NovelToon NovelToon
Menghempas Keluarga Benalu

Menghempas Keluarga Benalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nadinachomilk

Selama lima tahun, Nadira Suryani rela membiayai keluarga mertuanya. Namun, kesabarannya habis setelah mengetahui putrinya, Naya, selalu diperlakukan berbeda dari cucu laki-laki mereka. Bahkan, ibu mertuanya diam-diam mengambil jatah biaya sekolah Naya untuk diberikan kepada cucunya.

Ditambah suaminya yang selalu lebih mementingkan keluarganya sendiri, Nadira akhirnya memutuskan untuk bercerai. Kali ini, ia tidak akan membiarkan keluarga mertuanya terus memanfaatkannya dan akan membuat mereka merasakan akibat dari semua perbuatan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Tuntutan

Pertanyaan sederhana itu membuat Imah terdiam.

Arkan mendongak, menatap wajah neneknya dengan mata berbinar penuh harapan. Ia belum sepenuhnya memahami persoalan orang dewasa yang sedang dibicarakan di hadapannya. Yang ia tahu, teman-temannya sudah mulai bersekolah, sementara dirinya masih harus menunggu di rumah.

"Nenek, Arkan mau sekolah. Kata Mama, nanti Arkan bisa punya banyak teman. Arkan juga mau punya tas baru dan seragam seperti anak-anak yang lain."

Bocah itu tersenyum lebar, sama sekali tidak menyadari bahwa permintaannya telah menjadi salah satu alasan orang-orang dewasa di sekitarnya saling menyalahkan.

Imah menatap cucunya dengan sorot mata yang perlahan melembut. Ia mengelus pipi Arkan, kemudian menarik bocah itu ke dalam pelukannya.

"Iya, Sayang. Nanti Nenek usahakan, ya. Arkan yang sabar dulu."

"Tapi kapan, Nek?" Arkan kembali bertanya. "Besok? Apa lusa?"

Imah tidak langsung menjawab. Ia tahu bahwa untuk mendaftarkan Arkan ke sekolah elite yang diinginkan Jordi dan Rania, mereka membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Sementara itu, uang yang sebelumnya ia ambil dari Arhan tidak sepenuhnya berada di tangannya lagi. Sebagian telah digunakan untuk memenuhi kebutuhan Jordi dan keluarganya. Sisanya tidak cukup untuk menutupi semua pengeluaran yang diperlukan.

Namun, Imah terlalu gengsi untuk mengakui kesalahannya sendiri.

"Nanti kalau semuanya sudah siap, Arkan bisa sekolah," jawabnya akhirnya sambil tersenyum tipis.

Arkan mengangguk kecil, meskipun wajahnya masih menyiratkan kebingungan.

"Kalau begitu, Arkan mau sekolah besok saja, Nek."

"Iya, Sayang. Sekarang bermain dulu, ya."

Imah mencium kening cucunya, lalu meminta bocah itu kembali kepada ibunya. Setelah Arkan menjauh, ekspresi perempuan paruh baya itu kembali berubah. Ia menghela napas panjang, kemudian menatap Jordi dengan sorot mata yang mulai menunjukkan kejengkelan.

"Kamu ini bisa sabar ga sih? Uang buat biaya Arkan saja sudah ibu kasih ke kamu? Tapi kamu malah buat membayar utang judimu itu! Bisa ga sih kamu ga usa judi dulu!" tegasnya.

Namun, belum sempat Jordi menjawab. Siska—putri bungsu dari Imah yang tengah hamil besar segera mendekat bersama suaminya itu.

" Bu, kenapa apartemen itu malah dikasih ke Mas Jordi, aku juga butuh buat anak aku. Lagi pula suamiku juga belum punya rumah!" ujarnya.

Imah segera menatap putri bungsunya itu, "Kamu ini, bisa ga sih ga buat ibu pusing. Kemarin saja kamu dan suamimu sudah meminta untuk dibelikan mobil. Kamu tahu ga sekarang ibu lagi pusing, apalagi kakak iparmu itu Nadira mulai memberontak dan tidak mau membayar biaya rumah ini!" tegasnya.

Siska mendengus, ia mengelus ngelus perutnya." Siapa suruh dia marah marah terus. Apa susahnya bayarin keluarga. Toh, kalau dia susah juga nanti yang bantu keluarga, " gerutunya.

Siska segera duduk di sebelah ibunya itu, tangannya segera menggoyang goyangkan tangan ibunya. "Bu, aku juga butuh uang buat baiat persalinan anakku ini pokoknya aku maunya ngelahirin di rumah sakit terbaik di kota ini," jelasnya.

Rania yang melihat Siska mulai membujuk Imah untuk meminta uang, ia segera mendorong suaminya itu untuk meminta uang dan apartemen itu.

" Bu! Pokoknya apartemen itu harus segera diberikan kepadaku!" tegasnya.

Imah langsung memijat pelipisnya ketika mendengar tuntutan Jordi dan Rania yang kembali terdengar. Belum selesai ia memikirkan biaya sekolah Arkan, kini Siska juga datang dengan sederet permintaan yang membuat kepalanya semakin pening.

Perempuan paruh baya itu menatap ketiga orang di hadapannya secara bergantian. Jordi yang terus menuntut apartemen, Rania yang tidak berhenti mendesak agar keinginannya segera dipenuhi, serta Siska yang meminta uang persalinan. Mereka semua seolah-olah menganggap dirinya sebagai tempat untuk meminta uang tanpa pernah memikirkan dari mana ia harus mendapatkannya.

