NovelToon NovelToon
IBU TIRI SEWAAN

IBU TIRI SEWAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Menikahi tentara / Anak Genius
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Demi uang, Asia menerima tawaran menikah kontrak dengan Kapten Hugo, seorang tentara yang mengalami kelumpuhan parsial karena cidera tugas. Baginya pernikahan itu hanyalah jalan tercepat untuk melunasi utang seratus juta rupiah yang ditinggalkan ayahnya setelah kabur karena kalah berjudi.

Namun ia harus menjadi ibu tiri bagi putra bungsu yang super aktif dan sulit dikendalikan. Serta putri kelas 3 SMP yang membencinya karena merasa Asia telah menggantikan posisi mendiang ibunya.

Asia tak berniat menjadi istri yang baik atau ibu yang penyayang. Targetnya hanya satu: mengumpulkan uang sebanyak mungkin, lalu pergi saat kontrak pernikahan berakhir.

Hanya saja, keluar dari keluarga itu ternyata jauh lebih sulit daripada masuk ke dalamnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 22

Begitu sampai di kamar, Jenny langsung berjalan menuju meja belajarnya. Ia meletakkan ranselnya di atas meja. "Tasmu taruh sini juga." tunjuk Jenny pada Mita.

Gadis ini mengangguk.

Dengan gerakan penuh kehati-hatian, ia melepaskan gantungan kunci rajut berbentuk lumba-lumba dari saku seragamnya. Benda usang itu ia elus pelan sebelum akhirnya dipasang kembali dengan sangat erat pada retsleting tas sekolahnya. Ia harus memastikan kaitan besi kecilnya tidak akan mudah terlepas lagi.

Mita yang memperhatikan sejak tadi mendudukkan diri di karpet lantai kamar Jenny. Matanya menatap benang rajut yang sudah sedikit bersabut itu.

"Berharga banget, ya?" tanya Mita pelan. "Aku sering lihat kamu pegangin gantungan kunci itu kalau lagi melamun."

Jenny mengangguk tipis tanpa berbalik. "Pemberian mama," sahutnya singkat.

Mita mengangguk paham. Sebenarnya ia sedang mengingat perempuan yang mengaku sebagai ibu tiri Jenny di lantai bawah tadi. Rasa penasaran itu berkecamuk di kepalanya, ingin sekali ia bertanya. Namun, Mita memilih menahannya dan urung bicara soal itu.

Ia ingat betul perintah tegas Jenny di tangga tadi, jangan bicara dengannya. Itu menandakan Jenny sangat tidak menyukai keberadaan ibu tirinya.

Jenny menghela napas pelan. "Yuk, katanya mau ngerjain PR," alih Jenny sambil menepuk karpet di sebelahnya.

Mita lalu ikut duduk lesehan di karpet. Keduanya pun mulai mengeluarkan buku pelajaran dan membukanya di atas meja lipat rendah, menyibukkan diri dengan soal-soal harian sekolah di tengah keheningan kamar.

Tok! Tok!

Ketukan pelan terdengar dari balik pintu kamar. Mita dan Jenny spontan mengalihkan pandangan ke arah sana.

"Aku bawakan makanan," ucap Asia dengan sebuah nampan di tangannya di ambang pintu.

Mita menoleh, lalu buru-buru bangkit berdiri dari karpet. Meski Jenny tidak menyukai wanita itu, baginya Asia adalah orang dewasa sekaligus tuan rumah. Tidak sopan jika ia bersikap acuh atau tidak hormat.

Jenny langsung memasang wajah tidak senang. Garis bibirnya melengkung turun menunjukkan ketidaksukaan yang jelas.

Asia melangkah masuk begitu saja. Tidak terlalu memikirkan raut wajah Jenny.

"Aku tidak meminta itu," cegah Jenny cepat dengan nada ketus.

Asia sama sekali tidak terusik. Ia tetap melangkah dengan nampan di tangannya. Membawa beberapa piring camilan hangat dan minuman segar. Wanita itu berjalan lurus ke arah meja belajar lalu meletakkan nampan tersebut di atas permukaannya.

"Ini untuk tamu," kata Asia ramah. "Ayo dimakan," sambungnya mempersilakan teman Jenny.

Mita mengangguk sopan. "Iya, terima kasih, Tante."

"Jangan repot-repot mendekatiku, aku tidak terbiasa dengan itu," cetus Jenny tajam saat Asia berdiri tegak di dekatnya.

"Mana ada tuan rumah yang tidak repot kalau ada tamu," sahut Asia tenang tanpa beban. "Namanya ada tamu, kita pasti repot karena harus menjamu. Apalagi di rumah ini ada banyak makanan. Kita harus membuat tamu senang. Harus jadi tuan rumah yang baik."

Mita melirik Jenny di sampingnya dengan perasaan canggung.

Gadis itu menatap lurus ke arah ibu tirinya, mendengus kesal karena jawaban Asia tepat telak dan berhasil mematikan argumennya.

