NovelToon NovelToon
Jerat Sang Mafia

Jerat Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Duda / Pernikahan kedua / Selingkuh / Crazy Rich/Konglomerat / Menikah dengan Kerabat Mantan / Tamat
Popularitas:35
Nilai: 5
Nama Author: SilvinaTracy

Valentina Sierra punya segalanya: keluarga terpandang, kekasih idaman, dan kursi di Harvard yang menanti. Sampai satu malam mengubah segalanya. Ia terbangun di ranjang asing, pakaian robek, seprai bernoda darah—dan di sisinya berbaring Dorian Cervantes, pria paling ditakuti sekaligus paling dibencinya. Duda dingin berdarah dingin, seorang pengusaha yang menyimpan rahasia jauh lebih gelap dari yang bisa dibayangkan siapa pun.

Dijual oleh keluarganya sendiri atas nama "kehormatan", Valentina dipaksa menikahi sang iblis. Yang tak ia sadari: malam itu bukan kebetulan. Itu sebuah jebakan—dan ia hanyalah satu bidak dalam permainan yang jauh lebih besar, permainan yang berakar pada rahasia kelam tentang jati dirinya yang sebenarnya.

Terperangkap di dunia penuh topeng, senjata, dan pengkhianatan, Valentina harus belajar bertahan. Belajar menembak. Belajar membalas. Dan yang paling berbahaya dari semuanya—belajar bahwa benci dan cinta hanya dipisahkan satu garis tipis.

Dari kebencian menjadi hasrat, dari korban menjadi pemburu. Ketika seluruh kebenaran akhirnya terkuak, siapa yang akan berlutut, dan siapa yang akan menarik pelatuknya lebih dulu?

Sebuah kisah romansa gelap tentang pernikahan paksa, dendam yang membara, dan cinta yang tumbuh di tempat paling mustahil. Untuk pembaca dewasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SilvinaTracy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: LINGLUNG

VALENTINA SIERRA

Hari pesta pun tiba, dan aku melakukan apa yang akan dilakukan siapa pun seusiaku: meminta saran sahabat-sahabatku soal bagaimana harus bersikap saat bersama Iván tercinta—sebab, berbeda denganku, mereka sudah berpengalaman.

Aku mengenakan crop top dan rok. Aku tahu Iván menyukai kakiku, dan tujuanku adalah tampil tak tertahankan di matanya, jadi tak perlu banyak berpikir.

Aku tiba di pesta bersama sahabat-sahabatku dan cepat menemukan pacarku, yang tampan seperti biasa. Dia memakai jins hitam dan kaus hitam bergambar band rock di bagian depan. Cowok bad boy sejati yang disukai semua gadis—tapi dia hanya milikku.

"Lap dulu ilermu," kata Carla sambil menyikut lenganku.

"Bodoh," aku tertawa dan mendorongnya pelan.

"Ngapain lihat ke sana-sini terus? Cari cadangan kalau-kalau punya dia nggak bisa 'bangun'?" Alison yang memang selalu blak-blakan tergelak sendiri dengan komentarnya.

Sebenarnya aku hanya tak ingin melihat si iblis itu di mana pun. Dia tak pernah ikut campur dalam pesta semacam ini, kecuali kalau pulang larut lalu langsung masuk kamarnya dan tak keluar sepanjang malam.

"Yang paling ganteng di sini itu Iván, aku nggak mau sama yang lain," sahutku kesal.

"Iya, iya, kami tahu, cuma bercanda," Carla mencairkan suasana.

Yang tak kusukai dari Iván adalah teman-temannya. Dia terlalu supel dan benar-benar punya teman di setiap sudut kota, dari para kutu buku sampai anak geng.

Selagi dia berkumpul dengan beberapa temannya yang paling tak kusuka, aku tak mendekat. Mereka biasa menatapku dengan cara yang sama sekali tak menyenangkan, jadi supaya tak jadi pacar yang posesif, aku memilih menunggu untuk menemuinya nanti. Malam masih muda, kata orang tuaku, dan aku butuh beberapa gelas minuman untuk mengumpulkan keberanian.

