Tidak menyangka Aisyah mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada ketika dulu di SMP atau di SD yang tidak diperlakukan baik oleh teman teman barunya itu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ervina Dwiyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23.
Berkemah yang Penuh Kejutan
Suasana halaman belakang sekolah berubah total pagi itu. Ratusan tenda berwarna-warni mulai berdiri rapi di atas rumput hijau, tanda kegiatan berkemah gabungan angkatan baru resmi dimulai. Semua siswa tampak bersemangat, membawa tas besar berisi perlengkapan tidur, jaket tebal, dan bekal makanan yang sudah disiapkan dari rumah. Rara, Aisyah, dan Citra berjalan beriringan sambil menenteng tas masing-masing, wajah mereka berseri-seri membayangkan serunya menghabiskan waktu di alam terbuka bersama teman-teman sekelas.
"Sekarang pembagian kelompok tenda ya!" seru ketua panitia sambil memegang lembaran kertas. "Dengarkan baik-baik ya nama-namanya..."
Satu per satu nama dipanggil. Hingga akhirnya terdengar suara yang membuat Rara dan Aisyah saling berpandangan tak percaya: "Kelompok empat: Laras, Rara, Aisyah, dan Citra!"
Citra bersorak senang, tapi Rara langsung menghela napas panjang. "Ya ampun... kok bisa ya lagi-lagi kita satu kelompok sama dia?" gumamnya pelan, matanya melirik ke arah Laras yang berdiri tak jauh dari situ.
Laras pun sama saja, wajahnya tampak kecewa dan sebal. Ia melipat kedua tangannya di dada, menatap tajam ke arah Rara. "Aduh, malang banget nasibku. Harusnya ada di kelompok lain, eh malah ketemu lagi sama kamu," ucapnya ketus.
"Gue juga nggak minta kok Lo," balas Rara tak mau kalah. "Kamu aja yang rezekinya nyempil terus di mana-mana."
Aisyah dan Citra segera menengahi sebelum perdebatan itu makin panjang. "Udah-udah, jangan ribut dulu ya. Ini kan kegiatan sekolah, masa harus ngerusak suasana cuma gara-gara satu tenda?" kata Aisyah lembut. "Anggap aja kesempatan buat kita makin akur."
Mereka pun akhirnya berjalan menuju tenda yang sudah disiapkan. Sore itu habis digunakan untuk mendirikan tenda bersama, mengumpulkan kayu bakar, dan membantu memasak makanan sederhana untuk makan malam. Meski sesekali masih ada tatapan sinis atau komentar menyindir, setidaknya mereka bisa menyelesaikan tugas tanpa pertengkaran besar.
Malam pun tiba. Udara mulai terasa dingin menusuk tulang, dan langit bertabur bintang terlihat sangat indah di atas sana. Setelah selesai makan dan berdoa, keempatnya masuk ke dalam tenda untuk beristirahat. Lampu senter kecil diletakkan di tengah, menerangi ruang sempit itu dengan cahaya kekuningan yang remang-remang.
Laras masih terlihat kesal. Ia duduk di sudut tenda sambil merapikan selimut, sesekali melirik ke arah Rara dengan tatapan yang tidak bersahabat. Dalam hatinya, ia merasa tidak nyaman harus berbagi ruang sempit ini dengan orang yang selama ini dianggap saingannya. Tangan kanannya memegang botol minum yang baru saja ia isi penuh air, sementara pikirannya sibuk menahan rasa gemas.
Tanpa sengaja, saat ia hendak memindahkan botol itu ke samping, lengannya terantuk tas yang diletakkan di sebelahnya. Botol itu terguling jatuh, dan...
BYUR!
Air di dalamnya tumpah sepenuhnya, membasahi baju dan selimut yang ada di sebelahnya—tepat di tubuh Aisyah yang sedang duduk bersila merapikan buku catatan.
"Eh!" teriak Aisyah kaget, segera berdiri tapi bajunya sudah basah kuyup hingga ke kulit. Air dingin itu membuatnya menggigil seketika.
Suasana tenda seketika hening. Laras terdiam kaku, matanya melotot melihat kekacauan yang baru saja terjadi.
