Raras hanya ingin pernikahannya berjalan tenang. Ia menutupi nama besar keluarganya, meninggalkan kemewahan di Yogyakarta, lalu memilih hidup sederhana bersama Danang, pedagang yang sedang naik daun.
Hingga suatu malam, Raras melihat pesan mesra di ponsel suaminya. Danang berselingkuh.
Yang lebih menyakitkan, keluarga Danang merendahkannya. Mereka menganggap Raras perempuan tanpa masa depan. Bagi mereka, Danang pantas mendapatkan wanita yang lebih cantik, lebih bergengsi, dan lebih menguntungkan.
Raras tidak menangis. Ia hanya berkemas, lalu pulang ke Yogyakarta.
Di balik pintu dalem keluarganya, kehidupan yang selama ini disembunyikan akhirnya terbuka. Ternyata tanah, sawah, kebun, gudang, hingga jaringan dagang milik keluarga Raras selama ini diam-diam menopang kesuksesan bisnis Danang dari belakang.
Raras tidak menghancurkan mantan suaminya. Ia hanya berhenti menopang. Satu per satu bisnis Danang runtuh. Ketika penyesalan itu datang terlambat, Danang sudah kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 — Telepon dari Yogyakarta (Revisi)
“Pramesti itu tidak pernah mengubah aturan sembarangan, Mas. Itu yang saya bilang ke Mas Danang tadi siang, Mbak Raras.”
Suara Pak Bambang bergetar tipis di ponsel. Napasnya masih berat setelah menaiki tangga kios. Raras duduk di dipan teras rumah desa Magelang, ditemani kopi yang sudah dingin. Sabtu, pukul empat lewat empat puluh, dan langit di atas sawah berwarna jingga.
“Bapak menyebut nama keluarga saya kepada Mas Danang?”
“Iya, Mbak. Beliau bertanya langsung. ‘Pak Hadi itu jalannya siapa, Pak?’ Saya harus jawab apa? Bohong?”
“Tidak, Pak. Memang itu yang saya minta. Kalau ditanya langsung, jawab jujur, jangan ditambah.” Raras menyentuh plester di tangannya. “Jam berapa Mas Danang menelepon?”
“Setengah dua. Sebelumnya pasar masih ramai, jadi saya tidak sempat memikirkan macam-macam.” Bambang berdeham. “Lalu pukul tiga, giliran Pak Surya. Suaranya lain, Mbak. Tenang, tapi tidak memberi ruang untuk menawar.”
“Pak Surya bilang apa?”
“Beliau bertanya siapa yang berdiri di belakang Pak Hadi. Saya jawab, itu urusan Pramesti. Beliau diam lama sekali.” Bambang menelan ludah. “Lalu beliau bertanya, Pramesti yang mana. Saya jawab, yang di Magelang, yang punya tanah dan gudang. Setelah itu sambungan putus.”
Raras memejamkan mata. Dari sawah di bawah, suara buruh tani yang merapikan karung gabah terdengar samar.
“Mas Danang bilang apa waktu mendengar nama itu?”
“Dia diam dulu. Lalu bertanya, ‘Pramesti yang mana, Pak?’ Saya jawab, yang itu, Mas. Yang setiap musim panen mengirim gabah ke Wates.”
“Lalu?”
“Dia cuma bilang, ‘Terima kasih, Pak.’ Suaranya seperti orang baru bangun.”
“Dia memang baru bangun, Pak.” Raras tersenyum miring, getir. “Tiga tahun nama itu ada di kartu keluarga kami, dan dia tidak pernah bertanya Pramesti itu siapa.”
“Dia juga bertanya tentang Mbak.”
Raras membuka mata. “Tentang saya?”
“Sebelum sambungan putus, dia bertanya, ‘Pak, Raras baik-baik saja?’ Begitu katanya.” Bambang berhenti sebentar, lalu melanjutkan dengan suara lebih lembut. “Saya jawab, Mbak sehat, Mas. Itu benar, kan?”
Raras menekan telapak tangannya ke bibir. Matanya panas dan kali ini ia membiarkannya.
“Benar, Pak. Saya sehat.”
“Mbak, maaf kalau saya lancang. Tapi dia terdengar takut.”
“Dia takut kehilangan uangnya, Pak.”
“Mungkin, Mbak. Tapi saya sudah tiga puluh tahun mendengar orang takut. Menurut saya, itu bukan takut kehilangan uang.”
“Mas Danang bertanya soal harga karung, Pak?”