Aku menari bersama sahabat-sahabatku selama beberapa lagu sambil berbagi minuman—hal yang selalu kami lakukan. Aku juga tak mau mabuk begitu waktunya tiba.

Begitu keberanianku cukup terkumpul, aku menghampiri Iván tercinta. Tapi setelah beberapa ciuman panas, dia menyuruhku kembali dulu ke teman-temanku sebentar karena ada urusan yang harus dia bereskan. Aku bingung, tapi dengan teman-teman seperti yang dia punya, tak aneh kalau ada salah satu yang terjerat masalah.

Aku kembali ke sahabat-sahabatku yang menatapku dengan heran.

"Punya dia nggak bangun, ya?" tanya Alison mengejek.

"Hahaha, dia ada urusan sebentar, beberapa menit lagi aku ke sana," aku mengedipkan mata.

"Ayo ambil minum, kita harus rayakan malam ini Valen kehilangan keperawanannya!" serunya, dan sambil tertawa-tawa kami menuju bar untuk mengambil minuman.

Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, aku kembali menemui Iván, dan sahabat-sahabatku ikut denganku—sebab Ezequiel, pria berkulit gelap yang berdiri di sebelahnya, membuat Carla mabuk kepayang, sementara Alison ingin memastikan apakah sahabat karib Iván juga ada di sana.

Kepalaku sedikit pusing. Aku meminta sahabat-sahabatku mengambilkan sebotol air selagi aku bersama pacarku. Aku tak mau berakhir tanpa mengingat apa yang terjadi di hari sepenting ini, atau malah memuntahkannya di tengah-tengah "aksi". Jadi kalau aku menyegarkan diri sedikit dan menunggu beberapa menit, semuanya pasti beres.

Aku menerima botol itu, membukanya, dan meneguknya beberapa kali untuk menyegarkan diri.

"Bisa kita ke kamarmu?" tanyaku pada Iván dengan manja menggoda.

"Kau bakal membuatku gila, boneka," dia menggigit dan menarik bibir bawahku—hal yang selalu membuatku tergila-gila kalau dia lakukan.

Setelah itu aku pergi ke kamarnya—atau yang kukira kamarnya—di rumah raksasa itu, dan di sanalah segalanya lepas kendali dan menjadi kabur.

Aku mulai merasa tak enak; tubuhku terasa berat dan kepalaku mulai limbung. Aku jelas mendengar pintu terbuka, bahkan melihat cahaya yang masuk dari lorong. Seseorang menciumku dengan kasar—tapi itu bukan Iván, aku yakin. Rasanya berbeda, dan rambutnya pun tak sama.

Aku mendengar pakaianku berderak dan robek. Siapa pun dia, dia menginginkanku—atau menginginkan seorang perempuan; mungkin dia mabuk, entahlah.

Pusingku makin menjadi. Aku sempat menendang selangkangan pria itu—siapa pun dia—lalu kabur dari kamar entah dalam keadaan seperti apa. Aku begitu takut dia menangkapku atau seseorang berbuat sesuatu padaku, sampai aku mengetuk pintu satu per satu—entah berapa banyak—hingga ada satu yang terbuka. Aku masuk, berjalan sambil menabrak berbagai benda, lalu ambruk di sebuah ranjang dan pingsan di sana.

Aku tak pernah sempat melihat seperti apa kamar itu—gelap gulita—lagi pula keadaanku sedang tak baik, sama sekali tak baik. Seandainya lampu menyala pun, aku tak yakin bisa melihat apa-apa. Yang kutahu hanya aku mencapai kamar itu dengan sisa tenaga terakhirku. Belum pernah aku merasa sekacau dan sebingung itu.

Ada apa denganku? Aku tak tahu. Di mana aku? Tak tahu sama sekali.

Tapi aku lebih rela terbangun di mana saja asal bukan di sana—dan itu kusadari betul begitu membuka mata.

Takdir yang menantiku, masa depan yang cerah, kehormatanku... semuanya ternoda malam itu oleh sebuah kebetulan—kebetulan yang teramat buruk.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!