Rara yang duduk di hadapan Aisyah langsung melompat bangkit. Wajahnya memerah menahan amarah, tangannya terkepal kuat. Ia menatap tajam ke arah Laras, suaranya meninggi penuh kemarahan.
"Lo tuh ada apa sih hah?!" bentak Rara tak percaya. "Kenapa harus Aisyah yang jadi korbannya? Lo nggak suka sama gue, kan? Kalau mau marah atau melampiaskan kekesalan, lurus aja ke gue! Kenapa harus nyasar ke orang lain yang nggak tahu apa-apa?!"
Laras tersentak mundur sedikit, bibirnya bergetar ingin membela diri tapi tak ada kata yang keluar. Ia sendiri kaget dan merasa bersalah melihat baju Aisyah yang basah kuyup.
"Gue... gue nggak sengaja..." ucap Laras pelan.
"Nggak sengaja apa maksudnya?!" potong Rara cepat, matanya masih menatap tajam. "Udah dari tadi muka lo ketidaksukaan banget liat gue, terus sekarang malah bikin keributan kayak gini? Apa lo nggak mikir dulu Aisyah kedinginan kayak gini? lo tuh keterlaluan banget Lar!"
Citra segera mengambil handuk cadangan dan jaket kering, lalu membantu Aisyah mengganti bajunya. "Udah Ra, tenang dulu. Mungkin beneran nggak sengaja kok," bujuk Citra pelan sok kalem.
Tapi Rara belum bisa tenang. Ia masih menatap tajam ke arah Laras. "Nggak sengaja bisa bikin basah kuyup gitu? Kalau hati lo tenang, pasti nggak bakal berantakan begini. Lo tuh cuma nahan emosi ke gue terus meluapnya ke orang lain. Itu nggak dewasa namanya!"
Laras menunduk dalam, air matanya mulai menggenang. Ia sadar sepenuhnya ini kesalahannya, tapi mendengar Rara menegurnya begitu membuat rasa bersalah itu makin menyesakkan dada. Ia tidak bermaksud menyakiti Aisyah, tapi rasa kesal yang ia pendam memang membuat tangannya jadi tidak hati-hati.
"Gue minta maaf ya... Aisyah, Rara, semuanya," ucap Laras lirih, suaranya bergetar. "Gue emang tadi lagi kesal, jadi nggak fokus. Maaf ya udah bikin basah dan kedinginan. Gue ganti bajunya kok, gue punya cadangan di tas."
Rara menghela napas panjang, berusaha meredakan amarahnya. Melihat Laras yang sudah tampak menyesal, ia perlahan menurunkan bahunya.
"Lo harusnya sadar Lar," ucap Rara lebih pelan tapi tegas. "Kalau lo nggak suka sama gue, omongin baik-baik. Jangan bikin orang lain jadi sasaran. Itu nggak adil buat Aisyah. Sekarang bantu lap dan keringkan selimutnya, jangan cuma diam aja."
Laras mengangguk mantap, segera mengambil kain lap dan membantu membersihkan sisa air di lantai tenda. Malam itu menjadi pelajaran berharga bagi mereka semua rasa benci dan persaingan yang tidak dikelola dengan baik, hanya akan melukai orang-orang di sekitar tanpa perlu. Dan meski belum sepenuhnya akur, setidaknya malam itu Laras mulai belajar untuk tidak membiarkan emosinya menguasai tindakannya.
Bahkan pelatih pun melihat tingkah laku dari Laras yang seperti itu, pelatih pun mengatakan jangan ada kegaduhan apalagi ini adalah kemah pertama mereka jadi mereka harus bisa menjalin kekompakan satu sama lain ini baru di awal kenapa mereka udah melakukan kegaduhan kayak begini? Laras seketika langsung meminta maaf ya sama sekali nggak sengaja juga jadi emang bener-bener bukan berarti disengaja.
"Ya sudah jangan lagi mengulangi hal yang kayak gitu yang paling penting itu adalah kalian sadar kalau misalkan kita ini udah SMA di sini semuanya saya sebagai guru nggak suka kalau misalkan kamu memperlakukan teman kamu semena-mena kayak begitu jangan sampai ada kayak begitu lagi diantara kalian kalau tidak kalian keluar dari perkemahan ini!"
"Baik Bu..."