“Dia bertanya kenapa pesanannya sekarang harus tunai. Saya bilang, itu aturan umum. Yang berubah cuma ketentuan untuk yang dulu mendapat keringanan.” Bambang terkekeh gugup. “Dia lalu bertanya, ‘Siapa yang memberi keringanan itu, Pak?’ Saya jawab, tanyakan kepada orang yang sudah berhenti.”
“Bapak benar-benar bilang begitu?”
“Maaf, Mbak. Terlanjur keluar.”
“Tidak apa-apa, Pak. Memang benar.” Raras mengusap sudut matanya. “Lalu Mas Danang bagaimana?”
“Dia tertawa sebentar. Tapi tidak ada senangnya.”
“Dia marah?”
“Bukan marah, Mbak. Lebih seperti orang yang menghitung uang kembalian, lalu sadar jumlahnya kurang.” Bambang menarik napas. “Dua kali dia bilang matur nuwun. Padahal tidak ada yang perlu disyukuri.”
“Mas Danang memang begitu kalau gugup.” Raras tersenyum tipis. “Dia tetap sopan saat keadaan sedang kacau.”
“Mbak masih hafal betul kebiasaannya.”
“Itu yang bikin repot, Pak.”
Raras terdiam. Langkah sandal terdengar dari ruang tengah, lalu Aditya muncul membawa nampan berisi dua gelas teh dan bakpia kering.
“Siapa?” tanya Aditya tanpa suara.
“Pak Bambang,” jawab Raras sambil menutup mikrofon dengan telapak tangan. “Pak Surya dan Mas Danang menelepon beliau soal Pak Hadi.”
Aditya mengulurkan tangan. “Biar saya bicara.”
Ia duduk dan mengambil ponsel. “Pak Bambang, ini Aditya. Nuwun sewu, Pak, matur nuwun sampun jujur (maaf, Pak, terima kasih sudah jujur). Bapak tidak salah. Nama itu bukan rahasia. Kami hanya belum merasa perlu menyebutkannya.”
“Inggih, Pak Aditya.”
“Kalau besok ada yang menelepon lagi, jawab seperti tadi. Jujur dan singkat. Tidak perlu menambah apa-apa.”
“Siap, Pak.”
Sambungan ditutup. Aditya meletakkan ponsel di dipan, lalu menyodorkan segelas teh kepada Raras.
“Pak, apa Raras keliru membiarkan Pak Bambang menyebut nama itu?”
“Kamu tidak mengumumkannya, Nduk. Kamu hanya tidak berbohong.” Aditya meniup tehnya. “Itu berbeda.”
“Mas Danang bertanya apakah Raras baik-baik saja.”
“Dan kamu terharu.”
“Raras terharu, Pak. Setelah itu Raras malah kesal pada diri sendiri karena masih bisa terharu.”
“Itu wajar.” Aditya menyesap teh. “Waktu hujan deras dan kamu kehabisan jas hujan di Malioboro, dia berlari dua blok untuk membelikannya, bukan?”
“Bapak ingat?”
“Hadi yang cerita. Dia sampai tersenyum sendiri.” Aditya mengangguk. “Orang yang pernah berbuat baik seperti itu tidak berubah menjadi batu dalam semalam. Dia hanya memilih untuk tidak melihat.”
“Itu lebih menyakitkan, Pak.”
“Memang.”
Aditya meletakkan gelasnya sebentar, lalu menatap Raras. “Kalau kamu langsung dingin setelah Senin malam, justru Bapak yang khawatir.”
“Raras pikir Raras harus kuat, Pak.”
“Kuat bukan berarti tidak boleh terharu, Nduk. Kuat itu ketika kamu masih bisa terharu, tetapi tetap tahu apa yang kamu inginkan.”
“Raras ingin Mas Danang membaca semuanya, Pak. Itu saja yang Raras tahu.”
“Itu cukup untuk malam ini.”
“Besok Raras ke Yogya, Pak. Kita lihat apa yang Mas Danang lakukan.”
“Besok, Nduk. Malam ini cukup ingat satu hal.” Aditya kembali mengangkat gelasnya. “Orang bisa mencintai dan tetap tidak mau kembali. Dua hal itu tidak saling membatalkan.”
Raras tertawa kecil, serak. “Bapak bicara seperti orang yang pernah mengalaminya.”
“Bapak cuma sering memperhatikan.” Aditya meletakkan gelas. “Nduk, kalau Danang sudah tahu tentang Pramesti, menurutmu apa yang akan dia cari?”
Raras berpikir. Di teras, suara jangkrik mulai terdengar satu-satu. Tiba-tiba punggungnya menegak.
“Lemari belakang.”
“Lemari apa?”
