menerimanya yang kotor ini untuk bersujud.

Usai sholat Subuh selesai, matahari pagi perlahan-lahan naik ke ufuk timur, mengusir kabut dingin yang menyelimuti kota. Maira melipat mukenanya dengan rapi, meletakkannya kembali ke lemari fasilitas masjid, lalu melangkah keluar ke area teras. Di dekat tempat parkir, ia mendapati pria itu ternyata masih setia menunggunya berdiri di samping motor matic-nya.

“Mbak, rumahnya di mana? Jauh gak dari sini? Kalau jauh, saya pesenin Grab ya?” tanya Fatih ramah begitu melihat Maira mendekat, jaket tebalnya masih tersampir di pundak Maira yang masih memakai gaun semalam.

Maira menggeleng pelan, merapatkan jaket pria itu ke tubuhnya yang kedinginan. “Gak usah, gak apa-apa. Rumah gue di sekitaran sini kok,” jawab Maira, suaranya terdengar agak serak.

Melihat kondisi Maira yang sudah jauh lebih tenang, sudut bibir Fatih tertarik membentuk senyuman jahil. “Oh, ya sudah kalau dekat. Tapi... apa Mbak ada niatan mau balik ke jembatan yang tadi? Mau lanjutin lompatnya?” goda Fatih dengan wajah polos yang menyebalkan.

Maira langsung melotot kesal, meskipun di dalam hatinya ia tahu pria itu hanya bercanda untuk menghiburnya. “Sialan Lo!” ketus Maira.

Fatih terkekeh pelan, tawa yang terdengar renyah dan sopan. “Ya sudah, kalau begitu saya pamit duluan ya, Mbak. Assalamu’alaikum.”

Fatih menyalakan mesin motornya, lalu melaju pergi meninggalkan halaman masjid. Maira bahkan belum sempat menjawab salam tersebut. Namun, baru beberapa detik setelah motor Fatih menjauh, Maira tersentak saat melihat kain tebal yang membungkus lengannya. Ia teringat jaket pria itu masih ia kenakan.

“Hei! Ini jaket Lu—!” teriak Maira sembari melangkah maju beberapa langkah.

Namun, suaranya menguap begitu saja di udara karena motor Fatih sudah berjalan terlalu jauh dan menghilang di belokan jalan raya. Maira menurunkan tangannya yang terangkat. Ia menatap ke arah jalanan kosong itu, lalu sebuah senyuman tipis—senyuman tulus yang sudah bertahun-tahun hilang dari wajahnya—perlahan terbit di bibirnya.

Lelaki baik, batin Maira hangat.

Maira menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa tenaganya untuk melangkah pulang ke rumah peninggalan neneknya. Begitu menginjakkan kaki di dalam rumah yang sunyi, ia langsung berjalan menuju kamar dan menatap pantulan dirinya di depan cermin rias yang buram.

Jejak riasan tebal semalam sudah luntur tak bersisa karena air wudhu. Wajahnya polos, pucat, dan matanya bengkak.

“Apa cewek nakal kayak gue... pantes buat hijrah?” bisik Maira pada pantulan dirinya sendiri. Rasa ragu dan tidak percaya diri mendadak menyerang isi kepalanya.

Maira meremas pelan dadanya yang tiba-tiba kembali terasa sesak. Gejolak rasa sakit itu berdenyut lagi. Mengingat kenyataan pahit semalam membuat hatinya kembali perih. Faktanya, sampai detik ini, sampai matahari sudah terang benderang, Rayn tidak ada datang ke rumah ini untuk mencarinya. Pria itu bahkan tidak repot-repot mengirim pesan sekadar untuk meminta maaf atas pengkhianatan jahanamnya dengan Naomi.

Maira memejamkan mata erat-erat, menghalau rasa sesak itu. “Tenang Maira... hari ini Lu harus kerja. Kita mulai semuanya dari awal. Lupain Rayn, lupain Naomi mulai sekarang. Mereka sudah mati di hidup Lu,” bisik Maira menguatkan dirinya sendiri.

Saat ia beranjak untuk mandi dan bersiap-siap pergi bekerja, sebuah pikiran random tiba-tiba melintas begitu saja di benaknya, membuat gerakannya terhenti.

Oh iya... apa gue bakal ketemu lagi ya sama cowok jembatan tadi? Aduh, sial... gue bahkan gak nanya siapa namanya lagi, batin Maira kesal pada kecerobohannya sendiri.

Siang harinya, Maira sudah berada di tempat kerjanya. Ia bekerja sebagai seorang pelayan di sebuah kafe estetik yang cukup ramai di pusat kota.

Saat melayani pelanggan dari satu meja ke meja lain, Maira merasakan sesuatu yang berbeda. Entah mengapa, langkah kakinya hari ini terasa sedikit lebih ringan dari biasanya. Dengan memasang topeng profesionalnya sebagai pelayan yang ramah, Maira menyambut pengunjung kafe, menyajikan kopi, dan mencatat pesanan, mencoba menenggelamkan diri dalam kesibukan demi melupakan sejenak rasa hancurnya.