Padahal, selama ini Imah bisa memenuhi berbagai kebutuhan mereka karena bantuan Arhan. Kini, ketika Nadira mulai menolak memberikan uang untuk membiayai kebutuhan rumah tersebut, barulah Imah menyadari betapa sulitnya mempertahankan kehidupan yang selama ini dinikmatinya.

"Astaga, kalian ini bisa tidak berhenti berteriak sebentar saja?" serunya kesal.

Jordi mendengus, sedangkan Siska justru semakin mengeratkan pegangannya pada tangan sang ibu.

"Bu, aku ini sedang hamil besar. Sebentar lagi aku melahirkan. Masa Ibu tidak memikirkan keselamatan anakku?" rengek Siska.

"Ibu bukannya tidak memikirkan kamu, Siska! Tapi, apa kamu tidak bisa melihat keadaan Ibu sekarang? Uang yang Ibu punya juga terbatas!"

"Terus, bagaimana dengan biaya persalinanku?" Siska segera menyela. "Aku tidak mau melahirkan di rumah sakit biasa, Bu. Aku mau di rumah sakit terbaik. Aku ingin mendapatkan pelayanan yang bagus untuk diriku dan anakku."

Suami Siska yang sejak tadi berdiri di samping istrinya ikut mengangguk.

"Benar, Bu. Kami juga membutuhkan tempat tinggal yang lebih layak. Apalagi sebentar lagi anak kami lahir. Tidak mungkin kami terus tinggal di rumah kontrakan."

Imah menatap menantunya dengan wajah semakin kusut.

"Kalau begitu, kenapa kalian tidak berusaha sendiri? Kenapa semuanya harus meminta kepada Ibu?"

Kalimat itu membuat Siska terdiam sesaat. Ia tidak menyangka ibunya akan mengatakan hal tersebut secara langsung. Namun, keheningan itu tidak berlangsung lama.

"Memangnya Ibu tidak punya anak laki-laki kaya dan menantu orang kaya seperti kak Nadira?" balas Siska dengan nada ketus. "Kak Arhan dan Kak Nadira punya banyak uang. Kalau Ibu membutuhkan sesuatu, tinggal meminta kepadanya. Bukankah selama ini memang begitu?"

Imah terdiam. Perkataan putri bungsunya itu memang benar. Selama bertahun-tahun, ia terbiasa meminta bantuan Arhan setiap kali membutuhkan uang. Bahkan, tanpa perlu menjelaskan secara terperinci, putra sulungnya itu sering kali langsung mengirimkan sejumlah uang untuk memenuhi kebutuhannya.

Kebiasaan itulah yang membuat Imah lupa bahwa Arhan juga memiliki kehidupan sendiri.

Ia terlalu terbiasa mengandalkan putra sulungnya hingga menganggap bantuan yang diberikan pria itu sebagai sesuatu yang wajib.

"Masalahnya sekarang Nadira tidak mau memberikan uang lagi!" balas Imah dengan nada tinggi. "Kalian pikir Ibu tidak pusing? Sejak Nadira mulai mempermasalahkan apartemen dan uang sekolah Naya, Arhan juga jadi sulit dihubungi!"

Mendengar nama Nadira, Rania langsung mendengus sinis.

"Memang Kak Nadira dari dulu terlalu perhitungan. Padahal, dia sudah hidup enak karena menikah dengan Kak Arhan. Apa susahnya membantu keluarga suaminya sendiri?"

Jordi yang duduk di sofa ikut menyahut. "Benar. Kalau saja Nadira tidak menghasut Kak Arhan, kita tidak akan mengalami kesulitan seperti ini."

Imah segera mengangguk, seolah-olah menemukan seseorang yang bisa disalahkan atas semua masalahnya.

"Makanya! Ibu juga tidak mengerti apa yang ada di pikiran perempuan itu. Dulu, dia tidak pernah berani membantah Ibu. Sekarang, setelah punya sedikit keberanian, dia malah mengancam akan bercerai dari Arhan!"

Siska mengangkat alisnya. "Memangnya Kak Nadira benar-benar mau bercerai?"

"Dia sudah mengatakannya langsung kepada Arhan!" jawab Imah dengan wajah kesal.

Arhan yang sedari tadi di balik pintu masuk segera membuka pintu itu dengan kasar, jadi dirinya dan istrinya hanya dianggap sebagai ATM berjalan oleh keluarganya.

"Jadi ini yang kalian pikirkan tentangku!" tegas Arhan.

1
Noey Aprilia
Hai kk...
aku udh mmpir....slm knal....
dr awl udh d bkin emosi....ko ada y wnita s'ga waras itu,yg lbh syng cucu laki2 drpdd ccu prmpuan.....mna hsil nyolong pula....kl aku jd nadira,dr lma udh usir mreka biar jd gmbel.....😡😡😡
Heny
Harus berpisah biar nggak di ganggu lg km berhak menentukan sikao
Heny
Mertua pilih kasih
Adinda
laporin aja langsung kok hak orang diambil
Adinda
mungkin Arhan cuma anak angkat makanya ibunya seperti itu
Adinda
mungkin Arhan cuma anak angkat makanya ibunya seperti itu
falea sezi
🤣🤣 arhan liat kelakuan emak mu
Adinda
tinggalin aja punya orang tua seperti itu,apalagi anakmu gak dianggap dan cuma dijadikan atm berjalan
Adinda
jadi selama nadira jadi istri gak dikasih nafkah yang layak semua gaji arhan buat keluarganya begitu thor
Adinda
suruh suamimu nikah lagi bu imah mungkin kamu punya anak kecil laki laki🤣🤣
Adinda
keluarga parasit takut kehilangan atm berjalan kalau arhan cerai sama nadira
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!