“Di rumah kami, Pak. Di kamar belakang yang dulu menjadi ruang kerja Raras. Ada dus di dalamnya, berisi catatan lama.” Suaranya merendah. “Nota Pak Hadi, buku hitam pertama Raras, dan empat larangan yang Raras tulis untuk diri sendiri pada tahun pertama pernikahan. Kuncinya Raras sembunyikan di bawah pot kamboja di teras.”
“Larangan apa saja, Nduk?”
“Yang pertama, jangan menyebut nama Pramesti di rumah itu.” Ia tertawa kecil, getir. “Yang lain biar Bapak baca sendiri. Raras malu.”
“Malu kenapa?”
“Karena Raras menulisnya dengan tinta paling mantap, padahal menikah bukan perang yang harus dimenangkan dengan diam.”
“Danang tahu letak kuncinya?”
“Tidak, Pak. Selama tiga tahun Raras berpikir dia tidak akan pernah bertanya, jadi Raras tidak merasa perlu menyembunyikannya lebih dalam.” Ia menggigit bibir. “Kalau Mas Danang menemukannya sendiri, dia akan membacanya dalam keadaan marah. Setiap nota mencantumkan tulisan ‘atas dhawuh Mbak Raras’.”
“Dan kamu tidak mau dia marah?”
“Raras ingin dia malu, Pak.” Ia menarik napas. “Bukan karena Raras ingin menghukumnya. Orang yang marah akan mencari kambing hitam. Orang yang malu mungkin mau berhenti dan membaca.”
Aditya memandang sawah cukup lama. “Jadi, kamu ingin menyerahkan dus itu sendiri.”
“Iya, Pak. Dengan cara Raras dan pada waktu yang Raras pilih. Bukan karena dia membongkar lemari.”
“Orang bisa mengira kamu sengaja menyuapinya, Nduk.”
“Raras tidak sedang menyuapi dia. Raras hanya tidak mau dia salah membaca.” Ia mengambil ponsel. “Lagi pula, itu dus Raras. Isinya tulisan Raras, dan rumah itu juga rumah Raras.”
“Sing duwe wajib njaga, Nduk (yang punya wajib menjaga).”
Eyang muncul di ambang pintu, tongkatnya mengetuk lantai.
“Ojo kesusu (jangan terburu-buru), tapi ojo telat (jangan terlambat).”
“Inggih, Eyang. Rapat Pak Surya berlangsung sampai malam. Rumah itu akan kosong malam ini.”
“Lalu?”
“Sekar tahu letak potnya. Dia juga masih menyimpan kunci pintu belakang sejak Raras sakit tahun lalu. Dia bisa mengambilkan dus itu.” Raras menelan ludah. “Boleh, Eyang?”
“Kuwi ora nyolong, Nduk. Kuwi njupuk duweke dewe (itu bukan mencuri, Nduk. Itu mengambil milik sendiri).” Eyang mengangguk. “Tapi kuncinya hanya untuk mengambil dus. Ojo mlebu liyane (jangan masuk ke bagian lain).”
“Siap, Eyang.”
“Satu lagi.” Eyang menunjuk dengan ujung tongkat. “Aja ngomong karo Danang bengi iki (jangan bicara dengan Danang malam ini). Dus dhisik, omongan mengko (dus dulu, bicara nanti).”
“Raras mengerti, Eyang. Kalau Raras bicara malam ini, Raras akan bicara karena perasaan, bukan karena sudah memikirkan alasannya.”
“Kuwi wis ngerti, tegese wis dewasa (kalau sudah mengerti itu, berarti sudah dewasa).”
“Satu lagi, Pak.” Raras membuka pesan di ponselnya. “Raras tidak mau Sekar membuka dus itu. Isinya bukan untuk Sekar.”
“Sekar bisa dipercaya?”
“Bisa, Pak. Dia memang ribut, tapi tidak pernah membocorkan rahasia.”
“Kalau begitu, percayalah pada temanmu.”
“Raras percaya. Tapi dus itu milik Raras dan Mas Danang. Bukan milik orang ketiga.”
“Sekar pasti akan ribut dulu sebelum berangkat.”
“Biarkan, Pak. Ribut itu caranya menyayangi orang.”
Raras mulai mengetik dengan jempol kiri. Jempolnya berhenti sekali di atas layar, lalu menekan huruf demi huruf. Ia membaca ulang pesannya sebelum mengirimkannya. Ia tidak ingin Sekar salah paham atau mengira dirinya sedang meminta bantuan untuk menghadapi Danang. Yang ia butuhkan malam ini hanya kunci dan dus itu, tidak lebih.
Sekar, tolong ambilkan kunci di bawah pot kamboja.
Pesan itu terkirim.
lanjuut
🙏💪