"Terserah," celetuk Jenny singkat, memalingkan wajahnya ke arah lain dengan enggan.

"Ayo dimakan. Siapa tadi namanya?" tanya Asia beralih menatap Mita.

"Saya Mita, Tante," jawab Mita ramah sambil mengangguk pelan.

"Ah, iya Mita. Nanti kalau..."

"Tante! Tante! Tante Asia!"

Suara lengkingan khas Nero mendadak berteriak-teriak dari lantai bawah, memotong pembicaraan Asia begitu saja.

"Apa?! Aku ada di kamar Kakak Jenny!" sahut Asia setengah berteriak agar terdengar sampai bawah. Ia lalu kembali menoleh pada Mita, "Ayo dimakan. Camilan dan buahnya. Jusnya juga diminum, ya."

"Tante! Tanteeeeee!" teriakan bocah itu makin menjadi-jadi dari arah tangga.

Ih, tuh bocah! batin Asia gemas sendirinya.

"Aku tinggal, ya. Jangan lupa dihabiskan," ujar Asia mengakhiri kunjungannya.

"Iya, Tante. Terima kasih," sahut Mita sopan.

Asia melangkah keluar dari kamar dan segera melongokkan kepalanya ke bawah melewati pembatas lantai dua.

"Apa?" tanya Asia saat mendapati sosok Nero berdiri di bawah. Bocah itu mendongak menatapnya.

"Ayo beli Sugar Glider!" rengek Nero tak sabar.

Asia menghela napas pasrah lalu mulai melangkahkan kaki menuruni tangga, sementara bocah itu dengan setia menunggu di pijakan tangga paling bawah.

"Kan bisa naik mobil," kata Nero, tak mau kalah mencari celah.

"Katanya lebih senang naik motor?" Asia mencoba segala upaya demi menggagalkan niat pergi saat matahari sedang terik-teriknya.

"Mmm... iya sih," gumam Nero, tangannya menopang dagu seolah berpikir keras.

"Makanya, entar sore aja. Jadi kepalamu juga terlindungi dari sinar matahari yang jahat," ujar Asia dengan nada sok bijak.

"Matahari kan baik. Bisa buat jemur baju," sahut Nero polos.

"Iya, baik." Asia mengalah cepat. "Tapi buat kepala, kalau terus-terusan kena sinar matahari langsung itu enggak baik. Bikin pusing."

"Benarkah?" Nero memicingkan mata, masih setengah tidak percaya.

Asia menipiskan bibir. Tepat saat ia memikirkan argumen balasan, Nyonya Malinda melangkah masuk melalui pintu samping rumah.

"Aduh, panas sekali..." keluh Nyonya Malinda sambil mengibaskan tangan di depan dadanya.

"Habis dari mana, Ibu?" tanya Asia mendekat. Ia menyadari raut wajah ibu dari Pak Hugo itu terlihat agak pucat.

"Dari taman luar. Mau lihat Adenium yang baru muncul bunganya. Padahal cuma sebentar, tapi rasanya..." ucap Nyonya Malinda memotong kalimatnya sendiri sambil memegangi pelipis.

"Kena sinar mataharinya, ya, Oma?" potong Nero cepat.

"Iya, Oma pusing," sahut Nyonya Malinda pelan.

Asia langsung menatap Nero dengan senyum kemenangan. "Nah, Nero! Lihat, kan? Kalau kena sinar matahari pas siang bolong begini itu memang enggak bagus. Lihat Oma, langsung pucat gitu."

Nero menatap Omanya lalu beralih menatap Asia. Perlahan, wajah sok tangguhnya luntur, berganti raut ragu dan sedikit takut.

Asia tersenyum dalam hati, merasa menang telak tanpa harus banyak berdebat lagi.

"Enggak jadi deh," celetuk Nero pelan.

"Apanya?" tanya Oma seraya mendudukkan diri di sofa empuk ruang tengah dengan napas masih agak terengah.

"Nero minta beli sugar glider. Aku bilang nanti sore aja, karena kan luar masih panas banget," kata Asia menjelaskan.

"Iya, jangan berangkat sekarang. Nanti sore aja kalau matahari sudah turun," ujar Nyonya Malinda mendukung ucapan Asia sepenuhnya.

"Iya deh, nanti aja," pasrah Nero akhirnya menyetujui.

Asia menghela napas lega. Selamat dari teriknya matahari siang ini, batinnya riang.

"Sudah, ayo makan buah aja. Enak panas-panas begini makan buah yang dingin," tawar Asia mencoba mengalihkan perhatian.

Nero hanya melipat tangan di dada dengan bibir meruncing. Mungkin sebenarnya dia sangat ingin keluar detik ini juga untuk membeli hewan itu. Namun, Asia tetap pada pendiriannya dan tidak mau menuruti karena panas di luar benar-benar menyengat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!