Ternyata, setelah semua badai ini, hidup memang harus terus berjalan. Dengan rasa sakit ataupun tidak, dunia gak bakal peduli itu, batin Maira pahit sembari menatap ke luar jendela kafe yang ramai.

Namun, di sela-sela kesibukannya, ia kembali mengingat momen tangisannya di masjid malam tadi. Anehnya, setelah bersujud semalam, rasa sesak yang biasanya menggumpal keras di dalam dadanya kini perlahan-lahan mulai mengurai. Ketenangan hati yang dahulu selalu ia cari di dalam botol alkohol dan gemerlap dunia malam, kini justru hadir mengetuk hatinya, meskipun baru terasa sedikit saja.

“Mbak... hey, kok malah ngelamun di depan meja kasir?”

Sebuah tepukan lembut di pundaknya membuyarkan lamunan Maira. Ia menoleh dan mendapati teman sesama karyawan kafe bernama Aisyah sedang berdiri di sampingnya. Aisyah adalah gadis yang sangat anggun dan cantik dengan balutan hijab syar'i-nya yang rapi.

“Ah... enggak kok, Syah,” ucap Maira pelan.

Maira menatap lekat ke arah wajah teduh Aisyah. Menatap kain hijab yang membungkus kepala temannya itu dengan rapi. Tiba-tiba, di dalam benak Maira, terbesit sebuah keinginan yang selama hidupnya tidak pernah sekalipun terlintas di pikirannya: keinginan untuk memakai hijab.

“Syah... kamu cantik banget ya,” ucap Maira tiba-tiba, membuat Aisyah sedikit tersipu. “Eumh... gue mau tanya, sejak kapan sih kamu mulai mutusin buat berhijab?”

Pertanyaan Maira sukses membuat Aisyah terkejut sekaligus sangat senang di dalam hati. Bagaimana tidak? Selama ini Maira terkenal sebagai rekan kerja yang sangat jutek, dingin, dan tertutup. Maira biasanya hanya akan mengajak Aisyah mengobrol seperlunya saja terkait pekerjaan.

“Ah... masyaAllah, terima kasih Mbak Maira,” jawab Aisyah dengan senyum ramahnya yang tulus. “Kalau saya sih kebetulan dari kecil sudah dibiasain pakai hijab sama Umi di rumah, Mbak. Awalnya cuma karena disuruh, tapi lama-kelamaan jadi kebiasaan sampai sekarang. Apalagi setelah tahu dari mengaji kalau berhijab itu adalah kewajiban bagi setiap wanita muslimah.”

Mendengar kata 'wajib' keluar dari mulut Aisyah, rasa bersalah dan berdosa kembali menghampiri ulu hati Maira. Mengingat bagaimana selama ini ia kerap memamerkan bentuk tubuhnya di tempat-tempat maksiat dengan pakaian minim membuat hatinya menciut.

“Kalau... seandainya gue berhijab... bakal kelihatan aneh gak ya, Syah?” ucap Maira ragu, suaranya merendah karena takut ditertawakan.

Aisyah langsung menggenggam jemari Maira dengan lembut, matanya berbinar tulus. “Loh, Mbak Maira kenapa bilang begitu? Enggak akan aneh sama sekali, Mbak! Malah pasti kelihatan jauh lebih cantik. Dicoba dulu aja, pelan-pelan. Kalau belum terbiasa, sekarang coba di-istiqomahin dulu pakai pakaian yang panjang-panjang, yang menutup aurat kaki sama lengan. Pelan-pelan aja Kak, gak usah buru-buru, sampai Kakak benar-benar siap batin untuk menutup semuanya.”

Mendengar penuturan Aisyah yang begitu menyejukkan tanpa ada nada menghakimi, Maira merasakan kehangatan yang tulus mengalir ke hatinya. “Iya, Syah... makasih banyak ya buat sarannya,” ucap Maira sambil tersenyum tulus.

Tepat saat suasana hatinya sedang mulai tenang, tiba-tiba getaran keras dari dalam tas selempangnya memecah obrolan hangat mereka. Maira merogoh tasnya dan mengambil ponselnya yang menyala.

Di layar itu, tertera sebuah nama yang langsung membuat dadanya kembali berdegup kencang karena amarah: Rayn. Pria bajingan itu akhirnya menelponnya.

Mau apa lagi sih lu, bajingan? batin Maira berang, rahangnya mengatup rapat.

Rasa muak seketika menjalar di kepalanya. Tanpa berpikir dua kali, Maira mengabaikan panggilan tersebut. Ia menolak untuk mengangkatnya. Dengan gerakan tegas, Maira memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas, lalu berbalik untuk kembali melanjutkan pekerjaannya mengelap meja bersama Aisyah.

Ia membiarkan ponselnya terus bergetar di dalam tas, mengabaikan Rayn yang setelah itu terus-menerus mencoba menelponnya berulang kali. Hari ini, Maira bertekad, sekat pembatas antara dirinya dan masa lalunya yang kelam telah resmi ia bangun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!