Pengantin Pengganti Untuk Mafia.
Laura dijebak saat dia berniat bekerja sebagai seorang Nanny di sebuah mansion besar McManaman, Irlandia. Ia justru dijadikan pengantin untuk menggantikan putri berharga sekaligus pewaris McManaman dan menikahkan Laura dengan seorang Killian Marcano demi keuntungan sekaligus menjadi jembatan perdamaian antara dua keluarga mafia Irlandia dan New York.
Tekanan, ancaman, darah dan nyawa menjadi taruhan bagi Laura sehingga dia terjebak dalam lingkaran Sindycat. Dan berniat meracuni Killian Marcano di malam pertama mereka.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon Dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OTM — BAB 31
LICIK
Di ruang VIP yang remang dan berbau mahal, Muchus duduk bersandar di kursi empuk, melipat kedua tangan di depan perutnya. Di hadapannya, seorang pria berjas putih duduk dengan wajah yang masih menyimpan keraguan.
Di atas meja marmer terbentur berkas perjanjian yang belum ditandatangani, pena emas tergeletak di sampingnya.
"Kerja sama ini akan menguntungkan kedua belah pihak, Tuan Muchus." ucap pria berjas itu, suaranya tegas namun ramah. "Keuntungan bersih akan dibagi rata — lima puluh persen untuk pihak kami, lima puluh persen untuk pihakmu."
Muchus tersenyum tipis, menyilangkan satu kaki di atas kaki lainnya.
"Kau salah hitung," jawabnya tenang. "Pembagiannya menjadi tiga."
Alis pria itu langsung bertaut. "Tiga? Bagaimana maksudnya? Kesepakatan awalnya dua pihak saja."
"Vincenzo Marcano juga menginginkan bagiannya," ucap Muchus, nada suaranya turun perlahan, menyisakan keangkuhan yang tak dapat disembunyikan. "Dia adalah pemilik dari segala sesuatu yang bergerak di wilayah ini. Jika kau tidak terima..." Muchus menyeringai licik, matanya menyipit tajam, "...maka kau bebas untuk pergi. Namun aku tidak menjamin apa yang akan terjadi pada dirimu maupun perusahanmu sesaat setelah kau melangkah keluar dari pintu ini."
Pria berjas putih itu menatapnya dengan amarah yang tertahan, rahangnya mengeras, namun ia tahu ancaman itu bukan sekadar gertakan. Ia menelan ludah perlahan, menyadari bahwa menolak berarti menghancurkan dirinya sendiri. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia meraih pena itu.
“Shit..”
"Baiklah," ucapnya pelan, tak senang. "Tiga bagian. Semoga kerjasama ini tetap berjalan lancar, Tuan Muchus. Jangan sampai ada yang mengacaukannya. Jika tidak, pihak ku tidak akan segan dengan Marcano.”
"Tentu saja," jawab Muchus santai, meneguk minuman di gelasnya seolah tak ada hal yang lebih mudah dari ini.
Pria itu berdiri, menunduk singkat, lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan. Pintu tertutup rapat di belakangnya. Muchus tertawa kecil, menggelengkan kepala sambil menyesap birnya kembali.
Tak lama, seorang pria berbadan tegap mendekat — Kim, anak buah yang paling dipercayainya.
"Tuan," bisiknya hati-hati. "Bagaimana jika Tuan Vincenzo mengetahui hal itu? Itu bukan bagian dari perjanjian."
Muchus menoleh, menyeringai lebar.
"Jangan sampai dia tahu, Kim. Itu saja."
“Saya mengerti.”
***
Sementara itu, di kediaman utama, Laura memutuskan untuk turun ke dapur.
Langkah kakinya terdengar pelan di lantai marmer, namun kehadirannya seketika mengubah suasana di ruangan itu. Para pelayan berhenti bergerak, saling pandang, lalu menunduk saat Laura melangkah masuk. Tatapan mereka bercampur rasa heran sekaligus takut, seakan ia adalah sesuatu yang seharusnya tidak ada di sana.
"Ada apa?" tanyanya pelan namun tegas, menatap mereka satu per satu.
Tak ada yang berani menjawab. Keheningan meregang sesaat hingga Melly muncul dari balik pintu samping, tersenyum namun matanya tak ramah.
"Tidak ada apa-apa, Nyonya," ucapnya manis. "Mereka hanya masih berusaha beradaptasi. Apalagi setelah semua orang tahu bahwa pernikahan ini bermula dari pengantin pengganti — sebuah pernikahan palsu oleh seorang mata-mata."
Wajah Laura menegang, menoleh menatap tajam. Semua mata tertuju padanya. Melly bungkam seketika, menunduk namun senyum licik masih tersungging di bibirnya. "Maafkan saya, Nyonya."
Laura tak memperdulikannya, melainkan melangkah maju menuju lemari pendingin.
"Nyonya, biarkan kami yang mengambilkan!" seru salah satu pelayan buru-buru. "Apa yang ingin kau buat?"
"Aku bisa sendiri," jawabnya tenang.
Ia mengeluarkan beberapa buah mangga matang, mengupas dan memotongnya dengan cekatan, lalu memasukkannya ke dalam pengaduk. Gerakannya luwes, seakan ia memang terbiasa melakukan hal-hal seperti ini. Belum selesai jus itu dituang ke dalam gelas, suara langkah kaki terdengar mendekat, diikuti nada bicara yang tinggi dan penuh penghakiman.
"Kenapa seorang nyonya dibiarkan melakukan pekerjaan kasar begitu saja? Apa kalian tidak bekerja sama sekali?" suara yang begitu tegas.
Sandra berdiri di ambang pintu, dagunya terangkat tinggi. Para pelayan seketika menunduk, tak berani bernapas terlalu keras. Laura menoleh, menatap wanita itu tenang.
"Aku sendiri yang memintanya," ucapnya pelan namun jelas. "Aku ingin membuatnya sendiri."
Sandra menyeringai kecil, melangkah masuk lebih jauh.
"Tentu saja. Sekarang kau merasa sudah memiliki kekuatan, bukan? Karena kau sudah memiliki seseorang dibelakang mu.”
Laura menyeringai balik, menuangkan jus yang kental ke dalam gelas bening.
"Aku menyebutnya, itu keberuntunganku."
Sandra menahan amarahnya, bibirnya terkatup rapat sesaat.
"Apa kau mau juga?" tanya Laura, mengangkat salah satu gelas itu. "Jus mangga segar."
"Aku tidak suka jus," jawab Sandra ketus, menatapnya tajam.
Laura tersenyum santai, memeluk gelas di tangannya. "Ah, syukurlah. Aku sebenarnya hanya menawarkan, tidak berniat membuatkannya. Kalau begitu, aku permisi."
Ia melangkah pergi melewati Sandra, tanpa menunduk, tanpa terlihat terintimidasi.
Melly melotot tak percaya melihat keberanian itu, sementara Sandra hanya menatap punggung gadis itu perlahan menjauh, lalu tersenyum sinis — bukan amarah, melainkan senyum yang merencanakan sesuatu.
Sesampainya di kamar, Laura duduk di tepi jendela, menyesap jusnya perlahan. Matanya menatap gerbang utama yang tertutup rapat, berharap melihat sosok yang dicaranya segera muncul. Ia ingin bertanya tentang Lily, ingin memastikan adiknya benar-benar baik-baik saja di tempat yang jauh itu.
“Ke mana dia pergi?”
.
.
.
Di tempat lain, di ruang kerja yang tertutup rapat, Killian duduk berhadapan dengan seorang wanita yang penampilannya memikat namun penuh kelihaian.
Rambutnya tergerai rapi, pakaiannya ketat, dan setiap gerakannya seakan sengaja dirancang untuk menarik perhatian. Namun Killian menatapnya datar, kedua tangannya di atas punggung tangan sofa, tak sedikit pun tergoyahkan.
"Jadi, kesepakatannya seperti yang kubacakan tadi, Mr Killian," ucapnya tenang. "Pengiriman barang akan dilakukan tiga hari sekali di pelabuhan tim. Kau akan memastikan pihak berwajib tidak ikut campur."
“Ya.” jawab singkat Killian.
Wanita itu tersenyum, melangkah mengelilingi meja hingga berdiri tepat di samping kursi Killian, suaranya merendah dan menggodanya.
"Kau selalu begitu serius, Tuan Killian... Tidak pernah sekalipun tersenyum, tidak pernah sekalipun menikmati apa yang ada di depan matamu. Padahal banyak wanita yang rela melakukan apa saja hanya untuk duduk di sampingmu..."
Ia menyentuh bahu pria itu perlahan. Killian tak menyingkirkannya , tak menoleh sedikit pun.
"Kita sedang membicarakan bisnis, nona Sindy," ucapnya tegas. "Tetap pada topik."
Wanita itu tertawa pelan, mundur selangkah namun tak menyerah.
"Baiklah, bisnis... Tapi kau tahu, uang tidak bisa menemani tidurmu di malam hari. Kau butuh seseorang yang lebih hangat daripada tumpukan kertas perjanjian ini. Seseorang yang tahu cara memanjakanmu..."
"Aku tidak membutuhkannya, dan jika mau aku sudah punya satu di rumah," potong Killian dingin, menatapnya lurus. "Jika urusan sudah selesai, aku akan pergi."
Wanita itu terdiam sesaat, menatapnya tak percaya, lalu menyeringai sinis.
"Kau sungguh berbeda dari yang lain. Entah apa yang membuatmu begitu kaku... Apakah gadis kecil yang kau nikahi itu yang membuatmu takut mendekati wanita lain? Atau mungkin kau memang tidak mampu?"
Killian berdiri perlahan, menatapnya tanpa berkedip. Tatapannya begitu tajam hingga wanita itu mundur tak sadar.
"Seberapa banyak kau tahu tentang itu?"
Wanita itu menelan ludah, menyadari bahwa ia telah melangkah terlalu jauh. Ia menunduk singkat. "Beritanya sudah menyebar. Sebentar lagi beberapa orang akan mengincar nya agar bisa membalas Marcano.”
Tatapan tajamnya sudah menelusuri dan begitu lekat. Menyadari itu, Sindy langsung faham.
“Senang berbisnis dengan Anda.”